
Hai semua pembaca...
yuk gabung digrup chat aku
Selain ada kabar2 yang saling menguatkan, melalui chat grup aku akan memberitahukan jadwal up untuk setiap ceritaku. Ada juga bocoran untuk episode berikutnya.
Dukung juga ceritaku "SONG IN MY LIFE"
************
Lerina menatap rumahnya dengan perasaan bergetar. Ada rasa sedih, haru, senang bercampur aduk memenuhi dadanya.
Hampir 2 tahun ia pergi meninggalkan rumah ini dan sekarang rumah ini bisa dimasukinya lagi. Memang ada beberapa perabot tua yang sudah diganti oleh Edward, seperti sofa besar yang ada di ruang tamu, kulkas, dan ruang dapur yang sudah diganti konsepnya menjadi dapur modern yang nampak mewah dan elegan.
Kamar papa dan mamanya pun masih sama. Hanya dindingnya saja yang telah dicat kembali. Saat kakinya melangkah ke lantai dua, memasuki kamar pribadinya, semua pun masih tampak sama. Semua koleksi fotonya yang digantung di dinding, bahkan koleksi cd nya masih teratur dengan rapih di lemari dinding kamarnya.
Kamarnya terlihat rapih dan bersih karena Arnold memanggil kembali bi Suni dan suaminya untuk bekerja di sini. Mereka berdualah yang terus mengurus rumah ini juga taman bunga milik mama Lerina.
Hati Lerina merasa tersentuh. Edward telah membuat rumah ini menjadi hidup kembali. Dan sesuatu yang datang mengusik di dalam hatinya membuat Lerina merasa bahwa ia sangat merindukan manik biru itu.
Calvin hanya duduk di ruang tamu, menikmati secangkir teh yang disiapkan oleh bi Suni. Ia membiarkan Lerina bernostalgia lagi dengan rumah yang sangat disukainya ini.
Hampir 1 jam Lerina mengelilingi rumahnya ini, ia pun kembali ke ruang tamu.
"Kau senang?" tanya Calvin melihat senyum di wajah Lerina. Di tangan gadis itu ada foto papa dan mamanya.
"Ya. Rumah ini selalu menyenangkan untuk ditinggali walaupun sekarang terasa sangat sunyi karena tak ada lagi papa dan mama" ada nada sedih dalam ucapan Lerina. Ia duduk di samping Calvin lalu menatap kembali foto papa dan mamanya.
"Mereka sudah bahagia di sana, Ina. Aku yakin mereka ingin kau menjalani hidup dengan baik. Raihlah kebahagiaanmu sendiri. Jangan lagi memikirkan orang lain" kata Calvin membuat Lerina menatapnya.
Wajah Calvin nampak lebih pucat dari biasanya. Ia pun agak kurus dengan lingkaran hitam yang ada di sekitar matanya.
"Vin, aku....!" Lerina tak meneruskan kalimatnya saat mendengar hp nya berbunyi.
"Hallo.....!" sapa Lerina saat melihat kalau Hendra yang sudah meneleponnya.
"Selamat malam nona Lerina. Saya mendapat kabar dari tuan Edward bahwa hari ini ia tak bisa datang karena nyonya Yura diculik oleh Kim Ryun Wong"
"Apa? Laki-laki itu masih berulah lagi? Lalu bagaimana kabar Yura?"
"Hanya itu saja yang tuan Edward katakan. Ia akan mengatur lagi jadwal kedatangannya ke Indonesia"
"Baiklah!" Lerina meletakan kembali hp nya. Hatinya tiba-tiba saja merasa sedih. Yura adalah perempuan yang sangat baik padanya. Mereka bahkan pernah melalui hari-hari bersama yang menyenangkan tapi juga yang menyedihkan. Mereka pernah saling berbagi dan menguatkan.
"Ada apa?" tanya Calvin melihat wajah Lerina yang agak tegang.
"Yura diculik oleh Ryun Wong. Mereka pasti sedang tegang di sana. Semoga Yura tak akan disakiti. Dia wanita baik"
Calvin menepuk bahu Lerina perlahan untuk menenangkan perempuan itu.
**********
Yura menatap 2 orang anak buah Ryun Wong yang berjaga di depan pintu. Ia berusaha mencari jalan keluar untuk bebas dari sini. Sebab tali yang mengikat tangannya sudah berhasil diputuskannya dengan mengambil pecahan botol yang ada di dekatnya.
Salah satu penjahat itu mendekati Yura. "Hei...cantik, sebentar lagi kami harus membunuhmu. Memang sangat disayangkan karena kau sangat menarik. Namun tenang saja, sebelum kami mengahiri nyawamu, kami akan menikmati tubuhmu yang indah ini" katanya sambil tertawa lebar membuat bulu kuduk Yura berdiri namun tak membuat perempuan bermata indah itu menjadi putus asa.
Tae, aku yakin kalau kamu akan menolongku. Aku yakin kamu akan menemukanku. Aku menantimu, sayang.
Di mansion keluarga Kim....
Taeyung memegang tas berisi uang yang telah diberikan alat pelacak oleh Keyri. Ia kemudian menelepon Edward yang sudah pergi ke lokasi tempat Yura disekap sekitar 2 jam yang lalu.
"Bagaimana, Ed?"
"Kami hampir sampai, Hyung. Kami lewat jalan balakang dan sejauh ini masih aman"
"Baiklah. Aku akan berangkat ke tempat pertemuan dengan Wong."
"Hati-hati Hyung!"
"Kamu juga!"
Taeyung melangkah meninggalkan mansion dan menuju ke landasan helikopter yang memang ada di halaman keluarga Kim.
"Tuan, kami akan mengikuti tuan dari jarak aman. Kami pasti akan menjaga keselamatan tuan " kata kepala keamanannya.
__ADS_1
Taeyung hanya mengangguk. Ia masuk ke dalam helikopter dan duduk dibelakang kemudi. Wong meminta padanya untuk datang sendiri ke tempat yang telah ditentukan olehnya. Wong tahu kalau Taeyung bisa menjalankan helikopter dengan baik.
**********
Edward, Jesica, Keyri dan puluhan pengawal keluarga Kim sudah tiba di lokasi tempat Yura disekap. Mereka mengikuti jalan belakang, melewati sungai dan bukit.
"Itu gudangnya. Hati-hati saat akan melangkah ke sana karena bisa saja anak buah Wong bersembunyi diantara tempat-tempat bermain itu." kata Jesica.
"Kau tunggulah di sini, Jesi. Jangan kemana-mana!" kata Edward dengan sangat tegas.
Jesica hanya mengangguk.
Edward menatap Keyri dan meminta agar mereka dibagi dalam beberapa kelompok.
"Ed....!" panggil Jesica ketika mereka akan pergi.
Edward membalikan tubuhnya "Ada apa?"
Jesica berlari dan memeluk Edward sangat erat. "Hati-hati!" bisiknya dengan suara pelan.
Edward melepaskan pelukannya "Tenanglah. Aku memakai baju anti peluru!" kata Edward sambil menepuk dadanya.
Jesica tersenyum. Ia lalu membalikan tubuhnya dan kembali ke tempatnya semula.
Edward pun langsung melangkah bersama Keyri untuk menyelamatkan Yura.
Di dalam gudang....
"Ah...aku sudah tidak tahan lagi. Aku akan segera melahap perempuan cantik itu!" kata penjahat berkepala botak kepada temannya.
"Tunggulah sampai bos menelepon"
"Aku tidak mau. Lagi pula bos akan akan meninggalkan kita semua. Entah kemana ia akan pergi." lelaki itu langsung mendekati Yura dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh napsu untuk segera menyatukan dirinya dengan Yura.
Ia berdiri depan Yura, lalu menunduk dan melepaskan lakban yang menutup wajah Yura.
"Ah.....!" teriak Yura kesakitan saat lakban itu berhasil ditarik. Kulit di sekitar mulutnya nampak merah dan sedikit panas rasanya.
"Aku tak ingin mulutmu terkunci saat aku berada di atasmu nanti. Aku ingin kau mendesah dengan liarnya karena aku akan memuaskanmu sebelum akhirnya membunuhmu!" bisik pria botak itu dengan seringai jahat dari tatapan matanya. Ia kemudian menunduk dan hendak mencium Yura namun ia tak pernah menyangka kalau tangan Yura yang sebenarnya sudah terlepas dari ikatan itu masih memeganh pecahan botol yang digunakannya untuk memutuskan tali itu. Saat wajah pria itu semakin dekat, Yura dengan sekuat tenaga mengayungkan tangannya dan percahan botol itu berhasil melukai salah satu mata penjahat itu.
Kesempatan itu membuat Yura langsung berdiri, menendang alat vital pria itu sehingga pria itu langsung jatuh ke lantai.
Teman sesama penjahat itu pun segera berlari mendengar teriakan temannya dan ia terkejut saat apa yang sudah terjadi pada temannya yang sedang merintih kesakitan.
"Perempuan brengsek! Aku akan membunuhmu sekarang!" teriaknya marah lalu mengarahkan pistolnya kepada Yura.
Yura mundur dengan wajah pucat. Jantungnya berdetak sangat kencang. Ia pun memejamkan matanya.
Taeyung..aku mencintaimu! Teriak Yura dalam hatinya.
Door....
Door.....
Telinga Yura menangkap dengan sangat jelas bunyi suara ledakan pistol. Namun ia tak merasakan kalau tubuhnya kesakitan.
Apakah begini perasaan orang yang sudah mati? Ia tak merasakan lagi tubuhnya? Sudah berakhirkah hidupku di dunia ini?
"Yura...kau tidak apa-apa?"
Yura yang menutup matanya dengan kedua tangannya perlahan menurunkan tangannya dan membuka matanya.
"Edward?" pekik Yura dengan perasaan senang. Detik itu juga ia langsung memeluk Edward tanpa bisa menahan tangisnya.
"Ed.... , aku takut !"
"Semuanya sudah selesai. Mari kita pergi dari tempat ini!" ajak Edward lalu melepaskan pelukannya. Perlahan tangannya melingkar dipundak Yura dan membawa kakak iparnya itu melangkah keluar.
Para pengawal yang lain langsung membereskan kedua penjahat itu.
"Mana Taeyung?" tanya Yura saat melihat bahwa yang ada hanya Edward, Keyri dan para pengawal lainnya.
"Hyung sedang pergi menemui Wong. Aku akan meneleponnya. Mudah-mudahan waktunya tepat." kata Edward lalu mengambil hp nya.
***********
__ADS_1
Kim Ryun Wong menatap Taeyung yang berdiri di hadapannya sambil memegang sebuah tas.
"Akhirnya kamu datang juga. Berikan tasnya!" ucap Wong sedikit tak sabar sambil menodongkan pistolnya.
Taeyung menatap Wong lalu 4 orang yang bersamanya. Mereka semua memegang senjata yang sedang diarahkan pada Taeyung.
"Bagaimana ku tahu kalau istriku baik-baik saja?" tanya Taeyung.
"Dia akan baik-baik saja. Setelah aku pergi, kedua pengawalku akan mengantarkanmu padanya" kata Taeyung. Lalu ia mendekat dan berbisik pada salah satu pengawalnya "Pastikan dia melihat mayat istrinya. Kirim sms pada mereka untuk segera menghabisi Yura"
Taeyung menatap Wong yang saling berbisik dengan pengawalnya itu.
"Aku tak akan memberikan uang ini jika kalian tak memberi tahukan padaku bagaimana keadaan istriku." ancam Taeyung.
Wong meminta anak buahnya untuk melakukan panggilan videocall. Nampaklah Yura yang masih terikat di tempat yang sama.
"Kau puas?" tanya Wong. "Sekarang berikan uang itu padaku!"
Taeyung melempar tas yang berisi uang itu. sebenarnya tiap ikatan uang itu hanya dibagian bawah dan atasnya saja yang berisi uang asli. Selebihnya adalah uang palsu.
Ryun Wong membuka tas itu dan mengambil satu gulungan uang. Ia memeriksanya asal saja karena sudah ingin pergi dan juga penerangan di sana hanya sebuah senter kecil.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Kalian antarkan Taeyung ke tempat istrinya berada" kata Wong lalu segera masuk ke dalam helikopter bersama seorang pengawalnya.
Baling-baling helikopter mulai berputar. Wong sendiri yang menjadi pilotnya.
Hp Taeyung berbunyi "Hallo Ed!"
"Yura selamat. Ia bersama kami!"
Taeyung memasukan kembali hp nya. Ia mengangkat tangannya. Memberi kode kepada para pengawalnya yang bersembunyi tak jauh darinya.
Helikopter mulai terangkat. Wong tersenyum penuh kemenangan saat melihat Taeyung.
Tiba-tiba 3 orang pengawal Wong langsung tergeletak di atas tanah dengan tubuh penuh luka tembak.
Wong terkejut saat melihat Taeyung menunjukan sebuah benda berwarna hitam berbentuk segi empat. Kim Ryun Wong membulatkan matanya saat menyadari kalau alat itu adalah sebuah alat kontrol jarak jauh seperti alat pemicu bom.
Taeyung tersenyum senang melihat Wong nampak panik dan berusaha untuk melompat dari helikopter. Namun Taeyung melabaikan tangan padanya dan langsung menekan alat itu.
Duar....
Sebuah ledakan besar terjadi di udara. Di dalam helikopter itu sudah disembunyikan sebuah bom dengan yang tak terlalu besar namun dapat menghancurkan helikopter dan semua yang ada di dalamnya menjadi puing-puing kecil.
Taeyung menatap puing-puing yang hancur itu dengan perasaan lega. Terbayang wajah Aboji dan Anastasya secara bergantian dipelupuk matanya.
Aboji....Anastasya...kalian bisa tenang di sana. Orang yang membuat kalian menderita sampai pada kematian kini telah hancur tak tersisa.
*********
Wajah Edward langsung berubah gembira saat menerima kabar baik dari Taeyung.
"Wong sudah hancur berkeping-keping. Terima kasih Keyri. Semua ini karena bantuanmu. Aku akan memberikan kau bonus yang banyak!" kata Edward sambil memeluk asisten yang sudah dianggapnya seperti saudaranya sendiri.
Yura pun tersenyum senang. Mereka berjalan menuju ke mobil mereka yang sudah diparkir tak jauh dari sana.
Jesica pun sudah menungguh di dekat mobil. Matanya tanpa sengaja melihat ada pergerakan di salah satu wahana permainan. Bola mata Jesica membulat saat ia melihat ada anak buah Wong yang memegang senjata dan mengarahkannya pada Edward.
Jesica langsung berlari "Edward.....awas.....!" teriaknya sambil menunjuk ke arah kanan tempat Edward berjalan.
Door....!
Door....!
Door....!
Yura dan Keyri langsung berteriak hampir bersamaan.
"Tidak.....!"
MAKASI SUDAH BACA PART INI.
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE
Dukun juga ceritaku yang lain SONG IN MY LIFE
__ADS_1