
Air mata Lerina tak bisa dibendungnya saat memasuki ruangan ini. Ruangan yang dulu ditempati ayahnya sebagai pemilik perusahaan. Walaupun hampir semua perabotan didalam ruangan ini sudah diganti, namun Lerina masih dapat merasakan kehadiran papanya di sini.
"Na....!" panggil Calvin
Lerina menoleh. Ia tersenyum menatap Calvin "Aku ingin mengganti semua perabotan di ruangan ini. Aku ingin semua foto keluargaku yang dulu selalu dipajang papa di sini kembali ada."
"Semua barang-barang papamu, ada di rumah kalian yang dulu. Apakah kau tidak ingin pergi ke sana?"
"Aku akan pergi ke sana, mengambil beberapa barang milikku. Namun aku tak mau tinggal di sana dulu sebelum aku mengembalikan uang hasil tebusan rumah itu yang sudah dibayar oleh Edward. Aku akan bekerja keras sehingga aku bisa secepatnya mengembalikan biaya penebusan rumah itu" kata Lerina dengan penuh percaya diri.
"Ina, apakah kau tidak ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Seoul? Jesica mungkin telah menjebak Edward malam itu"
Lerina menggeleng "Hatiku telah bulat, Vin. Aku mau berpisah dengan Edward. Jesica pasti begitu putus asa untuk mendapatkan Edward kembali. Dulu mereka berdua pernah saling mencintai, aku pikir perasaan Ed kepadanya masih ada. Aku tak ingin mengetahui alasan apapun. Lagi pula aku tak mencintai Edward. Fokusku sekarang ini adalah menjalankan kembali perusahaan papaku. Karena ini impianku semenjak papa meninggal. Setelah aku dan Edward resmi bercerai, aku ingin menikah denganmu, Vin"
Calvin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangkah kalau sifat Lerina sudah banyak berubah. Dulu setiap kali dia dan Calvin bertengkar, Lerina selalu menyelesaikannya dengan duduk bersama sambil bicara. Namun kali ini, Lerina memilih tak mau mendengar, Calvin pun sedih karena ia tahu bahwa salah satu yang menyebabkan Lerina berubah karena dirinya yang pernah menyakiti gadis itu.
"Vin, aku sudah mengutus om Hendra untuk mengurus perceraianku dengan Edward. Om Hendra menguasai bahasa Korea jadi bisa berkomunikasi dengan baik di sana."
"Apakah kamu nggak akan memberikan kesempatan pada Edward, Na?"
Lerina sekali lagi menggeleng "Aku sudah katakan padamu kalau aku ingin bersamamu"
Calvin tak tahu harus bicara apa. Jien kemarin sudah meneleponnya dan mengatakan mengapa Lerina pergi. Namun Lerina menolak mendengarkan penjelasan dari Calvin.
"Kita makan siang dulu, yuk!" ajak Calvin karena ia sendiri tak tahu apa lagi yang harus dikatakannya pada Lerina. Perempuan itu sudah memantapkan hatinya dan Calvin tak dapat merubahnya.
*********
Edward menatap pengacara Hendra Baskoro yang kini duduk di depannya. Mereka masih berada di ruang perawatan Edward. Taeyung dan Yura memilih untuk membiarkan Edward bicara berdua dengan pengacara itu.
"Alasan apa yang Lerina ajukan untuk meminta cerai dariku?" tanya Edward sambil berusaha menangkan hatinya yang sudah mulai panas.
Hendra membuka dokumen ajuan perceraian yang ada ditangannya.
"Nona Lerina ingin berpisah karena merasa tidak ada kecocokan lagi antara kalian berdua. Dia juga ingin tinggal di Jakarta dan tak ingin datang lagi ke Seoul. Dan dia tidak mengajukan permintaan harta gono gini, atau pembagian saham dan lain-lain. Yang dia inginkan agar perceraiannya cepat selesai"
"Begitu ya....sebegitu inginnya dia berpisah? Bolehkah anda menghubungi dia sekarang?"
"Maaf tuan. Nona Lerina tidak ingin berhubungan secara langsung maupun via telepon dengan anda"
"Kalau begitu katakan padanya kalau aku tidak akan pernah menceraikannya. Aku akan gunakan seluruh kekuatanku bahkan nama besar almarhum papaku untuk membuat pernikahan kami tetap terjalin" kata Edward sedikit emosi. Tangannya bahkan sampai bergetar saat ia mengungkapkan kata-kata itu.
"Aku akan mengikuti proses perceraian kalau Lerina mau bertemu denganku secara langsung. Dia tak perlu datang ke sini, aku yang akan pergi ke Jakarta"
__ADS_1
Hendra mengangguk. Ia pun berpamitan dengan Edward dan segera meninggalkan ruangan perawatan itu.
Saat pengacara itu pergi, Taeyung dan Yura masuk kembali ke dalam kamar.
"Bagaimana keputusanmu, Ed?" tanya Taeyung.
"Aku akan ke Jakarta. Sekalipun Lerina tak mau bertemu denganku namun aku akan tetap berusaha menjelaskan secara langsung padanya. Lerina tak bisa melepaskanku begitu saja karena aku yakin bahwa dia mencintaiku. Aku sudah katakan pada pengacara itu bahwa sebelum kami bertemu, aku belum mau menandatangani proses perceraian itu" kata Edward dengan wajah yang tenang walaupun hatinya sedang porak poranda karena kepergian perempuan yang sangat dicintainya itu.
"Ed, bagaimana jika Lerina akan tetap menceraikanmu setelah mendengarkan penjelasanmu mengenai kejadian malam itu?" tanya Yura.
Edward diam sejenak. Lalu ia menarik napas panjang beberapa kali. Sangat jelas terlihat bahwa bukan itu yang dia inginkan.
"Aku akan tetap mempertahankan rumah tangga kami apapun yang terjadi. Aku tidak mau bercerai dengannya" kata Edward walaupun terdengar kurang yakin dengan pendapatnya itu.
********
Wajah Lerina langsung berubah masam saat ia menerima telepon dari pengacaranya.
"Ada apa, Le?" tanya Calvin. Mereka berdua baru selesai makan siang dan kini sedang berada di perusahaan kembali.
"Edward tak mau menandatangani prosedur pernikahan jika aku tak mau bertemu dengannya.
"Kalau begitu, bertemulah dengan, Na. Biarkan kalian bicara"
Lerina kembali menatap laptopnya. Namun sebenarnya hati dan pikirannya tidak ada di sini.
"Apakah kau takut saat bertemu dengan Edward, kau tidak bisa menahan hatimu untuk memaafkannya? Apakah kau takut jika keputusanmu untuk meninggalkannya adalah sesuatu yang salah?"
"Calvin, aku ingin bersamamu"
"Aku tidak apa-apa jika kau akan kembali pada Edward. Aku bisa sendiri"
Lerina menatap Calvin yang sedang duduk di depannya. "Aku hanya tak ingin bertemu denganya. Itu saja. Sudahlah, Calvin. Jangan bahas tentang Edward."
"Dia sakit saat kau pergi, Na. Edward masuk rumah sakit dan dirawat selama 3 hari" kata Calvin. Ia tak mau menyembunyikan lagi keadaan Edward pada Lerina.
Lerina terkejut mendengar kalau Edward sakit. Hatinya bagaikan ditusuk sembilu. Ia begitu sedih. Mengapa Edward sampai sakit? Apakah dia sangat terpukul dengan perpisahan ini? Mengapa rasanya sangat menyedihkan mendengar Edward sakit?
"Na....kamu merindukannya, kan?"
Satu butir air mata jatuh membasahi pipi Lerina. Kali ia ia tak dapat menyembunyikan lagi perasaannya. Ia sangat rindu pada Edward. Namun saat mengingat bagaimana mereka bergulat di atas ranjang, rasa rindu itu kembali hilang. Lerina benci membayangkan bibir mereka yang menyatuh dengan suara desahan yang saling memburu.
Calvin mendekati Lerina. Lalu membawa perempuan itu ke dalam pelukannya. "Jangan sembunyikan dirimu kalau kau memang mencintainya, Na."
__ADS_1
Lerina semakin dalam memeluk Calvin. Hatinya tak bisa berbohong, dia merindukan Edward. Laki-laki bermata biru itu sudah menundukan hatinya dan mengikis semua perasaan cinta yang pernah dimilikinya untuk Calvin. Lerina tahu, perasaannya kepada Calvin tak lebih dari rasa simpati saja karena semua perbuatan baik yang dilakukan Calvin padanya.
***********
Nana mendekati Edward yang baru saja selesai makan malam di balkon kamarnya. Ia sangat menyukai balkon kamar ini karena tempat ini adalah faforitnya Lerina
"Tuan, di lobby ada nona Jesica. Dia ingin ketemu dengan tuan. Apakah saya harus mempersilahkannya masuk?"
Edward diam sesaat. Sesungguhnya ia sudah malas untuk bertemu dengan Jesica. Namun ia merasa harus bertemu untuk menjelaskan segalanya. Agar Jesica tak menaruh harapan apa-apa padanya.
"Baiklah. Persilahkan dia masuk!"
Nana langsung meninggalkan kamar setelah membungkukan tubuhnya. Edward pun mengganti celana pendeknya dwngan celana panjang. Sebelum ia keluar kamar, hp nya tiba2 berbunyi.
"Hallo...!" sapanya saat mengetahui bahwa yang menghubunginya adalah pengacara Hendra.
"Selamat malam tuan Kim. Saya mau mengabarkan kalau nona Lerina bersedia untuk bertemu dengan anda Sabtu ini di Jakarta."
Edward sangat senang "Baiklah. Saya pasti akan datang!" ujar Edward sangat bersemangat. Ia pun mengahiri panggilan teleponnya.
Saat Jesica melihat Edward yang sedang menuruni tangga, ia langsung berdiri dan mendekati pria itu.
"Ed....!"
"Duduklah..Jes!" kata Edward berusaha bersikap formal. Keduanya pun duduk saling berhadapan.
"Ada keperluan apa kau datang ke sini?" tanya Edward dingin.
"Ed, aku ingin minta maaf untuk semua yang telah terjadi. Aku yang tak bisa menahan diriku untuk bersentuhan denganmu sampai aku nekat memberikan kau obay perangsang itu." kata Jesica tanpa bisa menahan air matanya.
"Aku sudah melupakannya. Hanya saja aku berharap agar kamu tidak akan melakukannya lagi. Aku sudah menikah, Jes. Memang awal pernikahan kami agar aku bisa mendapatkan saham ibuku. Namun dengan berjalannya waktu, aku dan Lerina sama-sama jatuh cinta."
Jesica menggelengkan kepalanya. Ia mendekati Edward dan duduk di samping pria yang sangat dicintainya itu.
"Tidak...aku yakin kau belum melupanku. Ed, tak apa jika kau masih ingin mempertahankan pernikahanmu dengan Lerina. Namun jangan buang aku, karena aku tak bisa mencintai lelaki lain lagi. Kau dapat menjadikan aku simpananmu atau apapun juga. Aku sangat ingin sesekali saja menikmati pelukanmu lagi" mohon Jesica sambil memegang tangan Edward dengan sangat erat.
Edward menatap Jesica. Perempuan yang biasa cantik itu nampak berantakan tanpa dandanan sedikitpun. Edward sungguh kasihan melihat Jesica. Namun keadaanlah yang membuat mereka tak mungkin lagi bersama. Keadaanlah yang telah mengubah jalan hidup mereka.
"Jes, aku mencintai Lerina" kata Edward sambil melepaskan pegangan tangan Jesica di pergelangan tangannya.
Jesica mengangguk. "Baiklah kalau itu keputusanmu. Maka aku akan mengahiri hidupku di hadapanmu sekarang ini! Karena jika aku tak bisa memilikimu kembali, aku lebih baik mati saja" Jesica mengeluarkan pistol dari dalam tas gendongnya. Ia membuka pengamannya dan meletakan ujung pistol itu di pelipisnya.
"Selamat tinggal, Edward....!"
__ADS_1
MAAF YA..AKU LAMBAT UP KARENA ADA DUKA DI TENGAH KELUARGAKU.
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE