
Suara tangis bayi terdengar dari ruang operasi. Edward tak bisa menahan rasa harunya saat menyaksikan sendiri proses operasi yang harus dijalani oleh Lerina karena berat badan bayi yang mencapai 4 kg.
Dokter menyarankan agar operasi dilakukan supaya lebih aman bagi Lerina dan bayinya.
"Sayang, dia cantik sekali." Ujar Edward lalu mencium dahi istrinya itu. Bayi perempuan itu terlihat montok dengan bibir kecilnya yang menangis.
Lerina pun tak dapat menahan rasa harunya. Rasa bahagia karena penantiannya selama 9 bulan sudah berakhir.
Setelah semua selesai, Lerina dipindahkan ke ruangannya untuk beristirahat.
"Min Jun di mana?" Tanya Lerina saat Edward sedang menyuapinya dengan semangkuk bubur.
"Di rumah, sayang. Besok baru mereka akan membawanya ke sini. Katanya Min Jun menangis mencari kita berdua. Tapi Nani, Nana dan semua pelayan yang ada di rumah berhasil membujuknya. Sekarang dia sudah tidur. Tadi juga Yura membawa anak-anaknya untuk bermain dengan Min Jun."
"Pasti malam nanti dia menangis juga mencari kita." Wajah Lerina terlihat sedih.
"Sudahlah sayang. Min Jun kan anak tertua. Dia harus diajarkan untuk tidak manja."
Lerina mengangguk. Ia memang sangat merindukan putranya itu. Ini adalah kali pertama Lerina tidak pulang ke rumah. Makanya Min Jun pasti merasa kesepian.
"Meloddy nya mana?"
Edward meletakan tempat makanan yang sudah kosong. "Meloddy masih di kamar bayi. Besok baru akan dipindahkan ke sini."
"Tidak diberi ASI? Sepertinya ASI ku sudah banyak ini. Jadi sakit kalau tidak dikeluarkan." Kata Lerina sambil menyentuh ***********.
"Kata dokter, bisa dipompa dulu dan disimpan di lemari pendingin. Kamu kan nggak boleh banyak bergerak karena baru selesai di operasi. Meloddy telah diberikan susu formula" Edward membantu menurunkan tempat tidur Lerina agar bisa kembali ke posisi semula.
"Apakah dia cantik?"
Edward menunjukan foto Meloddy yang sempat diabadikannya tadi.
"Mirip Min Jun waktu baru lahirkan?" Ujar Edward.
"Iya. Matanya, hidungnya, bibirnya bahkan rambutnya sama. Yang berbeda adalah warna mata Meloddy seperti mataku. Kalau Min Jun kan mirip kamu."
"Kalau semuanya mirip Min Jun, berarti wajahnya ikut kamu dong? Wah, curang. Aku yang hamil, aku yang melahirkan, wajahnya justru mirip bapaknya." Lerina jadi cemberut.
"Soalnya waktu proses pembuatannya, bapaknya yang paling agresif. Makanya gen ku yang paling banyak."
"Memang iya, ya. Kamu yang paling genit."
Edward tertawa. "Kalau begitu, untuk anak ke-3, harus kamu yang rayu-rayu aku, yang menggoda aku, supaya wajahnya mirip kamu."
Lerina mencubit tangan Edward. "Baru saja keluar, sudah mau tambah lagi. Nggak, Ed. 2 saja cukup."
"Sayang, aku maunya empat."
"Tidak. 2 saja."
Keduanya tertawa bersama. Lerina sedikit meringis karena luka diperutnya agak nyeri. Namun dibalik semua itu Lerina bersyukur karena ia punya suami yang begitu menyayanginya.
**************
Saat mereka pulang ke rumah, Min Jun sangat senang melihat adiknya. Ia jadi malas bermain dengan Nani dan memilih diam di kamar menemani Lerina.
Edward kembali menjadi suami yang sangat sibuk dalam mengurus bayi kecil mereka. Ia bahkan terlihat lebih bersemangat dalam mengurus Meloddy. Putri Lerina ini, lebih lincah dan lebih cepat bicara dibandingkan dengan Min Jun. Dia juga sangat suka bila Edward membawanya duduk di depan piano dan tangan mungilnya itu menekan tuts-tuts piano yang ada. Bakat Meloddy memang sudah ditunjukannya semenjak ia kecil.
***********
8 tahun kemudian.....
__ADS_1
"Ibu, daddy ke mana, sih? Katanya kita mau jalan-jalan ke Bali. Terus kapan?" Meloddy yang kini sudah berusia 8 tahun mendekati ibunya yang sedang memasak di dapur.
"Katanya besok kita akan pergi. Ibu sudah siapkan semua keperluan Meloddy, Kak Jun dan Jisoo."
Setelah Meloddy berusia 2 tahun, Lerina hamil lagi. Ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Kim Jisoo. Anak ketiga ini memang 80% mirip Lerina. Yang berbeda hanya warna matanya yang seperti Edward.
Min Jun mengikuti jejak Lerina. Ia suka sesuatu yang berhubungan dengan dunia perekonomian. Ia juga sangat pintar di sekolah dan menjuarai olimpiade matematika dsn fisika. Ia juga suka menggambar bangunan-bangunan bertingkat dan jembatan. Lerina jadi ingat dengan papanya yang sangat suka menggambar seperti itu. Min Jun karakternya agak pendiam dan lebih suka menyendiri.
Sedangkan Meloddy, 100% mirip dengan Edward. Ia sudah tampil dibeberapa konser papanya sejak usianya 5 tahun. Ia sudah mendapatkan penghargaan sebagai pianis cilik. Meloddy bukan hanya menyukai piano, ia juga sangat mahir bermain harpa dan biola. Makanya ia sangat manja dengan papanya. Meloddy selalu ramah pada siapa saja, jarang marah dan sangat cerewet.
Si bungsu Kim Jisso, agak berbeda dengan kedua kakaknya. Anaknya supel dan selalu disukai orang. Dia seperti tertarik dengan sepakbola. Makanya Edward sudah memasukannya di club bola agar bakatnya ini bisa dikembangkan.
"Ibu, kita akan Ke Bali dengan uncle Arnold ya?" Tanya Meloddy.
"Ya. Besok sore, daddy dan uncle Arnold akan konser di acara amal, setelah itu barulah kita ke Bali dengan pesawatnya uncle Arnold."
"Oh...begitu. Kenapa nggak naik pesawat kita saja?"
Lerina tersenyum. "Uncle Arnold yang ingin kita pergi bersama. Katanya supaya ramai."
Meloddy tersenyum. Rambut panjangnya yang diikat satu ke atas terlihat lucu saat ia menggerakan kepalanya.
Edward pun pulang bersama Min Jun. Keduanya baru saja pulang dari mall. Min Jun meminta daddynya untuk menemaninya toko untuk membeli bola basket. Min Jun memang sangat suka main basket.
"Hallo, sayang." Edward mendekat dan memeluk istrinya dari belakang.
"Yang dicari Min Jun, ada?"
Edward mengecup pipi istrinya. "Ya. Ia sangat senang dan akan membawa bola basketnya itu ke Bali."
"Dad....!"
"Ada apa, sayang?"
"Main sepak bola, yuk!" Ajak Jisso
"Sayang, daddy baru saja..."
"Ayo!" Edward memotong perkataan istrinya. Ia menatap Lerina sambil mengedipkan matanya. "Aku mau main bola, sayang."
Lerina hanya bisa menggelengkan kepalanya. Edward tak pernah mau mengecewakan anak-anaknya. Dia selalu menyiapkan waktu bermain dengan anak-anaknya."
"Aku juga mau main bola." Kata Meloddy. Ia menatap Min Jun. "Kakak mau ikut?"
Min Jun mengangguk. Ia segera mengikuti langkah kedua adiknya.
Lerina tersenyum bahagia melihat keempat orang kesayangannya di halaman belakang rumah mereka. Ia merasa hidupnya sempurna.Sekalipun Edward seorang bintang yang punya kesibukan yang sangat banyak, namun ia selalu memberi waktunya untuk ketiga buah hatinya. Ini yang membuat Lerina bangga dan sangat bahagia menjadi istri seorang Edward Kim.
*******
"Happy birthday nyonya Thomson." Kata Lerina sambil memeluk Faith Thomson.
"Terima kasih. Panggil saja aku, Faith. Suatu kehormatan bisa berjumpa dengan istri Edward Kim yang cantik. Kita sama-sama perempuan Indonesia yang dinikahi pria bule."
Lerina tersenyum. Ia sudah mendengar kalau istri Ezekiel Thomson ini adalah wanita hebat namun tidak sombong. Ternyata benar. Ia juga sangat ramah.
"Di mana Arnold dan istrinya?"
"Mereka masih di kamar. Tuan putri sedikit pusing. Kan sedang hamil."
"Oh ya? Tuan putri hamil lagi?"
__ADS_1
"Ya. Tapi dia juga sangat antusias untuk datang ke sini."
Faith tersenyum senang. Akhirnya Arnold telah mendapatkan kebahagiaannya. Kebahagiaan yang lama telah hilang, kini bisa kembali lagi. Faith ikut bahagia.
*********
Lerina dan Edward bergandengan tangan sambil menyusuri pantai. Bali di sore hari tetap hangat. Lerina bahkan menggulung rambutnya ke atas karena rasa panas.
Korea telah membuat Lerina telah terbiasa dengan udaranya yang dingin.
"Sayang, awas ya matamu jelalatan melihat gadis-gadis yang berjemur itu."
Edward tersenyum saat Lerina menggeratkan pegangannya pada lengan Edward.
Sore hari di pantai ini memang banyak para wisatawan perempuan yang berjemur dengan bikini seksi.
"Aku nggak perlu melihat wanita manapun. Mataku hanya selalu tertuju padamu!" Edward menghentikan langkahnya lalu menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta. Tangannya terulur dan menyentuh pipi cantik istrinya.
"Happy wedding aniversary , sayang. Hari ini 11 tahun sudah kita menikah."
"Astaga, Ed. Mengapa aku sampai lupa ya?"
"Mungkin karena kamu terlalu fokus mengurus anak-anak kita."
Edward membalikan tubuh Lerina lalu memakaikan sebuah kalung berliontin hati di leher jenjang istrinya.
"Ed, ini romantis sekali. Lihatlah mereka melihat kita."
"I dont care" bisik.Edward lalu membalikan posisi Lerina untuk kembali menghadapnya.
"Aku mencintaimu sayang.....dulu, kini dan selamanya. Kau, Min Jun, Meloddy, Jisoo adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku. Aku bahagia memiliki kalian. Musik yang akan terus kumainkan adalah tentang dirimu dan anak-anak kita."
Air mata Lerina jatuh tanpa bisa ditahannya. Hatinya bahagia. Tuhan sangat baik padanya karena memberikan kebahagiaan ini.
Dari jauh ketiga anak mereka sedang berlari menuju ke tempat mereka.
Min Jun, Meloddy dan Jisoo kelihatan bahagia.
"Ibu..."
"Daddy...!"
Teriak mereka bertiga saling bergantian.
Edward membentangkan tangannya. Menyambut ketiga buah hatinya dengan hati berbunga.
Tiba-tiba Edward ingin memainkan pianonya.
T A M A T
TERIMA KASIH SUDAH MENGIKUTI CERITA INI SELAMA 8 BULAN.
TERIMA KASIH ATAS SEMUA LIKE, KOMEN (BAIK YANG MANIS MAUPUN YANG PEDES 😂😂😂)
TERIMA KASIH UNTUK SEMUA VOTE.
DUKUNG CERITAKU YANG LAIN YA:
SONG IN MY LIFE
3 HATI 1 CINTA
__ADS_1