
Hangover yang dirasakan Edward saat ini memang membuatnya enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Namun perutnya yang sudah berbunyi untuk minta diisi membuatnya harus bangun mencari makanan.
Mata Edward langsung bersinar melihat di atas meja bulat, didepan sofa sudah tersedia makanan lengkap dengan kopi hitam yang disimpan dalam gelas termos sehingga bisa tetap hangat.
Melihat menu yang ada di atas meja ini, Ed sangat yakin semua ini disiapkan oleh Lerina.
Edward segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebentar lalu ia menikmati sarapannya dan meminum juga obat yang sudah tersedia disana.
Kemana Lerina ya? Apakah dia ada dibawah? Ah, seharusnya aku tak bersikap seperti itu semalam. Aku harus meminta maaf padanya. Dan mulai hari ini aku harus menahan diriku untuk tidak menyentuhnya disaat kami hanya berdua saja. Aku harus mengontrol diriku sehingga pada saat kami akan berpisah, aku tak akan terlalu sedih. Aku tak mau Lerina menganggapku pria brengsek yang hanya menginginkan tubuhnya.
Dengan kepala yang masih sedikit pusing, Edward turun ke bawa. Ruang tamu nampak sepih. Ia melihat papanya, Jesica dan Taeyung sedang duduk di dekat perapian.
"Ed....!" panggil Ryun Ong.
Edward mendekat "Aku mencari istriku"
"Mereka sedang ke swalayan bersama Ross. Yura juga ikut" kata Jesica.
"Ya sudah. Aku mau olahraga dulu!" Edward memilih untuk pergi ruang gym dan menghangatkan tubuhnya dengan berolahraga dari pada harus duduk bersama dengan mereka dan membicarakan bisnis. Kepalanya bisa bertambah pusing.
Selesai berkeringat dan membuat tubuhnya terasa panas, Ed merasa sakit dikepalanya sedikit berkurang. Mungkin juga karena ia sudah menelan obat penghilang sakit kepala.
Saat keluar dari ruang Gym, Edward pun menuju ke kolam air panas yang ada di sebelahnya. Kedua ruangan ini berdindingkan kaca.
Edward membuka pakaiannya dan menyisahkan boxer. Ia turun ke dalam kolam dan duduk dibagian kolam yang mengeluarkan semprotan air sehingga punggungnya bagaikan dipijat. Ia pun memejamkan matanya untuk membuat dirinya merasa nyaman.
Bunyi suara pintu kaca yang digeser dan langkah kaki yang mendekat membuat Edward membuka matanya. Ia terkejut melihat Lerina berdiri dipinggir kolam sambil menatap Edward dengan tatapan yang sama sekali tak Edward mengerti.
"Le, apa yang kamu lakukan di sini?"
Lerina sama sekali tak menjawab pertanyaan Edward. Ia membuka baju yang melekat ditubuhnya dan menyisahkan baju dalamnya saja.
Edward menelan salivanya yang terasa tersekat di tenggerokannya. Di saat ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh Lerina ketika mereka sedang berdua saja, sekarang gadis itu justru berdiri di hadapannya dengan pemandangan yang akan mematahkan semua niat yang sudah Edward ucapkan tadi pagi. Edward bingung.
Di tengah ruangan yang terang, tubuh Lerina terlihat begitu sempurna. Perlahan kaki Lerina menuruni tangga dipinggiran kolam, ia melangkah ke arah Edward dengan wajah yang merah menahan malu.
Namun Lerina sudah menguatkan hatinya. Walaupun mungkin dia akan menyesal setelah ini. Toh Edward adalah suaminya. Baik secara hukum maupun dihadapan Tuhan, Tindakan yang akan Lerina lakukan ini tidaklah salah.
Dan Lerina yakin kalau Calvin saat ini sedang berdiri tak jauh dari sana, memperhatikan apa yang akan dilakukan Lerina. Karena Calvin tahu, bahwa Lerina bukan gadis yang biasa memamerkan tubuhnya dihadapan laki-laki. Bahkan dengan Calvin yang sudah 4 tahun bersamanya. Calvin yang sudah menanamkan cinta yang begitu dalam padanya.
Lerina berdiri di depan Edward.
"Ed, bantu aku menghilangkan semua bekas sentuhan Calvin ditubuhku" kata Lerina pelan.
Saat tangan Lerina melingkar dileher Edward, tangannya bergetar dan sangat dingin. Edward bahkan dapat merasakannya.
"Kiss me, Ed"
__ADS_1
Bola mata Edward membesar. Ia bagaikan berada dalam mimpi. Namun sebelum ia bicara, Lerina sudah lebih dulu menyatukan ciuman mereka. Bukan dengan ciuman malu-malu seperti yang pernah dilakukannya namun ciuman yang penuh gairah seolah ia begitu mendambah, menginginkan lebih.
Pikiran Edward langsung buntuh, akal sehatnya menjadi hilang. Dia tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia menyambut semuanya dengan hasrat yang sama. Bahkan ketika sudut matanya melihat bahwa diruangan sebelah ada Jesica, Edward terus menikmati bibir manis Lerina. Kali ini bukan untuk membuat Jesica cemburu tapi Edward memang menikmatinya.
Sementara Calvin yang berdiri di luar menatap adegan itu dengan hati yang hancur. Lerina, gadis manis yang dikenalnya sebagai perempuan yang pemalu, yang tak pernah genit bahkan pada dirinya yang sudah bertunangan dengannya, kini nampak berbeda.
Dari caranya mencium dan memeluk Edward, Calvin akhirnya mengerti bahwa tak mungkin Lerina melakukan itu jika perasaannya masih untuk Calvin.
Dengan langkah yang terasa berat, Calvin pun meninggalkan tempat itu. Pria tampan itu, berdiri di sudut rumah. Ia duduk sambil memegang kedua lututnya. Kemudian kepalanya diletakannya diantara lututnya. Calvin tak bisa menahan dirinya. Ia menumpahkan seluruh tangisnya. Rasa kehilangannya, rasa cemburu yang begitu besar memukul hatinya. Sampai ia merasa sesak napas.
Kehilangan Lerina bukanlah sesuatu yang Calvin inginkan di dunia. Dia telah merelahkan hidupnya berada dalam ikatan yang selama ini menyiksanya untuk mengembalikan semua yang telah dirampas dalam hidup Lerina namun saat ia melihat semua adegan di dalam kolam itu, haruskah semua yang dia perjuangkan menjadi sia-sia?
Di sudut lain tempat itu, Jesica pun segera membalikan badannya, berlari meninggalkan ruang gym. Sesampainya di dalam mansion, ia langsung berlari ke dalam kamar. Tak memperdulikan Ryun Ong yang memanggilnya. Jesica bahkan tak menahan tangisnya. Tak perduli kalau ada yang mendengarnya.
Sementara didalam kolam, Edward tiba-tiba melepaskan ciuman Lerina, memegang pipi gadis itu dengan kedua tangannya.
"Le....jangan diteruskan lagi. Aku bisa gila dengan semua hasratku ini" Edward melepaskan tangannya dari pipi Lerina lalu melangkah menjauh sedikit dan membelakangi gadis itu.
"Ed, kamu ingat sebelum kita menikah, aku pernah bertanya padamu, apakah jika kita menikah, kita akan melakukan hubungan layaknya suami istri? Kau mengatakan kalau jika aku menginginkannya kau baru akan menyentuhku. Aku tahu selama ini, kau begitu tersiksa menahan semua hasratmu padaku. Karena itu, malam ini aku ingin kau bercinta denganku. Hanya dengan bersamamu, aku akan menghapus semua tentang Calvin"
Edward membalikan badannya. Ia menatap Lerina dengan mata birunya yang lembut itu "Jika aku sekali saja menyentuhmu, aku mungkin tidak akan pernah berhenti melakukannya. Apakah kau siap?"
Lerina mengangguk walaupun dengan wajah yang merona.
Edward kembali mendekat. Dipeluknya Lerina dengan hasrat yang sama sekali belum hilang.
Lalu ia kembali mencium Lerina. Kali ini tanpa ada keraguan. Lerina pun membalasnya dengan hasrat yang sama.
"Aku tak bisa menungguh sampai malam nanti. Aku menginginkanmu saat ini, Le"
Jantung Lerina seakan meledak dan hendak keluar dari tempatnya. Namun tekadnya sudah bulat. Ia sudah memikirkannya ini sepanjang malam. Ia tak bisa mundur lagi. Karena jika dia berhenti, bukan hanya Edward yang akan merasa tersiksa. Mungkin juga dia akan mengalami hal itu karena sesungguhnya sentuhan Edward mulai membuatnya nyaman.
"Aku siap, Ed...!" Kata Lerina tanpa ada keragun lagi.
Edward langsung menunduk dan mengangkat tubuh Lerina keluar dari kolam. Ia memakaikan pakaian Lerina secara cepat, lalu ia sendiri memakai pakaiannya sendiri dengan tak sabar.
Tak ada waktu lagi bagi mereka untuk mengenakan sepatu.
"Le, ayo kita ke kamar dan bercinta!" kata Edward dengan gaya sensual, ia kembali memeluk Lerina, mengangkat tubuh gadis itu dan melangkah meninggalkan kolam dengan kaki yang telanjang.
****************
Jien menatap Calvin yang berdiri di depan kaca ruang santai mansion itu.
"Sayang..., aku mencarimu untuk makan siang bersama." Jien menyentuh tangan Calvin lembut.
"Aku tidak lapar" kata Calvin tanpa mengalihkan pandangannya, memandang ke luar kaca dengan salju yang berjatuhan.
__ADS_1
"Sayang....ada apa?" tanya Jien sambil menatap suaminya. Bibir Calvin yang agak bengkak karena luka semalam. Jien tahu luka itu didapatkan bukan karena Calvin terantuk pada pintu seperti yang dikatakannya.
Calvin memandang Jien yang masih berdiri di sampingnya "Bolehkah besok kita kembali ke Seoul? Aku bosan berada di sini"
Jien menjadi bingung. "Bukankah kamu sangat bersemangat ketika kita datang ke sini? Mengapa sekarang justru merasa bosan?"
"Swiss ternyata tidak menyenangkan seperti yang aku pikirkan"
Jien menarik napas panjang. "Sayang, selama 3 hari ini akan ada badai salju. Jadi penerbangannya ditutup"
Calvin mendengus kesal.
"Ayolah kita pergi makan. Paman sudah menungguh kita di meja makan!" Jien menarik tangan suaminya. Calvin mengikutinya dengan langkah terpaksa karena memang ia sama sekali tak merasa lapar.
Di meja makan sudah ada Ryun Ong, Jesica, Taeyung, dan Yura.
"Ross, panggilkan Edward dan Lerina." ujar Ryun Ong.
Ross mengangguk hormat. Ia segera menuju ke lantai dua.
Kamar tempat Edward dan Lerina tempati berada di paling ujung dari lorong lantai 2 ini.
Ross menggelengkan kepalanya karena kebiasaan Edward dari dulu adalah selalu terlambat datang ke meja makan.
Tangan Ross sudah terangkat hendak mengetuk pintu kamar itu namun suara yang ia dengar dari dalam kamar itu membuatnya menurunkan tangannya kembali. Ross tahu jika ia mengetuk pintu dan memanggil mereka untuk makan maka Edward pasti akan mengalami sakit kepala melebihi hangover yang dialaminya tadi pagi.
Ross memilih kembali ke bawa dengan wajah yang merah.
"Mana Edward dan Lerina?" tanya Ryun Ong.
"Mereka pasti akan makan siang terlambat hari ini. Biarkan saja, aku tak mau menganggu mereka" kata Ross sedikit tersipu.
Jesica menggengam sendok dengan dada sesak. Ia tahu maksud perkataan Ross.
Sementara Calvin langsung meneguk anggur yang ada di depannya sampai habis.
"Tolong ditambah lagi!" katanya pada pelayan sambil menyodorkan gelasnya yang sudah habis.
Ryun Ong hanya tersenyum "Semoga mereka bisa memberikan aku seorang cucu ! Ayo kita makan!" katanya dengan hati yang bahagia.
Taeyung diam-diam menatap Yura. Keinginan papanya untuk memiliki cucu sungguh mengusik hatinya.
Mereka akhirnya makan tanpa menungguh Edward dan Lerina. Tak ada juga yang memperhatikan Jien ketika ia berusaha menahan air matanya. Ia semakin yakin sumber kegelisahaan suaminya karena perempuan bernama Lerina.
Sementara itu di kamar, Edward dan Lerina....
JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR DAN VOTE YA...
__ADS_1
MAKASI SUDAH BACA
MAAF KALAU ADA SALAH-SALAH KATA