LERINA

LERINA
Serpihan Hati


__ADS_3

Taeyung mendorong pintu kamar mandi, melihat Edward yang masih berendam air dingin di bathtub membuatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Efeknya sudah hilang?" tanya Taeyung.


Edward mengangguk.


"Berdirilah dari sana. Nanti kamu sakit. Sudah dua jam kamu ada di sana. Nanti kamu sakit"


Perhatian Taeyung membuat hati Edward tersentuh. Bisa dikatakan kalau inilah kali pertama Taeyung masuk ke kamar Edward semenjak mereka menjadi adik kakak.


Edward langsung mengambil handuk yang diulurkan Taeyung lalu mengeringkan badannya, mengambil jubah mandi dan memakainya lalu keluar dari kamar.


Nampak Yura baru saja masuk sambil membawa teh jahe untuk menghangatkan badan Edward.


"Minumlah ini, Ed!" kata Yura sambil meletakan gelas berisi teh jahe itu di atas meja.


"Terima kasih!" kata Edward sambil duduk di atas sofa, bersebelahan dengan Taeyung.


"Di mana Jesica?" tanya Taeyung pada Yura.


"Di kamarnya." jawab Yura sedikit kurang suka. Ia sangat menyayangi Lerina dan dapat merasakan bagaimana sedihnya perempuan itu.


"Lerina sudah naik pesawat ke Jakarta satu jam yang lalu. Dia akan tiba di Jakarta sekitar jam 5 subuh waktu sana. Aku sudah memerintahkan orang untuk mengikuti Lerina saat ia tiba di sana." kata Taeyung tanpa ditanya oleh Edward namun ia tahu adiknya itu ingin tahu apa yang dialami Lerina saat ini.


Edward menarik napas panjang. Ia bahkan menarik rambutnya dengan sedikit frustasi. Tak lama kemudian terdengar tangis Edward. Ia tak dapat menahan lagi gejolak di hatinya karena kehilangan Lerina.


"Ed, apa yang terjadi antara kau dan Jesica? Katakan padaku agar aku bisa membantumu!" kata Taeyung sambil menepuk pundak adiknya perlahan.


Edwardpun mulai bercerita.....


Flashback on


Edward menuruni tangga, mencoba mencari Jesica di ruang tamu. Namun ruang tamu sudah sangat sepi karena memang dijam seperti ini para pelayan sudah di kamar mereka masing-masing.


Edward akhirnya melihat Jesica sedang melangkah menuju ke kamar yang biasa ditempatinya bersama Ryun Ong.


"Jesica....!" panggil Edward cukup keras namun perempuan seperti tak mendengarnya dan terus melangkah.


"Jesica...!" panggil Edward sekali lagi namun Jesica sudah menghilang di balik pintu.


Edward mendekati kamar itu. Langkahnya terhenti di depan pintu yang memang terbuka sedikit.


"Jesica!" panggil Edward sambil mengetuk pintu. Namun tak ada sahutan. Edward kembali mengetuk pintu lalu mendorong pintu itu perlahan. Ia melihat Jesica baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ed?" Jesica terkejut melihat Edward ada di kamar.


Mata Edward langsung terpana melihat foto papa dan mamanya yang ada di kamar itu. Foto berukuran jumbo itu diletakan di kepala ranjang. Lalu di dinding yang lain nampak foto dirinya, Taeyung dan Anastasya. Namun dari semua foto yang ada, foto Edward yang sedang memegang sebuah piala dalam penghargaan yang diterimanya di Amerika 3 tahun yang lalu nampak paling menonjol di sana. Ia tak menyangkah kalau papanya memiliki koleksi foto-foto penghargaan yang ia terima.


Semenjak mamanya meninggal dan Edward memutuskan untuk tinggal di apartemennya, ia memang tak pernah masuk lagi di kamar ini.


"Dia sangat bangga padamu, Ed. Setiap malam dia selalu menceritakan tentang masa kecilmu. Papamu selalu memintaku untuk mencari diinternet saat kau show ataupun videoclipmu. Dia akan memutarnya secara berulang-ulang sambil terus berkata kalau kamu sangat mirip dengan mamamu. Dia sangat bangga denganmu, Ed" kata Jesica sambil menatap Edward yang masih terpaku menatap semua foto yang menghiasi semua sisi dinding kamar ini.


Emosi Edward kembali membara. Merasakan sesal karena telah membuang banyak waktu kebersamaannya bersama papanya karena rasa marah dan kebencian atas pernikahan papa nya dengan Jesica yang ternyata untuk melindunginya.


"Ed...ayo minum ini!" Jesica menyodorkan sebuah gelas berisi anggur.


"Ini adalah anggur kesukaan papamu. Masih tersisa satu botol di sana!" lanjut Jesica sambil menunjuk sebuah botol anggur yang ada di sudut kamar.


Walaupun agak ragu, Edward langsung meneguknya sampai habis.


"Jesica, ini adalah dokumen yang berisi bagian warisanmu yang kau terima dari papaku. Kau harus menandatanganinya dan menyerahkan pada pengacara besok pagi. " Edward mengingat tujuannya datang ke kamar ini. Ia segera menyerahkan map yang masih ada ditangannya.


Jesica menerimanya dan meletakannya di atas meja didepan sofa.


"Aku ke atas dulu ya...!"

__ADS_1


"Ed.....!" panggil Jesica sambil menahan tangan Edward.


Edward terkejut merasakan sensasi yang ditimbulkan oleh sentuhan tangan Jesica. Ia buru-buru menarik tangannya.


"Maaf, aku hanya ingin berbincang saja denganmu. Sebentar saja. Boleh?" tanya Jesica dengan wajah penuh permohonan.


"Baiklah. Hanya 10 menit saja karena Lerina sedang menungguhku di atas" kata Edward lalu segera menuju ke sofa dan duduk di sana..


Edward merasakan kalau badanya sedikit panas dan entah mengapa gaun Jesica yang sedikit pendek itu membuat jantung Edward bergetar sedikit cepat.


Jesica duduk di depan Edward "Ed, apakah benar kau akan pergi dengan Lerina?"


"Ya. Besok sore"


"Apakah kau sungguh mencintainya, Ed?"


"Ya...aku mencintai Lerina!" ucap Edward sambil menelan salivanya melihat paha mulus Jesica yang nampak tersingkap karena ia melipat salah satu kakinya. Belahan gaun Jesica bahkan sudah sedikit terbuka dan menampilkan dua gundukan di dadanya yang membuat Edward merasa panas dingin.


Pikiran Edward langsung melayang, mengingat dulu bagaimana ia pernah sangat menyukai bagian tubuh Jesica yang satu itu.


Edward langsung berdiri. Ia merasa sudah tak aman berada di kamar ini. Gairah begitu cepat naik melihat tubuh Jesica sangat menarik dengan lekukan yang membuatnya tampak sempurna sebagai seorang perempuan.


"Aku balik ke kamar saja!" Edward melangkah. Ia hampir saja menggampai pintu saat Jesica memanggilnya.


"Ed....!"


Edward membalikan tubuhnya. Ia semakin terkejut melihat Jesica yang sudah menurunkan gaunnya sehingga yang tersisa adalah Bh dan celana dalamnya saja.


Edward tak bisa menguasai hasratnya yang sudah naik sampai ke otak dan menghilangkan akal sehatnya. Apalagi saat Jesica mendekatinya dengan gaya sensual.


"Ed, ayo kita berpisah dengan cara yang manis. Aku akan membiarkan kau bersama Lerina, tapi sentuh aku sekali saja!" kata Jesica sambil melangkah mendekati Edward.


"Jesica...ini tidak...." kalimat Edward langsung terhenti karena Jesica sudah mencium Edward dengan keinginan gairah yang sama.


Edward lepas kontrol. Ia langsung menyambut ciuman itu dengan dorongan yang kuat untuk segera mengeluarkan apa yang saat ini memenuhi kepalanya.


Kesadaran Edward sudah berada di level 9. Ia hampir saja lepas kontrol saat matanya menatap sosok Lerina yang sedang berdiri di pintu dan tak lama kemudian...


Prang...!


Pintu ditarik sangat keras membuat Edward secara spontan langsung mendorong tubuh Jesica.


"Tidak....Jesica...!"


"Ed...!" panggil Jesica mencoba merayu. Namun Edward buru-buru turun dari ranjang, meraih pakaiannya dan menggenakannya secara asal. Tubuhnya masih menginginkan penyatuan dengan Jesica namun hatinya memberontak ingin segera pergi dari kamar itu.


Flashback off


Yura mengepal tangannya dengan kesal "Dasar Jesica rubah perayu! Aku kesal dengannya. Ingin ku cabik-cabik wajahnya!"


"Sayang...?" Taeyung terkejut melihat reaksi istrinya saat mendengar cerita Edward.


"Le sangat membantuku untuk kuat saat dulu kau mengabaikanku. Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri" mata Yura berkaca-kaca. Ia dapat membayangkan sakit yang dialami Lerina saat melihat adegan itu.


"Jesica bukan hanya memberikanmu obat perangsang namun ia menambahkan sejenis narkoba yang akan langsung melumpuhkan otakmu sehingga keinginan untuk menyentuhnya semakin dalam. Itu yang dokter katakan saat aku meneleponnya tadi. Sekarang, kau istirahatlah. Besok akan kita bicarakan rencana untuk mempertemukanmu dengan Lerina" kata Taeyung dengan wajah yang lelah karena perjalanan panjang dari desa.


"Aku akan pulang ke apartemenku" ujar Arnold lalu meneguk habis teh jahe yang dibawa Yura. Ia pun melangkah masuk ke dalam walk in closet membuat Yura dan Taeyung meninggalkan kamarnya.


"Sayang, apa yang akan kita lakukan terhadap Jesica?" tanya Yura ketika mereka sudah berada di kamar.


"Taeyung mengangkat bahunya "Aku tak bisa mengusirnya karena permintaan aboji. Aku berharap kalau si mafia itu cepat tertangkap dan Jesica bisa pergi dari rumah ini"


Yura membaringkan tubuhnya. "Aku sedih Le pergi. Aku ingin menangis rasanya"


Taeyung pun ikut berbaring disamping istrinya. Ia memeluk Yura lalu memejamkan matanya. "Tidurlah sayang....supaya esok kita punya tenaga untuk menolong adik-adik kita."

__ADS_1


Yura mengangguk. Ia pun memejamkan matanya. Sambil berdoa dalam hatinya.


Le...aku harap kamu akan memaafkan Ed sebagaimana aku telah memaafkan Taeyung.


**********


Hari sudah menjelang subuh, namun Edward yang sudah kembali ke apartemennya masih duduk di balkon kamarnya, seakan tak peduli cuaca dingin. Jarum jam sudah menunjukan pukul 4 pagi.


Tempat ini, adalah tempat kesukaan Lerina. Dan Edward ingin merasakan kehadiran istrinya dengan duduk di sini.


Sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku.


Aku tak bisa tanpamu, aku kehilangan arah


tanpamu. Hanya kau yang kucintai. Hukumlah


aku dengan apapun yang kau mau, hanya ku


mohon jangan tinggalkan aku, jangan pergi


dari pandangan mataku...


Edward mengirim sms pada Lerina. Namun smsnya tak terkirim. Edward mencoba menghubunginya melalui sambungan telepon, namun tak bisa juga. Edward pun sadar, kalau nomornya sudah diblokir oleh Lerina. Kenyataan ini semakin membuat Edward merasa patah hati.


************


Calvin memperhatikan Lerina yang sedang membuat sarapan. Ia merasa kalau gadis itu sedang tidak baik-baik saja.


Bibirnya boleh saja tersenyum, namun kelopak matanya yang bengkak dan wajahnya yang terlihat lusuh membuktikan kalau sepanjang perjalanan dari Seoul ke Jakarta, Lerina pasti menangis.


"Ina.....!" panggil Calvin.


Lerina menoleh "Ada apa, Vin?"


"Di mana kopermu? Kamu tak mungkin datang ke sini tanpa perisiapan kan?"


Lerina kembali mengaduk nasi goreng yang dibuatnya.


"Aku memang datang secara mendadak makanya koperku ditinggal."


Calvin berdiri dan melangkah ke arah Lerina. Ia memegang lengan gadis itu perlahan.


"Na...., jujurlah padaku ada apa?" tanyanya lembut.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya mengkhawatirkanmu saja karena kamu sakit." kata Lerina lalu mematikan kompor. Ia segera menaruh nasi goreng itu di atas piring, meletakan piring yang berisi nasi goreng itu di atas meja makan. Kemudian ia membuatkan 2 mangkuk teh untuknya dan Calvin.


Calvin hanya bisa memperhatikan Lerina dengan hati yang bertanya-tanya.


"Makan, yuk!" ajak Lerina.


Calvin duduk di depan Lerina. Ia melihat kalau Lerina makan dengan lahap. Namun Calvin tahu itu hanya karena ia ingin menunjukan bahwa ia baik-baik saja.


"Na, hati-hati nanti kamu tersedak" Calvin mengingatkan dan Lerina memang tersedak.


"Tuh kan, aku bilang juga apa. Kalau memang kamu nggak bisa makan, jangan dipaksakan" Calvin mengambil air putih untuk Lerina.


Lerina langsung menegukan sampai habis.


"Katakan padaku ada apa? Masalah apa yang kamu alami sehingga kamu datang dengan tampang kusut seperti ini?"


Lerina meletakan sendok di tangannya. Ia menatap Calvin dengan penuh keyakinan sambil berucap,


"Calvin, menikalah denganku!"


"Apa?????"

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH BACA PART INI


LIKE, KOMENT DAN VOTE YA...


__ADS_2