
Lerina menatap tubuh kaku papanya yang terbaring tanpa nyawa. Semua alat yang terpasang di tubuh papanya sudah dilepaskan. Air mata Lerina jatuh melihat mamanya juga pingsan saat diberitahukan kalau papanya meninggal.
Calvin, dibantu oleh salah seorang perawat membantu mamanya Lerina untuk dibaringkan di salah satu tempat tidur.
Lerina mendekati jasad papanya. Menyentuh tangan dingin itu dengan tangannya yang gemetar.
"Papa...maafkan Ina yang tak bisa menolong papa di saat seperti ini. Tapi Ina janji papa kalau Ina akan lakukan apa saja agar perusahaan yang sudah papa bangun dari awal akan kembali ke keluarga kita. Ina akan mengembalikan semua yang sudah direbut dari tangan papa secara tidak adil. Tenanglah di sana papa. Ina pasti bisa melakukannya" kata Lerina membelai kepala papanya. Ia sungguh sangat hancur.
Calvin memeluk Lerina dari belakang. Membuat tangis gadis itu semakin dalam "Aku seperti kehilangan separuh napasku." ujar Lerina diantara isak tangisnya.
"Aku akan selalu di sisimu, sayang. Aku akan menolongmu untuk mengembalikan apa yang sudah kau janjikan pada papamu. Aku bersumpah di depan jasad papamu ini, bahwa aku akan mendapatkan apa yang sudah direbut dari keluargamu" kata Calvin dengan sangat yakin.
Lerina membalikan badannya. Menatap mata hitam Calvin yang juga sudah basah dengan air mata"Calvin, jangan pernah tinggalkan aku"
"Aku tidak akan pernah pergi darimu, sayang" kata Calvin lalu menghapus air mata Lerina dan mencium dahi Lerina dengan sangat lembut membuat Lerina memeluk Calvin dengan kuat. Ia merasa tenang dalam pelukan tunangan itu.
Setelah acara pemakaman ayah Lerina selesai, gadis itu pun disibukan dengan mamanya yang tiba-tiba sakit karena sangat tertekan dengan kematian papanya yang sangat mendadak.
Calvin selalu membagi waktu antara kantor, rumah sakit dan membantu Lerina membereskan dokumen papanya yang dibawa oleh mantan sekretaris papanya.
Selama 2 bulan Lerina menjaga mamanya sampai akhirnya wanita itupun pergi dalam kesedihannya karena kehilangan suaminya. Lerina benar-benar hancur saat untuk yang kedua kalinya ia ditinggalkan oleh orang tuanya.
"Sayang.....!" panggil Calvin saat Lerina belum juga beranjak dari makam kedua orang tuanya.
Lerina tak menjawab. Ia hanya memandang kedua makam itu dengan hati yang hancur.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan, Calvin? Aku sebatang kara di dunia ini" kata Lerina dengan deraian air matanya.
"Kau tidak sendiri sayang...kau ada bersamaku. Aku akan menjagamu" kata Calvin sambil memegang tangan Lerina.
"Calvin....aku mencintaimu!" kata Lerina sambil memeluk Calvin.
"Kau tahu betapa besarnya rasa cintaku padamu. Aku berjanji di hadapan makam kedua orang tuamu bahwa aku akan lakukan apa saja asalkan kau bahagia. Aku akan membantumu untuk mencari tahu apa yang terjadi sampai papamu harus kehilangan perusahaannya." kata Calvin dengan tekad yang sangat kuat. Ia ingin membuat Lerina bahagia.
*********
Sebulan setelah kematian papanya, pihak bank datang dan menyampaikan bahwa hutang keluarga Lerina harus segera dilunasi kalau tidak rumah dan beberapa mobil yang ada di garasi akan disita oleh bank untuk membayar hutang mereka.
Lerina dan Calvin sudah berusaha meminta bantuan ke sana kemari namun tak ada satupun yang mau menolong mereka. Paman Lerina , yang selama ini menjadi wakil direktur di perusahaan itu pun ternyata sama sekali tak mau membantu. Bahkan orang tua Calvin pun tak mau membantu dengan alasan peruaahaan mereka pun sedang dalam masalah keuangan.
Sampai suatu sore, Mama Calvin, nyonya Arista Leolinsky, datang menemui Lerina di rumahnya.
"Lerina, saya to the point saja. Saya juga tak ingin berlama-lama berada di rumah ini. Saya ingin kau memutuskan hubungan pertunangan dengan Calvin."
"Tapi ma...."
"Tidak ada kata tapi. Kamu sudah tidak cocok untuk menjadi menantu keluarga Leolinsky. Jadi mulai sekarang ini saya tidak ingin merestui hubunganmu dengan Calvin. Dan jangan panggil saya dengan sebutan mama. Karena...."
"Mama....apa maksud semua ini?" tanya Calvin yang tiba-tiba sudah ada di rumah Lerina.
"Mama ingin kau mengahiri hubunganmu dengan Lerina. Dia sudah tidak cocok menjadi menantu keluarga kita" kata Arista tegas.
__ADS_1
"Apa karena sekarang Lerina sebatang kara dan sudah jatuh miskin? Aku akan tetap bersama Lerina karena aku mencintainya." kata Calvin sambil memeluk Lerina. "Papa, mama atau siapapun tidak akan dapat memisahkan aku dari Lerina"
"Calvin! Kau mau dihapus dari daftar warisan keluarga kita?" ancam Arista.
"Aku tak peduli, mama. Sekalipun aku harus hidup miskin bersama Lerina, aku akan tetap menjadikannya istriku dengan atau tanpa restu kalian"
Arista meninggalkan rumah Lerina dengan wajah yang merah padam menahan amarahnya.
"Sayang....lihat aku..!" Calvin menangkup kedua pipi Lerina" Kau harus percaya bahwa aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku lebih baik mati jika harus dipisahkan darimu" kata Calvin dengan penuh kesungguhan.
Lerina memeluk Calvin "Calvin.....aku mencintaimu ....aku sangat mencintaimu"
********
Edward hampir saja tertidur saat ia mendengar suara Lerina yang mengigau tak jelas dalam tidurnya. Edward berdiri dan mendekati ranjang Lerina. Ia mencoba mengerti apa yang Lerina ucapkan. Jantung Edward bagaikan diremas sangat kuat ketika ia mendengar Lerina mengucapkan nama itu.
"Calvin.....Calvin.....!" panggil Lerina pelan hampir tak kedengaran.
Edward mundur beberapa langkah saat mendengar Lerina memanggil nama Calvin. Rasa cemburu yang sangat besar memenuhi rongga dadanya, menimbulkan rasa tak rela bibir manis itu memanggil nama laki-laki lain.
Terbayang kembali kejadian didalam ruang rapat itu. Lerina rela menyerahkan dirinya pada Ryun Wong asalkan Calvin bisa dibebaskan.
Apakah Lerina masih mencintai Calvin? Apakah Edward salah mengartikan sikap Lerina padanya? Lalu kedekatan yang sangat intim selama ini terjalin diantara mereka tidak dapatkah menghadirkan cinta di hati Lerina?
Edward merasa frustasi dengan semua pertanyaan itu. Ingin rasanya ia menumpahkan kemarahannya karena rasa cemburu yang sangat menyiksanya.
************
Perlahan mata Lerina terbuka. Ia menemukan dirinya sudah berada di ruangan perawatan rumah sakit. Ia ingat sebelum lampu di ruang rapat itu mati, Ryun Wong menembak perutnya dan Lerina pingsan.
Ia mencoba memperhatikan seluruh bagian rumah sakit itu dan melihat Edward sedang berdiri di depan jendela kaca sambil melihat ke luar jendela. Nampaknya pria itu sedang memikirkan sesuatu.
"Ed...!" panggil Lerina pelan.
Edward menoleh. Ia mendekati Lerina "Kau sudah bangun?"
"Aku sudah berapa hari di sini?" tanya Lerina .
"Dua hari, Le" kata Edward sambil menarik kursi dan diletakan disamping tempat tidur, Edward duduk di sana.
Lerina merasa ada yang berubah dalam diri Edward. Pria itu kelihatan sedikit cuek. Bahkan panggilan 'sayang' untuknya sudah tak ada. Tidak ada ciuman didahi.
Ada apa? Apakah sesuatu terjadi saat aku tak sadarkan diri?
Tatapan mata Lerina yang penuh dengan tanda tanya tak membuat sikap Edward berubah. Keduanya saling diam. Sampai akhirnya Edward berdiri.
"Aku akan memanggil dokter supaya memeriksamu" kata Edward lalu melangkah meninggalkan kamar.
Lerina menatap kepergian Edward dengan perasaan yang tak menentu. Untuk apa memanggil dokter? Bukankah cukup dengan menekan tombol putih yang ada di samping tempat tidur maka perawat akan datang? Atau, apakah itu hanya alasan Edward saja untuk menjauh darinya?
Lerina merasa dadanya sakit. Ia berpikir ada sesuatu yang terjadi. Kalau Ed bersikap sedikit cuek seperti ini itu berarti Ed sedang cemburu. Tapi apa alasan Ed cemburu?
__ADS_1
Seorang dokter masuk bersama 2 orang perawat. Namun Edward tak ada diantara mereka. Mereka langsung memeriksa Lerina. Pemeriksaan yang dilakukan cukup lama. Namun sampai selesai Edward belum juga datang.
Setelah selesai memeriksa Lerina dokter itu tersenyum "Semua berjalan baik, luka bagian luarnya sudah mulai mengering. Nyonya harus belajar untuk duduk karena selama 2 hari berbaring terus."
"Terima kasih, dok"
"Nanti perawat akan membantunya" kata dokter.
Dua perawat itu langsung membantu Lerina untuk boleh duduk. Walaupun luka diperut Lerina masih sedikit perih, namun dia berusaha untuk duduk.
"Kalau ada sesuatu panggil saja kami dengan menekan tombol putih ini" kata salah satu perawat sebelum pergi.
Lerina hanya mengangguk. Memandang kepergian dokter dan perawat itu dengan hati yang galau.
Nana datang tak lama kemudian.
"Tuan Edward meminta saya untuk menemani nona di rumah sakit. Tuan mau tidur sebentar di apartemen, nanti malam baru kembali.Soalnya selama 2 hari, tuan sama sekali belum pulang bahkan tak punya napsu makan karena nona belum sadar" kata Nana.
Lerina mengangguk."Terima kasih, Nana"
Edward pasti menyembunyikan sesuatu. Aku tidak mungkin menanyakannya pada Nana.
***********
Nana sudah pulang sejak satu jam yang lalu namun Edward belum juga kembali. Yura juga datang menjenguk Lerina namun ia juga tak bisa lama karena harus menjaga Ryun Ong sebab Jesica sakit dan Taeyung sedang sibuk membersihkan kekacauan yang terjadi di perusahaan. Nula dan semua orang yang terlibat dalam pencucian uang sudah ditangkap dan diserahkan pada yang berwajib. Sayangnya Ryun Wong belum juga ditemukan.
Lerina menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul 9 malam. Namun belum ada tanda-tanda kalau Edward akan datang. Lerina akhirnya harus mengalah pada rasa kantuk yang menyerangnya karena pengaruh obat yang diminumnya.
Jam 11 malam Edward masuk ke dalam ruang perawatan Lerina. Sebenarnya Edward sudah ada di rumah sakit sebelum Nana pulang. Namun langkahnya terhenti saat melihat Jien yang menangis di taman rumah sakit. Jien menceritakan kalau Calvin ingin bercerai dan kembali ke Jakarta.
Edward sendiri tak punya kata-kata untuk menghibur Jien karena sesungguhnya ia sedang merasa takut kehilangan Lerina seperti yang Jien rasakan saat ini.
Edward memandang Lerina yang nampak tenang dalam tidurnya. Ia menyentuh pipi Lerina dengan tangannya lalu mengecup dahi Lerina dengan sangat lembut karena ia takut membangunkan gadis itu.
Edward pun segera menuju ke sofa L yang ada diruangan itu dan membaringkan tubuhnya di sana.
***********
Lerina bangun esok pagi dan tak menemukan Edward ada di kamar. Berbagai pertanyaan bermunculan di kepala Lerina. Apakah Edward tak datang? Ataukah Edward datang namun pergi lagi disaat Lerina masih tidur?
Pintu ruang perawatan itu terbuka. Lerina yang sedang duduk terkejut saat melihat kalau Calvin masuk dengan tangan yang masih menggunakan penyangga karena bahunya yang tertembak.
"Calvin?"
Calvin mendekat lalu duduk ditepi ranjang."Dengarkanlah ceritaku Lerina" kata Calvin sambil menatap gadis itu secara dekat.
Cerita Calvin membuat Lerina menangis...
bagaimana kelanjutannya?
Jangan lupa like, koment dan vote ya...
__ADS_1