LERINA

LERINA
Mencoba Ke Lain Hati


__ADS_3

"Aku memang hamil, bi. Ini anak Edward. Aku tak tahu saat datang ke Jakarta, benih Ed sedang tumbuh di rahimku. Aku menerima kehamilan ini dengan senang hati walaupun disisi hatiku yang lain ada perasaan bingung, bagaimana harus menjelaskan pada orang-orang tentang kehamilanku ketika perutku akan semakin membesar" Lerina menjelaskan kepada bi Suni saat wanita paruh baya itu menanyakan tentang kondisi Lerina yang terkadang terlihat lemah dan sering merasa pusing dan mual.


"Non, mengapa tak mengatakan pada tuan, Ed? Dia berhak tahu. Karena ini adalah anaknya"


Lerina menggeleng. Ada raut kesedihan yang terpancar dari wajah cantiknya. "Dia sudah membuka hati untuk gadis lain. Aku tak boleh menganggu kehidupannya karena aku yang memintanya pergi. Aku sungguh malu untuk mengatakan ini padanya"


Bi Suni menepuk pundak Lerina dengan lembut. Ia sudah mengenal Lerina sejak gadis itu berumur 10 tahun. Sifat Lerina yang sangat keras kepala ini seperti papanya. Apa yang sudah diputuskan sangat sulit untuk diubah.


"Bibi menghormati keputusan non Ina. Hanya saja menurut bibi akan lebih baik kalau tuan Ed tahu tentang kehamilan ini. Karena bagaimanapun anak ini butuh seorang ayah."


Lerina memegang tangan bi Suni. Tak ada lagi tempatnya mencurahkan segala isi hatinya selain perempuan tua ini.


"Aku yakin bisa melalui semua ini, bi. Yang penting bibi nggak akan meninggalkan aku" kata Lerina sambil bergelut manja dilengan perempuan tua itu.


"Bibi akan menjaga non Ina. Tenang saja!" kata Bi Ina lalu membelai rambut Lerina seperti membelai rambut putrinya yang tidak pernah ia miliki dalam hidupnya.


*********


Sebagai wanita dewasa yang punya pengalaman dalam berhubungan dengan laki-laki, Veronika bisa membuat Edward mengikuti permainannya. Tubuh mereka begitu erat saling mendekap, membuat ruang tamu apartemen Veronika terasa sangat panas.


Di meja ada botol anggur merah yang isinya sudah habis, serta 2 gelas yang dipakai oleh vero dan Edward untuk menikmati anggur, yang rasanya begitu nikmat namun akhirnya membakar raga keduanya untuk saling menyalurkan hasrat yang ingin saling memuaskan.


Gaun yang Vero pakai sudah jatuh ke lantai. Ia hanya mengenakan pakaian dalamnya saja.


Sementara kemeja Edward pun sudah terlepas dari tubuhnya, menampilkan otot perutnya yang membuat Veronika semakin berhasrat untuk menyatukan dirinya dengan pria tampan ini.


Saat ciuman Edward berpindah ke leher Veronika, gadis itu memejamkan matanya. Ia mengeluarkan suara erangan dan kata-kata manis yang menggoda "Ed, geli...!"


Deg....!


Jantung Edward bagaikan berhenti berdetak. Kata-kata yang diucapkan Veronika sama persis dengan yang diucapkan Lerina ketika Edward mencium perempuan itu dilehernya.


Ciuman Edward terhenti. Ia sedikit mendorong tubuh Veronika yang sedang duduk dipangkuannya.


"Ada apa, Ed?" tanya Veronika bingung. Ia sudah hampir tenggelam dalam lautan gairah namun Edward justru menghentikan aksinya.


"Maafkan, aku." kata Edward dengan sangat menyesal.


Veronika melihat tatapan Edward yang tidak lagi dipenuhi oleh kabut gairah seperti saat mereka sedang berciuman tadi.


Dengan sedikit kesal, Veronika turun dari atas tubuh Edward yang sedang duduk bersandar di sofa putihnya.


"It's ok!" jawab Veronika santai. Ia memungut gaunnya dari lantai, memakainya kembali lalu segera melangkah ke dapur. Ia mengambil sebotol air mineral dan meneguknya sampai habis untuk meredam semua rasa terpaksa harus dihentikannya.


Edward pun mengenakan kembali kemejanya. Ia menatap Veronika yang nampak santai melangkah mendekatinya sambil membawa sebotol anggur lagi.


"Kau mau?" tanya Veronika sambil mengangkat botol anggur itu.

__ADS_1


"Tidak. Aku tak mau mabuk" Edward menggelengkan kepalanya. Entah mengapa wajah Lerina seperti menempel dipelupuk matanya.


Veronika menuangkan anggur itu ke dalam gelasnya lalu meneguknya lagi.


"Ed, kamu masih belum bisa melupakan mantan istrimu ya?" tanya Veronika.


"Kau tahu aku pernah menikah?" Edward terkejut mendengar pertanyaan Vero.


"Ya. Aku mencari tahu tentang dirimu. Kamu pikir aku mau berciuman dan membiarkan tubuhku disentuh oleh lelaki yang tidak jelas identitasnya? Sayang sekali sebenarnya kalian sampai berpisah. Dia cantik" kata Veronika lalu kembali meneguk anggurnya.


"Dia memang cantik."


"Kalau memang masih mengingatnya, mengapa tak mengejarnya lagi? Dia pastinya kesepian. Apakah kau tidak takut kalau ada laki-laki lain yang berhasil mengisi kekosongan hatinya?"


"Dia hanya ingin agar aku menjauhinya"


"Kau tahu, Ed. Wanita itu penuh misteri. Apa yang diucapkan oleh bibirnya terkadang bukan itu yang diharapkan oleh hatinya. Makanya jangan langsung percaya dengan apa yang wanita katakan"


Edward diam mendengar perkataan Veronika. Apakah benar berkataan Lerina tidak seperti yang hatinya inginkan? Bukankah selama ini Edward sudah yakin dengan perasaan Lerina padanya sekalipun Lerina belum pernah mengatakan kalau ia mencintai Edward?


"Ed, ayo kita berkolaborasi lagi dalam konserku yang akan dilaksanakan di Jakarta dan Kuala Lumpur. Sekalian kau berkunjung pada mantan istrimu itu." ujar Veronika.


"Konser di Jakarta?"


"Ya. 2 minggu lagi. Pertama kita akan berkunjung ke Malaysia selama 2 hari kemudian kita akan ke Jakarta selama 2 hari juga."


Gadis manis berambut coklat keemasan itu hanya menatap kepergian Edward dengan senyuman kepalsuan. Ia bersikap sebagai gadis angkuh yang tak memiliki perasaan apa-apa pada Edward. Namun jauh dilubuk hatinya, Vero sangat terpesona pada pria bermata sipit itu. Ia begitu ingin menjadi perempuan yang mampu membuat Edward lupa pada mantan istrinya namun ternyata tidak bisa. Vero tahu, Edward masih memikirkan perempuan Indonesia itu. Dan Vero tak berani berharap lebih.


*********


Pagi ini, Lerina memasuki lobby kantornya dengan perasaan lega. Kemarin sore, ia sudah mengumpulkan semua kariawannya yang berjumlah 102 orang. Lerina tahu kalau dibelakangnya, para kariawan suka bergosip tentang keadaan Lerina yang sedang hamil. Walaupun perut Lerina belumlah terlalu kentara namun Lerina ingin segera menjelaskan semuanya.


Ibu Suryani yang menjadi sekretaris Lerina, mengumpulkan semua kariawan di ruang rapat utama, sebelum jam kantor berakhir.


"Terima kasih atas kesediaan kalian berkumpul di ruangan ini. Aku tahu kalian semua pasti sangat penasaran dengan semua yang terjadi pada diriku. Aku mau tegaskan di sini bahwa aku memang hamil. Dan ini bukan anak Calvin yang pernah menjadi tunanganku dulu. Ini adalah anak dari mantan suamiku. Kami menikah di Korea dan memutuskan untuk bercerai. Aku tak menyangka kalau ternyata aku hamil. Aku akan menjaga anak kita walaupun kami sudah berpisah. Mengenai apa yang menyebabkan kami berpisah, cukup aku dan dia saja yang tahu. Aku harap kita semua dapat bekerja sama untuk memajukan perusahaan ini." kata Lerina lalu segera meninggalkan ruang rapat. Ia tahu kalau setelah itu, ibu Suryani akan menjalankan tugasnya untuk menutup mulut para penggosip yang ada di perusahaannya itu.


*********


Senyum Vita si gadis penjaga meja resepsionis menyambut Lerina. Di sana ada beberapa kariawan yang berkumpul. Mereka nampak sedang heboh membicarakan sesuatu.


"Selanat pagi bu Lerina!" sapa mereka hampir bersamaan.


"Ada sesuatu yang sedang kalian bicarakan?" tanya Lerina melihat gelagat mereka.


"Kami tidak sedang membicarakan mengenai ibu Lerina. Tapi kami sedang membicarakan tentang Edward Kim!" kata gadis yang bernama Sinta.


Jantung Lerina langsung berdetak kencang. Apakah mereka tahu tentang pernikahannya dengan Edward?

__ADS_1


"Ibu nggak kenal Edward Kim ya? Itu lho bu, pemain piano yang sangat tampan asal Korea. 4 hari lagi dia akan mengadakan konser kolaborasi dengan penyanyi asal Inggris yang bernama Veronika. Dengar-dengar sih kalau mereka itu ada hubungan dekat. Kami sudah membeli tiket konsernya sejak seminggu yang lalu." kata Lani dengan penuh antusias.


"Oh...begitu ya?" Lerina pura-pura bersikap santai padahal hatinya sangat bergetar mendengar nama Edward disebut.


"Ayo kita tonton konsernya, bu. Kalau ibu mau nanti saya carikan calo untuk mendapatkan tiketnya."imbuh Vita.


Lerina hanya tersenyum "Konser kan banyak orang. Saling berdempetan. Aku takut nanti akan membahayakan kandunganku. Kalian pergilah!" kata Lerina lalu segera menuju ke lift untuk naik ke ruangannya yang ada di lantai 3.


Saat ia sudah menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya, Lerina segera mengambil hpnya. Ia mencari berita tentang Edward. Ada berita tentang konser kolaborasi itu dan ada juga berita tentang kedekatan mereka.


Sudah hampir 5 bulan Lerina meninggalkan Seoul. Kandungannya juga sekarang sudah memasuki bulan kelima. Lerina memang memakai gaun khusus yang dipesannya untuk menyamarkan kandungannya. Perutnya memang belum terlalu kentara. Dokter bahkan menyarankan Lerina untuk banyak makan makanan bergizi untuk menopang berat badan bayi didalam kandungannya.


3 hari yang lalu Jien dan Calvin baru saja meneleponnya. Mengabari kalau Jien sudah melahirkan dan tranplantasi sel punca darah tali pusat boleh berjalan dengan baik. Tinggal menunggu hasilnya apakah membawa dampak yang baik bagi pengobatan kanker yang diderita oleh Calvin.


Lerina bersyukur karena Calvin dan Jien semakin dekat dengan kelahiran putri pertama mereka.


tok...tok...tok...


"Masuk!"


Pintu terbuka dan ibu Suryani masuk sambil membawakan sebuah amplop berwarna coklat.


"Ini ada surat untuk anda, bu."


"Dari mana?"


"Dari Veronika"


"Veronika siapa?"


"Di sini hanya tertulis Veronika saja."


"Terima kasih" kata Lerina saat menerima amplop berwarna coklat itu.


Ketika Lerina membukanya. Ada tiket konser dengan kode VVIP. Tiket itu akan membuat Lerina bisa datang ke konser itu selama 2 hari berturut-turut.


Dan mendapatkan tempat duduk istimewa.


Mata Lerina terbelalak saat membaca kalau itu adalah konser kolaborasi antara Edward dan Veronika.


Apakah tiket ini dikirim oleh Veronika? Mengapa dia ingin aku hadir? Apakah untuk menunjukan bahwa dia dan Edward sudah bersama?


NAH....AYO...


LERINA PERGI NGGAK YA KE KONSER ITU


KASIH BINTANG LIMA DULU...

__ADS_1


KOMEN, LIKE DAN VOTE YA he...he....


__ADS_2