LERINA

LERINA
Swiss (Part 3)


__ADS_3

Tangan Edward terulur mengambil handuk kecil berwarna putih di atas rak yang ada di kamar mandi. Sementara Lerina berdiri di dekat bak mandi. Di basahinya handuk itu dengan air hangat, lalu ia mengusapkannya di wajah Lerina, apalagi bagian bibirnya digosok oleh Edward dengan sangat kuat.


Setelah itu Ed menarik keluar kaos singlet yang masih melingkar di tubuh Maura sehingga yang tertinggal hanyalah baju dalamnya.


Kemudian, Ed membersihkan leher, tangan, kaki, pokoknya semua bagian tubuh Lerina digosoknya dengan handuk basah.


Edward diam tak bicara apapun hanya suara napasnya yang masih bergemuru menandakan bahwa ia masih marah.


"Ed....dingin....!" Lerina akhirnya bicara saat dirasakannya hawa dingin mulai menerpa kulit tubuhnya yang hanya terbungkus baju dalam saja.


"Sekali lagi kau ijinkan Calvin menyentuh tubuhmu, aku bersumpah, Le. Aku akan menghabisinya dengan tanganku" kata Edward dengan kilatan mata yang masih tajam. Ia lalu mengambil jubah mandi, memberikannya di tangan Lerina kemudian meninggalkan kamar mandi.


Lerina mendengar pintu kamar yang ditutup lalu ia keluar dari kamar mandi. Membuka lemari dan mengambil baju yang lain karena ia tak menemukan lagi bajunya yang tadi.


Sementara itu, Edward sudah turun ke bawah sambil membawa baju Lerina yang tadi dilepasnya secara paksa. Edward melemparkan baju itu ke dalam perapian yang masih menyala.


Setelah baju itu terbakar habis, Ed menuju ke mini bar yang ada di sana, mengambil satu botol Vodka yang masih baru, menuangkannya disebuah gelas mini dan langsung menegukannya sampai habis. Ia menuangkannya lagi dan langsung meminumnya kembali sampai habis.


Ia tak mengerti mengapa emosinya langsung menyala setiap kali melihat Lerina bersama Calvin. Ed bahkan tak mampu mengontrol dirinya dalam api kemarahan yang besar melebihi rasa marahnya saat tahu Jesica menikah dengan papanya.


Satu tegukan lagi masuk ke dalan mulutnya. Semakin membuat dada Edward terasa panas. Pada hal sejak ia bangkit lagi setelah perpisahannya dengan Jesica, Ed berjanji tidak akan pernah lagi menyentuh alkohol secara berlebihan.


Rasa frustasi yang ada dalam dirinya saat ini membuat Edward mengacak rambutnya dengan kasar. Bukankah pernikahan ini terjadi atas dasar rasa saling menguntungkan? Edward sudah menebus rumah Lerina dan merenovasinya kembali sedangkan Lerina memuluskan jalan Ed untuk mendapatkan saham yang diwariskan oleh mamanya.


Seharusnya mereka bersandiwara seadanya saja. Seharusnya Ed cukup puas sudah membuat Jesica sakit hati melihat kemesraan mereka. Namun mengapa akhir-akhir ini bersikap mesra pada Lerina seperti sesuatu yang menyenangkan hati Ed? Setiap kali ia menyentuh kulit Lerina mengapa dia seakan enggan melepaskan tangannya dari sana? Dia punya hasrat yang sangat besar untuk menyentuh tubuh Lerina dengan luapan perasaan yang tak pernah Edward rasakan pada perempuan manapun juga bahkan terhadap Jesica sekalipun.


Bibir merah Lerina yang selalu tersenyum dalam kelembuatannya sebagai seorang wanita selalu mendorong Edward untuk menyatuhkan bibirnya di sana, menyesapnya dengan penuh rasa nikmat seolah itu adalah coklat paling nikmat di dunia.


Lerina tak tahu betapa tersiksanya Edward setiap kali cumbuannya terhenti di tengah jalan dan dia harus berdiam lama di kamar mandi untuk memendamkan gairahnya yang begitu membara terhadap gadis itu.


Pernikahan ini adalah suatu kontrak yang saling menguntungkan. Perasaan untuk saling memiliki tidak boleh hadir di sini.


Edward memang menekan semua rasa yang mulai ada, yang selalu menganggunya saat ia jauh dari Lerina. Karena apapun namanya perasaan itu, Edward tak mau terluka lagi saat Lerina harus pergi. Makanya Edward berusaha membangun dinding yang tebal dalam hatinya agar apa yang disebut cinta itu tak akan tumbuh dengan cepat disana. Lerina bukanlah gadis idamannya selama ini.


**************


Jarum jam sudah menunjukan pukul 3 dini hari. Dan Lerina belum juga merasa mengantuk karena Ed juga tak kunjung kembali ke kamar.


Mengapa Ed harus semarah itu setiap kali melihatku bersama Calvin? Dia memperlakukan aku bagaikan seorang istri yang kedapatan sedang selingkuh. Ya, aku memang istrinya sekalipun bukan istri yang diimpikannya.


Sebuah pertanyaan yang selalu menggelitik hati Lerina kembali bermain dipikirannya. Apakah Edward cemburu padanya? Kalau cemburu itu kan berarti cinta? Mana mungkin Edward jatuh cinta padanya?


Semua kedekatan mereka selama ini dianggap Lerina sebagai sandiwara. Namun mengapa sebuah sikap yang seharusnya tak diikuti dengan sebuah perasaan yang muncul dalam hati seperti sebuah kebutuhan yang selalu menggetarkan hati?


Ya, perhatian, sentuhan dan ciuman Edward membuat Lerina selalu berdebar-debar tak karuan. Ia bahkan beberapa kali hampir lupa diri karena Edward begitu pandai menimbulkan sensasi yang membutakan kontrol dirinya. Apakah ia sudah mulai membuka hatinya yang rapuh karena Calvin? Secepat itukah ia melupakan Calvin?


Dan malam ini, setelah ia mendengar bagaimana terlukanya Jien, bagaimana yakinnya Calvin tentang perasaan Lerina padanya dan amarah yang menyala-nyala dalam dirinya Edward, ada suatu keputusan yang akhirnya diambil oleh Lerina, walaupun ia sendiri kurang yakin dengan apa yang harus dilakukannya.


Pintu kamar terbuka. Lerina pura memejamkan matanya. Tempat tidur agak berguncang menandakan ada yang naik dari sisi yang lain.


Sebuah tangan kokoh melingkar dipinggang Lerina.

__ADS_1


Bau alkohol langsung menyeruak diindra penciuman Lerina.


"Maafkan aku...!" bisik Edward sambil mencium kepala Lerina dengan sangat lembut.


Lerina memejamkan matanya. Maafkan aku juga, Ed


*********


Ryun Ong menatap Lerina yang baru saja bergabung di meja makan.


"Dimana Edward?" tanya Ryun Ong.


"Ed masih mengantuk , pa. Dia tidur sudah agak larut semalam" kata Lerina sambil menarik kursi di samping Yura dan duduk dengan sikap manis.


"Seharusnya kau juga tidur dengan Ed karena kau pasti sama lelahnya dengan dia. " kata Ryun Ong sambil menunjukan lingkar mata Lerina yang terluhat lelah.


Lerina hanya tersenyum. Ia berusaha bersikap biasa saat bertatapan dengan Jien. Calvin pun kelihatan biasa walaupun bibirnya kelihatan agak bengkak karena bekas gigitannya semalam.


Selesai sarapan, Lerina menyiapkan satu nampan dan mulai menyiapkan makanan Edward di sana.


"Jangan lupakan ini !" Ross mendekat dan meletakan sebutir obat di atas nampan itu.


"Apa ini, Ross?" tanya Lerina sambil menatap Ross.


"Ini adalah obat penghilang rasa nyeri. Dia pasti akan terbangun dengan sakit kepala yang sedikit menganggu. Aku menemukan satu botol vodka yang sudah hampir kosong tadi pagi" bisik Ross seakan takut didengar oleh pelayan yang lain.


"Baiklah. Terima kasih, Ross. Oh ya, kamu mau kemana?"


"Aku mau belanja di swalayan"


Lerina mengambil dompet dan hp nya lalu segera keluar kamar.


Di lorong kamar, ia berpapasan dengan Yura.


"Mau ke mana?" tanya Yura.


"Ke swalayan dengan Ross"


"Aku ikut. Tunggu sebentar akan ku ambil mantel dan dompet dulu." kata Yura dengan begitu senangnya.


"Aku tunggu di bawa ya..."


Yura mengangguk dan segera membuka pintu kamar.


"Ah...!" Yura langsung berteriak dengan kaget sambil membalikan badannya saat ia masuk ke kamar dan menemukan kalau Taeyung sedang dalam keadaan tanpa pakaian. Sepertinya dia akan mengganti pakaiannya setelah selesai membersihkan dirinya di kamar mandi.


"Mengapa harus berteriak? Kau sudah pernah melihatnya kan?" seru Taeyung dengan suara yang sedikit mengoda.


"Dasar mesum!" umpat Yura lalu ia berjalan sambil membelakangi Taeyung, mengambil mantel dan dompetnya lalu segera berlari keluar dari kamar itu.


Ketiganya langsung pergi dengan mobil yang dikendarai sendiri oleh Ross.

__ADS_1


Pusat pembelanjaan itu letaknya tak jauh dari mansion. Mereka bisa saja jalan kaki, namun karena bahan yang akan dibelanjakan Ross cukup banyak sehingga ia merasa perlu untuk membawa mobil.


Selesai belanja semua kebutuhan untuk keperluan dapur, Ross mengajak mereka makan kue dan minum coklat terlezat yang ada di kota itu.


Setelah menaruh belanjaannya di dalam mobil, mereka pun segera menuju ke tempat makan kue yang Ross maksudkan.


"Pesan kan aku potongan kue yang paling besar ya..aku mau ke apotik dulu. Ada sesuatu yang akan ku beli" pamit Lerina dan langsung meninggalkan Ross dan Yura.


"Dia sangat cocok dengan Ed kan?" ungkap Ross sambil tersenyum.


"Ya. dan Ed sangat mencintainya. Mataku ini sering sakit melihat kemesraan mereka."


Ross tersenyum lalu kembali melangkah. Keduanya sudah tiba di tempat makan itu.


Tak lama kemudian Lerina pun tiba. Ketiga perempuan itu pun larut dalam percakapan yang seru . Beberapa orang yang berkunjung ke tempat itupun tersenyum melihat betapa hebohnya mereka tertawa.


Mereka tiba di mansion saat jam sudah menunjukan pukul 11 siang.


Lerina segera masuk ke kamar dan menyimpan belanjaannya. Nampak tempat tidur sudah kosong begitu juga dengan dengan nampan berisi sarapan dan obatnya itu pun telah diminum karena yang tersisa adalah kertas pembungkusnya saja.


Lerina turun kembali sambil membawa nampan yang sudah kosong itu.


"Ed menghabiskannya? Dia pasti sangat kelaparan setelah mabuk semalam." kata Ross sambil tersenyum.


"Apakah kau melihatnya? Dia tak ada di kamar"


"Ed kan suka berolahraga jadi kalau ia tak ada di ruang gym, dia pasti sedang berendam di kolam air panas yang ada di sebelah ruangan Gym"


"Di mana ruangan itu?"


"Keluarlah dari pintu samping itu dan belok ke kanan. Kau pasti akan mendapatkannya."


Lerina melangkah mengikuti petunjuk Ross. Ia berhasil menemukan ruang Gym. Namun ruangan itu kosong. Saat Lerina melangkah ke ruangan di sebelahnya nampak Edward baru saja turun ke kolam dengan uap yang mengepul.


"Na...!" Calvin tiba-tiba menarik tangannya.


"Lepaskan aku..!"


"Berhentilah berpura-pura kalau kau tidak peduli denganku!" kata Calvin sedikit sinis.


Lerina menarik tangannya dari genggaman Calvin sambil menatap ke arah Edward untuk memastikan kalau Ed tidak memperhatikan mereka.


"Aku akan tunjukan padamu kalau kau sudah hilang dalam hidupku!" Lerina melangkah pergi. Tangannya menggeser pintu kaca. Ia berdiri di pinggir kolam dan mengagetkan Edward yang sementara memejamkan matanya.


"Le? Apa yang kau lakukan di sini?"


Lerina tak menjawab. ia membuka celana panjang dan t-shirt lengan panjang yang melekat ditubuhnya sehingga yang tersisa adalah baju dalamnya. Perlahan ia turun ke dalam kolam. Air hangat langsung menyapa kulitnya. Ia melangkah mendekati Edward yang seakan terpana melihat keberanian Lerina yang tampil nyaris polos di depannya.


"Ed....bantu aku menghilangkan semua bekas sentuhan Calvin ditubuhku" kata Lerina pelan dan dengan gerakan tangan yang sangat cepat, ia melingkar tangannya dileher Edward dan dengan tatapan mata yang sedikit malu-malu Lerina berkata, "Kiss me, Ed!"


SAMPAI DI SINI DULU YA...

__ADS_1


BAGAIMANA KALI INI APAKAH EDWARD DAN LERINA DAPAT BERSATU TANPA ADA GANGGUAN?


LIKE, KOMEN DAN VOTE YA, KASIH BINTANG 5 DONG...


__ADS_2