
Anak buah Taeyung mengabarkan kalau Yura sedang berada di apartemen Edward. Sebenarnya Taeyung enggan untuk pergi ke apartemen itu mengingat hubungannya dengan Edward yang tidak akur selama ini. Namun demi Yura, Taeyung harus menurunkan gengsinya sedikit. Makanya selesai jam kerja ia bermaksud akan pergi ke apartemen Edward.
"Taeyung....!" Nula menahan tangan Taeyung saat pria itu keluar dari ruangannya.
"Ada apa, Nula? Aku harus cepat pulang untuk menemui Yura."
"Lalu aku bagaimana? Apakah kau akan membiarkan aku dan anak ini" tanya Nula dengan sedikit kesal.
"Aku tidak akan membiarkanmu dengan anak ini. Aku akan bertanggungjawab. Namun aku harus berbicara dengan Yura dulu. Aku tak mau menyakitinya"
"Apa maksudmu? Kau membenci perempuan itu kan?" Nula mengguncang tangan Taeyung yang dipegangnya.
"Aku mencintainya" kata Taeyung pelan namun sangat mengejutkan Nula.
"Tidak Taeyung, kau mencintai aku. Kita sudah bersama selama 5 tahun."Nula memeluk Taeyung dengan sangat erat. Ia menangis dengan sangat keras.
"Nula...!" Taeyung melepaskan dirinya dari pelukan Nula. "Sudah kukatakan kalau aku akan bertanggungjawab. Tapi aku harus bicara dengan Yura dulu. Aku pergi!" pamit Taeyung dan segera meninggalkan Nula sendiri.
Nula menatap kepergian Taeyung dengan hati yang membara karena marah.
Aku tidak akan membiarkan kau kembali pada Yura. Kau akan kembali padaku. Anak ini akan mengikatmu selamanya.
*********
Lerina segera meninggalkan kamar melihat Taeyung memasuki kamar. Ia menutup pintu kamar untuk memberikan waktu bagi pasangan suami istri itu.
Saat ia menuju ke ruang tengah, nampak Edward baru saja pulang.
"Hai, Ed..!" sapa Lerina.
Edward langsung mendekat, lalu memeluk Lerina dengan erat.
"Ed, ada Nana...!" bisik Lerina.
"Biarlah. Aku kangen" kata Edward sambil mencium kepala Lerina.
"Aku juga belum mandi, Ed. Aku baru saja sampai"
"Kamu tetap harum"
"Ed.....di kamar ada Taeyung"
Edward melepaskan pelukannya "Apa yang Taeyung lakukan di kamar?"
"Dia mau bicara dengan Yura"
"Apakah kamu mengatakan pada Taeyung kalau Yura di sini?"
Lerina menggeleng.
"Pasti anak buah Taeyung yang menemukannya. Ya sudah, ayo kita kamar" ajak Taeyung sambil menarik tangan Lerina.
"Aku mau membantu Nana menyiapkan makan malam"
"Nana sudah dibantu oleh dua pelayan. Jadi tugasmu sekarang membantu aku..." Kata Edward sambil terus menarik Lerina menaiki tangga.
"Memangnya kamu butuh bantuan apa ?"
Edward berhenti, lalu mendekatkan dirinya pada Lerina. Ia berbisik dengan suara yang sangat sensual dan nada tak ingin dibantah.
"Aku kedinginan dan hanya kamu yang bisa menghangatkanku"
Wajah Lerina langsung menjadi panas. Dan sebelum ia bicara , Edward sudah menggendongnya ke kamar mereka.
__ADS_1
***********
Taeyung yang berdiri di hadapan Yura memandang wajah istrinya itu dengan hati yang hancur.
Sedangkan Yura, ia sama sekali tak mau memandang Taeyung. Ia menundukan kepalanya sambil sesekali menghapus air matanya.
Bukankah baru tadi pagi mereka begitu bahagia? Mereka saling berpelukan dengan janji yang sama untuk memulainya dari awal lagi? Namun kebahagiaan itu hanya beberapa jam saja ia nikmati. Berita kehamilan Nula menghancurkan mimpi Yura untuk mendampingi Taeyung dengan semua cinta yang memang dimilikinya.
Taeyung mendekat. Ia berlutut di hadapan Yura. Menghapus air mata di pipi Yura.
"Maafkan aku. Saat aku baru saja memintamu untuk percaya padaku, aku kembali menyakitimu. Tapi aku bersumpah, Yura. sebelum kita ke Swiss, aku sudah sebulan tak bersama Nula. Aku bahkan tak pernah lagi ke apartemennya"
Yura mengangkat wajahnya. Ia tersenyum menatap Taeyung. "Aku percaya padamu. Aku yakin kau serius dengan ucapanmu tadi pagi. Namun kau tak mungkin membiarkan Nula dengan anakmu kan?"
Taeyung meletakan kepalanya dipangkuan Yura.
"Aku mohon, jangan tinggalkan aku, Yura. Aku tak bisa tanpamu. Karena aku baru menyadarinya bahwa engkau adalah hidupku. Aku begitu ketakutan saat bi Yun mengatakan kalau kau sudah pergi dari rumah. Apalagi saat pengacara Cheong mengatakan bahwa kau sudah memasukan gugatan perceraian kita, aku benar-benar takut kehilanganmu"
Yura membelai kepala Taeyung yang tertunduk. Bahu Taeyung bahkan tergoncang karena ia menangis. Lelaki super cuek yang selalu tegar itu kini terlihat sangat rapuh. Tak ada lagi Taeyung yang biasa memarahi atau yang selalu melepaskan tamparan di wajahnya.
Kini yang ada justru Taeyung yang kehilangan pegangan sehingga ia akan jatuh kalau Yura sama sekali tak memeluknya. Bahkan selama 4 tahun pernikahan mereka, ia tak pernah melihat Taeyung selemah ini.
"Tae....!" Yura memegang bahu Taeyung. Suaminya itu mengangkat wajahnya. Menatap istrinya dengan pipi yang basah. Yura menghapus air mata Taeyung.
"Jadilah papa yang baik anakmu."
"Aku akan menjadi papa yang baik jika kau bersamaku." Taeyung memegang tangan Yura yang masih memegang pipinya. "Jangan tinggalkan aku. Akan kulakukan apa saja agar kau percaya bahwa perasaanku pada Nula sudah berakhir."
Yura menatap mata coklat Taeyung. Ia melihat tatapan ketakutan di sana.Ketakutan akan kehilangan cinta Yura.
"Aku mencintaimu, Yura. Sangat mencintaimu!" kata Taeyung lalu memeluk istrinya itu.
Yura membalas pelukan Taeyung. Ketegaran hatinya luluh. Ia tak bisa meninggalkan Taeyung. Karena rasa cintanya begitu besar.
***********
Lerina menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah delapan malam.
"Ed...ayo bangun, kita makan malam" kata Lerina sambil menepuk pipi Edward.
"Sayang aku masih mengantuk!" kata Edward. Ia membuka matanya sedikit dan terkejut melihat Lerina sudah siap.
"Kamu curang! Mandi sendiri dan tidak membangunkan aku"
"Kalau kita mandi bersama pasti jadi lebih lama. Jadi aku memilih mandi sendiri. Cepat susul aku ke bawa ya...." Lerina langsung pergi. Ia tak memperdulikan suara manja Edward yang memintanya untuk dimandikan.
Saat ia tiba dibawa, nampak pintu kamar tamu masih tertutup.
"Nana, apakah mereka belum keluar?" tanya Lerina sambil menunjuk pintu kamar.
"Belum, nyonya. Sejak tuan Taeyung masuk tadi, pintu itu masih tertutup. Pada hal ini sudah jam makan malam. Nyonya Yura juga sejak siang belum makan" kata Nana sedikit khawatir.
"Aku mau mengetuknya tapi malu. Aku sms saja" Lerina mengeluarkan hp nya lalu mengirim Yura sebuah pesan.
Apakah kalian tidak akan makan? Jam makan malam hampir lewat.
Lerina pun membantu Nana menyiapkan peralatan makan. Kedua pembantu yang bertugas untuk membersihkan rumah jam kerjanya hanya sampai pukul 7 malam.
Tak lama kemudian Edward turun. Ia nampak segar dengan pakaian rumah.
"Taeyung dan Yura mana?" tanya Edward sambil duduk disamping Lerina.
"Mereka belum keluar kamar. Apakah sebaiknya aku memanggil mereka?" tanya Lerina.
__ADS_1
"Jangan. Kita makan saja lebih dulu. Aku yakin kalau mereka sudah selesai berbicara. Hanya saja, mereka sedang dalam pendekatan fisik" ujar Edward.
"Pendekatan fisik apa?"tanya Lerina tak mengerti.
"Seperti yang baru saja kita lakukan didalam kamar"
"Ed....!" Lerina tanpa sadar mencubit tangan Edward dengan wajah merah. Untung saja Nana sedang berada di kamarnya.
Edward hanya tertawa. "Ayo kita makan, sayang...!"
Lerina pun segera menuangkan sup di mangku dan memberikannya pada Edward.
Sementara itu di dalam kamar tamu, Yura dan Taeyung masih saling berpelukan sambil berhadapan. Tubuh keduanya polos dan hanya ditutupi oleh sebuah selimut.
"Tae..bagaimana jika papa tahu tentang kehamilan Nula? bukankah dia sangat menginginkan seorang cucu?" tanya Yura sambil tangannya bermain dipinggang Taeyung.
"Aku yakin papa akan setuju dengan keputusanku. Anak itu akan tetap mendapatkan hak nya sebagai darah dagingku. Aku juga akan mendaftarkannya dengan nama Kim. Namun aku tak bisa menikahi Nula. Karena aku hanya mencintaimu, sayang." ujar Taeyung sambil membelai wajah Yura.
"Jika Nula memberikan anak itu padamu, apakah kau mau merawatnya?" tanya Yura penasaran.
Taeyung menatap Yura dengan sangat lekat "Hanya jika engkau mengijinkan maka aku akan membiarkan anak itu tinggal bersama kita"
Yura tersenyum "Anak itu tak salah. Jadi, aku pasti akan menerimanya."
Mata Taeyung berkaca-kaca. "Maafkan aku Yura. Aku selama ini terlalu menyakitimu tanpa sadar bahwa sebenarnya aku sudah menikahi perempuan berhati malaikat sepertimu"
"Aku tak sesempurna itu, Tae"
"Kau memang sempurna sayang.." Taeyung menunduk dan kembali menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang panjang. Ciuman itu kembali membakar gairah dalam diri mereka. Namun Yura buru-buru mengahirinya.
"Kenapa sayang?"tanya Taeyung nampak tak rela ciuman itu berhenti.
"Aku lapar, Tae. Lagi pula, apakah kita akan tidur di sini?" tanya Yura.
"Baiklah. Ayo kita pulang ke mansion, makan dan melanjutkan apa yang tertunda tadi" goda Taeyung.
"Dasar genit!" Yura mencubit pinggang Taeyung dan segera turun dari ranjang lalu mengenakan pakaiannya kembali.
Saat keduanya keluar dari kamar, Edward dan Lerina baru selesai makan.
"Kak Taeyung, Yura, ayo makan!" ajak Lerina
"Sayang, kita makan di sini saja ya? Kalau nanti di mansion kita akan kelaparan." ujar Yura.
Taeyung mengangguk. Nana yang melihatnya menjadi senang karena Taeyung dan Edward untuk pertama kali akan makan di apartemen ini.
Selesai makan, Taeyung dan Yura kembali ke mansion. Lerina pun segera menuju ke kamar, membuka laptopnya dan kembali membaca pemaparan yang akan di sampaikannya besok.
Tak lama kemudian terdengar suara piano yang di mainkan Edward dari bawa. Lerina tersenyum. Ia selalu merasa senang setiap kali mendengar permainan piano Edward.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak di kenalnya.
Aku telah mendapatkan kembali apa yang kau janjikan didepan mayat almarhum papamu.
Aku harap kau akan mengerti dan mau menerimaku lagi. CALVIN
Lerina terpana. Janji itu kembali melintas dipikirannya.
MAKASI SUDAH SETIA MEMBACA
KASIH BINTANG 5 YA HE...HE...
LIKE KOMENT DAN VOTE YA
__ADS_1