
Edward menatap Lerina yang sedang sibuk di dapur bersama Nana.
"Selamat pagi...!" sapa Lerina saat melihat Edward yang sudah rapih.
"Selamat pagi.." balas Edward. Ia senang melihat wajah Lerina sudah kelihatan ceriah walaupun kelopak matanya sedikit bengkak karena banyak menangis semalam.
"Tuan Edward, apakah baju-baju di mansion akan di bawah ke sini?" tanya Nana.
"Ya. Sisakan saja beberapa di sana" kata Edward lalu duduk di depan meja makan.
"Ed, bolehkan sesekali kita tidur di sana? Aku tahu Yura pasti kesepian setelah kita pergi" kata Lerina sambil menyajikan sarapan pagi untuk Edward.
"Ya. Jika kamu mau kita dapat ke sana. Lagi pula Yura kan akan mulai kerja. Jadi kalian dapat memiliki waktu bersama"
Lerina mengangguk senang. Mereka pun sarapan bersama. Setelah itu, Lerina langsung pergi ke kamar untuk mandi dan bersiap ke kantor.
" Tuan, ada apa dengan nona Lerina? Dia nampaknya banyak menangis"tanya Nana setelah Lerina pergi mandi.
"Dia ketemu dengan mantan tunangannya semalam." jawab Edward datar.
"Aku sedih melihat nona menangis. Pada hal semenjak kalian menikah, nona selalu tersenyum. Nona juga selalu membawa aura positif bagi orang lain. Terutama nona Yura. Para pelayan di mansion juga sangat senang karena nona sangat ramah pada mereka semua." kata Nana sambil tersenyum senang.
Edward mengangguk. Ia setuju dengan pendapatan Nana tentang Lerina.
"Dia memang baik. Makanya melihat dia menangis sangat menyakitkan bagiku"
"Apakah tuan tidak menyukainya? Atau jatuh cinta padanya?"
Edward menggeleng "Aku tak mungkin jatuh cinta padanya karena aku tahu hatinya masih milik orang lain. Pernikahan kami terjadi di atas kontrak"
"Aku pikir kalau tuan dan nona sudah tidur bersama"
Edward tertawa "Nana....itu cuma sandiwara."
"Tapi tanda merah di leher nona..."
"Itu juga sandiwara"
Nana menatap Edward tak mengerti. Namun saat dilihatnya Edward sedang sibuk dengan hp nya, ia pun tak bertanya lagi.
30 menit kemudian....
"Aku siap....!" kata Lerina sambil menuruni tangga.
Edward sedikit terpana melihat dandanan Lerina. Setelan semi jas bawahan rok selutut berwarna abu-abu, rambut yang digulung ke atas, sepatu hitam dan tas tangan warna senada membuatnya tampak cantik.
"Ada apa, Ed? Kurang cocok ya? Atau aku terlalu lama membuatmu menungguh?" tanya Lerina dengan wajah bersalah.
"Tidak. Dandananmu sangat cocok. Dan kamu tidak membuatku menungguh. Ayo kita pergi !" ajak Edward sambil mengulurkan tangannya.
Lerina menyambutnya dengan senyum manis. Sambil bergandengan tangan mereka pun meninggalkan apartemen, setelah terlebih dahulu pamit pada Nana.
Begitu tiba di kantor, Edward dengan posesif melingkarkan tangannya di pinggang Lerina, membuat orang-orang langsung tersenyum sambil berbisik-bisik.
"Selamat pagi Ed, selamat pagi Lerina!" sapa Yura yang sudah menungguh di loby.
"Yura....kau sudah menungguh lama?" tanya Lerina.
"Tidak. Aku baru saja tiba 10 menit yang lalu" kata Yura dengan senyum manisnya. Ia juga nampak cantik dengan setelan baju kantornya.
"Selamat pagi......!" Hung Ben, kepala bagian personalia menyambut mereka. Hung Ben adalah pria tampan berusia 31 tahun.
"Selamat pagi. Sayang ini adalah Hung Ben. Kepala bagian personalia di sini." kata Edward memperkenalkan.
__ADS_1
"Senang berkenalan denganmu" kata Lerina sambil membungkukan tubuhnya.
Hung Ben pun melakukan hal yang sama.
"Ini kartu identitas nyonya Lerina dan juga nona Woon Yura"
Lerina dan Yura menerimanya dengan senang hati. Mereka kemudian berpisah di depan lift.
"Cantik sekali Yura itu...! ujar Hung Ben sambil menatap ketiga orang itu yang berlalu dengan lift.
"Hung Ben..!"
Hung Ben menoleh "Selamat pagi tuan Kim Taeyung" katanya sambil membungkuk kearah Taeyung dan Nula.
"Kenapa menatap pintu lift sambil tersenyum?" tanya Nula.
"Oh...itu aku baru saja memberikan kartu identitas pegawai nyonya Lerina dan nona Yura. Mereka berdua sangat cantik. Namun aku tak berani mengagumi istrinya tuan Edward. Kagumi saja nona Yura yang manis itu" Hung Ben yang memang terkenal sangat manis pada semua perempuan berucap tanpa malu-malu.
Yura sudah mulai bekerja hari ini? Pantas saja saat sarapan tadi ia tak ada.
"Cepatlah bekerja!" ujar Taeyung lalu segera menekan tombol lift dan masuk ke dalam diikuti Nula.
"Untuk apa perempuan itu ada di sini? Untuk menggodamu? Sungguh tak tahu malu dia" geram Nula.
"Jangan perdulikan dia Nula. Dia bekerja untuk Edward. Aku tak mau ada masalah dengan Edward juga papa. Ingat, kau harus mendukungku untuk menjadi presiden direktur" kata Taeyung tegas membuat Nula sedikit cemberut karena Taeyung berkata kasar padanya.
Sementara itu di ruangan Edward, Keyri dan Edward secara bergantian menjelaskan pekerjaan mereka kepada Lerina dan Yura.
"Masalah keuangan semuanya ditangani oleh wakil direktur 1 yaitu Taeyung dan semua stafnya sementara wakil direktur 2 menangani masalah evaluasi kerja, proyek dan kontrak-kontrak yang lain. Memang selama ini Taeyung yang mengambil alih proyek yang ada. Sehingga kalian harus selalu koordinasi dengan Taeyung" kata Edward.
Yura dan Lerina mengangguk mengerti.
"Sayang, aku lupa mengatakan padamu kalau 3 hari ke depan aku akan berangkat ke China untuk konser . Tawaran konser ini sudah sejak 6 bulan lalu mereka minta" kata Edward.
"Oh....aku akan kesepian.." Lerina pura-pura merajuk pada hal hatinya biasa saja.
Lerina menggeleng "Aku kan baru bekerja"
"Kamu kan punya asisten" kata Edward sambil menatap Yura.
Yura terkejut "Ed, aku masih baru. Belum tahu apa-apa"
"Pergilah, Ed. Aku akan menungguhmu di sini dengan penuh kerinduan" kata Lerina sambil menghadiahkan sebuah kecupan di pipi Edward.
"Makasih sayang....Pesawatnya akan berangkat jam 11 siang ini." Edward memeluk Lerina dengan penuh kasih menghadiahkan sebuah ciuman di dahi Lerina.
"Aku ada wawancara di stasiun TV jam 9 ini. Jadi mungkin tak sempat pamit lagi"
"Ok. Hati-hati di jalan ya..sayang"
Edward tersenyum. Ia kembali memeluk Lerina "Jangan menangis lagi ya...sebab aku nggak ada di sampingmu untuk memelukmu" bisiknya sebelum pergi diikuti oleh Keyri.
Kata-kata Edward sangat menyentuh hati Lerina.
"Ehm..." Yura pura-pura batuk dan mengalihkan perhatian Lerina dari pintu.
Lerina menatap Yura "Ayo kita bekerja.!"
Yura mengangguk.
Sementara itu Keyri dan Edward sudah berada di atas mobil.
"Bos, melihat kemesraan kalian tadi, rasanya aku tak percaya kalau itu adalah sikap pura-pura"
__ADS_1
"Mengapa?" tanya Edward sambil memandang Keyri yang sedang menyetir di sampingnya.
"Tatapan mata kalian, bahasa tubuh kalian, semua terlihat alami."
Edward tertawa "Berarti akting kami sungguh berhasil"
"Bos, bagaimana kalau diantara kalian ada yang saling jatuh cinta?"
Edward menggeleng "Itu sesuatu yang tak mungkin. Lerina sangat mencintai Calvin. Mereka pacaran selama 4 tahun. Butuh waktu yang sangat lama untuk Lerina bisa melupakan Calvin. Aku saja yang pacaran dengan Jesica selama hampir 2 tahun membutuhkan waktu selama 1 tahun untuk bisa move on."
"Tapi cinta datang di waktu yang tidak pernah kita duga, bos"
"Kamu kan tahu tipe gadis kesukaanku seperti apa"
"Namun, dari yang aku baca, cinta itu bisa datang karena selalu bersama."
"Eh....Keyri, kau bicara seakan-akan sudah pernah pacaran. Cari pacar dulu...usiamu sudah 30 tahun" ujar Edward sambil menepuk pundak asistennya itu. Keyri hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***********
"Lerina, apakah kamu tidak lapar? Ini sudah jam 1 siang" Tanya Yura saat ia masuk ke ruangan
Lerina yang masih asyik membaca menoleh ke arah pintu "Aku lapar. Jadi makan di mana?"
"Di kantor ini ada rumah makan khusus pegawai. Ayo ke lantai satu"
Lerina menutup laptopnya lalu segera berdiri, merentangkan tangannya sebentar. Lalu meraih hp nya. Beberapa jam yang lalu, Edward sudah mengabarinya bahwa pesawatnya sudah berangkat.
Saat Lerina dan Yura keluar ruangan nampak Taeyung dan Nula pun sedang berjalan ke arah lift.
Yura berusaha bersikap sewajar mungkin.
"Mau makan siang?" tanya Taeyung
"Iya. " jawab Lerina.
Merekapun sama-sama masuk ke dalam lift.
"Tunggu...!"
Taeyung menahan pintu lift saat mendengar suara Grandy.
Cowok itu pun masuk dengan senyum manisnya.
"Terima kasih" ucapnya.
Saat melihat Yura, Grandy langsung tersenyum manis.
"Yura? Kamu sudah mulai bekerja?" tanya Grandy senang.
Yura hanya mengangguk.
"Wah, sungguh menyenangkan datang ke kantor ini jika melihatmu setiap hari di sini" ujar Grandy dan sukses membuat wajah Yura bersemu merah.
Taeyung menatap Grandy dengan ekspresi wajah yang kurang menyenangkan. Lerina dapat melihatnya. Ia tersenyum dalam hati.
Kak Taeyung, kamu baru sadar kalau Yura itu sangat menarik kan?
Guys....makasih sudah dukung aku selama ini
Karena kesibukanku di dunia nyata maka aku nggak bisa up date setiap hari ya...
sambil menungguh, boleh baca ceritaku yang lain
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR DAN VOTE YA....