
"Ed, apakah kau mau menginap di sini?"
Edward menoleh dengan kaget mendengar pertanyaan Lerina yang lebih mirip dengan sebuah permohonan.
Keyri yang sudah melangkah lebih dulu menghentikan langkahnya. Ia berharap kalau Edward akan menyetujui permohonan Lerina. Namun yang terjadi selanjutnya sungguh mengejutkan bagi Keyri.
Edward menepis tangan Lerina yang memegang lengannya secara halus tanpa bermaksud bersikap kasar padanya.
"Maaf, Le. Sebaiknya aku tidur di hotel saja. Selamat malam!" kata Edward lalu melangkah meninggalkan Lerina tanpa menoleh lagi pada perempuan itu.
Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, Lerina berusaha memanggil Edward sekali lagi.
"Ed...!"
Namun Edward sudah melangkah masuk ke dalam mobil dan perlahan mobil itu meninggalkan halaman rumahnya.
Sebutir air mata tanpa bisa ditahan jatuh membasahi pipi Lerina. Ia merasakan bagai seribu pisau menancap di dadanya dan seketika membuatnya sesak napas.
Seperti inikah rasanya ditolak? Sesakit inikah rasanya diacuhkan? Bukankah itu semua pernah dilakukannya pada Edward? Apakah ini karma yang Tuhan berikan padanya?
Dengan cepat Lerina membalikan badannya, membanting pintu depan dengan kesal lalu segera menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Lerina membanting tubuhnya ke atas kasur dan menumpahkan tangisnya di atas bantal. Seluruh tubuhnya saat ini merasakan sakit.
Tangis Lerina semakin dalam. Tangannya memukul guling yang ada di sampingnya. Air matanya mengalir sangat deras dan membasahi bantal yang ada.
Ed, apakah sikapku selama ini terlalu jahat padamu sampai kau sangat sulit memaafkanku? Bukankah tadi sebelum kau mengetahui kehamilanku, kita bahkan saling mengungkapkan perasaan cinta masing-masing? Apakah karena aku menyembunyikan kehamilanku ini lalu kau membenciku?
Pertanyaan demi pertanyaan bermain di kepala Lerina. Kenyataan bahwa Edward tak lagi menginginkannya justru sangat melukai Lerina. Di saat inilah Lerina baru menyadari bahwa ia sangat mencintai Edward dan ingin sekali bersamanya saat ini.
Lelah memangis. Lerina tiba-tiba ingat dengan bayinya. Ia segera bangun dan ke kamar mandi. Membasuh wajahnya dengan air lalu membuka bajunya dan menggantinya dengan piyama dasternya.
"Sayang, anak mama. Maafkan mama ya. Mama janji tidak akan merasa sedih lagi. Papamu pasti sekarang sedang marah. Tak apalah jika dia tak ingin bersama mama lagi. Yang penting papamu menyukai keberadaanmu, sayang!" kata Lerina sambil mengusap perutnya.
Saat merasakan kalau ada sesuatu yang bergerak diperutnya, Lerina tersenyum walaupun dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama yakin kalau kau akan mengerti. Sekarang kita akan ke bawa dan mencari makanan. Mama merasa lapar!" kata Lerina lalu keluar dari kamarnya.
***********
Keyri menginjak rem mobil secara mendadak saat mobil itu masih belum jauh meninggalkan rumah Lerina.
"Apa yang kau lakukan bos? Bukankah nona menawarkan sesuatu yang manis? Memangnya bos tak ingin bersamanya?" tanya keyri sambil menoleh ke samping, dimana Edward duduk sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya. Suasana di dalam mobil yang agak gelap membuat Keyri tak bisa melihat wajah Edward dengan jelas tapi Keyri yakin kalau Edward sedang galau.
"Aku bingung, Key"
"Apa juga yang dibingungkan? Sudah jelas kalau nona sudah membuka hati untukmu. Ah...bos, jangan membuat nona berubah pikiran lagi. Bos kan tahu nona itu sangat keras kepala. Bagaimana jika nona memutuskan untuk merawat anak itu sendiri. Bagainana kalau akhirnya datang laki-laki baik yang mau menerima nona dan anak itu. Apa bos mau?" Keyri mengucapkan kalimatnya dengan nada berapi-api.
__ADS_1
"Jalankan saja mobilnya, Keyri. Aku lelah dan sangat butuh istirahat."
Keyri menjalankan mobilnya kembali. Ia nampak kesal. Dasar pasangan yang sama-sama keras kepala. Kalau aku tak berbuat sesuatu, maka selamanya mereka akan seperti ini.
keyri melihat kalau Edward menurunkan sandaran kursi dan memejamkan matanya. Ia pun memutar arah jalannya tanpa diketahui oleh Edward. Ia yakin kalau ini satu-satunya jalan yang harus dilakukannya untuk menyatukan dua orang yang saling mencintai ini.
"Bos, kita sudah sampai. Turunlah!" kata Keyri sambil menepuk pundak Edward.
"Ini di mana?" tanya Edward sambil membuka matanya karena ia merasa bahwa mobil baru berjalan belum lama. Ia terkejut melihat mobil itu berhenti kembali di depan rumah Lerina.
"Kenapa kita kembali ke sini, Keyri?"
"Karena di sinilah bos harus tidur." kata Keyri lalu segera turun dari mobil dan menarik Edward untuk turun. Setelah itu Keyri kembali naik ke atas mobil.
"Baju bos nanti aku bawa besok pagi. Bye...!" Keyri langsung melesat pergi sebelum Edward sadar dari rasa bingungnya.
"Keyri...!" seru Edward saat ia sudah menyadari kalau lelaki sudah meninggalkannya.
Pandangan Edward beralih ke rumah yang ada di depannya. Ia pun mendorong pintu pagar yang ternyata tak dikunci itu. Lalu ia menutup pintu pagar dan langsung menguncinya. Kakinya melangkah menyeberangi halaman rumah. Ia berdiri di depan pintu lalu tangannya mengetuk pintu itu perlahan.
**********
Saat Lerina sampai di dapur, suasana sudah sepi. Lerina yakin kalau bi Suni sudah tidur di kamar belakang.
Lerina memutuskan untuk tidak menganggu wanita tua itu. Ia membuka kulkas dan mengeluarkan telur. Ia juga mengeluarkan beberapa jenis sayur seperti worter, buncis dan kentang. Lerina ingin membuat telur dadar dicampur dengan sayur-sayur itu.
Saat ia kembali mengingat Edward, gerakan tangannya yang sedang mencuci sayuran menjadi terhenti. Ingin rasanya ia menangis namun dikuatkan hatinya karena ia tahu kalau itu tak baik untuk anak dalam kandungannya.
Lerina terkejut mendengar ada suara ketukan pintu. Siapa yang datang disaat jam sudah menunjukan pukul 12 tengah malam?
Lerina melangkah untuk memeriksa layar kontrol CCTV yang letaknya ada di dekat ruang makan. Ia terkejut melihat Edward berdiri di sana.
Hatinya langsung senang. Ia membuka pintu depan dengan cepat.
"Ed?" sapanya saat pandangan mereka bertemu.
"Aku memutuskan untuk menginap di sini!" kata Edward lalu langsung masuk tanpa dipersilahkan oleh Lerina.
Setelah menutup kembali pintu itu, Lerina pun melangkah mendekati Edward yang masih berdiri di dekat tangga.
"Kau sudah tahu di mana kamarku, Ed. Pergilah lebih dulu. Aku mau memasak karena perutku sangat lapar" kata Lerina dan langsung membalikan badannya menuju kembali ke dapur.
"Apa yang akan kau kerjakan?" tanya Edward yang ternyata mengikuti langkah Lerina ke dapur.
"Aku akan membuat sayur campur dengan telur dadar. " jawab Lerina.
"Buatkan 2 porsi karena aku juga belum makan. Aku akan membantumu!" Edward langsung mengambil kentang dan mengupasnya.
__ADS_1
Lerina tersenyum senang. Ia pun bergegas menyiapkan bahan yang lain. Keduanya bekerja tanpa menimbulkan suara.
30 menit kemudian, makanan sudah masak. Lerina pun mengambil nasi dari magicom dan meletakannya di atas piring.
Saat makan pun mereka lebih banyak diam. Lerina makan dengan lahap karena ia memang sangat kelaparan. Begitu juga Edward nampak menikmati makanannya.
Saat keduanya sudah selesai makan, Lerina dibantu oleh Edward membersihkan meja dan mencuci peralatan makan bersama.
"Aku ingin mandi!" kata Edward yang memang nampak berkeringat setelah mereka memasak bersama.
"Ayolah ke kamar!" Lerina melangkah lebih dulu menaiki tangga diikuti oleh Edward.
Saat mereka tiba di kamar, Lerina langsung mengambil handuk bersih dari dalam lemari lalu memberikannya pada Edward.
Setelah mengambil handuk dari tangan Lerina, Edward langsung ke kamar mandi.
20 menit kemudian, lelaki itu keluar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana jeans yang dikenakannya tadi. Rambutnya yang basah membuat Lerina mengakui kalau pria itu memang sangat tampan.
"Tidak ada baju yang pas untukmu di sini, Ed!" ujar Lerina.
"Kau kan tahu kebiasaanku tidur bertelanjang dada" kata Edward sambil tersenyum. Ia mendekati Lerina yang duduk di sofa. Tanpa di duga, Edward berlutut di depan Lerina. Tangannya langsung membelai perut Lerina.
"Hallo anak daddy yang manis? Apa kabarmu didalam sana? Mulai sekarang, daddy akan menjaga dan melihat pertumbuhanmu." Edward kemudian menunduk dan mencium perut Lerina dengan penuh kasih.
Lerina tak dapat menahan air matanya. Tangisnya kembali pecah. Edward mengangkat kepalanya, menatap Lerina.
"Jangan menangis lagi, sayang. Karena mulai hari ini, aku akan bersamamu. Maafkan sikapku tadi yang pergi meninggalkanmu. Aku hanya bingung saja."
"Ed...!" Lerina langsung memeluk Edward sambil sambil terus menangis. Hatinya bahagia bisa memeluk Edward lagi.
"Sayang...!" Edward melepaskan pelukannya. Menghapus air mata Lerina dengan ibu jarinya. "Kau maukan kalau kita mulai dari awal lagi?"
Lerina mengangguk.
"Aku akan bersama denganmu dan anak kita. Aku tak ingin kita berpisah lagi." kata Edward lalu mencium pipi Lerina dengan penuh kasih.
Lerina kembali memeluk Edward. Ia sangat bahagia karena kini bisa bersama dengan lelaki yang dicintainya.
"Sekarang tidurlah. Tidak baik wanita hamil tidur sampai larut malam" Edward berdiri dan menarik tangan Lerina perlahan menuju ke ranjang. Setelah Lerina membaringkan tubuhnya, Edwardpun ikutan rebah di sampingnya. Keduanya dalam posisi saling berhadapan.
Lerina tiba-tiba saja memeluk Edward dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Edward pun menyambut pelukan Lerina dengan bahagia.
"Ed.., kenapa jantungmu berdebar dengan sangat kencang?" tanya Lerina setelah beberapa saat mereka ada dalam posisi seperti ini.
"Karena aku sedang menahan diriku untuk tidak menyentuhmu lebih dalam. Tapi rasanya ini sangat menyiksaku karena sudah 5 bulan aku menjadi pria kesepian" kata Edward dengan nada sensual membuat Lerina terkejut lalu mendorong tubuh Edward menjauh darinya.
APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA???
__ADS_1
JANGAN LUPA DI KOMEN YA..
LIKE DAN VOTE JUGA.