LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 10 : BENALU PUN MASIH PUNYA MALU


__ADS_3

"Mbak... belum terlambat untuk membatalkan semuanya. Hatiku kosong. Hampa nelangsa saat melihat dengan mata dan kepalaku sendiri, bahwa mas Irsam sangat amat mencintai mba Lilis. Aku tidak pantas ada di antara kalian mbak." Lamiah mulai menguraikan perasaan kadang tiba-tiba gamang.


"Tidak Miah tidak ada yang boleh di batalkan. Semua persiapan sudah matang. Mbak telah siap lahir batin menerima mu sebagai maduku?" Lilis menjawab mantap.


"Aku bukan madu mbak, aku akan menjadi benalu saja dalam perahu mu." Lamiah meyakinkan.


"Tidak Miah... jangan bicara begitu. Mana Miah yang ku kenal yang memiliki hati yang kuat...?" Lilis meyakinkan Lamiah.


"Mbak... aku kuat saat berpijak di atas jalan yang benar. Kini aku rapuh, aku akan hanya menjadi parasit, aku hama, aku... aku pelakor mba." Tangis Lamiah membuncah mengggebu.


Tak dapat ia bendung segenap rasa kecewa dalam hatinya. Bagaimanapun ia adalah benalu. Tetapi benalu pun masih punya malu. Kerena itu ia terus saja meminta waktu. Memberi kesempatan jika saja keputusan menjadi yang kedua dapat di hindarkan.


Tak salah menurutnya jika, berkali-kali ia mengingatkan Lilis untuk memikirkan lagi hal yang mungkin saja akan menjungkir balikkan keadaan di depan nanti.


Jika kini, ia masih bisa duduk dengan tabah di depan Irsam dan Lilis tanpa malu memadu cumbu di hadapannya.


Tetapi bagaimana nanti, saat statusnya sah menjadi istri. Sedangkan perlakuan hangat dan manis yang Irsam lakukan pada bibirnya tadi, pun. Masih terngiang menyisakan rasa yang yang tak mau hilang dari benaknya, bahwa ia ingin lagi mereguk kenikmatan yang baru ia rasakan.


Lamiah tidak dapat menjamin, ia akan tetap waras saat nanti sekujur tubuhnya akan termiliki oleh Irsam pahlawan hatinya tersebut.


Melalui sambungan telepon pun. Lamiah seolah gila jika sehari saja tidak mendengar suara pria itu.


Apalagi nanti, jika semua telah termiliki. Apakah Lamiah mampu berbagi. Bahkan dengan Lilis sang pembuka jalan pertemuan cintanya itu.


"Tidak Miah. Kamu bukan pelakor. Segera kamu cuci otak dan pikiran pendekmu itu. Bahwa kamu bukan perebut, kamu bukan benalu. Kamu adalah istri. Maka berlakulah sebagai istri sesuai hak dan kewajibanmu." Ucap Lilis dengan tegas. Yang kemudian bergegas menjemput suaminya yang ia lihat masuk ke ruang kerja.


"Mas... kenapa di sini? Mas masih ada pekerjaan?" tanya Lilis dengan nada yang sangat lembut mengusap rambut suaminya dengan sayang, sambil menyodorkan kepala itu pada gundukan sintal andalannya.

__ADS_1


"Iya sayang, karena mengantar Miah tadi... pekerjaan mas jadi tertunda untuk di selesaikan." Padahal alasan Irsam yang sebenrnya masih ingin berlama-lama di ruangan itu karena ingin berkomunikasi dengan Lamiah.


"Baiklah... sebagai seorang ratu yang bijaksana. Maka, aku tidak akan menganggumu. Selamat bekerja ya sayang. Oh... iya. Apakah mas ingin ada part 2 malam ini setelah yang kita lakukan di kamar mandi tadi?" tanyanya nakal pada suaminya. Dan Irsam sudah berhasil mengigit permukaan kulit gudukan yang Lilis sodorkan.


Irsam tersenyum smrik.


"Sepertinya bahkan ada hingga part 3 sayang." Jawabnya sambil meremas boko ng sintal istrinya.


"Mas nakal. Baiklah, ratu mu ingin mempersiapkan persembahan untuk baginda raja dulu ya...cup." Lilis meningalkan kecupan basah di bibir tebal suaminya.


Irsam hanya menggeleng atas ulah Lilis yang selalu pintar menggoda dan melayaninya itu.


Irsam segera melakukan Video Call pada Lamiah calon Istri keduanya.


Tanpa salam dan ucapan selamat malam. Irsam langsung tersenyum memandang wajah cantik calon istri keduanya. Yang tampak baru selesai membersihkan diri untuk segera mengganti pakaiannya dengan piayama tidur.


"Abaaaang...?" jawab Miah dengan nada manja.


"Hm... aku ingin dede panggil abang. Supaya beda dengan nya." Ujar Irsam tanpa menyebut nama Lilis.


"Not bad my hero." Jawab Miah yang tampak sengaja memperlihatkan kegiatannya yang sedang mengoleskan hand body keseluruh permukaaan kulitnya, mulai dari ujung kaki merambat semakin naik sampai pangkal pahanya. Lurus menghadap dengan sempurna ke arah Irsam yang sudah ketar ketir melihat adegan yang di pertontonkan untuknnya.


Lamiah tersenyum puas, menyadari betapa suami sahabatnya ini ia rasa memang mulai jatuh cinta padanya.


Sampai seluruh permukaan kulit hingga tangan dan dadanya ia selesaikan mengolesnya, baru lah sambungan video call itu berakhir.


Keesokkan harinya, sesuai permintaan yang Lilis sampaikan semalam. Bahwa kini mereka telah berada di mall terlengkap di Kota Hujan itu.

__ADS_1


Lilis tampak sibuk berseliweran di tumpukan kapstok gaun malam sakral alias lingerie. Lamiah berkali-kali menggeleng untuk kesekian kali, saat Lilis membentangkan beberapa model pakaian yang serba terbuka itu.


"Ish... harus ya mba malam pertama pakai beginian...?" tanya Lamiah yang masih belum berpengalaman atau pura-pura polos itu.


"Wajib sayang. Dengan menggunakan ini suami kita akan lebih liar saat bercumbu. Dia akan gelagapan seperti cacing kepanasan tidak sabar untuk menerkam, dan tangannya akan menyusup nakal di balik kain yang lebih mirip jala ikan ini. Semakin waktu terulur saat susah payah ia mendapatkanya, maka semakin kesurupan ia ingin segera mencicipi tubuh kita, ooouuuhhh itu sangat nikmat Miah." Lilis berbicara tanpa malu dan terdengar sangat menggebu.


Dalam hati Lamiah bermonolog.


"Suamimu itu bahkan telah sering memintaku bertelanjang polos tanpa sehelai benang menutupi tubuhku, hanya demi gairahnya yang tak tertahankan untuk segera menyentuhku. Dan semua tantangan itu aku menangkan, membuat rekeningku kini semakin bengkak akibat transferannya." Licik.


"Kenapa melamun...? aku tau, sangat tau. Mas Irsam akan menjadi yang pertama mendapatkanmu. Ya... mas Irsam menang banyak, dalam hidupnya bahkan ia boleh menikmati keperawanan dari dua istrinya, Subhanallah." Celoteh Lilis tak karuan.


"Mbak..." Ujar Lamiah.


"Apa...? lebih baik kamu diam. Jika yang kau ingin sampaikan adalah pembatalan, penundaan perasaan tidak nyaman dan apapun tentang perasaan ragumu. Ku peringatkan padamu. Tutup buku untuk urusan kegalauan, dan keraguanmu itu. Mbak muak mendengar rengekan tidak berarti darimu." Lilis sudah bagai seorang cenayang yang tau apa yang ada dalam pikiran Lamiah.


Padahal kini Lamiah tidak hanya meragu, hanya sekedar lebih memastikan. Bahwa suatu hari nanti jangan sampai bibir itu berkata aku menyesal menjadikanmu maduku.


Persahabatan adalah perasaan dua insan atau lebih yang ingin saling melindungi. Perasaan sayang yang lebih dari sekedar kepada seorang teman dekat. Sebuah rasa keterkaitan yang ingin di jalankan dan di bina dalam waktu yang lama, di mana disana, ada tangis dan tawa yang di buat bersama. Ada janji yang selalu di tepati, ada teguran saat salah menghinggapi, ada maaf tak terperi, bahu untuk bersandar dan pelukan yang selalu siap untuk melindungi memberi rasa nyaman.


Lilis meletakan Lamiah pada semua rasa itu. Maka tidak terbesit dalam pikiranya, jika suatu saat Lamiah bagai kacang yang lupa akan kulitnya.


Lamiah sejauh ini pun merasakan hal yang sama, kekagumannya semakin dalam pada seorang Lilis wanita yang berkepribadian kuat, berpendirian teguh tak terbantahkan. Tidak ada sehelai rambutpun Lamiah bercita-cita jika esok ia akan menjadi onak dalam daging.


Mereka semua berpikiran positif untuk pernikahan segitiga yang akan bermulai. Hingga hari itu tiba, dimana ijab qobul itu menguar dalam sebuah ruangan luas di rumah mewah milik keluarga Irsam Haedar.


Flash back Off

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2