LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 37 : SIAPA YANG DI HUKUM


__ADS_3

Lampu emergency di atas pintu tertutup itu masih menyala berputar-putar. Pertanda di dalam para tim medis masih bekerja untuk menyelamatkan dua nyawa sekaligus. Lilis dan calon buah hati mereka.


"Cukup aku yang kehilangan, kalian jangan sampai gagal." Kalimat Lamiah selalu terngiang dalam otak Irsam.


Semudah itu ia menyepelekan anak yang tidak bersalah, yang hadir dengan penuh kesadarannya. Yang ia katakan bahkan sudah 3 tahun di inginkannya. Tapi apa yang sudah ia lakukan. Jika salah satu dari mereka ada yang hilang di atas meja operasi itu, Irsam lah pembunuh yang sesungguhnya.


Jika menikah dengan Lamiah, Irsam boleh menyalahkan Lilis. Sebab, itu atas permintaannya. Lalu jatuh cinta pada Lamiah, pun Irsam masih bisa menyalahkan Lamiah, sebab wanita kedua itu terlahir cantik dan baik hati. Lalu, saat kedua istrinya hamil dan kehilangan bayinya. Apakah ia tidak mengakui jika itu salahnya yang kurang memberi perhatian pada keduanya dengan baik. Dan, apakah ia mau menyalahlan orang lain, jelas-jelas dia yang membuat hamil keduanya.


Lamiah memegang dan melepas ponselnya, ingin menghubungi Irsam tapi ragu. Bukankah dia yang memeninta Irsam pulanh ke istrinya. Lalu mengapa rindu. "Sadarlah, rindu itu hanya untuk wanita ke satu. Bagaimanapun, yang kedua hanya boleh menunggu." Lamiah menguatkan hatinya. Berusaha untuk tidak menjadi pengganggu. Namun, keberanian untuk melepas Irsam sangat kecil. Lamiah telah jatuh hati parah pada Irsam.


"Selamat pa... bayinya perempuan. Berat badannya hanya 1,4kg. Dia lahir prematur, untuk itu ia akan di rawat secara intensif terlebih dahulu, sampai berat badannya normal, dan seluruh organ tubuhnya berfungsi dengan baik." Ucap salah satu dokter yang tampak keluar memberi Irsam imformasi.


"Alhamdulilah. Bagaimana keadaan istri saya dokter?"


"Istri bapak masih belum sadarkan diri. Terjadi komplikasi berat, masih akibat dari dehidrasinya. Semoga istri bapak kuat dan segera dapat melewati masa kritisnya." Kata dokter membuat Irsam seolah merasa tak berpijak di atas lantai.


"Pakai pakaian ini, jika bapak akan mengadzani putri bapak. Dia di ruang NICU." Irsam di sodori pakaian steril untuk dapat segera melihat dan membisikan kalimat adzan pertama untuk putrinya.


"Adilla Humaira." Panggil Irsam tiga kali di dekat telinga bayi kecilnya itu, sangat kecil. Irsam sampai bergetar saat mengendongnya untuk kemudian ia bacakan kalimat adzan dengan sungguh.


Menetes dengan sendirinya air mata Irsam, terharu, sedih, bersyukur di beri kesempatan memiliki putri yang sempat hampir ia sia-siakan kehadirannya karena ego Irsam itu sendiri.

__ADS_1


"Papa beri namamu Adilla. Agar tiap papa melihat dan memanggil namamu. Papa akan selalu adil mencintaimu. Maafkan papa yang sempat seolah tidak menginginkanmu. Papa menyesal dan berjanji akan menyayangimu dan mama seperti sedia kala." Janji Irsam pada putrinya.


Kemudian Irsam menyambangi Lilis. Yang masih tergelatak kaku, di atas ranjang pesakitan dengan segala macam selang peralatan medis yang di pasang di tubuh itu. Demi mempertahankan kelangsungan hidupnya.


Hati Irsam mencelos, sungguh pukulan telak baginya melihat wanita yang bukan hanya ia cinta di masanya, tapi sangat ia puji puja keberadaannya. Apa sesungguhnya penyebab semua kejadian ini? Hukuman bagi siapa? Irsam kah? Liliskah yang nyata-nyata menciptakan neraka dalam rumah tangganya sendiri? Atau Lamiah kah yang tak tau malu untuk masuk ke rumah tangga bak sorga itu sebelumnya?


"Kemana hatiku selama ini, apa benar rasaku telah hilang lenyap, meluap begitu saja oleh kehadirannya. Bahkan dia ada atas ijinmu. Mestinya rasaku padanya tak boleh lebih dari rasaku padamu. Maafkan aku ratuku." Resah Irsam dalam hatinya sendiri.


"Jangan pergi ratuku. Mas tidak ingin kehilanganmu. Maaf... maafkan mas. Tolong bangun, kita hidup selayaknya dulu saat hanya ada kita tanpa dia." ucap Irsam tersedu meletakkan kepalanya di atas tangan berinfus itu.


12 jam Lilis sudah tak sadarkan diri. Ia masih terlihat mematung, di atas ranjang rumah sakit itu. Bahkan dokter berkata, ia bertahan hanya karena alat medis saja. Selebihnya, mereka di sarankan untuk meminta keajaiban Tuhan saja untuk mengembalikan roh yang sepertinya sudah tidak melekat pada tubuhnya.


Jangan tanya bagaimana Irsam. Yang bahkan tidak pulang ke rumah. Juga tidak menyambangi ataupun memberi kabar pada Lamiah. Ia terlampau bersedih, seolah baru menyadari jika kini ia sedang di hadapkan di masa sulit. Apakah selalu cinta di sadar keberadaannya saat semua akan hilang?


Irsam di temukan pingsan, sebab hampir lebih dari 24 jam ia tidak memberi waktu untuk dirinya sendiri beristirahat dan makan. Irsam menghukum dirinya, ia ingin ikut tak sadarkan diri, berharap dapat bertemu roh Lilis agar bisa membawanya kembali dan akan mencintai Lilis dengan sepenuh hatinya kembali.


Irsam telah sadar dalam keadaan bingung melihat ia sudah terbaring di di atas ranjang pasien, dengan pergelangan tangan yang tertancap jarum dan selang infus.


"Oh di mana aku, mengapa aku harus berada di ruanga penuh alat medis ini. Mestinya aku sudah berada di neraka karena kejahatanku, yang hidup hanya untuk menyakiti hati istriku." Batin Irsam nelangsa sendiri.


Perawat datang menghampiri untuk memeriksa keadaan pasiennya.

__ADS_1


"Oh... bapak sudah sadar? Maaf kami ambil tindakan sendiri setelah menemukan bapak pingsan di ruang rawat istri bapa."


"Istri saya ... bagaimana keadaannya?"


"Ini hari keduanya masih dalam kondisi koma pak. Semua alat bantu masih terpasang. Beliau bertahan hanya oleh alat medis saja."


"Bolehkah saya di rawat dekat dan berdampingan dengannya? saya tidak mau jauh darinya." Pinta Irsam pada petugas medis itu.


"Kami konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu, permisi." Jawab perawat itu pada Irsam.


Seorang wanita culun, berkacamata tebal dengan pakaian serba tertutup tapi tidak berhijab datang tergopoh-gopoh ke meja receptionis rumah sakit itu.


"Permisi, apakah di sini ada pasien yang bernama ny. Lilis Listiana?" tanya Nila sekretaris Irsam.


"Apakah yang ibu cari adalah pasien pasca operasi melahirkan...?"


"Oh... iih. Aah... i iyaa. Mungkin." Jawab Nila bingung. Onah mengatakan padanya kalau istri bosnya hanya pingsam dan di rawat di rumah sakit ini. Onah tidak bilang jika Lilis melahirkan.


"Oh... bu pasien masih di ruang ICU tidak bisa di jenguk sembarangan. Silahkan melihatnya dari kaca jendela saja. Di jalur kanan terus belok kiri. Silahkan minta ijin pada patugas." Terang petugas jaga receptionis tersebut.


"Baik terima kasih." Jawab Nila ramah dan mengikuti arahan yanh di beri padanya tadi.

__ADS_1


Nila tidak akrab dengan istri bosnya tersebut, tapi melalui cerita Irsam ia tau bahwa bosnya itu sangat mencintai istrinya.


Bersambung...


__ADS_2