
Lilis tak dapat langsung menjawab pertanyaan sang bunda. Ia tampak memgambil waktu untuk berpikir terlebih dahulu.
"Bunda tanya sekali lagi, apa kamu bahagia dengan keputusanmu Lis?"
"Entahlah bun. Saat melihat mereka tampak biasa saja di rumah, aku bahagia. Dan aku yakin mas Irsam sama sekali tidak mencintainya. Demikian juga dengan Miah. Ia masih sangat lembut dan suka mengalah, bahkan seolah tak ada di rumah tangga kami."
"Maksudnya?"
"Ia belum menjalankan hak dan kewajiban yang sebenarnya sebagai seorang istri. Ia lebih cendrung memposisikan dirinya seolah pembantu rumah tangga kami. Sebab itulah, aku yang memberikan tiket untuk mereka berbulan madu. Agar mereka benar dapat saling mengenal lebih dalam lagi."
"Mungkin tujuan akhirmu adalah ingin menggapai surga di akhirat Lis. Tetapi sadarkah kamu nak? Dengan kamu memaksa suamimu menikah itu sudah dosa. Kemudian apakah kamu tau mengapa sahabatmu itu memilih posisi layaknya pembantu, itu merupakan suatu isyarat. Bahwa iapun tak menginginkan pernikahan itu, lagi kamu berbuat dosa. Seenak kepalamu memaksakan kehendak pada orang lain." Bunda menghela napas sambil menggelangkan kepalanya.
"Bunda tidak mengerti. Di luar sana, bahkan banyak para istri melakukan operasi plastik agar selalu terlihat cantik dan menarik, agar suaminya tetap tergila-gila dan tak berpaling kelain hati. Bahkan ada beberapa istri yang sudah berurusan dengan dukun santet, demi ingin mempertahankan rumah tangga yang sudah di gerayangi oleh pelakor. Tapi, apa yang terjadi dengan rumah tangga anakku sendiri. Oh... Tuhan." Isak bunda semakin berang.
"Bunda... maafkan Lilis."
Bunda menarik tubuh itu lalu membawanya dalam pelukannya.
"Anakku... surga itu ada dan harus kita pertahankan untuk akan tetap dapat berada di dalamnya. Sebab itu tujuan hidup kita. Tetapi yang kamu lakukan salah, apa kamu kira dengan memberikan jodoh pada sahabatmu, surga akan menunggumu dan masih milikmu? Tidak nak... tidak. Kamu tidak menyadari... kamu telah menggali neraka untukmu sendiri."
"Tapi mas Irsam masih mencintaiku bunda."
"Jika cinta ia tak akan mendua."
"Tapi ini Lilis yang minta."
"Sekonyol apapun permintaan mu, jika ia mencintaimu. Ia tidak akan pernah goyah."
"Tapi mereka tampak tak saling cinta, cendrung dingin menjaga jarak. Bahkan jarang bertemu. Miah sering mengurung diri di kamar."
"Hah.... bahkan kamu sudah membuat sahabatmu itu menjadi stres. Tidak lama lagi ia menjadi orang gila. Itukah yang kau kira menyayanginya?"
"Tidak bu... mereka hanya belum saling cinta."
"Ya... dan setelah mereka nanti telah saling cinta, kamu yang akan gila."
__ADS_1
"Bundaaaa."
"Lis... laki-laki mana yang tidak bersorak saat di ijinkan menikah lagi?"
"Mas Irsam tidak sesenang itu."
"Apa kamu yakin benar mereka tak saling cinta. Irsam lelaki normal, hanya kamu yang tau bagaimana cara suamimu meminta haknya sebagai suami padamu. Lalu bayangkan, itulah yang sekarang mereka lakukan di Labuan Bajo."
"Tidak Bu... tentu tidak sedahsyat itu."
"Dari mana kamu tau? apa kamu sudah pernah melihatnya secara langsung?" Lilis menggeleng.
"Tapi... kata mas Irsam. Miah tidak seluar biasa aku, dalam urusan melayaninya di tempat tidur."
"Dan kamu percaya?" Lilis tergugu. Tiba-tiba kaku, membenarkan perkataan sang bunda.
"Tapi... ta... tapi, bahkan setelah mereka berada di kamar berduaan, aku tak pernah menemukan bercak kemerahan di permukaan kulit keduanya."
"Apa kamu pikir bekas isapan lebah itu harus berbekas saat ia telah puas menghisap madu hah?"
"Buat mereka bercerai, sebelum semuanya terlambat. Jika, Irsam benar hanya terpaksa menjalaninya, proses perceraian mereka akan dapat di lakukan dengan cepat."
"Lalu... apa harus menunggu usia pernikahan itu setahun baru kamu minta mereka bercerai?"
"Aku tak punya alasan meminta mereka berpisah, bahkan untuk menyesalpun aku tak boleh."
"Mengapa?"
"Karena itu syarat yang di ajukan mas Irsam saat akhirnya ia menyetujui penikahan keduanya."
"Hah.!!! Kamu memang bo doh. Mengapa bunda harus punya anak sebodoh kamu Lis."
"Bunda mau aku bagaimana?"
"Petahankan rumah tanggamu, hempaskan pelakor itu."
__ADS_1
"Dia bukan pelakor bunda, aku yang ingin berbagi cinta mas Irsam dengannya."
"Kamu pikir cinta itu kue? yang bisa di bagi, lalu di beli lagi jika habis? dan di bagi lagi jika pembagiannya tak sama rata?" Lilis terdiam, baru sadar jika yang bundanya katakan tak semuanya salah, bahkan benar.
Lilis hanya tiba-tiba seolah terbanfun dari mimpinya, bahwa berbagi cinta, membagi suami adalah bukan hal yang mudah.
Benar yang bundanya katakan hanya dengan membayangkan dahsyatnya Irsam mencumbunya saja sebenarnya membuat hatinya cemburu. Apalagi nanti jika mereka telah kembali pulang dark berbulan madu. Mungkinkah mereka masih tampak acuh?
"Menurut bunda aku harus bagaimana?"
"Melahirkan saja lagi. Buat dia terikat kembali menjadi suami bertanggung jawab yang harus perhatian pada anak kalian. Jika perlu, ambil Faizal agar bisa tinggal bersama kalian, agar rumah tangga kalian tampak utuh seperti layaknya runah tangga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak."
"Itu akan sulit bunda, sebab oma dan opanya sangat menyayangi Faizal."
"Bunda hanya memberi saran. Sekedar berbicara, toh keputusan besar pun telah beranj kamu ambil tanpa memikirkan resikonya." Lilis hanya terdiam.
"Segera kau lepas IUDmu, jangan sampai wanita kedua itu hamilblebih dulu darimu, sebab jika hamil semua perhatkan Irsam akan tertuju padanya. Lambat laun bukan berbagi cinta yang kau dapatkan, tapi kehilangan cinta."
"Baiklah kali ini aku akan ikuti saran bunda."
"Bagus... besok bunda akan ikut pulang ke Bogor bersamamu. Jika ia wanita baik-baik yang sungguh hanya terpaksa menerima tawaranmu. Maka dia sendiri yang akan meminta untuk berhenti dan keluar dari rumah tanggamu."
"Bunda... jangan berprasangka buruk terhadapnya. Dia sebaik aku bunda."
"Itu menurutmu. Hati manusia bisa berubah dan tidak mungkin sama persis seperti hatimu. Juga tidak selalu dapat sesuai keinginanmu. Manusia makhluk hidup Lis. Kapan saja bisa berpindah rasa, berubah niat, sesuai keadaan sekitarnya."
"Jadi menurut bunda Lilis harus curiga pada mereka?"
"Hanya kamu yang buta dan tidak peka. Ibu tidak yakin mereka terpaksa menjalani rumah tangga mereka yang telah kamu kondisikan untuk mereka."
Lilis hanya termangu dan sedikit mengingat bagaimana tingkah Irsam dan Lamiah yang baginya memang tidak pernah terlihat dekat apalagi mesra.
Untuk sementara Lilia tak punya pilihan, selain patuh dengan saran, bukan perintah dari ibunya. Hari ini jadwalnya melepas IUD dan besok akan kembali ke Bogor bersama bundanya.
Tetapi... apa harus sedemikian ia mencurigai suami dan madunya? Bahkan walau berbulan madu pun, Irsam selalu mengirim chat padanya, yang isinya hanya memgingatkan istri tuanya itu makan saja.
__ADS_1
Salahkah Lilis masih mengira suaminya itu masih sangat mencintainya seperti sedia kala?
Bersambung...