LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 52 : PETUNJUK ALLAH


__ADS_3

Lilis terdiam seribu bahasa. Tak sanggup hatinya berkali-kali menimbun luka di hati sahabatnya sendiri.


"Permisi... ini surat yang harus bapak setujui. Dan pasien akan kami pindah ke ruangan, untuk menunggu jadwal curette dan operasi bahunya." Perawat sedikit mengganggu ketegangan yang terjadi di antara mereka.


"Iya silahkan." Jawab Irsam yang kemudian menggandeng Lilis untuk ikut menyusuri koridor mengantar Lamiah ke kamar yang di maksudkan oleh perawat.


"Bapak... keadaan pasien stabil, semuanya baik. Untuk currete, akan di lakukan sore nanti menunggu dokter obyinnya datang. Kemudian untuk operasi bahunya, akan di laksanakan besok. Demikian hasil konfirmasi kami dengam dokter bedah yang akan mengerjalannya."


"Iya siap. Terima kasih informasinya." Jawan Irsam pada perawat.


"Permisi, jika tidak ada yang di tanyakan, kami tinggal dulu pa."


"Oh... makan. Apa istri saya boleh makan?"


"Maaf pa. Tidak boleh dulu. Ibu di minta berpuasa, sampai jadwal currete. Dan, sebaiknya istri bapak di biarkan tidur untuk beristirahat saja."


"Oh iya... baiklah. Terima kasih."


"Abang... sudah makan?" tanya Lamiah perhatian.


"Belum."


"Mba Lis... makanlah bersama abang. Lagi pula ini memang jatah abang bersama, mbak Lis. Aku akan segera tidur setelah ini."


Lilis masih tidak punya banyak bahan kata untuk menjawab apapun yang Lamiah sampaikan.


Lagi... Irsam menciun kening istri mudanya. Untuk pamit pulang bersama Lilis.


Jangan tanya hati Lamiah, dia bukan batu, tentu saja nelangsa melihat kemesraan Irasam yang tak pernah melepas tautan tangannya pada Lilis. Membuatnya semakin yakin. Setelah boleh keluar rumah sakit ini, ia harus sudah menyandang gelar janda. Lamiah yakin, dalam hati Irsam masih ada Lilis di sana.


Lamiah sadar salahnya, sangat sadar. Dia hanya istri pemuas naf su. Tak bisa jamin cepat atau lambat ia bisa lupakan Irasam. Yang penting ia akan berusaha saja semampunya, untuk melupakan semua tentang Irsam.


Lilis dan Irsam pergi berdua, untuk makan di luar. Dengan raut wajah sedikit tegang antara keduanya. Namun, kebekuan itu tak bisabselamanya Irsam hamparkan. Sebab ia tak suka suasana itu.


"Ratuku... setelah ini mas antar pulang ya. Lalu... bolehkah mas menemani Miah di rumah sakit?" tanya Irsam pelan.


"Bagaimana jika ratumu ini tidak mengijinkan mas menemaninya. Karena minggu ini adalah jatah ku."

__ADS_1


"Baiklah. Mas tadi hanya meminta ijin. Jika tidak di perbolehkan, artinya ya memang tidak usah." Jawab Irsam tanpa tekanan.


Sepulang makan siang, Irsam pun tak berminat untuk kembali ke kantor juga tak berani melangkah ke rumah sakit. Ia hanya menggunakan waktunya bermain dengan Faizal, juga sesekali menengok Adilla kamarnya.


Irsam sungguh tak ingin beradu mulut ataupun melawan keinginan Lilis. Ia benar ingin memperbaiki hubungannya dengan Lilis, walau nyata menyakiti hati Lamiah.


"Mengapa tidak ke kantor lagi?" tanya mama Irsam sedikit heran saat melihat Irsam hanya termenung memandang Adilla.


"Oh... sedang tidam banyak pekerjaan ma." Jawab Irsam.


"Bagaimana keputusan kalian tentang perceraian dengan Lamiah?"


"Mungkin setelah dia keluar rumah sakit Irsam mengakhiri semuanya."


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?"


"Miah tadi terpeleset saat menuruni tangga di salon. Dan dia mengalami keguguran juga patag bahunya. Jadi, sekarang dia di rawat di rumah sakit."


"Irsam...!!!!" teriak mama Irsam marah.


"Suami macam apa kamu, istri sakit tapi tidak di jaga. Ada apa dengan mu? Mana hatimu Irsam, batu?"


"Dasar bo doh." Hardik mama Irsam gusar.


"Lilis....!!!" panggil mama Irsam bagai kesurupan memanggil menantu pertamanya.


"Iya ma.. ada apa?"


"Di mana kemanusiaanmu. Madumu jelas membutuhkan dukungan suaminya, mengapa kau larang menemaninya?"


"Mama... mereka akan bercerai. Untuk apa memberi harapan lagi. Dengan hadirnya mas Irsam di sana, hanya membuat cinta mereka makin tumbuh."


"Hah... sayang terlalu banyak waktuku terbuang untuk menyayangimu sebagai menantuku. Tidak mengira, otak dan hatimu semakin tak ku kenal." Mama Irsam tak paham dengan Lilis. Kemudian memilih pergi ke rumah sakit dengan di antar supir.


Bagaimanapun, Lamiah masih istri Irsam juga masih menantunya. Rasa kemanusiaannya yang mendorongnya untuk menemani Lamiah di rumah sakit.


"Mama..."

__ADS_1


"Maaf nak, mama baru tau kamu di rawat di sini. Maaf juga, Irsam tak bisa menemanimu. Biar mama yang gantikan dia menjagamu di sini. Sabar ya... Tuhan masih belum percayakan buah hati di rumah tangga kalian."


"Tidak apa-apa ma. Rumah tangga kami pun hanya menunggu waktu. Toh, sekarang juga sudah berubah menjadi rumah duka. Belum setahun membina biduk rumah tangga kami harus dua kali kehilangan. Bukankah artinya Allah pun tak ingin kami melanjutkan semua ini."


"Apa maksudmu dengan perkataan itu?"


"Lamiah sudah minta abang menalak Miah, ma. Semoga di segerakan." Ucapnya dengan nada penuh kesadaran.


"Hatimu baik. Mestinya kamu bisa mendapatkan yang lebih baik lagi dari anak mama."


"Amin ma." Doa Lamiah sungguh.


Proses currete sudah berjalan dengan lancar. Dan benar saja, mama Irsam tidak pulang. Memilih tidur di rumah sakit menemani menantunya yang tak lama lagi jadi janda itu.


Keesokkan harinya adalah jadwal operasi bahu Lamiah. Kali ini, papa Irsam yang datang membawa pakaian ganti untuk istrinya. Sekaligus menunggu proses operasi itu hingga selesai.


"Kenapa mama rela menjaga Lamiah?"


"Sebab ia anak yatim piatu, tak memiliki kerabat, sahabat pun sudah menjadi jahat, mempunyai suami pun akan segera menjatuhkan talak. Kasihan sekali nasibnya pa." Lirih mama Irsam, benar sedih jika berada di sisi Lamiah.


"Mengapa Irsam tak menungguinya?"


"Karena minggu ini adalah jatahnya bersama Lilis."


"Hah... tidak pandai membaca situasi." Jawab papa Irsam mendengus.


Lampu emergency sudah padam, artinya proses operasi sudah selesai. Lamiah masih dalam keadaan tidur, sebab efek obat biusnya masih belum hilang sepenuhnya.


"Papa... mama. Maaf merepotkan kalian. Apakah sejak tadi di sini?" tanya Lamiah saat sudah siuman.


"Ya... kami hanya ingin memastikan keadaanmu dan proses operasinya berjalan dengan lancar." Jawab Abizard datar.


"Baiklah... sekarang hanya menunggu pemulihan. Kami permisi pulang." Pamit papa Irsam menarik tangan Istrinya.


Mama Irsam patuh dan mengikuti suaminya untuk keluar dari ruang rawat inap Lamiah.


Lamiah puas, akan petunjuk yang Allah berikan padanya. Mulai dari ia kehilangan lagi janinnya. Sampai ketiadaan suaminya selama proses currete dan operasinya. Baginya cukup dan sangat jelas. Bahwa Irsam tegas akan segera mengakhiri rumah tangga mereka yang sudah di ujung tanduk.

__ADS_1


Mungkin sulit bagi Lamiah untuk tetap menjalani hidupnya. Maka, ia membuka google untuk mencari info lokasi baru untuknya memulai hidup baru. Mungkin dengan pergi dari kota hujan ini, lebih baik. Untuknya mengubur semua kenangan manis dan pahit rumah tangga yang ia rasakan.


Bersambung...


__ADS_2