LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 16 : BERBAHAGIALAH DENGAN SUAMIMU


__ADS_3

Irsam dan Lamiah hanya saling pandang dengan kilas binar mata senang terpancar di sana. Namun tetap dalam mode tak bersuara, seolah tak bergetar.


Keduanya berpencar, Lamiah kembali ke kamarnya. Dan Irsam memilih mencari Lilis.


"Sayang... Mengapa sampai ratuku yang memberikan tiket ini pada kami?"


"Ratumu ini malu mas. Bukankah aku yang mengundangnya ke sini menjadi istrimu, tapi kenyataannya? Kalian bahkan selalu menjaga jarak, jarang saling bicara, bahkan mas hampir tak pernah tidur dengannya satu malam pun, sejak kalian menikah. Aku sangat merasa bersalah mas."


"Beri mas waktu sayang. Bukan hal mudah bagi mas. Jika harus langsung menempel dengannya seperti denganmu."


"Dia cantik... Apa alasan mas sulit untuk mencintainya?"


"Cantik tidak menjamin cinta."


"Dia baik hati, lalu mengapa mas belum menyadari itu. Bahkan sebulan ini ia telah melayanimu...oh aku juga ia layani mas."


"Jangan paksa mas begitu. Dalam hati mas masih ada kamu, mas belum bisa menggeser itu."


"Sayang... Aku tidak ingin di geser. Hanya dibagi. Biarkan kami berdua ada di dalam hatimu." Irsan mengusap sayang pucuk kepala Lilis.


"Huumm... Akan mas coba."


"Ya... Semoga berhasil."


"Tentang bulan madu itu, sebaiknya ratuku saja yang menyampaikannya lagi dengannya. Mas, sepertinya sudah kehilangan kesaktian dalam urusan merayu." Alasan Irsam. Agar sandiwara mereka terlihat alami sempurna.


Keesokan harinya, seperti biasa. Irsam sarapan pagi di temani Lilis, menikmati masakan Lamiah. Merapikan pakaian, berpeluk cium, mengantar suaminya hingga ke depan pintu adalah bagian dari tugas Lilis sejak dulu yang ternyata bahkan sampai sekarang masih dapat ia lakukan


Setelah Irsam pergi, Lilis segera ke kamar Lamiah. Ia tidak yakin jika kemarin Irsam dan Lamiah tidak memanfaatkan waktu dengan baik, saat ia tak ada.

__ADS_1


"Miaah... Miah." Panggilnya dari luar.


Lamiah yang ingin mandi tentu saja terkejut dengan panggilan itu, dan segera membuka pintu.


"Ada apa mbak?"


"Oh... kamu mau mandi? Mari kita mandi bersama." Ucap Lilis dengan santai masuk ke kamar Lamiah. Lalu melepas pakaiannya tanpa ragu.


Lamiah menelan salivanya sendiri saat melihat dada tanpa kain itu penuh bercak abstrak. Ada yang berwarna terang, ada pula yang berwarna mulai memudar. Lamiah tau, itu jejak cinta, yang selalu ingin Irsam buat pada tubuhnya juga.


Lilis menarik tubuh Lamiah dan meloloskan bathrobe yang masih melekat di tubuh itu. Lilis takjub, lamiah bukan hanya putih, tapi mulus juga. Lagi, tidak ada jejak cinta di sana. Membuat hatinya terlonjak senang, menurutnya sungguh Irsam belum banyak menyentuh wanita kedua. Baginya, cinta suaminya masih benar hanya untuknya seorang.


Keduanya kini telah sama-sama tak beratribut apa-apa. Berendam bersama dalam bathup dengan aroma bunga menenangkan juga menyegarkan.


"Miah... pergilah berbulan madu. Aku sungguh merasa tak enak padamu. Kamu bahkan berulah bagai pembantu rumah tangga di sini. Miah, kamu bukan lagi TKW, kamu adalah istri. jangan buat aku merasa bersalah, pakaian, makanan itu bukan tanggung jawabmu. Usiamu telah masuk 32 tahun. Apa kamu tidak ingin punya anak?" Pertanyaan LiLis membuat Lamiah tersentak.


"Bagaimana aku menjelaskan pada anakku nanti mbak, jika ia bertanya aku siapa dan mbak siapa?"


Bukan hanya tiket gratis, bahkan doa agar Lamiah berbahagiapun menyertai keberangkatan pasangan pengantin baru itu untuk berbulan madu.


Labuan Bajo, sepetak surga di Indonesia bagian Timur. Tepatnya di Nusa Tenggara Timur, pada sebuah Kecamatan Komodo.


Tempat itu masih tergolong asri, dan benar sangat memanjakan mata. Banyak kegiatan yang bisa di lakukan selain hanya bercinta saja di pulau itu, membuat mereka tak lekas bosan berada di sana.


Di tambah lagi Lilis sudah menyiapkan paket di mana mereka menginap di sebuah Plataran Resort and Spa yang sedang mempromosikan properti terbarunya yaitu Hanging Pool Villas, berupa vila dua lantai dengan balkon menghadap langsung ke Pantai Waecicu, sekaligus Pulau Bidadari dan Pulau Monyet yang hanya "selemparan batu" ke Taman Nasional Komodo. Sungguh istimewa.


Apa yang bisa di lakukan pasangan pengantin baru saat bulan madu. Bahkan di sebelah kamar mereka ada istri tua pun, permainan mereka bagai pasangan yang telah ahli dalam bidangnya.


Jangan tanya betapa luck nut, desa han, yang keluar dari mulut Lamiah. Di sini ia benar-benar puas di hajar habis-habisan oleh Irsam. Tanpa memikirkan, jika dalam sepertiga malam suaminya harus kembali ke istri tua.

__ADS_1


Di Labuan Baji, Irsam benar-benar menjadi miliknya seutuhnya.


"Abang... ternyata berada dalam pelukanmu sampai pagi itu sangat membahagiakan."


"Hah... siapa yang selalu paksa abang pulang kandang?"


"De Miah benar masih sangat merasa bersalah menjadi yang kedua."


"Ini keinginannya sayang, bukan salah kita."


"Tapi aku belum sepenuhnya yakin, dia ikhlas akan semua ini."


"Abang tidak peduli sayang. Bagiku, kalian adalah istri yang harus adil aku nafkahi." Irsam beranjak mengambil dompetnya. Dan menyerahkan kartu sakti, untuk Lamiah gunakan selayaknya istri.


"Lihatlah, kita bahkan sudah sebulan menikah tetapi nafkah lahirmu belum pernah abang berikan."


"Tapi di rumah, dede sudah cukup makan bang."


"Nafkah lahir tak hanya makan. Pergilah jalan-jalan, belanja lah sesuka hatimu. De Miah istri, bukan babu. Pliiis bertindaklah layaknya istri. Sepulang ini abang tak mau lagi, setelah bercinta harus dede paksa untuk kembali ke kamarnya. Kita patuhi pembagian yang sudah di buatnya. Dan... abang ingin di rahimmu tumbuh benih cinta kita sayang. Abang mau anak darimu." ujar Irsam sambil menyesap leher putih itu.


"Jangan sampai berbekas."


"Jangan mengaturku, kamu milikku. Bahkan dia telah lama terpuaskan olehku." jawab Irsam yang memang telah lama menggila menginginkan hal itu ia lakukan.


Pergolakan, pertautan dan penyatuan selalu berkali-kali mereka lakukan tak kenal lelah, benar. Bahkan 3 hari Lamiah tak dapat bangkit dari tempat tidurnya. Di perlakukan bagai putri raja, makan pun Irsam yang melayaninya. Sungguh luar biasa Irsam memperlakukannya. Entah karena cinta atau hanya nafsu sesaat, sebelum semuanya membosankan.


Sementara di Bogor, di sebuah rumah mewah. Lagi Lilis seolah baru tersadar kembali. Bahwa ia kesepian, hatinya terperas sendiri membayangkan apa saja yang di lakukan pasangan pengantin baru itu.


Lilis lebih tau, betapa dahsyat permainan ranjang suaminya. Ia hapal betul bagaimana tiap hentakan yang Irsam lakukan tentu membuatnya candu binasa, rindu.

__ADS_1


"Heeeii ada apa dengan hatiku, mengapa saat aku bayangkan bagaimana sentuhan gila mas Irsam kini memenuhi kepalaku dan terasa sakit, persembahan itu, kini di nikmati oleh Miah? Apa benar mereka tak saling cinta, mengapa mereka tampak biasa dan tak berapi-api, tak bergairah. Apa aku benar telah menyiksa batin Miah. Ya Allah, benarkan aku telah menyakiti hati sahabatku sendiri?" Lilis di dera rasa bersalahnya sendiri, mengira telah memberi empedu untuk sabahatnya sendiri, yang sesunggunnya secara tak ia sadari, justru ia sedang termakan racun buatannya sendiri.


Bersambung...


__ADS_2