
Lilis dan Irsam sudah berada di ruko Lamiah. Seperti biasa Lamiah lebih sering berada di salonnya untuk sekedar bercengrama dengan pelanggan yang sedang menunggu antrian, sehingga pelanggan Lamiah benar merasa jauh daru kata bosan dan jenuh dengan owner yang sangat ramah lagi santun itu.
"De Miah, abang di depan salon." Isi chat Irsan yang masih berdiri saja di depan pintu ruko sebelah.
Lamiah sedikit terperanjat, mendapat chat mendadak, sebab sejak vicall di pantai 3 hari lalu kabar Irsam bagai di telan bumi. Dan ia pun tak berminat untuk menghubungi terlebih dahulu.
Lamiah selalu tampak segar dan cantik dengan dress tanpa lengan bermotif salur perpaduan warna putih dan hijau mint, di bagian perut sudah jelas tercetak buncitnya, sebab sudah masuk usia 4 bulan.
Mata Irsam dan Lilis terbelalak, bukan karena kecantikan Lamiah. Melainkan baru tau jika kini perut itu sudah terisi bahkan sebesar itu.
Lilis maju 3 langkah dan langsung memeluk tubuh Lamiah tak lupa mengelus perut buncit di depannya.
"Waaah... kejutan niih. Sudah berapa bulan Miah?" sapa Lilis penuh ceria dan takjub.
"Waktu kalian tinggal, sudah 3 bulan lebih ternyata. Kalian pergi 3 minggu jadi sekarang Alhamdulilah sudah masuk bulan ke empat." Pelukan Lilis sudah terurai, sehingga kini giliran Lamiah yang maju mendekati suaminya untuk mengambil tangan kanan Irsam untuk di saliminya dengan takzim.
Mata Irsam tertuju pada Lilis yang memberi kode dengan kepala menggeleng ke arah Irsam saat tubuh Lamiah membelakanginya.
Lamiah belum menyilahkan mereka masuk, tangan Irsam di tuntunnya untuk berada di atas perut buncitnya.
"Nak... ini tangan abimu." Ucap Lamiah menyentak pikiran Irsam.
Irsam mengelus pelan, sembari mengucap salam dalam hatinya pada utun yang telah hadir di rahim wanita kedua yang tadinya akan siap ia ucapkan ikrar talak.
"Maaf... lupa mempersilahkan kalian masuk. Beginilah, aku akhir-akhir ini waktuku banyak habis di salon. Sebab kalau di rumah rasanya sepi." Ujar Lamiah yang kemudian membuka pintu dengan lebarnya. Agar tamunya itu masuk.
__ADS_1
"Mbak... mau jus? Miah buatkan ya? Abang jus tomat mau?" tawar Lamiah tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya saat suaminya kembali menyambanginya.
"Oh... biar mbak yang buatkan Miah, kamu duduk saja. Pasti kalian kangen lama tidak bertemu." Ujar Lilis agak kikuk. Sebab tidak tau tatanan dapur milik Lamiah.
"Ya janganlah. Mbak kan tamu di sini duduk saja, sebentar Miah buatkan." Sigap Miah yang langsung ke dapur mininya untuk membuatkan jus untuk mereka.
"Mas... sebaiknya urungkan dulu niat mas untuk menalaknya. Dia sedang hamil anak mu." Bisik Lilis pada Irsam.
"Mengapa kalau dia hamil?"
"Bukankah tidak boleh menceraikan istri di saat hamil mas?"
"Tidak ada larangan secara hukum bahwa seorang suami tidak boleh menceraikan istri yang sedang hamil. Sebab isi Pasal 39 ayat 2 pada Undang Undang Perkawinan berbunyi : 'Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri.' Maka sebenarnya tidak ada alasan walau dia sedang hamil pun untuk menunda niat tersebut." Irsam tampak masih bersi kukuh untuk tetap menceraikan Lamiah.
"Oke... tapi apakah alasan mas cukup? Mas masih bisa berkomumikasi dengan baik bahkan harmonis, mas tidak berzina, mas tidak mencampakkan dia sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, mas tidak pernah menganiaya dia, mas juga suami yang bertanggung jawab. Lalu apa alasan yang bisa mas ajukan untuk menggugat cerainya?" tiba-tiba saja Lilis berpikiran sejauh itu. Membuat Irsam terdiam.
"Apa itu?"
"Kamu tinggal katakan di pengadilan nanti, bahwa kamu sebagai istri pertama tidak pernah menyetujui pernikahan ini."
"Tidak. Aku tidak akan melakukan hal itu. Sebab aku membohongi diri sendiri juga semuanya."
"Sayaaaaang. Pliiis. Jangan kau buat semuanya seperti tali karet yang sebentar-sebentar kencang, sebentar sebentar kendor. Mas sudah lelah, Lilis." Pinta Irsam lesu.
"Mas, berkemanusiaanlah sedikit. Kali ini aku minta lagi, bertahanlah hingga anak itu lahir. Maka bebaskan dia dari ikatan pernikahan kalian." Pinta Lilis hingga terduduk di depan lutut Irsam yang duduk di sofa ruang tamu Lamiah tadi.
__ADS_1
Lamiah datang sudah dengan 2 gelas jus, dengan wajah masih semanis dan seceria tadi. Walau sempat melihat posisi Lilis bagai orang ingin sungkem di depan suaminya, namun hal itu tidak menghambarkan senyum tulusnya.
"Waah, serius sekali rupanya. Apakah ada hal penting yang kalian bahas?" tanya Lamiah ingin tau.
"Iya." jawab Irsam.
"Oh tidak... tidak ada Miah. Tadi aku hanya baru melihat ada kotoran sedikit di celana mas Irsam." Alasan Lilis tak ingin Lamiah curiga.
"Tidak... Lilis hanya bohong. Tadinya kami ke sini bertujuan untuk mengakhiri rumah tangga kita." Jawab Irsam yang ternyata tetap mengajukan niatnya untuk bercerai. Membuat mata Lilis dan Lamiah melotot ke arahnya.
"Mas... jangan sekarang." tegur Lilis pada Irsam.
"Aku siap menerima kata talak dari abang kapan saja. Setelah tau mengandung anakmu. Aku langsung tau, yang aku lakukan adalah menunggu anak ini lahir, kemudian akan melangsungkan hidup berdua saja tanpa abang. Dan ini semua sudah aku pikirkan dengan tenang. Aku sadar mbak, aku memang bukan madumu lagi. Aku hanya toksik penrusak rumah tangga." Lantang Lamiah yang siap di cerai. Tidak ada airmata dan rengekan takut kehilangan Irsam lagi dalam nada suaranya.
Luluh lantak hati Irsam mendengar ketegaran hati wanita keduanya tersebut. Bagaimanapun, dalam hatinya yang paling dalam tidak rela rumah tangganya dengan Lamiah berakhir. Hanya, kali ini ia harus tegas untuk menentukan ujung pernikahannya.
"Jangan pernah menyematkan kata toksik pada dirimu Miah. Mbak yang salah, mbak yang tidak adil. Mbak yang membuat semuanya kacau. Kita masih bisa hidup rukun berdampingan, bersama. Tolong lagi, dengarkan aku demi anak mas Irsam. Bertahanlah." Tangis Lilis pecah, ternyata tak sanggup pula menyaksikan pasangan yang ia persatukan harus berpisah di depan matanya.
"Baiklah... aku akan bertahan hingga anak ini lahir. Setelah masa nifasku selesai apapun keadaanku, tolong ceraikan aku dengan tata cara hukum maupun agama bang." Pinta Lamiah dengan lugas.
"Baiklah jika itu pintamu dan terbaik untuk kita. Abang setuju." Jawab Irsam tanpa menatap Lamiah. Ia takut imannya goyah untuk melangsungkan niatnya untuk memutuskan ikatan mereka berdua. Lilis hanya terpana melihat kekerasan hati sahabat juga suaminya. Dua orang itu adalah korbannya. Bagaimanapun memandang kasusnya ialah oknum dari semua kekacauan ini terjadi.
"Iya. Dan satu lagi, apakah saya boleh tetap tinggal di sini tanpa harus tinggal di rumah kalian? sebab aku merasa nyaman hidup sendiri di ruko ini." Lanjut Lamiah meminta persetujuan dari sepasang suamu istri tersebut.
"Silahkan. Ruko ini sudah menjadi hak milikmu. Dan akan menjadi milikmu saat nanti kamu tidak akan jadi istriku." jawab Irsam masih tak bergeming memandangnya.
__ADS_1
Bersambung...