
Kerinduan membuncah, memecah gundah tiada terbantah. Riak air, bagai ombak menggulung tepian bibir pantai, kadang datang berduyun keras, kadang pias menyapu pelan.
Seiring angin yang menerpa, sesuai gelora yang melanda di dasar laut.
Permukaan air tak pernah berdusta, betapa keras pergolakan yang terjadi.
Berkali-kali penyatuan sempurna terjadi tak terencana namun tak bersela. Keduanya di landa candu binasa, melepas geram seolah enggan untuk mengakhiri cumbuan.
Rindu itu bukan hanya milik Irsam, batin Lilis pun sesungguhnya tersiksa, pada malam malam sepi tanpa belaian, sentuhan dan cumbuan dari suaminya, akibat jarak yang ia ciptakan sendiri.
Maka pada hari itu, dimana mereka telah mendapatkan kesepakatan, untuk mengakhiri perang dingin yang sepertinya di menangkan oleh Lilis walau bersyarat. Semua hasrat tak dapat di bendung, menerobos portal, tercurah lebat bagai dirus hujan yang sulit mereda.
Enam purnama telah berlalu. Lilis tak dapat menyembunyikan binar bahagia di sorot matanya, saat terkadang matanya menangkap basah suaminya yang sedang asyik bercengkrama melalui sambungan telepon bersama Lamiah.
De Miah... itu kini panggilan suaminya pada Lamiah. Kadang Lilis tiba-tiba merebahkan diri berbantalkan paha suaminya, saat suaminya asyik melakukan pendekatan yang kini lebih terdengar seperti sebuah rayuan gombal pada Lamiah.
Tidak ada khawatir sedikit pun dalam hati Lilis, ia justru bangga bahwa hasil perjodohannya akan sukses. Sebab tak sekali, Irsam tampak tertawa lepas akan banyolan yang Lamiah utarakan lewat sambungan telepon itu.
Irsam membelai lembut anak rambut istrinya, terkadang mencuri kecupan pada kening Lilis. Di sela obrolan mesranya pada Lamiah.
Irsam tampak mulai menikmati perselingkuhan halal, atas rekomendasi istrinya tersebut.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Irsam, pelan pelan ia mulai membuka hatinya sedikit untuk kehadiran Lamiah. Ada bagian hati untuk Lamiah mulai mendapat tempat di sana.
Lilis tidak mempermasalahkan itu. Sebab yang ia rasa cinta suaminya tetap utuh dan bulat hanya untuknya.
Raja Ampat adalah tempat yang Irsam pilih untuknya dan Lilis memadu kasih. Meremajakan kembali hubungan rumah tangga mereka yang mungkin saja tidak lama lagi hancur di hadang badai tsunami.
Raja Ampat adalah salah satu destinasi terbaik untuk berbulan madu ada di sisi timur nusantara. Kendati letaknya cukup jauh, kepulauan ini menyimpan ekostisme di setiap jengkal lanskapnya.
Terutama bagi pasangan yang menggemari pantai, olahraga diving dan snorkeling, di Raja Ampat menyediakan paket bulan madu romantis yang sempurna. Gugusan terumbu karang dan pulau-pulau kecil di sekitarnya menjadikan Raja Ampat sebagai surga duniawi yang paling dicari.
Berada jauh dari keramaian, ditemani debur ombak dan angin yang bersilir-silir dengan lembut. Sejauh mata memandang pun, hanya keindahan alam yang akan memanjakan indra penglihatan.
Irsam merasa tepat memilih tempat ini, untuk sekedar melepas penat dari semua tagihan pekerjaan yang di bebankan padanya. Juga rongrongan istrinya untuk mengakhiri masa penjajkan dengan Lamiah.
__ADS_1
Hal tersebut di karenakan Lilis belum sadar sepenuhnya bahwa nanti, suatu saat akan ada potongan hati yang teluka.
Lilis tampak tegar, saat hanya tubuhnya yang Irsam sentuh, saat kini perhatiannya masih utuh hanya untuk Lilis seorang. Tetapi, Irsam tidak dapat lagi menjamin jika Lamiah benar-benar akan datang dan masuk dalam rumah tangga mereka, apakah senyum sumringah Lilis akan tetap terukir dari wajah manisnya, saat wujud Lamiah terjelma dalam rumah tangganya.
Irsam bersyukur mendengar kabar dari Lamiah, bahwa kontraknya sebagai TKW tidak bisa di akhiri secara sepihak dan sewaktu-waktu. Lamiah masih terlibat kontrak kurang lebih 1 tahun.
Itu artinya masih ada waktu setahun bagi Irsam untuk memiliki Lilis seutuhnya sebagai istrinya. Sembari berharap, andai saja Lilis berubah pikiran. Sebab, sampai detik ini Irsam belum sepenuhnya ikhlas membagi cintanya.
Padahal jika di pikir, lelaki mana yang menolak di beri kesempatan untuk berselingkuh oleh istrinya sendiri. Lelaki bagai kucing, mana mungkin mampu melewatkan ayam berseliweran di hadapannya bahkan telah teronggok pasrah di persembahkan untuknya, luput. Jika tidak segera di terkam dengan buas, oh celaka.
Waktu senantiasa berarak maju, tidak peduli pada apapun yang terjadi. Bergerak searah kekanan seiring berlalu, melewatkan segala musim membuat tak terasa telah berada pada tahun yang baru.
Lamiah kini tidak memiliki alasan bergundah gulana, sebab di sana. Di belahan bumi Indonesia, tepatnya Kota Bogor ada sepasang hati yang telah rindu menggebu menanti datangnya sang calon madu.
Lamiah yang awalnya meragu, akankah Lilis sahabatnya itu hanya ingin melecehkanya, saat menawarkan suaminya untuk menikahinya pula. Tak masuk akal.
Namun, dengan segala argumen dan alibi kuatnya. Lamiah berdoa dalam hatinya, berharap tidak akan ada hati yang tersakiti saat ia datang dan sungguh akan menjadi madu sahabatnya sendiri.
Telah banyak purnama yang ia lewati dari jarak jauh bersama suami sahabatnya. Tidak dapat Lamiah pungkiri, bahwa Irsam adalah sosok lelaki idaman, hangat dan sangat penyayang.
Lamiah kini dapat memastikan, bahwa iapun telah jatuh cinta pada Irsam, suami sahabat karibnya.
3 bulan lagi, masa kontrak Lamiah akan berakhir. Tidak ada perpanjangan kontrak, sebab hatinya pun kian menggebu, merindu bahkan bertalu-talu ingin segera bertemu.
Mengahkhiri masa lajangnya, mengakhiri kesendiriannya, menumpahkan segala perasaan yang menumpuk pada seorang Irsam.
Jika di awal perkenalan ada perasaan cemas, takut dan khawatir dalam hati Lamiah untuk memberanikan diri bermain cinta pada orang yang tidak seharusnya ia labuhkan cintanya.
Tetapi berbeda dengan yang Lamiah rasakan, sekurang Irsam meyakinkan dirinya bahwa ia menginginkan Lamiah menjdi istri keduanya, selebihnya Lilis yang dengan berapi-api meyakinnya untuk mengarungi rumah tangga bersama.
"Mbak... pikirkan kembali. Apakah mbak ikhlas berbagi cinta mas Irsam denganku?" tanya Lamiah suatu ketika, saat ia merasa mulai di mabuk cinta pada Irsam.
"Jangan itu terus yang kau tanyakan Miah. Aku bahkan sudah tak sabar melihat kalian bersanding di pelaminan. Merengkuh kebahagiaan yang telah seharusnya menjadi milik kalian." Jawab Lilis dengan tegas.
"Bagaimana jika aku mundur saja mbak, aku masih ragu, aku belum siap menjadi madumu." tanya Lamiah pias.
__ADS_1
"Jangan coba menggoyahkan keputusanku, aku... Miah. Aku yang menginginkanmu menjadi maduku, kamu adalah madu pilihanku. Aku yang dengan sadar mengundangmu bahkan mengijinkanmu berbahagia bersama suamiku. Jangan kau meragu, mari kita jalani bersama. Betapa indah Allah menciptakan rasa saling berbagi."
"Bismilahirohmanirohim mbak. Dengan ijin Alllah aku siap menjadi madumu." Lamiah hanya mampu mengedepankan sang pencipta, demi untuk menguatkan hati yang akhirnya memutuskan untuk menjadi madu sahabatnya sendiri.
"Mas Irsam, bagaimana kalau hubungan kita ini kita akhiri saja. Mas, tidak pernah secara langsung melihatku, mas tidak bisa dengan jelas melihat kantung mataku. Aku tak ubahnya bagai panda... yang memiliki kantung mata menghitam akibat selalu menangisi terjalnya kisah cintaku, aku menangisi nasibku yang nantinya akan menjadi yang kedua dalam hatimu mas." Entah ini sebuah ungkapan atau lebih pada rayuan berkedok minta di kasihani dari mulut seorang Lamiah yang ia sampaikan dengan nada manja.
"Apa maksud de Miah berkata seperti itu, hmm...? Apa De Miah mau mas besok terbang ke Hongkong untuk menghapus airmata yang menggenang di sudut mata bulat de Miah...?" Irsam justru mengeluarkan ide konyolnya bagai lupa telah memiliki Lilis yang hatinya juga harus ia jaga.
"Tidak pahlawanku... dede Miah tidak bermaksud begitu. De Miah hanya takut. Kedatangan dede nantinya kan memperburuk hubungan mas dengan Mbak Lilis. Bagaimana pun... aku akan di sebut pelakor mas." Desah Lamiah sengaja ia buat-buat.
"Dede sayang., bukan pelakor. Itu perebut, sedangkan dede tidak pernah merebut siapapun. Mas Irsam tidak pernah menganggap dede menjadi yang kedua. Kita hanya terlambat berjumpa. Belum bertemu saja, mas sudah merasa jika dede adalah belahan jiwa mas. Katakan pada mas dengan bibirmu, apakah dede menginginkan mas menemui De Miah besok." Rupanya Irsam sudah mulai terbuai kesetanan dengan rayuan dan perlakuan jarak jauh dari seorang Lamiah.
"Tidak perlu pahlawanku, mas tidak perlu datang menemuiku. Bersabar saja, sebentar lagi dede akan menjadi milik mas sepenuhnya. Tapi... boleh De Miah minta sesuatau mas Irsam sayang...?" pintanya manja.
"Katakan ... katakan dede sayang." ucap Irsam dengan menelan saliva tatkala memandang intes wajah cantik di balik layar pipih itu.
"Jangan pernah menghinaku sebagai yang kedua. Dede memang madu, tetapi bukan madu terlarang. De miah adalah madu yang di inginkan. Dede akan menyesal seumur hidup, bahkkan jika itu terjadi mas Irsm dan Mbak Lilis hanya melihat jasadku saja." Terus saja rayuan berupa ancaman, lolos keluar dari mulut seorang Lamiah sang calon madu.
"Mas janji... mas tidak akan pernah melakukan itu padamu sayangku. De Miah adalah madu pilihan istriku. Maka, ia pun tidak pernah dan tidak boleh menghinamu. Mas semakin tidak sabar untuk membuktikan betapa mas sangat siap menyambut kedatangamu dalam pelukan mas. Dede Miah, hanya milik mas seorang." Irsam sukses meyakinkan Lamiah dengan sejuta rayuan gombalnya.
Hubungan jarak jauh di era yang makin canggih ini, tentu lebih mudah di bandingkan saat ia berpacaran dengan Lilis pada masanya. Kini, Irsam di sela rapatnya, selalu melakukan video call untuk mengetahui segala gerak gerik calon istri keduanya itu lakukan.
Lamiah sepenuhnya sadar bahwa ia telah tercebur dalam kubangan asmara terlarang namun di inginkan ini, maka ia sekalian mandi saja. Tidak ada hal yang mengganjal dalam hatinya, saat ia telah memastikan sepasang hati sejoli itu kini benar telah sangat amat menginginkannya.
Entah sadar atau tidak kepulangan Lamiah nantinya mungkin saja merenggut masa-masa bahagia rumah tangga tak bernoda itu. Rumah tangga yang di umpamakan mereka seperti di surga. Akankan istilah itu bertahan saat Lamiah tiba?
Kini Lamiah telah berada di Bandar Udara Soekarno Hatta. Setelah menempuh pejalanan kurang lebih 4 jam 45 menit dari Hongkong menuju Jakarta.
Lilis tampak begitu antusias menjemput Lamiah di Bandara tersebut. Berbeda dengan Irsam, yang tampak acuh dan cuek saat pertama kali meliat wujud nyata seorang Lamiah yang sesunguhnya pun sangat di dambakannya untuk segera ia rengkuh ke dalam pelukannya.
Namun, Irsam dan Lamiah telah bersepakatan untuk menjaga hati Lilis, maka pada pertemuan pertama. Mereka hanya saling bersalaman dan saling menganguk, bagai sepasang orang asing yang saling kaku.
Irsam duduk di sebelah supir, sedangkan Lamiah dan Lilis duduk di bangku bagian tengah mobil mewah milik Irsam. Hampir tidak ada jeda celoteh Lilis saat kini Lamiah benar-benar pulang untuknya dan suaminya Irsam tercinta.
Bersambung...
__ADS_1