
Lamiah agak terkejut dengan tembakan pertanyaan suaminya yang sungguh tak terduga.
"Ah... mbak Lis hanya bercanda. Mana mungkin Miah minta belikan mobil. Menyetir pun aku tidak bisa." Lilis mati kutu, lupa jika sahabatnya itu belum bisa mengemudikan mobil.
Irsam memandang wajah Lilis intens mencari kebenaran di sana.
"Sayang... dengan Miah punya mobil, maka dia akan terpacu untuk bisa segera mengemudikannya. Masa hanya istri pertama mas saja yang di belikan mobil. Katanya mau berlaku adil." Pancing Lilia ingin memunjukkam sisi baiknya.
"Oh... harus sama seperti itu ya. Tapi ruko Miah bahkan nilainya sudah lebih dari mobil. Mas rasa Miah bisa terima jika tidak mas belikan mobil untuknya. Bagaimana de Miah, apa memang perlu abang belikan mobil?" tanya Irsam yang memang mengedepankan keterbukaan antara mereka.
"Tidak bang. Tentu tidak perlu. Miah sudah punya motor yang bisa Miah pakai untuk menjenguk salon. Atau bisa minta antar supir jika harinya tidak bersahabat." Jujur Miah.
"Oke.. deal ya. Berarti urusan mobil di abaikan." Tegas Irsam.
"Tapi... mas soal ruko. Apa mas merasa itu cukup adil untukku. Aku yang sudah sewindu bersama mas, tidak pernah mas belikan hal semacam itu." Rengek Lilis. Saat mereka masih di meja makan hampir merempungkan makan siangnya.
"Lho kenapa tidak minta sejak dulu. Mas kira... kamu hanya suka belanja dan tidak suka bekerja. Baiklah... kamu mau buka usaha apa dan di di mana?" tanya Irsame mentowel hidung Lilis.
"Lilis mau punya butiqe sendiri mas, menyalurkan hobby mendesain."
"Woow... bagus itu. Tapi bagaimana dengan Adilla? kalau sekarang dia masih terlalu kecil untuk di tinggal bekerja dalam waktu lama."
"Aku bisa membawanya juga pengasuhnya."
"Baiklah... tapi jangan sampai cape dan mempengaruhi pelayananmu pada suami." Kekeh Irsam seolah lupa jika yang melayaninya bukan hanya Lilis.
Lamiah menarik nafas kesal. Tentu saja dia tak suka melihat Irsam kembali manis dan mesra pada istri tuanya. Tapi... Lamiah sadar ia hanya yang kedua.
"Mba Lis..." panggil Lamiah.
__ADS_1
"Oh... eeh... iya. Miah ada apa?"
"Minggu ini abang sama mba ya."
"Lhoo... kan sudah minggu kemarin. Minggu ini mas denganmu Miah."
"Ini setelah masak tadi Miah halangan." Jawab Miah pelan.
"Hmm.. gimana sayang?" tanya Lilis pada Irsam.
"Ya asalkan mbak Lilis ijinkan... mas oke saja." Jawab Irsam bagai mendapat jackpot, itu barang ga pernah libur dapat jatahnya.
"Hm... sekalian. Apa Miah juga boleh ijin tidur di salon? Rindu bercengkrama dengan anak-anak di sana. Boleh?" tanya Lamiah sopan ke arah pasangan suami istri itu.
"Iya... boleh tapi hanya 3 hari ya. Dan abang yang antar dan jemput." Jawab Irsam tak bisa di bantah.
"Baiklah. Terima kasih mba Lis dan abang. Miah mau siap-siap dulu." Lamiah beranjak meninggalkan tempat makan mereka itu. Lalu naik ke kamar untuk bersiap akan pergi kw ruko yang sudah lebih satu bulan tidak ia tempati untuk tidur sendiri.
"De... Benar sedang halangan? Atau sengaja menghindari abang saja?" desaknya langsung mencium ceruk leher Lamiahh.
"Untuk apa menghindari suami seluar biasa ini. Miah yang rugi." Kekeh Miah manis.
"Tapi abang sungguh rindu padamu Miah, sejak kamu keluar rumah sakit hingga sekarang, abang bahkan belum sempat kamu layani."
"Kan pasca curette sama dengan masa nifas bang. Miah najis." Irsam tak percaya begitu saja tangannya sudah merayal ke selah pangkal paha Miah. Memastikan apakah benar ada kain penampungan darah kotor di dalam sana.
Dan benar saja, di bagian itu terasa lebih tebal dari biasanya. Dan merasa tak yakin. Karena ia pernah di bohongi Miah dengan alasan yang sama, maka Irsam melorotkan kain segitiga pengamaan yang di kenakan Lamiah. Ya... walaupun masih sepercik noda merah kehitaman seperti plek. Hal iti bisa membuatnya percaya.
"Baiklah... cepat sembuh ya. Berbahagialah di sana. Abang pasti merindukanmu."
__ADS_1
"Iya... terima kasih suamiku sayang. Baik-baik pada mbak Lis ya. Sayangi Adilla juga."
"Iya... tentu saja."
"Soal rencana membelikan ruko untuk membuatkan Butiqe untuk mbak Lis. Sebaiknya di segerakan saja. Miah takut, ia iri dengan salonnya Miah. Juga agar mbak Lis bisa lebih punya kegiatan positif yang menghasilkan." Ucap Lamiah,. membuat Irsam memandangnya tajam.
"Hanya ingatkan abang kalau abang lupa adil. Tapi jangan mengatur abang."
"Astafirullahalazim. Maafkan Miah bang. Maaf, ampun. Hanya saran saja." Lamiah langsung takut pada Irsam.
Irsam mendusel kepalanya Lamiah.
"Abang maafkan. Terima kasih sarannya. Ayo kita berangkat." Ajak Irsam lagi menggandeng tangan Lamiah untum turun.
"Mbak... Miah berangkat dulu ya. Baby Adilla... umi pergi. Uuummmmaaahh... umi pasti kangen wanginya Adilla." Gemes Lamiah pada bayi Adilla yang tentu selalu mengingatkannya akan anak pertamanya.
"Hati-hati Miah, jangan lupa pulang." Ujar Lilis memasang mimik serius pada raut wajahnya. Dan keduanya saling berpeluk cium sebelum benar-benar saling berpisah.
Ada sedikit rasa lega menyusup dj dada Irsam. Tatkala melihat dua wanita itu kembali menghangat dalam kebersamaan menjadi istrinya.
Benar saja... jika ia tidak memihak satu di antara keduanya tentu semua pertikaian sebelumnya tidak perlu ada. Tak ada guna sesal, yang ada hanya sungguh-sungguh menjalani perannya sebagai kepala keluarga.
"Ratuku benar ingin membuka usaha seperti Miah?" ujar Irsam saat keduanya sudah sama-sama terbaring di atas tempat tidur mereka.
"Bukan seperti Miah sayang. Tapi butiqe atau sebuah counter di sebuah mall untukku mencoba berjualan perhiasan. Sayangku tau kan selama ini seleraku sangat bagus dalam hal memilih. Jika selama ini, ratumu inj adalah pembeli pasif. Mengapa tidak mencoba menjadi penjual aktif?" Ujarnya dengan tangan yang tak berhenti menggerayangin tubuh suaminya, menggoda. Membangkitkan gairah bercintanya, memggunakan jurus andalannya. Sebab ia yakin, jika suaminya masih sangat mencintainya.
"Pikirkan lagi matang-matang usaha apa yang akan ratuku geluti. Mas tidak masalah selama ini dalam hal mengeluarkan uang untukmu, dari yang bermanfaat sampai tak berguna pun selalu mas penuhi asal kamu senang. Tapi itu dulu, saat kamu masih jadi istri mas satu-satunya. Sekarang, mas harus memikirkan masak-masak dalam hal menggelontorkan dana, sebab mungkin saja, nanti. Dia menagih permintaan yang sama pada mas bagaimana?"
"Lalu mengapa mas belikan dia ruko dan membeli semua perlengkapan salonnya?"
__ADS_1
"Karena mas sudah pantau usahanya. Makin hari, makin berkembang pesat. Tentu saja membutuhkan peralatan dan tempat yang lebih besar juga. Dan mengapa mas tidak mau membelikannya mobil? pertama dia belum bisa menggunakannya, lalu yang kedua mas berharap dia bisa mengelola keuangannya sehingga dia bisa membeli mobil sendiri dari keuntungan usahanya." Papar Irsam yang ternyata sudah tak berbusana oleh ulah Lilis.
Bersambung...