
Mobil yang di tumpangi Lamiah dan 4 karyawan lainnya sudah tiba di Pantai Pulai Bidadari, tepat saat matahari akan tenggelam. Tiba di sana, mereka hanya sempat meletakan ransel dan bekal lainnya, kemudian mereka berlima sudah menghambur berlari menuju bibir pantai. Menikmati cantiknya awan senja, matahari yang begitu sempurna berbalut warna yang kontras begitu memukau dan memanjakan tiap mata yang memandangnya.
Lamiah tentu tak bisa leluasa berlarian, berkejaran dengan ombak seperti Vinsa dan yang lainnya. Maka ia hanya berdiri mematung menghirup udara pantai yang sangat ingin ia nikmati. Sungguh selama ini ia telah egois pada dirinya sendiri yang hanya menghabiskan waktu dengan bekerja dan bekerja. Tidak kah ia menyadari bahwa otaknya butuh rekreasi agar tidak hanya kesedihan dan ketegangan yang bergelayut memasung jiwanya.
“Mengapa tidak mengabariku jika ingin bersantai di pantai ini? Aku akan selalu siap mengantarmu kemanapun kamu ingin pergi. Bagaimana keadaan bayimu selama di perjalanan ap[akah kalian sehat hari ini?” ada tangan kekar tanpa permisi meyentuh perut Lamiah yang tidak rata itu., membuat Lamiah terperanjat.
“Mattew….? Bagaimana kamu tau aku di sini?” Lamiah sudah tidak se kaku kemarin, di mana selalu menyebut dirinya sebagai saya.
“Sudah ku katakana aku akan datang lagi hari ini. Tapi belum aku turun dari mobil untuk menyapamu, kamu sudah terlihat masuk ke dalam mobil orang yang tidak aku kenal. Maka aku membuntuti kalian hingga ke mari.” Ungkap Mattew yangjustru menjalin tanganya dengan tangan Lamiah dan mengajak Lamiah untuk berjalan menyusuri tepian pantai itu.
“Mattew jangan begini, aku istri orang.”
“Iya aku tau, aku hanya berbuat baik padamu. Yang tidak boleh aku lakukan adalah melakukan kejahatan.” Mattew melepas pertautan tangan mereka dan justru melingkarkan tangannya ke pinggang Lamiah.
“Mattew aku butuh sendiri.” Lamiah berbicara sambil berusaha melepas tangan Mattew yang sudah berani bertengger di pinggangnya.
“Jika kamu butuh sendiri kenapa kamu mengajak 4 temanmu itu?” Lamiah terdiam, ia benar tidak mengerti apa maksud lelaki ini datang dan so akrab dengannya.
“Mattew…. Katakana padaku apa yang kamu inginkan dariku?”
“Aku ingin mengenalmu lebih dekat, aku ingin menjagamu setidaknya sampai kamu melahirkan.”
“Aku sudah punya suami Mattew…”
“Punya suami? Aku bahkan penasaran pria seperti apa suamimu itu. Kemarin ku bertemu kamu, menyendiri di taman. Bahkan saat kamu di rumah sakit hingga kita di rumahmu pun dia tidak ada. Aku tau saat kita makan kamu sudah berusaha menghubunginya, tapi tidak di tanggapi kan? Hari ini kamu justru memilih pergi ke pantai sejauh ini, pun lagi tanpanya. Pikirkan lagi, apa benar suamimu itu menginginkanmu. Kamu juga belum menjelaskan tentang bertahan dalam berbagi cinta. Haruskah aku simpulkan sendiri jika kesendirianmu ini adalah salah satu caramu untuk mengalihkan pikiran bahwa suamimu itu sekarang sedang berselingkuh, iyakan?”
__ADS_1
“Tidak perlu menganalisa sesuatu yang kamu sendiri tak tau kebenarannya.”
“Mia… aku hanya menebak. Dan yang pasti aku ingin menjadi temanmu. Aku ingin sembuhkan traumaku, aku ingin menebus kesalahanku saat aku gagal menjaga istriku yang sedang hamil. Dan aku ingin memberikan perhatianku padamu, anggap saja sebagai penebusan dosaku di masa lalu.”
“Kenapa harus aku… kita bukan siapa-siapa”
“Karena kamu adalah wanita yang sedang hamil. Bahkan ku lihat kamu sangat berbeban berat. Aku menemukan sosok yang sangat aku ingin lindungi dari dirimu.”
“Tapi … aku dan kamu bahkan bari kenal kemarin. Aku tak kenal kamu.”
“Bagaimana kamu kenal denganku sebab yang ada di kepalamu hanya curiga jika aku adalah orang jahat. Yang ada di kepalamu ada tentang mengagungkan bahwa kamu adlah istri orang yang bahkan orang yang kamu sebutsuami itu tak pernah ku tau wujudnya. Kamu tidak sedang berhalusinasikan punya suami?”
“Mattew…!!!”
“Baiklah… tapi bisakah aku meminta sesuatu padamu?”
“Apa itu?”
“Tolong jangan melakukan kontak fisik yang berlebihan. Bagaimanapun kamu bukan mohramku. Aku berjalan dan berbicara dengan lelaki lain tanpa seijin suamiku pun sesungguhnya dalam ajaran agamu sudah dosa.”
“Dan kamu pasti juga tau bahwa membuat orang lain bahagia adalah pahala. Maka dosamu akan inpas dengan kamu membahagiankanku saat kau ijinkan aku menjadi temanmu.” Lamiah kehabisan kata-kata untuk menolak pria kelaianan jiwa ini yang begitu keukeh ini.
”Baiklah… hanya teman. Dan ingat jangan ada kontak fisik berlebihan.”
“Aku janji hanya akan menggenggam tanganmu dan sesekali menyentuh perutmu saja.” Lamiah melotot ke arah Mattew tanda tidak setuju.
__ADS_1
“Apa perlu mengaku sebagai sepupumu pada teman-temanmu?” Tanya Mattew saat melihat empat orang perempuan berlari ke arah mereka berdua. Mungkin telah merasa lelah berkejaran dengan ombak dan baru teringat pada bos mereka yang sesungguhnya mengajak mereka ke pantai ini untuk juga ingin bersenang-senang.
“Jangan timpal dosa kita dengan kebohongan yang akan hanya menambah dosa lebih panjang lagi.” Jawab Lamiah yang dengan jelas menyatakan tak ingin mengaku bahwa Mattew adalah saudaranya.
“Ibu… bapak menelpon sejak tadi. Tapi ponsel ibu tidak aktif.” Teriak Wati yang malah menyadarkan Lamiah sejak tadi memang tak memperhatikan ponselnya.
“Oh ya… kalian jawab apa?”
“Kami bilang saja kami sedang liburan bersama ibu.” Lamiah segera merogoh mulut tasnya kemudian menggenggam gawainya. Tepat saat Irsam melakukan panggilan viceo call.
“De Miah… kemana saja. Abang hampir gila menghubungimu sejak kemarin malam sayang.” Suara Irsam begitu cemas di seberang sana.
“Assalamualaikum abang.”
“Oh… iya Walaikumsallam.” Malunya Irsam cemas hingga lupa memberi salam sebelumnya pada istri keduanya ini.
“Maafkan Miah, bang. Lupa ijin. Ini kami dengan anak-anak sedang liburan ke pantai. Miah bosan di rumah terus.” Ungkap Lamiah yang sduah di tinggal pergi lagi oleh 4 karyawannya, tersisa Mattew yang masih setia berdiri di sampingnyan dan tampak tak ingin pindah atau sekedar menjauh saja dari sisi Lamiah.
“Iya..abang maafkan. Tapi paling tidak chat lah abang untuk ijin, walau cuma kepasar, apalagi ke pantai seperti ini. Bukankah Miah tidak mau menjadi istri durhaka.” Hah.. istri durhaka. Suami yang selalu condong dengan satu isrtri masuk kategori apa?
“Miaah. Kamu lagi di pantai… aku liat dong suasananya, balikan kameranya Miah.” Suara Lilis sangat jelas terdengar, ah. Tentu saja mereka selalu bersama bagai Romie dan Juli. Lamiah mana pernah punya privasi lagi dalam urusan bervideocall ria dengan suamimnya, tentu selalu ada Lilis yang merecoki obrolan mereka. Namun, Lamiah selalu patuh dan tunduk pada permintan sahabatnya itu. Lalu membalik arah kamera, ,engarahkan pasa view – view indah, cantik dan menarik yang terbentang seluas mata memandang itu.
“Mas… tempatnya cantik sekali, mestinya kamu tunggu kami pulang Miah baru kita bisa sama-sama ke pantai. Kamu curang maduku .” Deg… bukan hanya Lamiah yang tersentak tapi Mattew tentu lebih heran mendengar kaliamat yang wanita itu ucapkan.
Bersambung...
__ADS_1