
Mama Irsam di layani selayaknya pelanggan normal. Sebab memang tidak ada yang tau jika itu adalah ibu mertua owner mereka.
"Apa owner kalian belum punya anak?" tanya mama Irsam memancing.
"Belum. Hanya pernah sempat keguguran. Katanya kecapean dan termasuk lemah kandunga. Makanha sekarang kami berusaha menangani pelanggan yang biasa di pegang ibu. Agar beliau tidak cape. Semoga di ijinkan kembali memiliki keturunan." Kisah Vinsa pada mama Irsam.
"Dia baik ya orangnya?"
"Baik... ya. Kalo ga baik mungkin kami tidak betah kerja di sini bu." Jawab Vinsa.
Mama Irsam manggut-manggut. Dan selesai di layani di tempat itu. Namun, saat ia akan pulang Lamiah keluar ingin memantau pekerjaan di sebelah.
"Mama..." Ucap Lamiah menyalimi tangan mertuanya walau terkesan memaksa.
"Iya... tadi mama minta di crembath." Ujarnya tanpa Lamiah bertanya.
"Mampir dulu ma. Lamiah ada memasak pepes ikan. Lamiah kira abang makan siang di sini. Tapi mendadak ada meeting. Akan lebih seru makan bersama ma." Ramah Lamiah mengajak ibu mertuanya.
Dan mama Irsam tak punya alasan untuk menolak.
Awalnya mama Irsam memang memasang tampang jutek pada Lamiah, tapi setelah menikmati masakan Lamiah yang tak kalah enak dengan yang di buat Lilis. Penataan meja pun sangat rapi. Susunan perabotan dan interior ruang tamu dan ruang makannya lun tertata dengan apik.
"Boleh mama liat kamar kalian?" tanya mama Irsam pelan.
Lamiah pun menarik tangan mama mertuanya ke atas. Menggiringnya ke kamar mereka. Terdapat foto pernikahan mereka saat ijab qobul, memegang buku nikah juga berapa fose layaknya foto pernikahan pada umumnya.
"Kamu mencintai Irsam?"
__ADS_1
"Iya."
"Walau kamu tau dia tidak bisa di miliki sendiri?"
"Iya. Untuk itulah saya memilih keluar rumah itu. Agar bisa lebih leluasa mencintainya."
"Tapi dengan dia berada di sana, kamu tidak bisa memantau bagaimana mesranya mereka."
"Bang Irsam justru sempat tak mau pulang sama sekali saat mba Lis belum masuk rumah sakit dan melahirkan darurat."
"Kenapa?"
"Bang Irsam tidak bisa adil pada kami, ingin berat pada saya, sedangkan waktu itu mba Lis hamil. Jadi saya memutuskan untuk pergi saja dari rumah, tanpa meninggalkan jejak. Tapi, ternyata 2 bulan saja saya bisa bersembunyi di sini. Lalu abang menemukanku di sini."
"Kamu bahagia tinggal di sini?"
"Bagaimana jika Irsam menceraikanmu, apakah benar kamu rela menjadi janda?"
"Mama... jangankan menjadi janda. Di minta menjadi madu sahabat sendiri saja saya bersedia. Saya sudah berdamai dengan takdir saya. Awalnya menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai TKW, lalu harus menjadi yatim piatu. Saat itu saya hanya punya mba Lis yang sangat baik hati. Sampai idenya muncul untuk berbagi suami, karena hingga usia 32 tahun. Jodoh saya belum ketemu. Awalnya saya menolak, sebab walau mba Lis sendiri yang memintaku menjadi istri suaminya. Sampai kapanpum orang akan menyebutku pelakor. Padahal demi Tuhan, saya tidak pernah ada niat ingin merebutnya. Mungkin saat itu, saya mengalami depresi, saat di rumah itu saya hanya berada di kamar, memandang dari jauh suami berangkat kerja yang di antar oleh istri pertama. Sedapat mungkin saya harus terima. Sebab saya memang hanya orang ketiga dalam rumah tangga kami." Lamiah menceritakan keluhamnya selama ini pada mama Irsam.
"Saat berada di rumah, apakah kaliam selalu beraktifitas bersama, seperti makan atau saling berbincang?"
"Jarang. Saya keluar kamar hanya untuk memasak,. mencuci membersihan rumah. Jika mereka masih di kamar. Dan saya segera masuk kamar, jika mereka akan keluar."
"Bagaimana dengan pembagian hari? Apakah kalian punya semacam kesepakatan?"
"Ketika belum menikah, mbak Lis sudah menetalkannya. Tapi, kami tidak bisa menaatinya."
__ADS_1
"Kenapa? Irsam lebih banyak bersamamu?"
"Tidak... bahkan di malam pertama kamipun. Abang, Miah minta untuk kembali tidur bersama mba Lis. Mungkin dia belum sadar dengan keputusannya menjadikanku madu."
"Jadi... Lilis yang buat perjanjian itu, tapi dia juga yang mengingkarinya?"
"Tidak juga begitu, tapi... Kami juga salah ma. Kami sering berhubungan intim secara sembunyi-sembunyi. Saat mba Lis pergi atau sedang tidak di rumah. Kami salah."
"Huh... semua saja kalian salah. Paling banyak ya Irsam. Jadi suami kok mau-maunya di atur istri. Sekarang mama tanya lagi. Jika Irsam menceraikanmu, apakah kamu bersedia bercerai?"
"Berkali-kali saya minta itu pada abang. Tapi jawabnya selalu akan menceraikan mba Lis juga. Itu yang membuatku tidak lagi minta di cerai."
'Berarti Irsam pun sudah sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu."
"Karena itu saya lebih memilih di sini saja ma. Jika abang ke sini berarti dia suamiku, jika tidak di sini berarti suami mba Lis. Saya akan lebih bisa terima perceraian jika yang memintaku bercerai adalah mba Lis. Sebab dia yang dulu memintaku, maka dia yang paling berhak untuk memutuskanku. Anggap saja saya adalah bonekanya." ujaran Lamiah membuat hati mama mertuanya itu terenyuh. Sungguh seolah dia hanya sebagai mainan Lilis. Serta merta keinginannya untuk melabrak menantu keduanya ini, luluh sudah. Entah yang dia dengar adalah semua benar atau tidak, yang pasti ia tidak menangkap bahwa ia membenci Lilie maupun Irsam. Bahkan ia juga bersedia mundur. Yang artinya dia memang tidak ingin mendominasi Irsam.
"Maafkan mereka ya. Nanti mama yang akan bicara dengan Lilis dan Irsam. Kamu sebenarnya memiliki hati yang baik. Jodohmu harusnya lebih baik dari pada Irsam anak mama itu. Jangan menutup diri untuk pria lain. Tak selamanya Irsam condong ke arahmu. Jika kamu punya pilihan pria lain, mama yakin Irsam akan bersedia menceraikanmu tanpa harus menceraikan Lilis juga. Percayalah, rejeki, jodob dan maut Allah yang mengaturnya. Beristiqorohlah. Mohon petunjuk pada Allah untuk masalah pernikahan mu ini. Kapan perlu berpuasa, agar benar kamu telah di jalan yang di tetapkan Allah untukmu. Jika Irsam jodohmu maka minta Allah mengubahkan hatinya agar bisa adil pada kalian. Tapi, jika Irsam bukan milikmu, mintalah pasangan tulang rusuk yang tidak berbagi dengan orang lain." Mama Irsam dengan gamblang namun manis memberi saran untuk menantunya.
"Masyaallah. Terima kasih saran mama. Boleh Miah peluk mama?" Lamiah minta ijin untuk memeluk mama mertuanya. Tentu saja dengan dua tangan mam Irsam mengulurkan tangannya untuk memeluk Lamiah.
"Demi Allah... tidak ada satu hati wanita manapum yang bermimpi menjadi wanita kedua dalam rumah tangga, bahkan sahabatnya sendiri. Tetapi, penikahan sudah terjadi. Belajar menjalani dengan lapang dada dan bertahan dalam koridor yang sudaj menjadi bagianku saja mungkin adalah pilihan yang tepat sekarang."
"Tak salah jika Irsam mencintaimu tapi kalian memang lambat berjumpa. Saat ia sudah termiliki. Karena itu besar harapan mama, agar kamu mendapat jodoh selain dia." Pelukan itu terlerai dengan airmata yang sama-sama luruh dari sudut mata kedua wanita itu. Kemudian mama Irsam pamit. Tujuan selanjutnya adalah bertemu Lilis. Ya... ia belum mendapat pandangan langsung dari menantu pertamanya tersebut.
Bersambung...
__ADS_1