
Irsam masih berada di atas tempat tidurnya dan Lilis. Sendiri. Sedikit menertawakan betapa mudahnya memperdaya istri pertamanya. Hanya dengan berlagak rindu dan beralasan dengan manja, pagi ini ia tak perlu mengangkat tangannya bahkan untuk menyuapi makannya sendiri. Irsam telah goyah, tak ada lagi cinta tulus untuk Lilis, bahkan ia telah berani berbohong dengan wanita yang dulu sangat ia puja itu.
Sejak pertanyaan yang Lilis lontarkan namun tak mendapat jawaban, Lilis paham. Ia mengerti bahwa mood suaminya sedang tidak baik-baik saja. Sehingga iapun memilih beringsut keluar kamar untuk menyiapkan sarapan sesuai permintaan suaminya.
Lamiah tampak sudah duduk rapi di meja makan, ingin menyantap sarapan namun belum dapat aba-aba. Apakah boleh makan duluan atau tidak. Untuk itu ia memilih untuk menunggu, walau dengan suasana hati yang sedikit kelabu, cemburu sebab suaminya telah kembali ke kamar istri tua bahkan belum keluar sampai penunjuk waktu mengarah ke pukul 9 pagi.
"Dede cantik, abang makan di kamar saja. Supaya dede ga liat dia mesra-mesraan sama abang. Dede makan yang banyak ya... Biar bisa main sama naga lagi seperti semalam. Love you so much baby❤️" Isi chat Irsam saat Lilis beranjak meninggalkannya sendiri di kamar.
"Baiklah pahlawanku. Makan yang banyak, pagi ini dede yang masak nasi gorengnya. Walau dede ga liat lahapnya abang makan. Tapi dede yakin, masakan dede bikin nagih. Love you more, pujaanku😘" Balasan Lamiah dengan cepat bahkan beraroma mesra yang sangat kental.
Ah... Membaca isi chat itu saja membuat Irsam kembali pada permainan mereka semalam, yang terlalu berlebihan untuk ukuran pengantin baru.
"Pagi Miah. Hai... Apa kamu menunggu kami untuk sarapan bersamamu?" Sapa Lilis ramah pada Lamiah begitu tiba di dapur.
"I...iya mbak. Pagi. Aku memang menunggu kalian." Jawab Lamiah terbata.
"Entah lah Miah... Sepertinya aku masih perlu waktu untuk meyakinkan mas Irsam, untuk bisa lebih adil memperlakukan kita. Maaf, apakah kamu tau pukul berapa dia tiba-tiba menyelinap masuk ke kamar kami lagi. Aku menjadi ragu, apakah ia sempat mencicipi tubuhmu." Celoteh Lilis vulgar.
"Oh... Aku benar tidak tau pukul berapa mas Irsam keluar kamar. Setelah menunaikan tugasnya, aku bahkan tidur bagai orang mati" Bohong Lamiah seolah tak tau.
"Ha...ha...ha. Bagaimana rasanya? Nikmat bukan?" tanyanya konyol
"Sakit mbak... Aku tidak dapat menikmati apapun." Cih, Lamiah setali tiga uang dengan Irsam.
__ADS_1
"Yess, it's because you're still a virgin Miah. Nanti tidak akan sesakit itu." Lontar Lilis prontal.
Lamiah hanya menelan salivanya, menyadari bahwa permainan yang hampir tak berjeda semalam adalah malam ternikmat yang pernah ia rasakan, saat naf su dan cinta berbaur dengan ikhlasnya, membuat semuanya sangat sempurna.
"Kamu makan saja sendiri. Mas Irsam minta di layani makan di kamar saja. Maaf sebenarnya sesuai jadwal ini bagian mu, tapi... Pelan-pelan aku akan bujuk mas Irsam agar nanti malam akan tidur bersamamu lagi."
"Tidak mbak... Jangan di paksa. Biarkan saja begitu. Mbak tidak perlu memintanya apalagi memaksa. Sungguh, aku masih terbiasa sendiri, sehingha aku benar baik-baik saja."
Lilis menarik nafas dalam lalu membuangnga. Memegang tangan Lamiah.
"Maaf jika cinta mas Irsam belum sepenuhnya untukmu. Mohon bersabar Miah, mungkin mas Irsam belum terbiasa saja."
"Tidak perlu meminta maaf mbak. Semua butuh proses, apalah aku. Wanita kedua yang baru enam hari bertemu, tentu tak sebanding dengan cinta kalian yang telah terjalin lebih dari 6 tahun. Terima kasih sudah menerima aku di sini dengan baik." Sendu cendrung lirih seolah tersakiti Lamiah melontarkan verbalnya.
"Hatimu memang seputih kapas Miah, tak salah aku memilih mu untuk menjadi maduku. Jangan sungkan, perlakukan mas Irsam sebagai suamimu seutuhnya." Ujar Lilis yang kemudian pergi meninggalkan Lamiah dan membawakan sarapan untuk suami kesayangannya.
"Ampun de Miah... Bahkan hanya dengan membaca chat mu ini saja sudah kembali membangunkan sesuatu yang sedari tadi tidur nyenyak. I miss yu bidadariku." Balas Irsam yang tentu mampu membuat Lamiah melayang ke khayangan. Fix Irsam sedang kasmaran.
Lamiah jelas telah terperangkap dalam pesona suami sahabatnya yang kini pun trelah menjadi suami sahnya. Malam pertamanya pun telah terlalui dengan sempurna, membara dan penuh gelora. Lamiah bahkan tidak terpikir untuk curiga apakah Irsam hanya berdusta katakan cinta padanya.
Tetapi, apapun itu. Lamiah sudah menyatakan jika ia telah jatuh cinta. Ia akan mempertahankan rasa cinta itu agar selalu terjaga di tempatnya.
Baiklah jika kini ia memang istri kedua, tapi bukan berarti ia tak memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta bulat dari suaminya.
__ADS_1
Cinta mesti berkorban, maka Lamiah pun rela terlihat mengalah, jika seolah waktu untuknya lebih sedikit sebab Irsam masih tampak berat pada istri pertamanya.
Hah... Bukankan cinta tidak hanya bicara tentang kebersamaan di atas ranjang. Bahkan Lamiah ingin menunjukan cintanya melalui perhatian-perhatian kecil.
Waktu terus berlalu, dan benar saja pembagian waktu keadilan sebelum manikah lalu hanya isapan jempol semata.
Toh ternyata, Lilis tetap mendominasi waktu bersama dengan Irsam. Lamiah memilih cuek dan berusaha tampak sabar dan tegar saja menjalani statusnya, yang lebih mirip sebagai pelayan di rumah itu. Bahkan tugas Onah sebagai juru masak pun tersingkir. Sebab Lamiah yang menginginkan akan mulai menarik perhatian suaminya lewat masakannya. Sebab baginya itulah caranya menunjukkan cintanya pada Irsam.
Dan celakanya, Lilis tak menyadari itu. Ia bahkan mengira, Irsam belum tertarik dengan Lamiah, sebab secara kasat mata keduanya masih terkesan dingin dan jarang berkomunikasi. Selain di dapur Lamiah lebih sering menghabiskan waktunya mengirung diri di kamar saja.
"Mas..., Ini sudah lima hari setelah mas menikah tapi tidak tidur dengan Miah. Kapan cinta mas bisa tumbuh padanya kalau mas selalu lebih memilih waktu banyak bersamaku."
"Ratuku... Bagaimana aku mencumbuya dengan benar. Jika ia di bawahku tapi wajahmu yang di benakku?" Lilis tersipu, senang hingga aliran darahnya ser-seran mendapat kata itu dari suaminya.
"Aaah... Suamiku. Sebegitu besar cintamu padaku."
"Makanya... Jangan pernah paksa aku membaginya. Kau sungguh menyiksaku dan menderita karena permintaanmu. Mas butuh waktu sayang, pliis."
"Huum baiklah. Tapi setidaknya adillah sesuai pembagian malam yang telah ku buat."
"Jujur sayang... Mengapa di malam pertama mas dengan Miah. Mas mendapati mu tertidur di atas sajadah. Tolong jangan menipu diri sendiri, bahwa sesungguhnya hati kecilmu tidak ikhlas." Irsam agak serius.
"Ya... Akhirnya malam itu aku menyadari jika kini suamiku di miliki pula oleh orang lain. Bayangan manis dan dahsyatnya sentuhanmu, bagai hantu menyergap isi kepalaku. Aku cemburu. Maka memilih berdoa, memohon kekuatan agar benar ikhlas berbagi cinta, percaya ada tempat terindah untukku saat nanti aku berpulang."
__ADS_1
"Surga menunggumu ratuku." Peluk Irsam membelai rambut panjang Lilis.
Bersambung....