LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 27 : GAMANG


__ADS_3

Lamiah sudah selesai di eksekusi. Ia tampak terbaring lemah efek obat bius yang membuatnya hanya ingin tidur.


Sementara Irsam sudah memilih pulang setelah curette tadi selesai dan melihat Lamiah tidur. Ia menitipkan Lamiah pada perawat saja. Sebab ponselnya tak berhenti berdering mendapat panggilan dari Lilis.


"Mas... lama sekali sih." Hardik Lilis saat Irsam baru masuk ke kamar mereka.


"Miah ternyata hamil, tapi kandungannya lemah. Janin tidak berkembang jadi dia baru saja menjalani currete." Jelas Irsam yang dark wajahnya tampak lelah, ia pun merasakan kehilangan. Bagaimanapun, ia pun pernah menginginkan memiliki keturunan dari istri kedua yang juga di sayanginya.


"Hah... turut berduka untuk Miah. Mas... malam ini kita tidur di rumah sakit ya. Aku tau... mas pasti ingin menungguinya, tapi aku juga tidak mau mas tinggalkan." Rengek Lilis.


"Tapi itu rumah sakit sayang. Suasananya tak baik untukmu yang sedang hamil."


"Kita bisa menempati ruangan yang paling besar dan bagus mas. Kasihan Miah sendirian di sana." Rengek Lilis terus-terusan. Dan membuat Irsam mengalah.


Irsam sudah menghubungi perawat, untuk memindahkan Lamiah ke ruangan VVIP. Yang terdapat kasur besar untuk penunggu pasien. Ruangan besar dan nyaman tentunya.


"Miah... mbak turut bersedih. Maaf, jika mbak tau kamu juga hamil, mana mungkin mbak minta kamu sibuk mencarikan makanan untuk mbak." Ceplos Lilis saat tiba di rumah sakit.


"Maksudnya... bagaimana?" tanya Irsam sedikit terganggu dengan dialog Lilis.


"Oh ... tidak bang. Itu, beberapa hari lalu mbak Lis minta belikan cireng saja."


"Lalu kamu cari kemana? Jauh?" cecar Irsam dengan nada tegas.


"Tidak. Bukan aku yang mencarinya. Tapi Onah. De Miah hanya menunggu Onah di rumah." Bohong Lamiah yang takut suaminya akan marah pada mereka berdua.


"Hmm.." Jawab Irsam singkat.


Kemudian Lamiah pun berangsur memejamkan matanya, karena kantuk yang mulai mendera, juga menghindar pandangaan yang tentu tidak ingin ia lihat.

__ADS_1


Lilis tampak sengaja meminta tidur di rumah sakit, dengan alasan tak bisa memejamkan matanya jika Irsam tak berada di sampingnya. Memeluknya, menepuk punggung atau mengelus tulang belakangnya, sebelum ia tidur.


Irsam bagai buah simalakamal. Ingin memberi perhatian pada Lamiah yang baru kehilangan anak mereka, pun juga harus menjaga Lilis yang kini juga sedang mengandung buah hatinya.


Irsam ingin memeluk Lamiah, untuk mengungkapkan perasaannya


Bahwa ia ada dalam duka Lamiah, ia pun sedih saat tau calon anak mereka pergi. Irsam ingin meminjamkan bahu atau dadanya untuk Lamiah menumpahkan tangis pilunya.


Tapi bagaimana ia pinjamkan itu, sedangkan tangannya sudah permanen Lilis jadikan bantal untuknya tidur malam ini. Dan perutnya terpasung melingkar oleh tangam posesif Lilis terhadapnya.


"Oh Tuhan, berdosanya aku yang tak bisa adil kepada dua istriku. Aku tak memihak di antara mereka, namun kondisi memaksaku seolah jahat pada salah satunya. Namun, aku tak kuat jika terjadi sesuatu pada Lilis atau calon buah hati kami. Panjangkan sabar istri Lamiahnya Tuhan. Berikan dia ketabahan yang hanya darimu, agar selalu tegar menjalankan takdirnya. Amin." Doa Irsam untuk Lamiah saat tubuhnya memeluk Lilis.


Sedangkan Lamiah tak benar-benar terlelap. Akal sehatnya tak berhenti meruntuki nasibnya. Baginya cukuplah pahit kehilangam calon buah hati, janganlah pula ia harus di perhadapkan dengan kemesraan suaminya dengan sahabatnya. Bolehkah ia meminta, agar waktu dapat di ulang kembali. Untuk tidak menerima tawaran konyol sahabatnya yang berkali-kali telah ia tolak.


Masih pantaskan hubungan mereka di sebut sahabat? sedangkan hati mereka telah di penuhi rasa cemburu dan curiga satu sama lain.


Menyesal memang selalu datang setelahnya, Lamiah pernah membayangkan sejauh ini. Namun, ia buang lagi segala pikiran buruknya. Sebab ia percaya pada Lilis. Bahwa ia benar madu yang di inginkan.


Lamiah mengakui ia salah, beberapa waktu lalu. Sempat bermain sembunyian demi menjaga hati seorang Lilis. Tapi, apa balasannya?


Kini Lilis bahkan bermesraan di depan matanya bahkan di saat dia berduka.


Apakah Lamiah yang jahat di sini?


Mengapa ia merasa sebagai korban di sini. Tetapi tidak mungkin ia menyalahkan orang lain, toh ia sendiri yang main terima saja permintaan yang nyata tidak masuk akal itu.


Lamiah merasa pipinya yang basah iti di usap jari yang sangat ia kenal pemiliknya.


"Maafkan abang yang tidak bisa melawannya, saat dia meminta ikut untuk menghiburmu." Bisik Irsam telinga Lamiah dengan lembut.

__ADS_1


"Aku tidak sedang menangisi kalian. Aku hanya menyesali kebodohanku sendiri mengapa tak sadar bahwa kemarin aku berbadan dua. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga calon buah hati kita bang." Ucapnya lirih.


"Stt... semakin dede bersedih memikirnya, maka kebahagiaan selanjutnya akan terhalang untuk datang."


"Maafkan dede, bang."


"Dede tidak salah, abang juga salah. Tak memperhatikan dede dengan intens. Maafkan abang ya."


"Abang... apa sebaiknya kita akhiri saja pernikahan kita? Aku makin merasa memiliki sisi positif dalam rumah tangga abang. Aku tak bisa membantu membangun surga di sini. Aku hanya sumber malapetaka di rumah tangga abang."


"Sudah abang katakan. Jangan bermain-main dengan kata itu. Kita sudah melangkah. Jangan perna berpikir untuk mundur. Bantu abang menciptakan surga itu, tidak hanya bersamanya. Tapi kita yang akan berjuang bersama."


"Sudah ku katakan dari awal. Sejak awal aku hanya yang kedua dan selamanya akan selalu di nomor duakan. Mestinya aku cukup di hukum Tuhan dengan kehilangan anak, taoi jangan di tambah dengan hukuman manusia juga. Bo dohnya aku bang. Jika kini telah mencintaimu, sehingga aku tak bisa bohong, hatiku perih melihat kalian."


"Maaf sayang... maafkan abang. Besok abang pastikan dede tidak akan melihat dia di sini. Abang akan bawa dia pulang. Maafkan abang ya."


"Dede hanya bilang, sebab abang pasti tak bisa mengira yang dede rasakan. Dede hanya berusaha jujur, sebab abang suami dede. Tapi, bukan berarti abang harus musnahkan dia. Jalankan saja semuanya sesuai keinginannya. Toh kita menikahpun atas perintahnya. Apalah kita, hanya boneka baginya." Lamiah berbalik, memberikan punggungnya pada Irsam.


"Maafkan abang sayang... maaf." Ucap Irsam sambil mencium punggung itu penuh sesal.


Sungguh Irsam gamang. Kecewa dengan dirinya sendiri, mengapa selalu lemah pada Lilis dan tak tega pada Lamiah. Sesungguhnya, siapa yang telah ia cinta?


Apakah kini cintanya telah terbagi?


Cintakah nama perasaannya pada Lilis atau hanya takut pada orang yang pernah ia cinta?


Cintakah ia pada Lamiah, orang baru yang bahkan ia sendiri tak tau pasti mengapa selalu menuntutnya untuk mengerti dia?


Irsam telah berhasil di letakan Lilis pada jurang curam. Di mana ia tak punya pilihan selain kembali menerima dan menjalani terjalnya kehidupan, atau melompat saja untuk mengakhiri perjalanan cinta yang sama sekali tak dapat ia pilih.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2