LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 26 : KEHILANGAN


__ADS_3

Lamiah duduk dari posisi rebahan pasrahnya. Bergeser manggapai tisue yang ada di nakas sisi kepala tempat tidurnya. Kemudian mengusapnya pada telunjuk Irsam agar bersih.


"De Miah masih haid?" ulang Irsam pada pertanyaan sebelumnya.


"Minggu lalu mestinya sudah bersih. Dan aneh, tidak banyak juga tidak lama.


"Lalu ini?"


"Dede juga tidak tau bang? Hanya ngerasa sedikit basah, tapi ga tau jika itu darah."


"Apa kita ke dokter saja?"


"Ah... tidak usah. Abang absen dulu deh. Ternyata dede tidak lagi suci."


"Huum... Yang satu hamil muda, yang satunya sedang halangan. Abang kira punya dua, bakalan bisa gantian gitu, ha... ha.." Irsam tertawa garing.


"Maaf ya bang..." ungkap Lamiah sendu.


"Dede ga salah... abang cuma bercanda. Abang kesebelah dulu ya. Mungkin dia sudah bangun dari tidurnya." pamit Irsam yang akhirnya tak jadi bercinta dengan Lamiah.


"Iya bang." Ujar Lamiah menggigit bibirnya, dan terlihat sedikit meringis.


"Dede kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Tapi wajahmu agak pucat."


"Oh hanya perut dede agak kram."


"Yang benar? keningmu sedikit basaj juga. Kamu sakit?"


"Tidak bang... aku baik-baik saja. Ke sebelah saja, mungkin mbak Lis butuh abang sekarang. dede mau istrirahat saja."


Irsam meraba kening basah itu, memang tidak panas. Tapi keringat itu dingin. Dan sunggguh, wajah itu terlihat menahan rasa sakit.


"Beneran de Miah ga papa?"


"Iya bang. Ga apa-apa." Lamiah meyakinkan.


"Sakitnya di mana?"


"Mules aja bang." ucap Lamiah duduk dan menekan perutnya yang terasa makin sakit.


"Beneran mules saja? abang antar ke dokter ya."


"Tidak usah, mungkin pemgaruh haid saja bang."


"Memangnya sering sakit gitu kalau haid?"

__ADS_1


"Tidak sesakit ini sih." Jawab Lamiah.


"Jangan ada penolakan. Kota ke dokter sekarang." Tukas Irsam Tegas. Lalu meraup Lamiah dan mengendongnya hingga ke arah garasi.


Kembali ke kamar Lilis untuk memgambil dompet juga berpamitan. Saat di lihatnya Lilis sudah terjaga dari tidur siangnya.


"Sayang... mas antar Miah ke rumah sakit dulu ya. Katanya sakit perut."


"Kenapa mas yang antar?"


"Dia sakit sayang."


"Tapi minggu ini jatahnya mas bersamaku."


"Iya hanya mengantar. Lagi pula minggu lalu yang jatahnya untuknya juga, sudah di alihkan untukmu karena kamu lebih butuh mas." Lilis hanya merengut.


Cup.


Irsam mengecup bibir Lilis sekilas.


"Mas hanya mengantarnya, ijinkan mas menjadi suami yang bertanggung jawab untuk sahabatmu." pintanya pda Lilis. Dan hanya di angguknya pelan.


Irsam segera melajukan mobilnya sendiri tanpa supir, sementara Lamiah terlihat masih pucat di samping kursi kemudi.


Memarkirkan mobilnya persis di depan instalasi Gawat Darurat, dan meminta agar istrinya segera di periksa oleh tim medis. Lamiah pun telah masuk ke dalam ruang onservasi untuk di periksa.


"Selamat siang bapa. Istri anda sepertinya mengalami keguguran. Untuk lebih detail. Pasien kami rujuknke dokter obgyn, untuk di lakukan pemeriksaan lengkap dan langkah selanjutnya." Kata-kata dokter itu sungguh bagai petir di siang hari bagi keduanya.


"Keguguran? Saya hamil dokter?" tanya Lamiah tak percaya.


"Tanda-tandanya begitu. Mari di lanjutkan periksaannya, perawat akan mengantar ibu dan bapak." lanjut dokter jaga tersebut.


Irsam hanya mampu memegang tangan kanan lamiah.


"Bang..." lirihnya.


"Kita pastikan dulu. Siapa tau masih bisa di pertahankan. Selamat ya, de Miah sudah hamil." Sedih sekali Lamiah mendengar kata itu. Seolah suaminya begitu menginginkan keturunan darinya.


Merekapun tiba di ruangan dokter kandungan. Sepintas dokter itu membaca catatan dari hasil pemeriksaan sebelumnya.


"Kita USG dulu ya bu." ucapnya tanpa basa-basi. Juga tanpa memberi aba-aba pada perawat yang sudah dengan cepat melakukan tugasnya.


Permisi menurunkan sedikit celana Lamiah lalu mangoleskan gel di perut rata itu, agar dokter segera memindai keadaan di dalam rahim Lamiah.


"Kapan haid terakhir?"


"Dua minggu yang lalu dokter."


"Banyak?"

__ADS_1


"Tidak hanya 2 hari. Seperti bercak saja."


"Nyeri?"


"Sedikit."


"Sebelum itu haid lancar?"


"Iya dok. Sebelumnya haid saya banyak juga lama 6 hari juga tidak begitu nyeri."


"Ibu... dua minggu yang lalu bukan haid. Tetapi flek. Saat itu ibu sudah hamil kurang lebih 7 minggu. Namun kandungan ibu lemah. Mestinya ibu datang saat itu. Dan yang keluar lagi hari ini adalah sisa-sisa jaringan mati yang sudah sangat tercerai berai dalam rahim ibu."


"Maksud dokter?" tanya Irsam.


"Iya bapak. Istri anda hamil, mestinya sekarang usianya 9 minggu. Atau 2 bulan lebih sedikit. Tetapi, ini sudah tidak bisa di pertahankan, sehingga currete adalah satu-satunya jalan. Agar rahim istri anda benar-benar bersih. 3 bulan kemudaian sudah akan siap di buahi kembali. Tapi sebaiknya jangan menggunakan KB dulu agar tidak merusak kesuburan ya." Jelas dokter.


Irsam mengelus rambut Lamiah demgan pelan.


"Sabar ya sayang. Yang penting kamu cepat sembuh." Bisiknya memberi penguatan pada istrinya.


"Tanda tangan di sini pa. Sebagai persetujuan tindakan. Dan sebaiknya istri bapak, di rawat beberapa hari dulu di sini." Terang dokter kembali.


"Apa kira-kira penyebab keguguran itu dokter." Irsam masih saja penasaran dan ingin mendapat penjelasan lebih terang lagi.


"Banyak faktor pak. Pertama kondisi kandungan memamg lemah, mengkonsumsi makanan tidak sehat. Ketidaktahuan ibu akan kehamilannya bisa membuat ibu beraktivitas seperti orang normal sehingga ibu lelah, kurang istirahat, kurang tidur dan banyak pikiran. Dalam kehamilan yang utama adalah pengelolaan emosi, usahakan menghindari stres. Apakah ini kehamilan pertama?"


"Iya dokter... kami baru 3 bulan menikah."


"Waah... pengantin baru. Tenang saja pa. Istri anda subur dan anda sehat pa. Buktinya belum lama menikah rahim ibu sudah di buahi. Kehamilan berikutnya lebih hati-hati ya. Konsumsi makanan sehat, di kurangi dulu aktivitas pengantin barunya. Nanti, akan saya kawal untuk yang berikut sejak awal ya. Kita bereskan yang ini dulu." Senyum dokter pada Lamiah dan Irsam.


Setelah berpuasa kurang lebih 4 jam, obat bius pun sudah di masukan melalui saluran infus. Lamiah pun menjalani proses currete. Yang sesungguhnya tak terasa, sebab bagian tubuh bawahnya di buat kebas tak merasakan apa-apa.


Tetapi entah mengapa, hatinya terasa sakit. Walau Lamiah tak merasa dan tidak menyadari kehamilannya, namun rasa kehilangan itu tetap ada. Rasa bersalahnya pun muncul.


Hanya Lamiah yang tau, sejak Lilis hamil ia sangat merasa dirinya tak berguna sebagai istri Irsam. Bukankah mereka sering melakukannya, bahkan pergi berbulan madu, juga sering mencuri-curi melakukannya, tetapi mengapa Lilis yang hamil, ia tidak.


Saat Irsam patuh pada permintaannya untuk lebih memperhatikan Lilis yang sedang hamil, malamnya hanya ia gunakan untuk menangis membayangkan kemesraan dan kebahagiaan pasangan yang Allah percayakan untuk memiliki keturunan kembali.


Namun semua kesedihannya tidak ia tampakkan. Rasa bersalahnya sebagai wanita kedua sangatlah kental. Sehingga saat Irsam tak di rumah. Lamiah cukup pontang-panting mencarikan makanan yang di idamkan oleh Lilis.


Hanya kendaraan roda dua yang bisa di kendarainya. Maka dengan meminjam motor milik Onah, tidak sekali Lamiah pergi mencari kidaman Lilis tersebut. Saat ia tak tau bahwa dalam rahimnya pun telah tumbuh janin miliknya dan Irsam yang juga harus di jaga dengan hati-hati.


Tes.


Tes


Luruh juga airmata Lamiah menyadari dirinya kehilngan anak pertamanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2