
Nila celingukan bukan mencari Lilis yabg nyata sedang di rawat di ICU itu. Tetapi dia tidak melihat keberadaan Irsam di sekitar ruangan tempat Lilis di rawat.
"Permisi... maaf mengganggu. Di mana orang yang menjaga pasien itu. Maksud saya suami pasien itu." tanya Nila pada perawat yang baru saja keluar mengganti cairan infus Lilis.
"Oh... maaf saya tidak tau." Jawab perawat itu agak bingung.
"Oh... begitu." Nila memencet ponselnya untuk menghubungi telepon Irsam Tapi, jurusan yang ada tuju sedang di luar jangkauan. Cobalah beberapa menit lagi. Selalu kata itu yang indera dengarnya dapat tangkap.
Nila memeluk berkas yang harus Irsam tanda tangani. 2 hari ketiadaan Irsam di kantor tanpa kabar sangat membuatnya kerepotan. Tetapi semua selalu ia kerjakan dengan rapi dan baik, hanya Nila benar tidak bisa melanjutkan pekerjaannya tanpa persetujuan dari Irsam.
Ingin pulang, tapi hatinya berkata tunggu duli. Mungkin Irsam sedang keluar mencari makanan saja pikirnya. Maka Nila memilih duduk saja di kursi yang tersedia di depan ruangan ICU tersebut.
Selang 30 menit, beberapa petugas terlihat mendorong sebuah blankar menuju ruang ICU. Rupanya ada pasien baru lagi yang akan di rawat di ruangan itu. Pikir Nila.
Namun, setelah blankar itu di depannya, betapa terkejutnya ia, melihat yang di dorong adalah Irsam.
"Pak Irsam...!!!" Seru Nila kaget.
"Nila..." Jawab Irsam pun tak kaget dengan kedatangan Nila di rumah sakit itu.
"Ijinkan dia masuk menjengukku." Pinta Irsam pada perawat.
Di balas anggukan oleh perawat dan terus saja mengantar Irsam ke ruangan di mana Lilis di rawat.
Nila di sodorkan pakaian steril untuk di ijinkan masuk menemui Irsam. Dengan catatan tidak lebih dari 30 menit berada di dalam ruangan steril itu.
"Maaf pa. Saya tadi ke rumah karena bapak sudah 2 hari tidak masuk tanpa kabar, ponsel bapak tidak bisa di hubungi. Dan kata ART, istri bapak pingsan lalu bapak bawa kerumah sakit ini."
"Iya... istriku mengalami dehidrasi berat, yang membahayakan bayi dalam kandungannya. Yang walau baru berusia 7 bulan, terpaksa harus di lahirkan. Anak kami selamat, sekarang di rawat di ruang NICU harus berada dalam inkubator, sampai kondisinya stabil. Tetapi, istriku belum sadarkan diri sejak melahirkan, sampai sekarang." Jelas Irsam sedih.
"Masyaallah berat sekali ujian yanh sedang bapak hadapi. Maaf pa, saya tidak bisa menunda untuk bertemu. Sebab berkas ini harus segera bapak tanda tangani." Nila turut prihatin dengan hal yang menimpa pimpinannya tersebut. Tetapi pun bukan ranahnya untuk ikut campur. Sebab bagiannya adalah urusan kantor.
__ADS_1
Irsam membaca sekilas dan sudaj terbiasa dengan pekerkaan Nila yang teliti. Maka Irsam langsung membubuhkan tanda tangannya di berkas tersebut. Kemudian Nila pamit untuk undur diri dari ruang medis tersebut.
Irsam menatap nanar Lilis yang ada di sebelahnya. Mencoba untuk duduk bersandar di tepi ranjang. Lama ia menatap wajah dan tubuh penuhbalat itu. Tentu dengan hati yang amay sangat penuh penyesalan.
Irsam mencoba bangkit dan beranjak dari ranjangnya untuk mendekati Lilis.
"Ratuku... rohku pun sempat pergi dari ragaku. Untuk mencari rohmu, agar kita bisa bersama lagi. Sekarang kita punya Adilla Humaira yang
harus kita rawat bersama. Dia butuh orang tua yang menyayanginya. Dia tidak salah sayang. Mas yang salah. Tolong buka matamu. Buka mulutmu dan katakan apa yang harus mas lakukan untuk menebus kesalahan mas ini sayang. Banguuun." Tangis Irsam pecah benar tak tau harus berbuat apa lagi agar Lilis sadar dan memaafkannya.
Lama Irsam terbenam dalam isak tangisnya pilu menderu, sampai mata kaburnya menangkap gerakan tangan yang di timpanya itu bergerak sendiri.
"Sayang... kamu sudah sadar...?" Irsam terkesiap.
Lilis mengerjabkan matanya tampak linglung.
Irsam segera memanggil dokter untuk memastikan keadaan istrinya.
Kemudian mengulurkan tangan pada Irsam.
"Selamat istri anda telah melewati masa kritis. Ia bagaikan hidup kembali, jangan sia-siakam kesempatan keduanya ini. Selanjutnya ibu akan menjalani masa pemulihan pasca melahirkannya saja."
"Melahirkan...? di mana anakku dokter?" tanya Lilis yang baru sadar perutnya telah mengempes.
"Anak kita perempuan, cantik sepertimu sayang. Sekarang dia sedang di rawat di tempat lain. Kamu cepat pulih saja, supaya kita bisa merawatmya bersama." Irsam menjawab dengan nada yang sangat tenang.
"Mas... katakan, dia hidupkan?"
"Iya sayang... dia sempurna. Hanya karena berat badannya rendah. Sekarang Adilla harus di inkubator dulu."
"Adilla...?"
__ADS_1
"Maaf mas tidak menunggu persetujuanmu untuk memberi nama untuk anak kita. Maafkan mas sayang."
"Aku yang salah mas. Aku hampir membunuh anakku sendiri. Setelah mas kembali kerumah dan bersikap dingin padaku. Aku tidak terima mas, dan aku terlalu tenggelam dalam kesedihanku, tanpa peduli dengan anak yang tumbuh dalam rahimku. Yang sebenarnya tak bersalah dan perlu mendapatkan kasih sayang, cinta dan perhatian juga dariku. Aku yang salah mas... maaf." Tangis Lilis pecah tak sanggup nalarnya berpikir betapa ia salah.
"Bukan salahmu. Semua karena mas sayang. Berjanjilah berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kita mulai semuanya dari awal. Mas ingin membalut luka di hatimu."
"Mengapa tangan mas juga di infus?"
"Mas pantas mendapatkan hukuman ini sayang."
"Mas sakit?"
"Tidak... hanya lupa makan saat yang ada di kepala mas hanyalah kamu segera sadar dari pingsanmu. Mas sungguh tak mau kehilanganmu. Jangan pernah tinggalkan mas. Mas sangat mencintaimu. Berjanjilah memaafkan dan menerima mas seperti dulu sayang. Cinta mas masih sangat teruntuk kamu. Ratuku." Irsam sudah mengeluarkan jurus-jurus mautnya untuk meyakinkan Lilis.
"Apakah mas sudah menemukan Miah?"
"Sudah."
"Lalu mengapa mas kembali padaku? Bukankah mas juga telah mencintainya?"
"Aku mencintainya tak sebesar aku mencintaimu. Terima kasih telah memperkenalkanku dengannya, terima kasih telah mengijinkan aku menikahinya. Dan kamu benar, aku hanya boleh menikahinya tapi jangan mencintainya lebih darimu. Mas, pulang ke rumah atas permintaannya. Lihatlah... bukankan benar kamu telah kirimkan wanita baik hati untuk mas?"
Mungkin tujuan Irsam berkata demikiam adalah untuk menyatakan cintanya pada Lilis.
Tapi entah, hati dan pikiran Lilis yang sudan terbakar api cemburu adalah tentang suatu pernyataan bahwa kini Irsam lebih tunduk dan mendengarkan permintaan Lamiah sang wanita kedua itu.
"Mengapa Miah meminta mas datang padaku?" tanya Lilis lagi.
"Karena ia tetap menganggapmu sahabatnya yang paling baik. Yang membuka jalan jodohnya. Yang masih sangat harus ia hormati. Dan layak mendapatkan cintaku. Juga, karena ia tak mau kita kehilangan anak, seperti yang telah di alaminya."
Luruh tangis Lilis semakin menyadari keegoisannya. Sungguh hatinya yang tak sungguh ikhlas berbagi cinta. Hatinya yang kotor, mencurigai sahabatnya akan mendominasi suaminya. Lilis benar-benar malu dan sangat menyesal akan hal yang menimpanya. Dan mengutuk dirinya yang selama ini terhasut dengan omongan teman-teman sosialitanya. Yang tidak tau duduk permasalahan yang sebenarnya. Mereka hanya tau, suami Lilis menikah lagi karena suatu perselingkuhan. Bahkan sudah berhasil membawa madunya hidup dalam satu rumah. Maka saran mereka, siksalah wanita kedua tersebut. Hingga benar merasa di neraka dan memilih pergi dengan sendirinya.
__ADS_1
Bersambung...