
Irsam selalu meluangkan waktu untuk mengantarkan Lamiah ke rumah sakit. Untuk memastikan kemajuan demi kemajuan perkembangan kesembuhannya.
Fisik Lamiah berangsur kuat dan sehat. Ia mulai bisa berjalan sendiri, namun tak pernah Irsam ijinkan untuk menggendong anak mereka. Tak sekali Irsam mengajaknya berjalan-jalan bersama Gary. Hanya mereka bertiga, walau hanya sekedar ke sebuag tempat rekreasi, di mana Lamiah hanya duduk memandang Irsam bermain bersama Gary.
Irsam sungguh memainkan perannya sebagai ayah dengan sangat baik bagi Gary, namun tidak berhasil menjadi suami yang sempurna bagi Lamiah. Sebab ia tak pernah lagi memberi nafkah batin pada istri keduanya itu. Irsam tak pernah berani untuk memintanya.
Kini Irsam berada di ruang tunggu. Saat Lamiah berada di dalam ruangan dokter untuk di periksa. Melakukan CT Scan dan sebagainya untuk terus memantau keadaan terkini. Tak sedikit obat obatan yang selalu di bawa pulang saat mereka kembali kerumah.
Namun Irsam sesungguhnya sudah bosan dengan kalimat penjelasan dari dokter yang selalu berkata : "Ini hasil peneriksaannya pa. Baik sudah semakin membaik. Hanya perlu waktu sedikit lagi untuk ibu benar benar pulih pada keadaan sebelumnya. Ajak berkomunikasi dengan baik, kalau perlu ajak berbulan madu, istri bapak secara fisik telah sehat. Lakukan hubungan suami istri dengan benar, dengan pemanasan yang tepat, agar istri bapak tidak merasa kaget dan benar merasa nyaman untuk melakukannya. Sebab itu akan lebih menstimulus kesembuhannya." Saran dokter yang entah masuk akal atau tidak. Tapi sungguh Irsam pun selama ini hanya menahan diri untuk melakukan hal itu terhadap Lamiah.
Irsam takut di tolak Lamiah, juga takut ajakannya untuk bercinta justru akan memperparah keadaannya yang sudah mulai stabil.
Apalagi beberapa waktu akhir akhit ini ia, baby sitter dan Gary lebih sering mengurung diri, mengunci diri mereka di dalam kamarnya itu. Bahkan seribg terjadi, hingga malam hampir menjelang. Dan itu terjadi berkali-kali. Terutama setelah Lamiah sudah bisa berjalan sendiri.
Saat Irsam tanyakan pada baby sitternya, mengapa di kunci. Jawabannya karena itu adalah permintaan Lamiah.
Waktu terus berlalu, baby Gary pun kini sudah berusia 8 bulan. Tumbuh dan berkembang dengan sehat, tak hanya ASI, MPASI pun sudah dapat ia terima.
Irsam tak seegois dulu. Waktunya banyak ia habiskan di rumah. Bahkan tak berpikir dua kali untuk menyuapi putranya dengan istri keduanya itu.
__ADS_1
Lamiah sudah dapat berjalan, tapi masih terlihat error untuk di ajak berbicara. Lilis pun semakin sering mengajarinya berpakaian dan berdandan. Ia terus mengingatkan jika ia adalah istri Irsam juga. Tetapi respon Lamiah hanya seperti orang linglung.
Irsam pria normal, ia sering tidur dengan istri keduanya itu. Tapi tak pernah berani menyeetuubuhinya. Irsam hanya berani mencium kening dan memeluknya sampai pagi. Karena kadang Lamiah hanya menangis tersedu sedu, jika di dekati oleh suaminya tersebut.
"Lis... "
"Iya mas."
"Sekarang sudah 8 bulan. Gary sudah sangat boleh naik pesawat. Bagaimana kalau kita ke luar negeri untuk mengobati Miah? Bukan mas tidak percaya dengan kemampuan dokter di sini. Tetapi ini sudah hampir setahun, rapi kesembuhannya sangat lambat." ujar Irsam yang baru selesai bercinta dengan istri pertamanya. Irsam selalu tegang saat dekat dengan Lamiah. Tapi tak pernah berani dan tak tega meminta haknya pada orang yang terlihat bingung iyu. Maka Lilis adalah tempat pelampiasan terbenar baginya untuk menyalurkan hasrat terpendamnya tersebut.
"Iya mas, aku setuju. Sebaiknya minta ijin dan mungkin ada rekomendasi dari dokter di sini. Kemana kita akan melanjutkan pengobatannya."
"Amin. Tapi tujuan kita melakukan itu pada Miah bukan mengharapkan pengampunan dari Allah mas, melainkan itu memang wajib kita lakukan atas perbuatan kita sebelumnya."
"Tentu... tentu saja sayang. Apapun yang kita lakukan sekarang, tidaklah sebanding dengan perbuatan kita terhadapnya."
"Mas... aku ingin meminta ijin padamu. Bagaimana jika Faizal kita minta kembali ke Indonesia. Aku ingin kita mengurus dan mendidiknya bersama. Jujur, aku cemburu pada Gary. Mas begitu telaten dan banyak waktu dalam hal mengurusi dia. Sedangkan Faizal harus terpisah dari kita, atas tujuan yang tidak jelas." Lilis jujur dan terbuka akan perasaannya.
"Mas senang mendengar kejujuran hatimu. Walaupun itu adalah ungkapan kecemburuan, tapi mas merasa itu lebih baik kamu keluarkan, dari pada di pendam sendiri. Baiklah, tahun ajaran baru nanti Faizal akan kita sekolahkan di sini saja." Putus Irsam setuju.
__ADS_1
"Terima kasih mas. Kemudian Lis juga mau minta maaf sekaligus minta ijin. Akan menutup toko perhiasan yang mas sempat Lis jalankan. Kini Lis sadar, Lis tidak sanggup menjalankannya. Itu semua hanya karena ego Lis semata. Yang tak pernah terima di kalahkan oleh maduku Miah." Paparnya masih dalam pelukan Irsam.
"Aku yang sejak awal meminta Miah masuk dalam rumah tangga kita, tapi aku pula yang merasa takut ia merebut semuanya dariku. Tapi, kini sungguh aku menyesal, telah merenggut nyawa calon buah hatinya, bahkan kini keadaannya pun belum pulih total. Aku sungguh berada dalam kubangan dosa mas. Aku ingin bertobat. Aku ingin hijrah mas. Ijinkan aku mengubah semuanya." Lanjutnya lagi.
"Hijrah...? Maksudmu?"
"Ya Hijrah. Aku ingin meninggalkan kehidupan lamaku mas, aku tau yang paling bersalah di sini. Aku sudah memutuskan untuk sungguh sungguh mengabdi untuk rumah tangga kita yang telah hancur oleh ulahku sendiri. Aku ingin menahan. Menahan segala keinginan dagingku, menahan keegoisanku, menahan amarahku. Aku ingin berhijab."
"Masyaallah. Istriku... ini benar istriku Lilis Listiana ?" Heran Irsam.
"Mas.... jangan di ledek. Aku serius. Aku tak ingin menambah dosa. Aku ingin makin dekat dengan perintah Allah. Aku sungguh tak ingin menambah dosa lagi. Tolong bantu, dukung aku, agar menjadi istri yang ikhlas menerima polligami ini mas." Rengeknya manja.
"Tidak... mas tidak meledekmu. Bahkan mas sangat senang mendengarnya. Sungguh mas sangat senang dan bangga mendengarnya. Baiklah, mas sangat amat setuju. Kapan mau mulai sayang?" tanya Irsam semangat.
"Insyaallah minggu depan bagaimana? sebab minggu ini Lis akan mengganti semua koleksi pakaian sebelumnya dengan pakaian syar'i."
"Alhamdulillah. Baik sayang, baiklah. Lakukan saja asalkan hatimu merasa damai, senang dan tentram. Namun, jangan kamu lakukan ini hanya demi madumu. Melainkan semata mata karena Allah, biar Allah saja yang melihat dan menilai perbuatanmu. Perbuatan kita sayang." Ujar Irsam menciun cium punggung tangan Lilis.
Bersambung...
__ADS_1