
Pesta telah usai, bahkan sisa pesta pun bagai di sulap lenyap tak bersisa. Tatanan rumah telah kembali sesuai seperti sebelumnya.
Suasana rumah tampak tak berpenghuni. Seolah berada di kota mati. Lilis berdiri mematung pada balkon kamarnya yang menghadap timur, yang selalu siap menyambut datangnya mentari pagi.
Semilir angin berselir menerpa bahkan mengurai anak rambut, tampak terburai.
Lilis bagai berada di tempat asing, tatkala menyadari bahwa malam ini ia tidur tanpa suami di samping.
Bukan hal pertama bagi Lilis merebahkan diri pada peraduan itu sendiri. Tetapi menyadari jika kini suaminya berada dalam ranjang yang sama dengan wanita lain. Ternyata cukup membuatnya di landa suatu rasa yang aneh.
Akhirnya melahirkan perasaan curam.
Hati itu kini sangsi akan kah surga itu ia miliki.
Lilis memindai langit malam yang redup, sebab hanya sabitan bulan menerangi kelamnya malam itu, bahkan tanpa bintang.
Nelangsa hampa tiada berkata, pias hati tak dapat terbaca. Seketika gamang melanda, adakah sisa cinta membara untuknya yang kini sah menjadi istri pertama.
Lilis mengusap pelan air yang bermuara dari sudut netranya. Tiba-tiba saja pikirannya ambruk membayangkan bahwa kini sentuhan suaminya tentu mulai menggerayangi tubuh sahabatnya.
Tidak ada waktu yang dapat di hela, bahkan semua kata yang pernah terujar, lugas. Dengan sadar terlontar berkali-kali, yang akhirnya ia sadari bahwa itu dapat saja sebagai senjata bahkan tameng bagi wanita kedua.
Lilis membentangkan sajadahnya. Demi mendapatkan rasa damai dan tentram dalam hatinya. Bahwa dengan menyerahkan, membagi suaminya dengan sahabatnya adalah bentuk kecintaannya pada sang pencipta yang mengajarkannya untuk berbagi.
Juga sebagai wujud nyata betapa ia mengasihi Lamiah, sahabatnya yang ia anggap pula sebagai belahan jiwanya.
Lama Lilis teperkur, di atas sajadah itu. Sembari tangan yang tiada berhenti memilin tasbih, merapal doa dan segala puji puja pada sang pencipta, sekedar meminta untuk menguatkan jiwa.
Lilis tersungkur dalam sujudnya, memohon ampun pada empunya khalik. Agar tetap berpihak padanya, keputusannya adalah yang terbaik.
Sementara di kamar yang lain.
Semerbak wangi cendana menguasai kamar pengantin yang di dominasi warna merah kirmizi mengartikan sang pemilik berkepribadian yang penuh semangat, pemberani, pehuh kegembiraan, kuat dan juga panas menggairahkan.
Tubuh Lamiah yang putih tentu selalu terlihat cocok menggunan warna apa aja untuk membalut tubuh sempurnanya.
__ADS_1
Di malam pertamanya, Lamiah jauh hari sesungguhnya telah menyiapkan sebuah lingeri berwarna oranye yang merupakan kombinasi warna merah dan kuning. Memberi kesan hangat, bersemangat serta optimis, percaya diri dengan kemampuanya menaklukan suami sahabatnya sendiri.
Irsam sudah mengetahui banyak akan persiapan malam pertama pengantinya malam ini. Tidak ada satu cela pun yang tidak ia ketahui dari seorang wanita kedua yang mungkin juga akan di gilainya bahkan lebih dari istri pertamanya.
Atmosfer kamar pengantin itu menguat di penuhi sinaran lampion mungil yang tergantung unik di langit peraduan sepasang pengantin baru.
Irsam tanpa ragu sejak tadi hanya mengunakan kimono berbahan sutra bertali pinggang, seperti setelah habis mandi tanpa pakaian apapun di bagian dalam.
Keduanya telah berada diatas petiduran beralas kain bordir berbentuk bunga kecil, memberi kesan keset bagi makhluk di atasnya.
Lamiah dan Irsam bukanlah anak kemarin sore yang tidak tau apa yang harus di lakukan di malam pertama pernikahan mereka. Irsam bahkan lebih berpengalaman sebab ini menjadi yang kedua baginya.
Mereka berdua pun kini adalah sepasang suami istri yang sudah sah, yang tentu saja telah sama-sama saling mendamba. Tanpa harus berbuat dosa.
Apalagi Irsam, yang telah sering melihat tubuh yang diam-diam di gilainya walau hanya dari balik layar kaca.
Irsam tersenyum smrik, kini tubuh itu dapat ia jamah. Kini dengan mata telanjangnya Irsam memandangi tubuh yang masih tersembunyi di balik kain sexy berenda tipis.
Irsam berang, menatap nyalang tubuh setengah telanjang di hadapannya. Ia bimbang, harus mulai dari mana. Sebab semua persembahan itu ingin semua ia lahap tuntas.
Tangan halus nan lembut milik Lamiah kini telah terlebih dahulu meraih dagu tanpa ragu, kemudian mengantarkan dengan sentausa mengarah pasti ke bibir merah delima miliknya.
Lamiah galak menerkam bibir tebal Irsam yang kemarin sempat memberi sensasi panas, menjalari aliran darahnya. Membuatnya tak puas, pikirannya tak waras memaksa untuk merampas bagian yang kini sah menjadi miliknya.
"Dede nakal..." bisik Irsam di sela merenggang ciuman basah itu.
"Abang bikin dede ga tal." Jawabnya tak kalah binal.
Tidak perlu meragu akan ketrampilan tangan Irsam. Yang tentu saja telah berpendar menggeledah apa saja yang biasa ia razia pada seluruh permukaan kulit yang telah lama ia tahan hasratnnya untuk ia zarah.
Lingeri oranye itu hanya khiasan semata, demi mencukupan persyaratan agar tampak seperti persembahan sempurna pada umumnya.
Kenyataannya, kini kain jala, berenda tipis itu sudah teronggok kaku di bawah tubuh sang empunya.
Kini gundukan padat putih berpucuk merah jambu itu telah terhampar pasrah siap untuk di sesap, di lu mat bahkan sedikit di gigit dengan pelan. Nikmat tiada tara.
__ADS_1
Bagai tersengat aliran listrik, tubuh Lamiah merespon serangan dari suaminya itu.
Nikmat yang sulit ia artikan ketika untuk pertama kalinya sentuhan itu akhirnya dapat ia rasakan secara nyata.
Irsam meraih tangan Lamiah, menuntunnya menuju tempat pertapaan naga peliharaannya, yang telah lama ingin berkenalan dengan sarang yang baru, yang juga nanti akan menjadi tempatnya beradu.
Irsam merasa perlu sedikit membimbing, agar jemari halus itu mencengkram penuh serta melakukan gerakan naik turun pada kepala naga yang masih terasa jinak di sana.
Naga belum sepenuhnya sadar, bahwa kini pawangnya belum terpelajar. Sehingga harus bersabar jika saja yang ia rasa masih terasa hambar, belum pandai menyambar.
Posisi tubuh mereka masih menyamping berhadapan, sehingga sesekali Lamiah masih dapat melihat dengan jelas bentuk kepala naga yang di rasanya semakin membesar. Tangan itu masih terus mengaplikasikan ilmu yang baru terunduh.
Kini Irsam mengarahkan kepala Lamiah menuju dadanya sembari berbisik.
"Lakukan sama seperti yang abang lakukan pada dada dede."
Lamiah patuh, bak menyeruduk ia segera merapat pada dada bidang berbulu itu. Sedapat mungkin, mengecup, menji lat membasahi permukaan mana saja yang bisa ia jadikan mangsa untuk di sengat dan di gigitnya dengan gemas. Namun tak berani hingga berbekas.
Irsam tersenyum geli, tatkala menyadari istri keduanya sangat minim pengalaman. Namun, cepat menyerap semua yang ia contohkan.
"Buatlah hingga memerah, seperti ini sebanyak mungkin sampai penuh dede sayang." Tunjuknya pada gundukan yang di buatnya beberapa jejak kemerahan di pucuk dada Lamiah.
Dengan tidak melepas tangan yang seolah nyaman mengelus kepala naga di sana. Kini Lamiah bagai anak kucing yang terus mengedus di dada suaminya, demi melakukann perintah yang juga kini amat di nikmatinya. Namun tetap tak berbekas.
Irsam merasa perlu menambah volume kenikmatan yang juga harus di persembahkanya pada Lamiah sang istri kedua.
Kini jemarinya telah sampai di permukaan bibir goa, yang selama ini hanya dapat ia intip dari sela kain penutup yang terkadang masih ia sembunyikan, dan hanya sekejab ia perlihatkan. Membuat Irsam meremang penasaran akan rasa yang mungkin berbeda dari istri pertamanya berikan.
Bersambung...
Author auto panas gaes
Minta waktu neguk air barang segelas dulu boleh ya...
Sebab penjelajahn kita belum selesaiš¤
__ADS_1