LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 82 : SENYUMAN TERAKHIR


__ADS_3

Telepon Lamiah berdering memecah kesunyian di kamar mereka, tepat di pukul 11 malam itu. Mengusik keentraman Irsam yang tadi sempat kan beryar ke pulau mimpinya.


“Hallo Mattew.” Jawab Lamiah dengan nada ceria. Sebab ia tadi hanya seear ingin tau kabarnya via pesan singkat. Namun pria itu justru mnelponnya untuk berbicara bahkan tak mengenal waktu.


“Hallo. Apa ini dengan ibu Mia.”


“Ha… ha.. jangan bercanda Mattew, bahkan kamu tak perlu merubah suara baritonmu menjadi se tenor ini.” Kekeh Lamiah.


“Maaf, saya Ayub. Dokter yang menangani penyakit Mattew selama ini. Sebelum koma ia sempat meminta agar saya menghubungi seorang wanita yang sedang di lindunginya. Namun, tak sempat ia sebut nama anda. Sehingga saya tidak tau harus bertanya pada siapa?”


“Apa maksud pembicaraan ini, jangan bercanda…!!!” tegas Lamiah tiba-tiba cemas.


“Maaf bu.. saya tidak bercanda. Ini adalah hari ke 28 ia terbaring dalam keadaan koma. Pihak keluarga ingin membawanya ke luar negeri untuk pengobatan, tetapi keadaan penyakitnya tidak memungkinkan. Bisa di katakan hanya mukjizat yang bisa menyelamatkan nyawanya.” Terang pria yang mengaku bernama Ayub dan seorang dokter itu.


“Katakan ini hanya bercanda…!”


“Tidak ada yang kenyataan yang pantas untuk di buat sebagai lelucon, bu.” Gerah sudah suara Ayub meyakinkan Lamiah akan keadaan pasiennya.


“Alamat… katakana padaku, kemana aku harus menemuinya sekarang dokter.” Pekik Lamiah penuh emosi.


“Dia sekarang di rawat di rumah sakit swasta Surya Medika. Alamat jalan XX.” Jawab Ayub.


“Baiklah saya akan segera ke sana.” Tukas Lamiah.


“Ini sudah malam, sebaiknya besok saja.” Saran dokter Ayub pada Lamiah.


“Tidak… aku tidak bisa tidur jika tidak melihat keadaanya secara langsung. Terima kasih informasinya.” Tutup Lamiah pada sambungan telepon itu.


Lamiah terdiam mengatur nafasnya yang tiba tiba brrpacu tak karuan, terkejut dengan berita yang baru ia dapat. Sebentar ingatannya kembali pada sebuah kenyataan, tentang penyakit kanker otak yang di idap Mattew. Tentu saja dokter itu tidak sebercanda itu dalam hal menyampaikan keadaan Mattew terkini.


“Ada apa de Miah?” Irsam duduk dari posisi berbaringnya tadi sebab mendengar sendiri obrolan yang tersambung via telepon tadi.

__ADS_1


“Bang tolong antarkan aku ke rumah sakit.”


“Kenapa… apa kamu mulai merasa sakit perut? Kamu sudah mengalami kontraksi de?” tanya Irsam yang tak tau isi obrolan secara lengkap tadi tentunya.


“Tidak… bukan karena aku . Tapi, Mattew. Mattew sedang sakit sekarang, dan sekarang juga aku harus menemuinya.”


“Ini tengah malam sayang, bagaimana jika besok saja.” tawar Irsam masih dengan panggilan sayangnya.


“Aku tidak bisa menunda untuk segera tau keadaannya bang. Tolong…” Pintanya yang sungguh merasa cemas bercampur penasaran, hingga tak dapat berpikir jernih. Menunggu sampai besok hari saja. Untuk menjenguk Mattew.


“Baiklah, tapi janji pada abang. Setelah tau keadaanya, kita akan pulang dan kembali tidur di sini. Sebab kamu pun perlu istirahat demi bayi kita.”


“Sudah lah, cepat saja.” Pinta Lamiah yang kemudian menggunakan pakaian sopan dan layak untuk pergi keluar rumah walau di tengah malam.


Keduanya kini sudah benar berada di sebuah rumah sakit swasta. Lamiah menggengam ponselnya. Yang kemudian menekan tombol panggil pada nama Mattew.


“Hallo… aku sudah di rumah sakit.” Ujar Lamiah tanpa basa basi dan peduli dengan siapapun yang mengangkat ponsel itu.


“Baik… baiklah saya akan menjemputmu.” Ujar suara yang masih sama dengan suara yang memberikan informasi pada Lamiah tadi.


Tubuh itu ringkih, sudah tak ada lagi ketampanan dan body atletis yang ia miliki. 28 hari terbaring koma sungguh merenggut semua yang ia miliki. Hanya sisa nafas yang masih tersengal di tenggorokannya, itupun karena bantuan alat medis tersebut.


Lamiah terbalut dalam pakaian steril, ia berada di dalam bersama dokter Ayub. Dokter itu adalah temannya. Yang kebetulan sedang tidak bertugas, sehingga bisa dengan leluasa khusus memperhatikan perkembangan kesehatannya.


“Mattew… apa kabarmu? Ini yang kamu sembunyikan dariku selama ini. Aku tau tentang penyakitmu, tetapi aku tidak tau, sesakit ini derita yang kamu sandang. Kamu jahat Mattew, hanya berbuat baik padaku. Tapi aku tak kau ijinkan untuk berbagi sakitmu.”


“Bangunlah… cepat sadarlah. Gary, iya baby ini akan ku beri nama Gary sesuai inginmu, tapi temani aku berjuang untuk menyambutnya Mattew.” Isak Lamiah terurai.


Tak ada sahutan, bahkan dai gerakan jaripun tidak.


“Kamu tidak suka bukan pada bang Irsam yang mendekati aku. Tapi lihatlah bahkan kini aku ke sini dengan bang Irsam, untuk itu bangunlah, usir dia untukku. Bukankah kamu mau jadi pelindungku dan Gary. Mattew… Mattew. Bangun.” Lamiah mengguncang tubuh kaku tanpa respon itu. Hanya sedikit aliran air dari sudut matanya. Entah apa artinya.

__ADS_1


“Aku tak suka gaya bercandamu begini, aku mau kamu bangun Mattew…” rengek Lamiah bahkan terduduk di bawah ranjang pesakitan itu.”


Ngiiiiiing. Suara alat medis itu tiba-tiba berdenging pertanda terjadi sesuatu respon pada pasien. Beberapa lampu emergency menyalah.


“Mattew… Mattew!!” teriak Ayub sedikit panik sembari menekan tombol panggilan darurat pada dokter jaga dan lainnya.


Lamiah berdiri dari posisi duduknya tadi. Sedikit terkejut dengan kondisi yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


“Ada apa? Kenapa dengan Mattew?” tanya Lamiah berteriak pada Ayub.


“Maaf tenangkan dirimu, ia sedang ampal. Kami akan tetap berusaha menyelamatkannya.” Ujar Ayub yang juga menghubungi orang lain dengan ponselnya.


“Mattew… bangun Mattew. Jangan begini. “ Tangis Lamiah terurai lagi.


“Maaf… bu. Bisa yang kau ucapkan adalah doa untuknya? Atau untaian kata maaf, mungkin kini waktunya ia akan berpulang.” Ujar Ayub tegas yang sudah hafal jika ini adalah masa-masa terakhir temannya akan mengakhiri penderitaannya.


“Hah… katakan kamu berbohong.” Marah Lamiah pada Ayub.


“Lakukan saja sebelum kamu menyesal.” Jawabnya yang kini ruangan itu sudah di masuki beberapa tim dokter juga pihak keluarga Mattew.


Mereka tampak berdiri memenuhi ranjang itu, membuat Lamiah tergeser hanya mendapat bagian di ujung kaki Mattew. Tampak seorang wanita memegang tangannya dengan mertapalkan untaian doa dengan suara yang sangat menahan tangisnya.


Diam-diam Lamiah pun merafalkan doa sesuai kepercayaannya. Dengan airmata yang berurai urai tak terkira.


“Mattew terima kasih untuk semua perhatianmu selama ini. Jika ini waktumu terbebas dari segala deritamu, aku ikhlaskan kamu meninggalkanku dan Gary. Maafkan semua yang sudah ku lakukan padamu selama kita bersama, aku mengampunimu. Pulanglah dengan damai.” Ucap Lamiah dalam hati dengan tetap berpegang pada ring ranjang pesakitan yang di tiduri oleh Mattew.


“Dinda dan anakmu telah menyambutmu di sorga. Pergi dan temui mereka. Mama ikhlas melepasmu. Agar segala sakitmu pun tak kau rasakan lagi. Dalam Nama Yesus, Amin.” Akhir kata-kata yang wanita tadi ucapkan.


Bersama itu pula suara mendatar pun terdengar dari semua alat medis yang tertaut dengan tubuhnya. Mattew sudah mengakhiri pertandingan hidupnya. Ia sudah melakukan apapun yang ia ingin lakukan di dunia. Seringai senyum tersampir di bibir Mattew. Seyum yang dapat Lamiah lihat untuk terakhir kalinya.


Brugh..

__ADS_1


Lamiah Limbung terjatuh di lantai.


Bersambung…


__ADS_2