LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 83 : PROSES PERSALINAN


__ADS_3

Suara panjang dari mesin alat madis itu menandakan sudah tak ada lagi hubungan antara raga Mattew dan alat penyambung nyawanya. Ia telah terbebas daribrasa sakitnya. Maut telah menjemput Mattew, pria baik hati yang kurang lebih dalam 5 bulan terakhir menghabiskan waktunya untuk menjadi ayah pura pura Gary.


Fokus para medis di kamar rawat itu teralihkan oleh suara ambruknya tubuh Lamiah.


Ayub panik, membuang beberapa menit hanya untuk bertatapan pada medis lainnya. Hingga tersadar setelah mendengar suara dari wanita yang mendoakan Mattew tadi.


"Ayub... cepat tolong orang itu. Beri dia tindakan cepat dan terbaik di rumah sakit ini segera...!" pekiknya menahan rasa terkejutnya.


Dengan sigap beberapa perawat yang ikut masuk tadi pun gerak cepat untuk memgambil blankar di luar.


Tindakan itu cukup mencengangkan Irsam yang sedari tadi menunggu Lamiah di luar rawat Mattew tadi. Ingin bertanya tapi tak sempat, langkah para medis berseliweran itu sangat cepat dan terlihat terburu-buru. Berlalu lalang di depannya dengan wajah cukup tegang.


Tadi keluar dengan berlari, kini terlihat masuk kembali mendorong sebuah blankar. Beberapa menit kemudian pintu terbuka kembali.


Maka hampir keluarlah mata Irsam saat melihat wanita masih dengan pakaian steril berperut buncit, terbaring di atas blankar tadi.


"Hah... istriku... ada apa dengan sitri saya suster...?" tanya Irsam pada mereka sambil terus berjalan mengiringi blankar tersebut.


"Istri bapak pingsan."


"Hah... hah.. apa ... apa yang terjadi padanya? tolong, tolong selamatkan istri saya. Tolong." pekik Irsam meremas rambutnya sendiri melihat wajah Lamiah yang telah bagai kertas putih. Pucat tanpa aliran darah.


"Bapak tenang bapak. Kami segera memberi tindakan terbaik." Ujar perawat tadi memberi penjelasan.


Dan Irsam tak berhenti, terus terusan saja mengikuti kemana istrinya akan di tindak.


Dengan kerja sama yang cepat, Liah susah berhasil terelpas dari pakaian steril saat menjenguk Mattew tadi.

__ADS_1


Dokter segera memeriksa denyut nadi, tekanan darah, irama jantungnya juga memeriksa kondisi bayi yang ada dalam kandungannya. Serangkaian pemeriksaan itu tak luput dari pantauan Irsam.


"Berapa usia kandungan istri bapak?" tanya dokter jaga itu pada Irsam.


"38 minggu lewat dokter, hampir 39." Jawab Irsam yakin.


Dokter itu mengangguk dan memberi kode pada beberapa perawat untuk hal apa saja yang akan mereka berikan agar Lamiah segera sadar dari pingsannya.


"Istri bapak mengalami syok hebat. Tekanan darahnya juga sangat tinggi. Kami hubungi dokter obgyn dulu ya pak. Kemungkinan besar istri bapak akan kami tindak malam ini juga untuk proses melahirkan bayinya." Terang dokter wanita itu.


"Hah... haa. I.. ii ... iya. Lakukan yang terbaik baik dokter." Irsam bagai dejavu saat bayangan Lilis akan melahirkan Adilla beberapa bulan lalu.


Ia meremas rambutnya, berjalan mondar mandir tak tentu arah. Panik melandanya, tentu walau akan bercerai ia tak ingin berpisah dengan cara begini dengan Lamiah.


Di hidung Lamiah sudah tertancap selang bantu pernafasan, dan setelah 2 jam akhirnya Lamiah sadar dari pingsannta. Selangkah pun Irsam tak bergerak dari posisi berdirinya untuk menjaga Lamiah, tetap selalu di sisinya.


Kondisinya masih lemah, namun tekanan daranya sudah mulai turun. Beberapa dokterpun sudah saling berembuk. Akan melaksanakan operasi cepat itu. Sebab denyut nadi bayi pun sudah melemah, juga air ketubannya mulai merembes sejak tadi.


Dalam ruang steril, tampak lampu penerang sudah nyala di atas kepala para Tim yang mulai memproses persalinan darurat Lamiah tersebut. Usia kehamilan memang sangat matang dan tepat untuk di lakukan saat itu. Namun kondisi syok berat dan keadaan bayi, cukup beresiko untuk tindakan ini.


Pilihannya adalah menunggu ibu benar stabil namun bayi tidak dapat di pastikan keselamatannya. Atau di lakukan sekarang untuk menyelamatkan bayi dengan resiko besar bagi sang ibu.


Irsam bagai memakan buah simalakama. Menunggi Lamiah, bayi mungkin mati. Menyelamatkan bayi kemungkinan Lamiah juga yang akan berakhir tragis.


Operasi pun bermulai, Irsam di bagian kepala Lamiah terus merapalkan doa terbaik untuk istri kedua yang masih ia cintai. Masih memiliki tempat terindah dalam hatinta.


30 menit kemudian sudah terdengar tangis bayi menguar dalam ruang serba hijau mint itu. Kemudian bayi di serahkan pada petugas yang kemudian membersihkan, menimbang, mengukur dan memasang pakaian untuk si bayi.

__ADS_1


Hal ini tadi yang sempat di ributkan. Sebab Irsam tak membawa persiapan apa apa untuk keperluan melahirkan. Karena tujuan mereka ke rumah sakit adalah menjenguk Mattew.


Samar Lamiah mendengar deru tangis anak yang baru saja ia lahirkan, sebab bius yang di berikan tadi adalah bous lokal. Lamiah dapat merasakan betapa khawatirnya tangis getir Irsam yang sangat sungguh meminta keselamatan untuknya dan bayi.


Perawat sudah meletakan bayi laki laki itu di atas dada Lamiah dengan harapan agar sang bayi sudah langsung mengenal puuting susu ibunya. Untuk bisa menyusui sejak dini.


"Selamat sayang, kamu berhasil berjuang menjadi seorang ibu. Abang sayang Miah." Ucap Irsam bahagia saat melihat kesuksesan Lamiah telah berhasil memberikannya anak laki laki.


"Gary... jangan lupa namanya Gary bang. Adzani dia." Ucap Lamiah dengan suara melemah.


Kemudian matanya makin sayu dan tertutup rapat. Dokter belum selesai menutup sayatan untuk membuka jalan lahir bayi tadi keluar.


"Bu... bu." tepuk perawat pada pipi Lamiah. Sedangkan baby Gary sudah berada dalan gendongan Irsam agak menjauh untuk ia adzani sesuai permintaan Lamiah tadi.


Seketika ruang operasi yang tampak tenang tadi menjadi ricuh, gawat darurat kembali. Sebab Lamiah pingsan dan terjadi pendarahan hebat. Segala upaya di lakukan tim medis yang maksimal bekerja.


Tidak tangung tanggung. Lamiah bahkan memerlukan 10 kantong darah malam itu. Beryukur persediaan darah sesuai golongan darahnya cukup.


Irsam segera menyerahkan bayinya pada perawat. Ia tak sanggup lagi berdiri dengan kedua lututnya. Hatinya bergemuruh, dadanya sesak, lututnya menghadap lantai, sejajar dengan dahinya yang juga menempal pada ubin ruang operasi itu.


"Ya Allah. Ampun. Bukan dia yang mestinya Engkau hukum. Tapi aku, dua hanya korbanku ya Allah. Dia tidak salah, anak kami tidak berdosa, bahkan istriku adalah wanita yang mulia. Ambil saja nyawaku, jangan kau timpakan lagi derita tak berakhir untuknya,Tuhan." Tangis Irsam meraung raung dalam ruang operasi tersebut.


Tim medis terganggu, maka salah satu dari mereka mengangkat tubuh Irsam. Memintanya dengan sopan agar Iraam sebaiknya menunggu di luar saja. Sebab, prilakunya sangat memperkeruh keadaan yabg serius di dalam ruangan itu.


Dengan terpaksa Irsam meninggalkan ruangan itu. Kembali terduduk berlutut di depan pintu operasi, dengan doa dan harapan yang sama. Agar Tuhan tak mengambil nyawa istri keduanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2