
Lamiah, Irsam dan Adilla bagaikan keluarga kecil yang utuh dan bahagia. Hal itu tidak saja tampak dari luar atau pandangan orang lain yang melihat kebersamaan mereka. Melainkan hal damai dan tentram itu pun tak luput di rasakan oleh Irsam.
“De Miah… mengapa aku lebih merasa nyaman saat bersamamu juga hadirnya Adilla di antara kita?” Ungkap Irsam mengakui yang ia rasakan.
“Ah, itu hanya karena kebetulan kita sedang bersama saja. Saat abaang bersama mbak Lilis pun pasti merasa demikian.” Lamiah menghindar jika Irsam ingin mulai membanding-bandingkannya dengan Lilis.
“Apa benar aku sudah hilang rasa bersamanya? Tanya Irsam lugu.
“Jika demikian sebaiknya segera cari cara untuk mengembalikan rasa cinta yang pernah ada dan begitu kuat bang.”
“Hah… aku bahkan masih ingin dia masih menyandang status sebagai istriku. Atau kamu yang terlalu pintar mengambil hatiku dengan caramu mencintaiku yang sangat lembut?” Tanya Irsam lagi.
“Itu hanya karena abang inbin minta jatah dobel di malam nanti saja. Bagian dari cara abang merayu Miah saja.” Lamiah terus berkelit tak ingin memprovokasi suaminya untuk melupakan istri pertamanya.
“Hah… urusan jatah mau dobel atau triple sekalipun, apa abang harus merayumu. Bukankah kamu sendiri yang sering minta-minta untuk selalu di gempur hingga hampir adzan subuh?” Kekeh Irsam. Membuat wajah Lamiah merona merah karena malu.
“Tapi sebaiknya selama di sini kita main slow saja bang.”
“Kenapa?”
“Lihatlah teduhnya wajah bayi 7 bulan itu saat tidur, jika saja kita bermain keras. Bukan puncak yang kita dapatkan, tapi gagal maning karena harus membuatkan susu dan kembali menidurkannya.” Kekeh Lamiah meletakan kepalanya di atas lengan Irsam.
Tangan Irsam segera bergerilya menyusup bagian mana saja untuk membangkitkan gelora malam mereka.
“Abang…”
“Hmm…”
“Bolehkah malam ini kita hanya tidur, tanpa melakukan aktivitas seperti biasa?”
“Kenapa?”
“Maaf… Miah bukan mau menjadi istri durhaka. Tapi, sungguh hari ini Miah sangat merasa lelah.”
__ADS_1
“Apa karena seharianmu kau habiskan waktumu mengurus salon juga Adilla?”
“Tidak juga, salon tidak pernah lagi membuat fisikku lelah. Mereka sudah sangatpandai melayani pelanggan.”
“Adilla?”
“Adilla juga hari ini banyak bermain dengan anak-anak salon. Kadang saat ada pekerja yang senggang mereka menculik Adilla ke sebelah untuk di ajak bermain.”
“Jadi kenapa?”
“Tidak apa-apa. Ibarat sekolah bolehkan Miah libur bang.”
“Hah… permintaan yang aneh. Abang kira kamu telah candu, bahkan sakau dengan sntuhan abang.” Kekeh Irsam memilih patuh dan hanya memeluk Lamiah untuk ia bawa kedalam mimpinya.
Belum tiga hari Lilis di Lombok, tapi di hari keduanya ia kemudian mengabari Irsam bahwa ternyata pamerannya di laksanakan lima hari. Dan hari ke lima adalah puncak acaramnya. Sehingga ia meminta untuk memperpanjang ijin pada suminya. Irsam belum memberi jawaban. Sedikit bingung hrus sedih atau justru bersorak kegirangan, seb artinya ia akan memiliki bnyak waktu bersama Lamiah.
“De Miah sayang…” panggil Irsam.
“Tampannya suamiku.” Kecupnya di bibir Irsam singkat.
“Terima kasih istriku yang cantik.” Puji Irsam tak mau kalah.
“Sayang… tadi Lilis mengirim chat. Katanya kegiatannya di perpanjang, jadi dia kembali meminta ijin untuk menambah waktu di sana.” Cerita Irsam saat mereka suah di meja makan saat sarapan pagi.
“Abang beri ijin?”
“Belum abang jawab.”
“Kenapa?”
“Mengapa perasaan abang setelah dia punya usaha sendiri ia terasa mengabaikan kami. Abang dan Adilla pastinya.”
“Hal itu wajar terjadi, sebab usahanya baru menetas. Jadi masih sangat bersemangat. Mas harus bangga. Penghasilannya bahkan sudah hampir mengalahkan penghasilan salonku yang sudah berjalan seusia Adilla.”
__ADS_1
“Iya… tapi abang tidak memerlukan bhasil dari usaha kalian. Pekerjaan yang kalian berdua gelutiini hanya untuk hiburan, untuk memgalikan pikiran kalian agat ada kesibukan selaian saling cemburu saja. Bukan soal bersaing siapa yang penghasilannya lebih besar. Bagaimanapun, abang masih sanggup menafkahi kalian berdua secara materi.” Urai Irsam yang memang selalu bertukar pikiran dengan Lamiah seperti dengan seorang teman.
“Kalau saran Miah. Sebaiknya abang sampaikan padanya. Bicarakan baik-baik. Tegaskan lagi tentang tujuan abang memberi jalan usaha ini. Jangan sampai dia khilaf hanya demi mengejar rupiah, padahal tanpa bekerjapun dia tidak akan miskin tujuh turunan.”
“Jadi abang bagaimana?”
“Susul dia ke sana. Sekalian honeymoon lah. Bagaimanapun membicarakan hal baik di tempat yang baik tentu akan bisa di terima dengan baik.”
“Tapi minggu ini kan jatah abang bersamamu.”
“Tidak usah se kaku itu. Miah memang wanita kedua tapi jangan lupa, Miah cinta abang. Miah tidak pernah ingin merusak rumah tangga abang dan mbak Lis. Miah hanya minta secuil sja tempat di hati abang. Maka, Miah tidak mau rumah tangga abang hancur di hadapan Miah, apalagi karena kehadiran Miah.”Ucap Lamiah lirih.
“Hah… abang sungguh hanya terlambat berjumpa denganmu.”
“Sudahlah… asal termiliki walaupun berbagi itu sudah cukup bang.”
“De Miah mengijinkan abang terbang ke Lombok siang ini?”
“Silahkan. Tambahkan saja lagi waktunya. Ambillah waktu sebanyak mungkin untuk abang dan mbak Lis bisa kembali meluruskan cinta yang pernah retak itu. Miah orang yang paling sakit kaua abang dan mbak Lilis hancur. Bantu Miah mewujudkan cinta ini, yaitu bahagia melihat abang dan mbak Lis tetap langeng.” Harapan Lamiah tulus. Irsam tidak hanya mencium kening Lamiah, tapi juga bibirnya. Ciuman yang awalnya hanya sesapan halus, berubah dengan decakan dalam lama.
“Adilllaaa…. Oh, maaf.” Vinsa masuk rumah tanpa permisi sebab mengira Irsam sudah berangkat ke kantor. Sehingga maksudnya tadi ingin menjemput Adilla untuk di mainkan di sebelah.
Irsam dan Lamiah tentu saja terperanggah dan segera melerai pertautan bibir mereka yang tiba-tiba panas pagi itu, mungkin efek ga ada gerakan di malam harinya.
Kemudian Irsam berpamitan unutuk pergi ke kantor sekaligus akan langsung terbang ke Lombok untuk mengikuti saran Lamiah. Sebab yang Lamiah sampaikan itu ada benarnya. Dan Lilis pun bukan tipe istri yang bisa di berikan penjelasan dengan kasar. Kecuali di beri pengertian dan penuh rayuan. Itulah Lilis yang Irsam kenal sejak awal, celakanya ia cinta. Walau kini posisinya mulai terancam oleh halus dan lembutnya cara Lamiah memahaminya, menempatkan dirinya sebagai orang kedua yang tak pernah terlihat ingin mendominasi tapi bagai pembunuh berdarah dingin. Pelan menjalar merusak akar dengan menyiraminya dengan kasih sayang. Hingga yang bersangkutan tak sadar bahwa ia sedang meretas dengan gerakan bawah tanah tersebut.
Apakah Lamiah benar licik?
Atau memang Lilis lah yang sudah lengah mempertahankan posisinya?
Atau Irsam masih tak tegas dalam hal menunjukan kasih sayangnya pada kedua istrinya?
Bersambung...
__ADS_1