LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 85 : MENGHAPUS RASA


__ADS_3

"Saat kamu membaca surat ini dunia kita sudah berbeda. Bersyukur saja...!!


Sebab tak ada lagi orang yang membuat hatimu cemas bersaing untuk melindungi Lamiah Pradipta.


Saya hanya perlu 3 hari untuk memastikan kebaikan hatinya. Dan memiliki waktu kurang lebih 4 bulan dekat dengannya. Entah denganmu?


Bagi saya Lamiah adalah sosok wanita tangguh, mandiri juga tidak cengeng. Namun itu membuat kandungannya bermasalah. Membuat tekanan darahnya tak pernah di bawah. Untuk itu tolong kawal dia hingga masa persalinan tiba. Sebab baginya Gary lah alasan untuknya tetap hidup.


Ada beban besar di balik setiap senyumnya. Yang tak pernah ingin ia tunjukkan pada siapapun. Termasuk kamu, suaminya.


Ia pernah berkata jika ia menyesal pernah menerima tawaran sahabatnya untuk menjadi madu. Tetapi ia pun tak bisa semudah itu untuk pergi sebab ia sangat mencintaimu, lebih dari apapun. Melebihi apapun!!!


Jika ia memiliki kesempatan untuk meminta pada Tuhannya. Bukan memilikimu atau menjadikan ia satu satunya dalam hatimu. Melaiankan, ia minta Tuhan menghapus rasa cinta yang terlanjur dalam untukmu.


Saya bukan siapa siapa Lamiah Pradipta, hanya orang yang kebetulan singgah dan di ijinkan sesaat bersama. Untuk itu, demi rasa pertemanan yang pernah kental di antara kami.


Tolong, lepaskan dia dari jerat cintamu yang tak terlihat namun dapat ia rasakan itu.


Tolong, ijinkan dia bahagia dengan tidak bersamamu. Sebab cintamu pelan pelan akan membunuhnya.


Tolong, kembali utuhkan cinta pada keluarga dan istri pertamamu, sebab itu satu satunya cara untuk membuatkan terlepas dari rasa bersalahnya selama ini.


Jikalau kau cinta, bebaskan dia tanpa syarat. Doakan dia agar kelak bertemu dengan cintanya yang tak berbagi lagi.

__ADS_1


Maaf saya lancang. Hanya ingin bilang, Lamiah Pradipta pantas bahagia." Isi surat Mattew.


Airmata Irsam jatuh berderai. Kini ia membacakan surat itu di sebelah tubuh kaku dengan beragam jalur selang infus dan lainnya yang terhubung antara tubuh Lamiah dan alat medis tersebut.


"Oh de Miah... bahkan Mattew yang baru kemarin sore bertemu kamu pun tau, betapa baiknya hatimu. Dan betapa bo dohnya aku yang menyiakanmu." Irsan mengelus Tangan pucat itu.


"Sadarlah de, bangun... Dan katakan apa yang harus abang lakukan untukmu. Abang tau ini adalah hukuman untuk abang. Tapi janganlah kamu yang menanggung derita sendiri. Kamu tidak akan pernah jadi yang kedua, jika abang tak menerimamu. Kamu tidak akan sesakit ini jika bukan karena abang yang tak pernah bisa adil padamu. Sayaaaaang... bangun. Gary butuh kamu. Jika cerai adalah satu satunya yang kamu inginkan, bangunlah abang akan wujudkan itu, asalkan, kamu bahagia." Irsam masih bergumam tak hentinya mengungkapkan apa saja yang ingin ia ungkapkan.


Lima hari berlalu, Irsam tak pulang ke rumah, selama itu pula Lamiah belum menunjukkan tanda tanda untuk bangun, masih dalam keadaan koma. Kadang Nila datang membawa beberapa berkas untuk di tanda tangani oleh Irsam. Demikian juga Lilis, yang sering datang membawakan makanan dan pakaian ganti untuk Irsam.


Lamiah tak sadarkan diri, dan berada dalam satu ruangan khusus yang boleh di masuki juga di jaga oleh satu orang dengan fasilitas sebuah sofa yang bisa di gunakan untuk tiduran.


"Mas... sesekali pulang dan istirahatlah di rumah. Suasana rumah sakit tak baik untuk kesehatanmu." Pinta Lilis saat menemani Irsam makan siang di kantin Rumah Sakit itu.


"Kasihan Gary. Ia perlu ASI dan sudah sehat, sudah waktunya pulang ke rumah." Lanjut Irsam lagi.


"Apa tangisan Gary tak membuatnya bangun juga mas?" tanya Lilis lagi.


"Beberapa kali pernah ku bawa Gary ke dalam. Agar Miah segera bangun dan iba saat mendengar tangisan anaknya. Tapi tetap tak ada respon. Sungguh ini di luar pikiranku. Bahkan sedalam itu kepatah hatian Miah, karena aku." Ujar Irsam membalik sendok dan garpu di atas piring makan yang telah habis.


"Bukan mas. Tapi kita. Ini salah kita, salah ku yang utama. Boleh aku menebus dosa dengan membawa Gary pulang dan merawatnya di rumah? Sebab suasana rumah sakit tak selamnya baik." pinta Lilis yang ingin berbuat baik.


"Hah? Konsulkan dulu pada dokter dan sebaiknya kamu sampaikan pada Miah." ujar Irsam yang tak berani mengambil keputusan.

__ADS_1


"Miah... maaf. Kamu begini karena aku. Aku yang sudah tak pantas di sebut sahabat lagi untukmu. Terlalu berat beban yang kau pikul karena keegoisanku. Bangunlah, pulanglah ke dunia ini. Akan ku tebus semua salahku, akan ku lakukan apapun asal kamu memaafkanku. Ampuni aku Miah... ampun. Gary mu sudah seharusnya pulang, dia sehat dan perlu ASI mu. Bangunlah Miah. Atau aku yang akan menyusuinya, dan menganggapnya seperti anak kandungku sendiri?" entahlah itu sebuah permohonan atau sebuah kalimat ancaman.


Sontak kalimat tersebut seolah sampi di telinga Lamiah, tubuhnya terguncang, matanya membeliak, tangannya menarik narik selang dan apa saja yang bisa ia tarik dengan kasar.


Lilis panik, berlari menghambur ke arah luar sembari melolong minta tolong, dengan wajah ketakutan dan cemas.


"Tolong... tolong dokter!!! dokter!!!" teriaknya keras histeris.


Padahal ia cukup memencet bel untuk memanggil dokter atau perawat. Namun karena panik ia pun lari terbirit birit mencari pertolongan.


Irsam sejak tadi di ruang bayi, berusaha memberi Gary susu menggunakan dot. Ia, kini Irsam terlihat trampil merawat bayi itu, sangat jelas guratan penyesalannya tersampir di wajah yang di tumbuhi jambang tak beraturan itu.


Tim dokter sudah berada di dalam ruang rawat Lamiah, untuk memeriksakan keadaannya. Sementara Lilis tak di ijinkan masuk untuk memberi keleluasaan bagi pihak medis untuk fokus pada keadaan pasien


Jika beberapa hari yang lalu Irsam yang tersungkur penuh harap di depan pintu operasi, kini giliran Lilis yang mengiba, mohon belas kasihan pada sang maha kuasa, meminta kesempatan sekali saja untuk Lamiah bisa hidup. Untuk ia perlakukan dengan baik, sebagaimana seharusnya ia perlakukan Lamiah. Sebagai madu yang ia inginkan itu.


Semua alat yang menempel di tubuh Lamiah sudah terlepas kecuali cairan infus yang masih di perlukan untuk memastikan asupan gizi makanan yang masuk untuk menjaga staminanya pasca operasi melahirkan.


Untuk sementara dokter menyimpulkan jika secara fisik sudah membaik, kecuali luka bekas opeasinya yang masih membutuhkan waktu beberapa minggu untuk sembuh.


Namun karena tekanan darah yang terlampau tinggi sebelum melahirkan kemarin juga sempat syok berat. Lamiah di nyatakan mengalami demensia vaskular disebabkan oleh gangguan pembuluh darah di otak.


Kondisi ini membuat Lamiah mengalami penurunan memori dan perubahan cara berpikir, sehingga tampak perubahan pada perilaku dan cara bicara.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2