LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 46 : REMAJAKAN LAGI


__ADS_3

Mama Irsam sudah kembali ke rumah Irsam. Masuk kamar Adilla dan mendapatkan Lilis sedang memberikan ASInya. Sambil menatap mata bulan yang juga memandangnya dengan tatapan sayu mulai mengantuk.


"Adilla sudah tidur Lis?" tanya mama Irsam lembut.


"Iya... Adilla anak pintar, tidak cwrewet. Asal sudah kenyang tidurnya lama sekali."


"Dia prematur Lis?"


"Iya ma."


"Kenapa?"


"Aku kekurangan cairan. Dehidrasi berat."


"Kok bisa?"


"Itu murni kesalahanku ma. Lupa jika sedang hamil. Terlalu larut dalam kesedihanku sendiri tanpa memikirkan efek untuk kandunganku."


"Apa saat itu kalian sedang bertengkar?"


"Sejak Lamiah pergi dari rumah ini, mas Irsam tidak pulang. Sepertinya dia hanya sibuk mencari keberadaan Lamiah. Dan benar dia menemukannya. Aku takut sendiri dengan ancaman yang Lamiah tulis pada suratnya. Bahwa jika dia di temukan, aku akan kehilangan suami yang mencintaiku seperti dahulu. Tentu saja aku merasa cemas. Saat mas Irsam pulang. Dan berkata jika ia sudah menemukan Lamiah. Yang pulang hanya raganya ma, tapi tidak dengan jiwanya. Ia dingin sekali terhadapku. Itu yang membuatku stres, lupa makan bahkan lupa jika sedang hamil. Sehingga aku terpaksa melahirkan sebelum waktunya, bahkan sempat koma setelah melahirkan."


"Maaf, mama tidak ada saat kamu butuh dukungan."


"Tidak ma. Semua itu terjadi juga bukan karena Lamiah. Aku sadar, di sini akulah yang patut di salahkan. Aku yang jahat padanya, aku memeperlakukannya bagai seorang pembantu, sengaja memintanya mencari ini dan itu, dengan alasan ngidam. Yang ternyata dia pun sedang hamil muda. Dan akhirnya mengalami keguguran. Aku sudah menerima hukumanku ma." Tangis Lilis pecah di pelukan mama mertuanya.


"Maaf sayang. Boleh mama tau mengapa kamu berani mengambil dia jadi madumu?"


"Aku tidak hanya memintanya tapi sudah memaksanya. Mengancam mas Irsam agar mau menikahi sahabatku. Dia baik ma... wanita baik-baik, sopan dan penurut. Aku kasihan padanya jika akan salah memilih jodohnya."

__ADS_1


"Jika dia baik, mengapa mau jadi orang ketiga?"


"Karena ia sangat penurut. Hingga permintaan konyolku pun tidak bisa ia tolak."


"Menurutmu mereka sudah berjalan sesuai inginmu?"


"Tidak. Mereka sudah saling cinta ma. Dan aku baru meyesali permintaanku sekarang."


"Bagaimana jika kamu minta mereka akhiri saja pernikahan mereka."


"Itu tidak mungkin aku lakukan ma. Mereka tidak akan mau di pisahkan."


"Bukankah Lamiah penurut padamu."


"Itu dulu. Tapi tidak dengan sekarang. Lagi pula, syarat pertama yang mas Irsam ajukan dulu adalah apapun yang terjadi di masa depan. Aku tidak boleh menyesal. Ternyata ini yang mas Irsam maksudkan. Sungguh aku sendiri tak sampai berpikir sejauh ini. Ku kira mereka dapat aku kendalikan sesuai keinginanku. Tapi... mas Irsam benar. Mereka bukan boneka, mereka punya rasa juga hati. Maka, cinta mereka benar telah bersemi dan tumbuh." Lirih Lilis mencurahkan semua isi hatinya pada mertuanya.


"Tidak terlambat untuk memisahkan mereka. Bicarakan baik-baik dengan mereka berdua. Minta kembali suamimu hanya akan menjadi suamimu sendiri."


"Saat kamu minta suamimu menduakanmu dengan sadar juga kamu taruh di mana mukamu?" nada suara mertua Lilis terdengar agak meradang, tentu saja di gondok, semudah itu tanpa alasan jelas ia membagi cinta suaminya.


"Itulah salahnya aku mah. Parahnya lagi aku yang tak sungguh ikhlas berbagi. Padahal mereka sangat menjaga hatiku, dengan tidak pernah bermesraam di depanku. Sedanhkan aku, seolah sengaja mengumbar bahwa mas Irsam sangat masih berat padaku. Salahku ma. salahku."


"Mama sudah bicara dengannya. Dia bersedia bercerai dengan suamimu asal kamu sendiri yang memintanya. Jadi saran mama, segera kamu rebut kembali suamimu."


"Kapan mama bicara dengannya?"


"Kemarin. Mama mendatanginya ke rukonya. Irsam sudah membelikannya ruko 3 pintu dua lantai. 2 pintu khusus untuknya menjalankan bisnis salonnya. Dan 1 pintu lagi khusus mereka jadikan rumah tempat mereka membina rumah tangga mereka, layaknya suami istri." Mama Irsam sengaja menyampaikan itu, agar Lilis bangkit dari keterpurukan rumah tangganya sendiri.


"Apa mereka benar seperti rumah tangga normal lainnya ma?"

__ADS_1


"Menurut pantauan mama, iya. Kemarin mama sempat makan siang di sana. Sebab ia selalu memasak sebab Irsam akan selalu pulang untuk makan siang bersama di ruko itu."


Lilis mengigit bibirnya sendiri. Membayangkan betapa harmonis rumah tangha sahabatnya dengan suaminya. Bagaimana dengan dia? yang saat sekarang melayani suamipun belum bisa sebab masih di masa nifas. Tentu saja Irsam akan lebih kenyang pulang ke sana, dari pada menemuinya.


"Menurut mama. Pilihannya hanya dua. Segera buat mereka bercerai. Atau kembalikan dia ke rumah ini. Agar kamu bisa lebih intens mematau kedekatan mereka. Walaupun kamu buat pembagian waktu seminggu di sana dan seminggu di sini. Tapi kalau tiap hari dia pulang ke sana untuk di layani sebagai suami. Percuma kan?"


Lilis memandang lekat wajah mertuanya. Mencari kebenaran di sorot mata itu.


"Lilis harus pilih opsi yang mana ma?"


"Tanya hatimu... sesungguhnya akan tetap ingin berbagi cinta. Atau di cintai oleh suamimu dengan utuh. Semuamya berawal dari keputusanmu, semoga kamu masih berhak untuk mengakhirinya."


"Mama marah pada Lilis?"


"Mama tidak marah. Hanya sekedar kecewa dengan rumah tangga kalian. Tapi semua sudah terjadi. Perbaiki saja jika masih mungkin bisa di perbaiki. Bicarakan baik-baik dengan suamimu.


Usia Adilla sudah 30 hari. Cek kesehatan rahimmu dan jahitan pasca operasimu. Pergilah berbulan madu. Remajakan kembali hubungan rumah tanggamu. Saat kalian sedang berdua saja. Pastikan hanya kamu, Faizal dan Adilla yang dia hubungi. Jika, ada ia hubungi dan menghubungi Lamiah. Artinya rumah tanggamu tidak bisa di selamatkan. Sebab ia benar telah membagi hatinya untuk wanita kedua. Dan itu tidak bisa di salahkan. Sebab kamu yang mengundangnya. Dan ia berhasil bertamu dan mencuri suamimu."


"Bagaimana dengan Adilla. Masa ia akan ku tinggal dengan baby sister?"


"Mama tidak akan kembali ke Turki sampai kalian berangkat dan pulang kembali ke rumah ini." Mama Irsam meyakinkan dan sangat dengan sepenuhnya mendukung rumah tangga anaknya, agat tidak benar benar luluh lantak.


"Maaf merepotkan mama."


"Mama tidak pernah merasa di repotkan. Sesungguhnya mama malu memiliki putra seperti Irsam. Yang begitu tega menyakiti hati wanita sepertimu."


"Mas Irsam tidak pernah berniat menduakan aku ma. Ini permintaanku."


"Sayang... walau di minta, di paksa di ancam sekalipun. Cinta ya cinta, tidak akan pernah goyah." Ujar mama Irsam mengakhiri obrolannya dengam Lilis.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2