
Sholat subuh berjamaah Irsam dan Lamiah lakukan untuk pertama kalinya saat menjadi pasangan suami istri yang telah sah.
Jika mengikuti kata hati, Irsam lagi-lagi ingin menyeruduk tubuh molek yang sudah membuatnya candu.
"Dede Miah kenapa tidak buat jejak merah di dada abang... Hmm?" tanya Irsam sedikit manja saat ia mengganti pakaian kokonya dengan kaos casual.
"Sayaang... Dede hanya wanita kedua. Setelah ini abang harus kembali ke kamar mbak Lilis. Abang harus mampu berlaku adil pada kami. Sekecil apapun tanda yang dede buat di tubuh abang, tentu akan menoreh luka besar di hatinya." Jelas Lamiah yang masih sadar jika ia memang hanya berbagi suami dengan sahabatnya.
"Abang makin cinta dede Miah kalo begini. Terima kasih pengertianmu sayang." Ucap Irsam sambil bertubi-tubi menempel-nempelkan bibirnya kesembarang arah di seluruh wajah istri keduanya.
"Abang ke kamar mbak Lilis gih. Bagaimanapun ia pasti sedih dan belum terbiasa tidur tanpa abang di sisi. De Miah sudah biasa dalam kesendirian bang." Usir Lamiah secara halus pada suaminya tersebut.
"Lilis harus segera terbiasa. Lagipula kita bahkan belum 24 jam menjadi suami istri. Dia pasti mengerti jika kita butuh privasi."
"Jangan membuatnya merasa bersalah akan pilihan yang sesungguhnya sulit untuk ia terima bang. De Miah juga wanita, jujur dari hati yang paling dalam, seaungguhnya de Miah tidak sanggup untuk berbagi cinta. Apa lagi abang adalah suami yang..." Kalimat Lamiah tertahan, pikirannya kembali pada adegan-adegan menakjubkan beberap jam yang lalu.
"Yang apaa...?" cecar Irsam mengangkat dagu Lamiah tinggi sejajar dengan wajahnya, ingin meraup lagi ranum bibit merah buah delima itu.
"Luar biasa... Dahsyat, memabukkan." Tegas Lamiah yang kemudian menyambar dengan mudah bibir kecoklatan yang siap di sesap di depannya.
Ada pertautan lidah kembali terjadi hanya dalam sepersekian menit. Namun, terhenti, di hentikan oleh Lamiah sendiri.
"Cukup sayang, pulang kandang gih. Induk semang pasti sudah menanti." Dorongnya pada Irsam yang seolah terhipnotis dengan pintanya.
Di kecupnya sayang kening istri keduanya, dengan berat hati ia tinggalkan wanita yang aja sah di milikinya.
"Berlakukah sebiasa mungkin, seolah tak ada badai cinta yang terjadi di sini." Ucap Lamiah menunjuk dada bidang suaminya.
__ADS_1
"Berjanjilah untuk percaya, bahwa kini dalam hati ini. Sudah terukir namamu sayang." Rayu Irsam yang memang telah di buat gila oleh Lamiah, yang bahkan belum sehari menjadi istrinya.
"Walau hati abang mendua cinta. Percayalah, hati de Miah hanya ada abang seorang." Lamiah tak ingin kalah merayu suami yang sesungguhnya ingin ia miliki seorang diri.
Irsam mengusap wajahnya kasar, tak sanggup mendengar janji, puji yang sangat menohok di hatinya. Betapa kini ia telah menoreh cinta di dua hati wanita yang tak boleh ia pilih salah satunya.
Benar saja, bahkan kamar Lilis tak terkunci. Menurut pikiran singkatnya, sepanjang malam tentu istri pertamanya itu menunggunya kembali.
Dan betapa terkejutnya Irsam, melihat tubuh Lilis wanita yang ia cinta itu, terlontar lunglai di atas sajadah dalam tidur nyenyaknya.
Irsam meraih tubuh itu dengan pelan, lalu membaringkannya di atas kasur empuk milik mereka.
Mata Lilis tak sempat terbuka sempurna, seolah berada dalam mimipi. Merasakan tubuhnya berada dalam pelukan hangat, nyaman dan sangat ia rindukan.
Cahaya matahari sudah menerobos di celah-celah jendela kamar Lilis. Mengerjabkan matanya, lalu menyadari ada tangan kekar melintang di atas perutnya seperti pagi-pagi sebelumnya.
Memejamkan mata kembali, memberikan waktu untuk otaknya memindai hari yang berlalu, memastikan dan menyadari jika kini statusnya telah menjadi istri pertama.
Lilis tercekat. Berusaha bangkit, mengesot duduk menepi ke kepala ranjangnya. Pergerakan itu tentu membangunkan Irsam yang sungguh terlelap dengan nyenyak setelah pertarungan dahsyat dengan istri mudanya, dan berlabuh tidur di saat fajar menyingsing dengan istri tuanya, indahnya dunia Irsam.
"Mas... Kenapa tidur di sini? Ada apa dengan Miah?" Cecar Lilis seketika saat bibir suaminya sudah mengecup keningnya.
"Hmm... Tidak ada apa-apa dengannya. Mas, hanya merasa merindukanmu." Jawab Irsam klasik.
"Tapi mas... Kalian itu pengantin baru. Masa bahkan belum sehari bersamanya, mas sudah tinggalkan dia?" selidik Lilis yang sesungguhnya merasa senang suaminya benar masih memikirnya walau telah memiliki istri muda.
"Sayang... Mas ke sini ingin memelukmu, masih ingin berbagi bantal denganmu. Kamu tetap ratuku, tidak semudah itu bagi mas tiba-tiba harus meninggalkanmu, walau hanya beberapa waktu." Rayu Irsam. Ya... Sepertinya Irsam semakin pandai memainkan perannya dalam hal meyakinkan dua wanitanya.
__ADS_1
"Jangan bilang mas belum memberikan hak pada Miah." Sentak Lilis menuduh suaminya tidak menunaikan tugasnya dengan benar.
"Sudah... Ratuku tanya saja padanya. Semua titah permaisuri sudah mas laksanakan. Hanya jangan minta mas jabarkan rasanya. Sebab bagaimanapun, kamulah yang terbaik." Oh, no. Irsam benar-benar telah menjadi perayu ulung.
Lilis menyergap tubuh Irsam, duduk sekehendak hatinya di atas tubuh suaminya, meloloskan kaos casual yang membalut tubuh suaminya. Memeriksa setiap inchi tubuh itu, dengan penuh ketelitian. Dan ternyata benar saja, tak satupun jejak tertinggal di sana. Membuat hatinya terlonjak senang, merasa menang. Bahwa ialah satu-satunya wanita yang dapat memuaskan suaminya, walau telah berubah status saat suaminya beristri dua.
"Cari apa sayang...?" goda Irsam yang akhirnya membenarkan sendiri dalam hatinya, bahwa benar saja yang di katakan Lamiah akan hal jejak kecil yang mungkin saja menoreh luka besar di hati Lilis.
"Jejak cinta sayang." Jawab Lilis jujur.
"Hah. Sudah mas bilang. Dia tak seluar biasa dirimu." Jawab Irsam yang menuntun tangan Lilis menuju naga peliharaannya, yang sebenarnya sedang ingin tidur manis saja akibat mukbang semalam.
"Gombal. Matahari sudah tinggi mas. Kita bangun saja. Walau permainan kalian tidak sesuai ekspektasimu, bagaimanapun juga tetap banyak sudah mengeluarkan tenaga kan sayang." Ujar Lilis tersenyum puas melihat benar tak ada bercak jejak sisa ber cinta di tubuh suami kesayangannya.
"Ratuku... Boleh pagi ini mas makan di kamar saja. Dan di suapi olehmu?" Pinta Irsam mendadak manja, seolah benar ia hampir tak bisa hidup tanpa Lilis sang istri pertama.
"Iih... Mas manja banget siih. Bukannya minta suap sama Miah saja sayang?" Lilis mencoba memberi pilihan yang sesungguhnya ia sendiri tak ingin memberikan kesempatan itu pada Lamiah.
"Sayang... Bisa? Kalau kita sedang berdua tidak perlu menyebut namanya. Bahkan buat lah seolah dia tak ada. Saat mas bersamamu, biarkan dunia ini tetap serasa hanya milik kita berdua. Isinya cuma kita berdua saja sayangku. Pliiis" Rengek Irsam memasang wajah sungguh.
"Maaas... Mengapa kata-katamu seolah bilang kalau mas masih tak sungguh menerima Miah sebagai istrimu Mas?"
Bersambung...
Like, komen, gift reader
Selalu membuatku ingin segera up
__ADS_1
Makasih ya🙏