
Lama Lilis merenungi akan yang mama mertuanya sampaikan padanya. Sungguh luar biasa wanita yang telah melahirkan suaminya tersebut.
Tidak menyalahkannya, bahkan meminta maaf dan memgakui betapa ia malu atas perbuatan putranya. Padahal tidak sepenuhnya salah Irsam. Sebab Lilis yang membuka jalan.
Namun sesuai persyaratan yang Irsam ajukan di awal, ia memang tak boleh menyesal. Maka, mulailah Lilis bertekat, sungguh benar ia harus bisa merebut hati suaminya kembali.
Bagaimanapun Lamiah adalah orang ketiga yang ia undang. Benar yang mama Irsam katakan, ia pun memiliki hak untuk memusnahkan Lamiah dari dalam rumah tangganya.
Sepekan berlalu, Irsam tampak selalu bersemangat menjalani harinya. Irsam berperan sebagai ayah yang hangat bagi Faizal, dan dalam sehari wajib baginya menimang Adilla. Di malam hari pun, ia tak pernah alfa untuk memeluk tubuh Lilis di atas tempat tidur mereka, tanpa aktivitas suami istri sebab masa nifas Lilis memang belum berakhir sempurna. Tetapi Irsam sungguh dapat memainkan perannya sebagai suami yang baik, seperti sediakala.
"Mas... minggu depan jatah mas bersama Lamiah. Jadi, mas tidak perlu pulang kerumah. Setelah ku pikir-pikur akan lebih adil dan mudah penghitungannya. Jika seminggu sini dan seminggu di sana." Ucap Lilis saat merapikan pakaian Irsam yang akan berangkat ke kantor.
"Bagaimana jika mas kangen Adilla dan Faizal?"
"Tapi dia pun pasti rindu ada suami yang selalu di sampingnya sepanjang malam hingga pagi menjelang."
"Ratuku yakin...?"
"Bukankan kita sudah sepakat akan memulainya lagi dengan adil?" pertanyaan Lilis sungguh menohok Irsam. Benar saja selama ini dia lebih banyak tidur di rumah bersama Lilis dan bercengkrama dengan anaknya. Tetapi di jam makan siang, ia selalu berupaya menikmati sajian yang Lamiah suguhkan. Baik itu makanan untuk lahir maupun batinnya. Apakah itu yang mereka gadangkan sebuah keadilan?
Irsam memilih setuju dan bersedia saja untuk tidak pulang selama seminggu, sesuai permintaan Lilis. Ia pun pamit baik-baik pada mama dan papanya. Akan berada di rumah istri mudanya. Dan hal itu di sambut baik oleh kedua orang tuanya. Yang tidak melarang mereka berpoligami, asal sesuai dalam hal menjalankannya.
"De Miah... kenapa abang merasa bersalah pada Lilis. Beberapa minggu lalu, abang memang selalu tidur di sana, tapi tetap selalu makan siang dan di kenyangkan olehmu di sini. Apa itu artinya abang sudah tidak adil pada mereka?"
"Sebenarnya siang atau malam tidak ada pengaruhnya. Yang penting di sini senang di sana senang, artinya abang sudah adil. Hanya, karena abang tidak pamit baik-baik, seolah kita memang curang lagi."
"Tapi di sana abang memang lagi parkir bebas yang, ga bisa fi nafkahi batinnya. Bolehkan abang larinya ke sini."
__ADS_1
"Abang... bikin de Miah sedih saja. Fix bang, Miah hanya istri pemuas naf su abang saja jadinya. Dosa lagi kita bang."
"Jadi gimana?"
"Sama-sama kita belajar untuk menahan diri. De Miah bantu deh. Ga akan siapkan makanan jiwa dan raga untuk abang, jika bukan jadwal Miah. Kita harus patuhi komitmen yang kita buat dan sepakati. Oke suamiku sayang?"
"Baiklah... Lilis kesulitan dengan pembagian yang dia buat per 3 hari. Jadi lebih mudah putarannya per minggu saja katanya."
"Oke deal. Ingat... minggu depan ga boleh makan siang ke sini ya bang."
"Siap sayangku."
"Sudah tidurlah, selamat malam suamiku tercinta."
"Heeemm, yang..."
"Ada apa?"
"Kenapa bang?"
"Abang mau kerjanya mulai malam ini. Abang ingin de Miah segera hamil. Supaya ga kesepian kalau abang lagi di sana." Lamiah duduk dan melucuti pakaiannya sendiri.
"Kerja rodi sampai pagi?" tantang Lamiah tentu saja membuat Irsam tak ingin menunda waktu untuk lembur di atas kasur.
Sepekan bagai sehari bagi dua sejoli yang sedang di mabuk asmara. Antara cinta dan gairah belaka sudah tak bisa di bedakan. Dan semanis apapun penampakan rumah tangga itu, tetap saja mereka bukan pasangan sempurna, sebab bahagia di atas tangis sang istri pertama.
Walau mereka hanya beraktivitas di rumah, toh kemesraan mereka tak kalah dengan pasangan pengantin baru yang sedang menggebu-gebu. Sungguh Lamiah selalu mampu membuatnya candu. Hah... apa kabar Lilis yang bahkan telah hampir sewindu melayaninya, kemana saja rasa cintanya.
__ADS_1
Irsam sudah kembali kerumah, memeluk rindu Faizal dan Adilla anak-anaknya. Menatap bingung dengan koper yang tersedia di kamarnya dan Lilis.
"Ratuku... Siapa yang akan bepergian?" tanya Irsam selesai mandi sore sepulang kantor.
"Kita akan pergi berbulan madu rajaku. Kamu tau... aku sangat rindu dengan semua sentuhan suamiku tersayang." Jawab Lilis menyambar bibir tebal suami yang tentu masih miliknya.
"Istriku penuh kejutan. Kapan kita berangkat? dan kemana?"
"Besok... kita ke Wakatobi. Kita berada di sana 5 hari, 4 malam."
"Bagaimana Adilla?"
"Ada mama yang sudah terbiasa mengurusnya." Jawab Lilis yang bahkan sudah berhasil melepas semua kemeja kerja Irsam yang memang baru pulang kantor.
"Waaw... ratuku sudah sangat rindu?" Goda Irsam dengan tangan yang tak berpindah dari bok ong yang ia remas sejak tadi.
"Kenapa...? rajaku sudah kenyang makan di sana?" pertanyaan Lilisbtak di jawab Irsam. Ia lebih memilih menggendong tubuh wanita yang pernah sangat di gilainya dalam hal mencinta. Melakukan hubungan suami istri di kamar mandi, di dalam bath up. Seperti masa-masa yang pernah mereka lewati manis bersama.
Lilis dengan sungguh melayani suaminya, bahkan hati kecilnya berkata tidak ada yang berubah dari suaminya. Irsam masih panas menggelora, sentuhan, cumbuan, desakan dan hentakannya. Masih seperti yang dulu. Lilis yakin, ia masih ada dalam hati suaminya.
"Terima kasih ratuku, kamu memang selalu luar biasa melayaniku."
"Jangan lupa, aku sudah kasih anak dua buat mas. Mungkin saja semuanya sudah memgendor. Tidak sekencang warung sebelah." Pancing Lilis.
"Kalian berdua memiliki keunggulan masing-masing. Dan mari bersepakat untuk tidak saling membandingkan. Sebab kamu tak pernah sama dengannya, dan dia tidak akan pernah bisa sepertimu. Tapi satu yang harus kalian percaya, bahwa sekarang kalian berdua sudah bertahta di hatiku."
"Maafkan aku suamiku. Semua terjadi karena kesalahanku. Mestinya aku berpikir jauh, sebelum mengambil kesepakatan itu."
__ADS_1
"Ini sudah terjadi, mas terlanjur jatuh cinta padanya. Dan, maaf selama kamu masih masa nifas, siangnya mas selalu menyambanginya. Minta untuk di layani. Semoga ratuku memaafkan dan meridhoi perbuatan kami yang tidak adil padamu. Mas bicara begini, tidak bermaksud untuk memanasimu, hanya tak ingin ada dusta lagi di antara kita. Lilis Listiana, kamu masih ratuku. Mas masih milikmu." Lilis makin terpenjara dalam buaian rayu suaminya. Merasa pahit saat mendengar pengakuan suaminya, namun menerima dengan tabah atas kejujuran itu. Mungkin itulah indahnya berbagi.
Bersambung...