
Sebulan sebelum kepulangan Lamiah, tentu telah banyak menguras waktu, tenaga juga dana dari Irsam dan Lilis.
Sebab mereka telah benar-benar sedikit mengubah tatanan dalam rumah mereka demi untuk menyiapkan kamar untuk Irsam dan Lamiah jika nanti mereka akan menikah.
Kamar itu masih dalam satu lantai dengan kamar Lilis dan Irsam yaitu di lantai 3. Kamar mereka hanya terpisah ruang tengah atau lebih tepatnya di sebut sebagai bar mini.
Sehingga seolah di lantai itu di sulap bagai sebuah tatanan sebuah lobby sebuah hotel yang terdapat beberapa kamar yang siap di tempati sesuai pemiliknya.
Kamar mereka di buat sama, tidak berbeda jauh dengan kelengkapn yang terdapat pada kamar prsident suit pada hotel bintang lima pada umumnya.
Lamiah tanpa malu memilih warna apa saja yang ia inginkan untuk mendekor kamar yang nantinya akan ia huni bersama suaminya.
Lilis sangat antusias dalam merancang serta mengawasi renovasi kamar mereka tersebut. Itulah yang menyebabkan ia kadang lupa dan tidak menyadari jika, kini suaminya semakin jarang pulang dengan cepat.
Tetapi, kepulangan suaminya yang tidak tepat waktu itu. Tidak sempat menjadi topik pembicaraan mereka, sebab Lilis bahkan terkadang di buat panik. Sebab, kini suaminya semakin ganas menerkamnya, sepulang bekerja. Bahkan pernah, belum sempat mandi. Tiba-tiba datang dengan kondisi naga peliharaannya sudah siap tempur. Lilis bangga, yang menurutnya suaminya memang telah benar benar candu pada dirinya.
Padahal alasan yang sebenarnya ialah Irsam yang melakukan video call dengan Lamiah kadang dengan rayuan nakal dan permintaan di luar batas. Irsam yang merasa sepenuhnya akan menjadi suami Lamiah. Tidak sekali meminta pada Lamiah untuk memperlihatkan bagian-bagian tubuh sensitif Lamiah yang membuat bulu kuduk Irsam meremang.
Mungkin Irsam adalah pria beruntung, jika istri pertamanya memiliki body sintal, sexy sempurna. Dan kini calon istri keduanya pun tidak jauh berbeda dari istri pertamanya.
Bahkan Lamiah terlihat lebih muda, mulus dan putih. Wajahnya pun sangat cantik jelita, maka hanya dengan melihat wajah cantik Lamiah, jantung Irsam berdegub tak karuan. Ditambah lagi Lamiah tampak pandai menggoda dengan membiarkan Irsam melihat semua aktivitasnya saat bekerja dengan penampilan yang kadang ia sengaja dengan mengangkat roknya hingga pahanya terlihat jelas, bahkan Lamiah berani menerima tantangan dari Irsam untuk dengan sengaja mempertontonkan gundukan pasir putih dalam balutan kain berenda di bagian atas tubuhnya.
Hal itu yang membuat Irsam mabuk, dan segera pulang ke rumah. Bagai kesurupan langsung melampiaskan naf sunya pada Lilis yang tentu siap sedia 1 x 24 jam melayani suaminya. Yang ia kira kini masih sangat menggilainya.
Lamiah adalah anak yatim piatu, sejak itulah ia berangkat ke Hongkong untuk bekerja sebagai TKW. Mengabdikan diri bahkan untuk pulang ke tanah air pun, ia tidak tau menemui siapa dan untuk apa.
Maka, saat prosesi akad nikahnya nanti di gelar ia tidak perlu meminta persetujuan ayah kandungnya. Ia cukup di nikahkan oleh wali hakim.
__ADS_1
Namun walau demikian, sebagai anak yang pernah memiliki orang tua, telah menjadi kewajiban bagi mereka untuk meminta ijin atau sekedar berdoa di atas pusara kedua orang tuanya.
Untuk tetap meminta ijin juga memohon doa restu demi kelancaran, kelangsungan acara pernikahan Lamiah dan Irsam. Walaupun hanya di laksanakan dengan sederhana.
Maka di hari kedua Liamiah berada di tanah air. Lilis mengijinkan Lamiah berangkat bersama Irsam tanpa di antar supir untuk pergi nyekar ke makam orang tua Lamiah, yang berjarak kurang lebih 1 jam dari Kota Bogor.
Hal itu tentu tidak di sia-siakan bagi keduanya. Yang di depan Lilis tampak canggung tetapi di belakang telah lelah menahan rindu menggebu bertalu-talu, sungguh terlalu.
Irsam meminta untuk tetap di antar oleh supir dengan alasan tidak ingin cape di jalan karena menyetir terlalu jauh. Bahkan ia sempat merayu Lilis agar ikut turut serta dengan mereka, demi menjaga perasaan Lilis. Agar ia merasa bahwa ia tetaplah istri yang selalu ia nomor satukan.
Tetapi, Lilis menolak berdalih ingin mengawasi pekerjaaan WO untuk pelaksanaan akad nikah dan resepsi sederhana di rumah mewah mereka, dua hari kemudian.
Maka, dengan wajah sedikit di tekuk dan cemberut. Irsam berangkat dengan ciuman bertubi-tubi pada wajah manis istrinya itu. Membuat senyum merekah terkembang di bibir tipis Lilis. Ia merasakan bahwa suaminya tidak berubah, bahkan kini sampai saat Lamiah ada dalam rumahnya sendiri.
Wajah Lamiah tak jauh beda dengan rupa wajah seorang Irsam. Jika Irsam mampu bermain peran demi menjaga hati istrinya, dengan berpura-pura cemberut. Berbanding terbalik dengan Lamiah yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil Alpart milik calon suaminya itu.
Irsam menyadari wajah jutek calon istrinya yang menyimpan rasa cemburu berlebihan dengan istri pertama, calon suaminya.
Mobil telah bergerak, berbaur dengan pengemudi lainya membelah jalan hitam bermarka putih itu.
Dengan sekali pencet, maka kini Irsam dan Lamiah telah berada dalam mobil yang serba tertutup bagai dalam sebuah kabin pesawat.
Menghalang pemandangan supir yang mungkin saja ingin tau apa yang mereka lakukan di bagian tengah mobil mewah tersebut.
Irsam meraih pucuk kepala Lamiah, kemudian mengecupnya.
"Kenapa...? Dede cemburu...?" tembak Irsam dengan pasti tatkala matanya melihat tatapan nelangsa calon istri keduanya.
__ADS_1
Ada anggukkan kecil yang Irsam rasakan di dadanya. Sebab kepala itu memang telah tertempel manja pada dada bidang Irsam.
"Bersabarlah... percayalah cinta mas akan sama untuk kalian berdua." Ucapnya yang kini menangkup pelan kepala Lamiah mengantarkan dengan pelan kearah kepalanya.
Mempertemukan hidung keduanya, menggesek pelan. Demi mendapatkan senyum dari bibir merah merekah yang telah lama ingin di cicipinya.
Senyum itu terlihat menawan, bibir itu tampak ranum menggoda, merah bak buah delima .
"Boleh mas mencicipi bibir indah ini sayangku?" rayuan Irsam berpangkal saat ia telah tidak sabar segera melahap bibir calon istrinya itu.
Lamiah tersipu malu, pipi yang hanya ia taburi bedak bayi itu, seketika merona bersemu merah pertanda ia benar benar malu atas permintaan Irsam lelaki yang ia anggap sebagai pahlawan dalam hidupnya.
Pahlawan yang telah menebusnya dari kesengsaraan cinta, pahlawan yang telah membebaskannya dari masa suram menantikan cinta, belahan jiwa, tulang rusuknya yang walaupun juga telah menjadi tulang rusuk sahabat terbaiknya.
Irsam tau mungkin saja pergaulannya di luar negeri selama ini, membuat Lamiah telah sering melakukan ciuman ciuman seperti yang ia dambakan.
Ditambah lagi keberanian Lamiah selama mereka berpacaran jarak jauh, Lamiah sering dengan sengaja mengodanya dengan menunjukan potongan pahanya juga bagian dadanya.
Sehingga dalam benak Irsam, Lamiah cukup nakal dalam hal menggoda dan mungkin saja telah cukup lihai bermain lidah.
Pada menit berikutnya, Irsam tampak telah menautkan bibirnya pada bibir Lamiah yang hanya ternganga tanpa perlawanan.
Membuat Irsam menghentikan aksinya, mengeryitkan alisnya, kemudian bertanya :"Apakah ini yang pertama bagimu de Miah sayang...?"
Bersambung ....
__ADS_1