
Tidak ada jawaban dari bibir Lamiah, hanya angukkan malu sambil ia membuang muka. Lamiah benar-benar malu menyadari keluguannya.
Hal itu membuat gemas Irsam.
Ia angkat Lamiah, lalu di dudukan ke atas pangkuannya. Untuk memudahkannya, semakin mendekatkan jarak tubuh mereka.
Dengan gerakan sangat pelan, super pelan. Irsam menangkup lagi kepala Lamiah mendekati kepalanya.
"Buka dan ikuti gerakan lidah mas ya sayang." Bisiknya pelan pada Lamiah yang masih sangat kaku pasrah di atas pangkuan calon suaminya.
Perlahan Lamiah membuka bibirnya sesuai panduan dari Irsam, memudahkan Irsam menyesap, menyusup dan menerabas lancar kedalam rongga mulut Lamiah.
Lidah itu dengan licahnya bergerilya, berlancar dengan bebasnya di dalam sana. Irsam mulai merasakan gerakan perlawanan di dalam sana.
Gerakan perlawanan itu terasa pelan, sesuai arahan tutor pembimbing yang memang memulai dengan halus.
Namun kemudian, Irsam menambah kecepatan cecapan itu, bahkan memberi sensasi gigitan pada bibir bawah Lamiah.
Sontak sukses membuat Lamiah terbuai dalam pertautan dan pagutan yang benar, baru ia rasakan nikmatnya.
Lamiah adalah seorang murid yang mudah mengerti, mudah menyerap ilmu yang gurunya berikan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama kini keduanya tampak telah mabuk dalam permaianan lidah bagai pertarungan sengit. Lembut, nikmat memabukkan.
Keduanya tampak melepaskan pagutan itu, sembari saling bertukar senyum saat melihat bibir keduanya basah dan mulai bengkak, akibat sesapan yang hampir tak rela di hentikan.
"Gadis pintar, dede cepet mengerti. Manis sayang, bibirmu terasa manis dan sangat nikmat." Ucap Irsam memuji calon istrinya.
Lamiah tidak mampu menjawab, dengan malu malu kucing. Kini tangannya yang meraih dagu Irsam tanpa ragu.
Lagi, kini Lamiah yang menyesap terlebih dahulu, menyusup lidahnya ke dalam mulut Irsam. Mengulang kembali pelajaran yang Irsam berikan padanya.
__ADS_1
Tentu membuat Irsam senang bukan kepalang, menyadari calon istri keduanya. Mulai candu dengan isapan bibirnya.
Untuk itu, Irsam memberikan hadiah berupa remasan pada gundukan pasir padat yang biasa ia lihat hanya dari layar kaca datar.
Jari itu sangat lihai berpendar di antara kancing kemeja yang di pakai Lamiah. Bahkan Irsan tidak puas, jika jarinya hanya manyelusup di sela kancing.
Irsam yang telah berpengalaman tentu dengan cepat dan mudah membuka 2 kancing kemeja itu sehingga gundukan yang bisa hanya ia pandang, kini benar-benar bisa ia raba dengan nyata.
Aksi keduanya terhenti, saat merasakan laju mobil yang mereka tumpangi berhenti.
Belum Irsam menanyakan mengapa mobil berhenti melaju. Suara supir telah terdengar mengatakan bahwa mereka telah sampai tujuan.
Irsam menarik nafasnya dengan berat. Kemudian menyisir rambutnya dengan kedua tangannya.
Lamiah melakukan hal yag sama, tampak dengan sigap turun dari atas pangkuan calon suaminya. Sambil kembali mengancing kemeja yang sempat terbuka.
Merapikan penampilan agar kembali rapi seperti sedia kala. Seolah tidak terjadi apa -apa selama satu jam perjalanan tadi.
Irsam tersenyum manis penuh kepuasan memandang Lamiah, dengan sedikt membantu merapikann anak rambut yang sembat terburai pada keningnya, akibat asyiknya Lamiah mengikuti ritme ciuman yang kadang terbawa kekiri kadang juga kekanan, sesuai nurani.
Lamiah tau, makam hanyalah simbol. Tempat peristirahatan terakhir. Tempat dimana ia berpisah untuk selamanya secara raga. Namun, Lamiah yakin. Kini kedua orang tuanya telah hidup bahkan lebih bahagia di tempat yag lebih indah yang Allah siapkan dan diperuntukan bagi mereka.
Lamiah percaya, orang tuanya pun akan menyaksikan kebahagiannya dari alam yang kini mereka huni.
Ada buliran bening jatuh membasahi pipi putih mulus Lamiah, tatkala mengingat akan keberadaan dirinya sekarang. Yang dua hari lagi menikah bahkan dengan suami orang.
Lamiah tidak pernah menyangka akan nasib hidupnya yang seperti ini. Jauh dalam sanubarinya yang terdalam.
Sumpah demi apa, ia tidak pernah ingin menjadi yang kedua, ia tidak pernah membayangkan jika ia akan menjadi perusak rumah tangga orang lain, bahkan ternyata rumah tangga sahabatnya yang akan ia tumpangi.
Lama Lamiah tersedu di atas nisan batu itu, sampai kedua tangan kekar memeluk posesif. Mrndirikannya, menopang tubuh lemahnya, menggiringnya kembali masuk dalam mobil.
__ADS_1
Dan kemudian segera melaju, mengarah pada jalan pulang ke rumah Irsam.
Irsam mampu membaca situasi hati Lamiah calon istri keduanya itu. Maka, ia biarkan Lamiah bersandar di bahunya untuk terus menangis sesungukan sampai tangis itu mereda dengan sendirinya.
Bahkan membawanya terdiam dalam tidurnya yang tampak tenang. Lamiah tampak kelelahan setelah menangis sepanjang jalan pulang tadi. Melepas segala gundah, mengakui dirinya dihadapan pusara itu, bahwa ia memilih jalan pintas untuk menikah hingga rela menjadi yang kedua.
Hati wanita manapun tidak pernah ikhlas menjadi yang kedua, walaupun surga dunia yang di janjikan padanya tetap saja, ia menjadi yang kedua. Dan pasti selalu di nomor duakan.
Sesampainya mereka di rumah, Lilis menatap curiga pada suaminya, melihat mata Lamiah sembab, basah. Bola mata itu keruh, tampak kecewa yang mendalam terpancar di sana.
Lamiah memilih langsung masuk ke kamarnya. Tanpa bicara sedikitpun pada Lilis. Ia menghambur setengah berlari. Tak tahan segera mandi menguyur tubuhnya dengan air dingin demi mendapatkan susana segar melepas penat akan semua yang terjadi hari ini.
Lilis segera menggiring Irsam masuk pula ke kamar mereka. Lilis terlihat membantu Irsam melepas pakaian suaminya, sambil bertanya tentang Lamiah.
"Sayang... ada apa dengan Miah...? Apa mas memaksanya melakukan sesuatu saat di jalan tadi?" tuduhnya curiga pada suaminya.
"Apa yang kami lakukan...? mengapa ratuku tiba-tiba mencurigaiku. Apakah selama ini suamimu adalah seorang yang suka memaksakan kehendak... hm...?" tanyanya dengan mengangkat mesra dagu istrinya.
Sambil masuk ke kamar mandi, di ikuti Lilis di belakangnya.
"Tetapi kenapa matanya sampai bengkak karena menangis? Apa yang ia tangisi mas...?" tanya Lilis yang curiga pada suaminya jangan-jangan suamiya telah memaksa Lamiah melakukan sesuatu di luar batas.
"Dia yang menangis mengapa mas yang kamu tanyakan. Ratuku tanya saja nanti padanya mengapa dia menangis dan hanya tertidur di sepanjang perjalananan. Sayangku juga bisa tanya pada supir...apa yang kami lakukan di dalam mobil tadi. Untuk itulah, tadi mas mengajakmu ikut, mas tidak ingin di curigai istri sendiri." Terangnya meyakinkan Lilis yang tampak tidak percaya dengan kata-kata suaminya.
"Sayang... sini. Terlalu mubazir, jika ratuku hanya berdiri mematung di situ. Lebih baik sayang menggosok punggung mas ini saja." Ujar Irsam yang kini bahkan telah menarik dan memaksa istrinya ikut masuk dalam bath up yang mulai di penuhi air hangat itu.
Lilis tidak hanya menggosok punggung suaminya, tetapi ia lebih memilih menggosok dada padatnya di permukaan wajah suaminya.
Yang tentu saja di sambut hangat oleh Irsam, apalagi saat di perjalanan tadi ia hampir saja on. Saat mulai meremas gundukan padat milik Lamiah.
Baginya, baiklah ia akan menikmati suguhan hidangan Lilis terlebih dahulu. Sebab tertunda menikmati hidangan yang belum sepenuhnya halal untuk ia nikmati dari seorang Lamiah calon istri keduanya
__ADS_1
Bersambung...