LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 50 : TALAK AKU, BANG.


__ADS_3

Lamiah memang wanita kedua yang masuk tanpa rasa bersalah dan malu. Membawa nama Tuhan, memulai dengan Bismillah saat akhirnya menerima tawaran sahabatnya.


Di mana letak salahnya, saat ia benar di inginkan menjadi madu. Lamiah manusia biasa yang juga punya hati dan rasa. Jatuh cinta pada lelaki dengan sejuta pesona yang memang di sodorkan untuk di milikinya walau berbagi.


Sepulang berbulan madu selama sepekan yang memang menjadi jatah Lilis. Tentu Irsam segera kembali pada istri mudanya. Melepas penat lelah, otak dan ototnya.


"Apakah memang begitu raut wajah orang yang pulang bulan madu, abangku sayang?" tanya Lamiah manja sembari menyodorkan kopi tanpa di minta oleh suaminya.


"Mungkin karena pergi tidak denganmu sayangku." Peluk Irsam yang langsung memangku Lamiah yang tentu di rindukannya.


"Kan kita walau di sini, selalu serasa bulan madu, abang." Manis selalu madu itu menyunggingkan senyuman pada suaminya.


"Maaf... selama bersamanya abang tidak memghubungimu. Abang sengaja tidak membawa ponsel, abang benar ingin menfokuskan waktu abang bersamanya." Irsam benar memilih jujur dan merasa dengan Lamiah sangat ringan untuk berbagi cerita seperti pada seorang teman.


"Alhamdulilah, biasakan saja begitu. Pelan-pelan abang akan semakin bisa adil pada kami."


"De Miah tidak rindu?"


"Tentu saja rindu."


"Terus ngapain?"


"Sholat abang. Minta Allah masih meminjamkan nyawa, lengkap dengan kesehatan lahir batin untuk abang. Agar kita selalu bisa bersama dalam waktu yang lama."


Irsam mendengus kesal, mendengarkan penuturan itu. Bagaimana ia tega menceraikan wanita itu. Bahkan di setiap hela nafasnya selalu berhembus doa terbaik untuknya.


"De Miah..."


"Iya bang."

__ADS_1


"Abang tidak bisa lama membohongimu. Sebenarnya Lilis dan mama sudah mendesak abang untuk segera menceraikanmu. Mereka bilang, lebih baik melepaskanmu dan mendapatkan pria yang lebih baik dari abang. Yang tidak berbagi dengan siapapun kelak." Pelan Irsam menyampaikannya sambil sesekali mengendus ceruk leher istri mudanya tersebut.


"Terima kasih atas kejujuran abang. Untuk menyampaikan hal ini langsung pada Miah. Sebelum abang pergi berbulan madu, mama sudah ke sini. Menyampaikan hal yang sama. Mendoakan aku, agar nanti mendapat pria selain abang untuk menjadi pasangan hidupku."


"Apa mama menyakitimu sayang?"


"Tidak. Kami berbicara layaknya ibu dan anak saja. Bertukar kisah, berbagi peluk juga saling mendoakan demi kebaikan rumah tangga kita kedepan." Jawan Lamiah dengan sungguh-sungguh.


"Apa de Miah bersedia abang ceraikan?"


"Talak aku bang. Aku siap menjadi jandamu." Lantang Lamiah menatap Irsam yang memasang raut keheranan.


"Sungguh? Bagaimana dengan hatimu? Apa sudah tidak ada cinta di sini?" tanya Irsam menunjuk bagian rongga perut kanan atas Lamiah marujuk hatinya.


"Justru karena Miah sangat mencintai abang, Miah rela abang bahagia dengannya. Dialah jodoh abang yang sesungguhnya. Dia tulang rusuk abang yang sebenarnya. Mungkin jodoh kita memang hanya sampai di sini bang." Lirih Lamiah dengan wajah datar, amat datar. Membuat miris hati Irsam yang melihatnya.


"Bolehkah abang masih memilikimu juga dia?" tanya Irsam memeluk tubuh wanita kedua itu dengan desakan dada yang bergemuruh, mengundang isak yang tertahan.


"Abang pernah meminta pada Lilis. Di mana kita bersumpah janji untuk bersatu, maka di situlah kita akan mengakhiri semuanya." Ucap Irsam.


"Hingga kata talak itu belum abang peruntukkan padaku. Maka aku masih istri abang. Jadi, apapun yang abang pintakan, Miah akan selalu patuh."


"Apakah benar sekarang kita sedang menyepakati sebuah perceraian? Dimana tidak ada suara melengking yang tinggi karena perbedaan pendapat, tidak ada perlawanan yang sengit untuk mempertahankan rumah tangga kita? Apa perceraian memang tidak semenakutkan yang abang kira? Ini terasa damai, tapi menimbulkan perih. Bagai luka tak berdarah." Lirih Irsam.


"Tidak selalu perceraian timbul dari kesalahpahaman. Justru berasal dari sebuah kesepakatan. Mari saling percaya kita memang tidak di takdirkan bersama dalam waktu yang lama. Maaf, telah merusak tatanan cinta di hati abang. Bagaimanapun, terima kasih, pernah memiliki pria sempurna seperti abang."


"De Miah. Jangan minta abang pulang sepekan ini. Abang ingin benar menikmati masa-masa terakhir kita bersama."


"Sama. De Miah pun ingin membuat perceraian ini berkesan indah. Dimana perpisahan bukan karena dendam, melainkan karena kita saling mencintai."

__ADS_1


"Tapi... bagaimana jika dalam rahim de Miah telah tumbuh calon buah hati kita?" Tiba-tiba Irsam bepikir kearah itu, bukankah sejak masa nifas Lilis, hanya Lamiah yang ia gauli.


"Menurut pengalaman kebanyakan orang lain. Pasca currette biasanya mengganggu kesuburan bang. Bahkan ada yang sampai setahun tanpa kontrasepsi, pun tidak hamil. Percaya saja Allah maha mengetahui kapan waktu terbaik rahim ini di buahi. Tapi tidak ada salahnya selama sepekan terakhir, kita mainkan di luar saja. Untuk mencegah kehamilan. Bagaimana?"


"Hah... abang justru berharap kamu telah hamil. Agar kamu akan tetap jadi istri abang."


"Kita sholat bang. Mohon petunjuk pada Allah. Akan kemana dan bagaimana hubungan rumah tangga kita selanjutnya. Apapun kesepakatan akhirnya nanti. Berjanjilah kita tidak pernah menyesali pertemuan singkat kita. Dan jangan pernah abang ulangi untuk berbagi cinta kembali, pada wanita lain."


"Sudahlah, semakin mendengar permintaanmu. Semakin membuat abang berat melepaskanmu." Irsam menggiring Lamiah ke lantai dua, ke kamar mereka.


Merebahkan tubuh yang tiba-tiba lelah dan sangat tak kuat untuk melakukan aktivitas apapun di atas kasur empuk itu. Karena pikirannya terlampau lelah. Serasa buntu saat mengakui ingin tetap mempertahankan rumah tangganya bersama Lilis, juga tak ikhlas melepas Lamiah.


Mengapa Irsam tak sekuat Lamiah mencintainya? Yang bahkan rela melepas karena cinta, agar ia bisa berbahagia pada istri pertamanya. Tetapi... tunggu.


Apa benar Irsam akan bahagia lagi jika bersama Lilis?


Mengapa satu kesalahan Lilis mampu menyapu seribu kebaikannya. Kemana masa indahnya saat pertama kali jatuh cinta pada wanita hitam manis itu?


Benarkan ia telah di butakan oleh naf su semata pada Lamiah?


Yang dari jarak jauhpun telah berani mengumbar auratnya pada Irsam yang waktu itu belum berstatus suaminya?


Apakah Lamiah tulus mencintainya, maka rela berpisah dengan alasan mengutamakan kebahagiaan suamin dan sahabatnya?


Tidakkah sesungguhnya Lamiah diam-diam telah memiliki calon penggantinya. Sehingga yang tersirat adalah, ia tak gentar untum bercerai. Ia tidak tampak sedih saat akan kehilangan.


Apa sungguh hatinya seikhlas itu segera menjadi janda?


Tiba-tiba pikiran curiga, cemburu dan penasaran Irsam berkecambuk terhadap istri keduanya yang tampak tak resah dengan kata pisah.

__ADS_1


Jangan-jangan selama ini ia hanya cinta sendiri pada Lamiah. Irsam tak habis pikir, sehingga malam itu hanya mampu memeluk tubuh istri keduanya, sampai pagi.


Bersambung...


__ADS_2