LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 62 : MENDADAK PIKNIK


__ADS_3

Lamiah menarik nafas kasar menyadari ternyata ia sedang berbicara dengan seorang pria yang mengaku memiliki gangguan kejiwaan. Entah memang ia bernasib sial atau memang keberuntungan belum menerpanya saja. Sehingga dunia bagai bercanda selalu memberikan kepahitan demi-kepahitan untuknya.


“Mattew,. Bisakah kau sekarang pulang? Sebab sekarang saya sudah sampai di rumah dengan selamat. Dan terima kasih untuk traktiran makan malamnya.”


“Itu terdengar seperti usiran halus, Mia.”


“Silahkan artikan sendiri. Yang pasti ini sungguh tidak baik. Aku seorang wanita bersuami dan tidak baik membawa masuk pria asing tanpa ijin dan sengetahuan suamiku.”


“Baiklah, ini sudah malam. Dan besok saya akan datang lagi untuk memastikan keadaanmu.”


“Tidak perlu repot-repot. Saya sudah baik-baik saja.” Jawab Lamiah yang sudah berhasil mengantar Mattew ke depan puntu rumahnya.


Lamiah menatap nanar gawainya, tiba-tiba sedih menikam jantungnya tatkala menyadari seharian ini suaminya sudah tdak mengubungi dia lagi. Tidurpun tak ngantuk, makan pun tak selera. Akhirnya sajadah dan mukna saja yang kini Lamiah pilih untuk menemaninya hingga kantuk menyerangnya.


Hangatnya mentari pagi menelusuk lewat celah tirai jendela kamar Lamiah, itu tandanya matahari tentu sudah tinggi. Ponselnya dalam mode silent. Sehingga Lamiah tak sadar dan tak tau gawainya meronta bahkan sejak subuh menyapa.


70 panggilan tak terjawab baik melalui VC. Panggilan suara bahkan telepon biasa. Semua dari satu sumber penelpon. Irsam.


“De Miah, maaf semalam abang mengikuti acara besar, hingga tengah malam. Jadi tak sempat menjawab panggilanmu.”


“De… Miah kenapa tidak jawab telepon abang?”


“De Miah … kamu baik-baik saja kan sayang?”


“De Miah… pliiis jangan buat abang khawatir.”


Dan banyak lagi isian chat yang begitu terdengar tajur, cemas dan khawatir dari suami Lamiah itu, tersampaikan pada gawai Lamiah.

__ADS_1


“Bu Miah, apa ibu ada di sebelah?” Isi chat Vinsa lebih terdengar aneh lagi.


Lamiah turun lalu membuka pintu rumahnya dan beranjak ke ruko sebelah. Salonnya sudah ramai, karena waktu sudah metujuk pukul 10 pagi.


“Vinsa, ada apa?”


“Oh, syukurlah jika ibu baik-baik saja. Sejak pagi pak Irsam menghubungi kami semua bu. Beliau menanyakan keadaan ibu.” Jawab Vinsa.


“Oh, maaf ponsel saya mode silent, jadi saya tidak mendengar panggilannya. Tapi saya sudah menghubunginya kembali sekarang. Tapi giliran dia yang tidak aktif.” Jelas Lamiah tanpa di minta.


“Tapi ibu baik-baik saja kan bu?” Tanya Vinsa perhatian.


“Alhamdullilah, baik Vin. Maaf, saya belum mandi. Saya kesebelah dulu ya.” Pamit Lamiah pada karyawannya tersebut.


Lamiah pun kembali ke rumah sebelah, kemudian beraktivitas ringan membuiat sarapannya yang terlambat. Bersyukur kehamilannya kali ini sangat kuat, juga tidak rewel. Ia justru merasa lebih fit dari biasanya sehingga dapat melakukan semua pekerjaan layaknya wanita yang tidak hamil.


Perut Lamiah mulai membuncit, dres di atas lutut, berwarna tosca bermotif floral tanpa lengan itu sangat menambah kesan sek sy dan anggun tampilannya hari ini. Lamiah sudah sangat rapid an memutuskan menghabiskan harinya dengan berinteraksi di salon saja.


“Wah… segernya yang sudah mandi.” Puji Wati yang selalu lebih comel dari karyawan lainnya.


“Terima kasih wati, ini 300ribu, buat kamu beli mie tek-tek untuk kita makan siang.” Kekeh Lamiah dengan ramah pada Wati.


“Iih… sepertinya si dede bayi sika manja sa,a tante Wati ya… tiap belanja makanan pasti. Tante Wati yang kebagian.”


“Iya terima nasib saja Wati.” Kekeh Vinsa.


“Vin. Hari ini kita tutup cepat saja ya. Setelah makan siang bagaimana kalau kita rekreasi ke pantai. Tiba-tiba saya ingin mendengar suara deburan ombak.”

__ADS_1


“Waaaw…ngidam yang menyenangkan.” Jawab Vinsa.


“Dan Kita akan menginap 2 malam.” Timpal Lamiah lagi.


“Salon bagaimana, bu?”


“Kita tidak akan langsung miskin Vin, jika hanya 2 haritidak buka salon. Segera buat pengumuman untuk pelanggan kita. Saya khawatir, jika kita terlalu sibuk cari uang, kita lupa cara bahagia menggunakan uang yang selama ini kita kumpulkan.” Kekeh Lamiah kemudian.


“Bos luar biasa. Baiklah, sebentar akan saya close dulu salon ini, dan batalkan semua pelangan yang sudah booking.”


“Sampaikan permintaan maaf untuk yang sduah membuat janji hari ini. Dan pastikan mereka akan mendapat potongan harga 30% jika datang di hari setelah kita buka kembali.” Perintah Lamiah.


“Siap ibu bosku.”


“Terima kasih Vin. Oh iya… uang hasil kalian langsung di bagi semua sesuai catatan ya. Supaya kalian punya modal belanja di pantai nanti. Jika sudah selesai semua, kita kana di rumah sebelah saja, nanti akan saya siapkan tempatnya.” Lamiah terus saja memerintah dengan lengkap.


Sementara itu, Lamiah juga mencari jasa rental mobil yang akan mengantar mereka untuk pergi ke pantai. Entah dapat ide dari mana tiba-tiba saya Lamiah ingin sedikit membuang penat otaknya. Dari pada hati dan pikiranya selalu di isi dengan prasangka tak jelas pada suaminya, padahal sejak awal juga sudah jelas bahwa ia adalah istri kedua. Yang memang wajar di kesampingkan oleh suaminya. Ia hanya pemain figuran, yang akan di gunakan saat pemeran utama berhalangan. Dan hal itu bukan sesuatu yang harus di salahkan, sebab sejak awal ia pun telah tau, dan harus menerima konsekuensinya.


Wati sudah tiba, kabar keberangkatan mereka untuk piknik pun sudah Vinsa sampaikan pada karyawan lain. Dari 6 Karyawan hanya 4 yang bersedia ikut, mengingat 2 yang lainya sudah berkeluargadan memiliki anak yang juga harus di perhatikan. Maka memilih menerima gaji dan berlibur di rumah saja.


Suasana makan bersamapun tercipta dengan hangat dan penuh canda, ini bukan hal pertama bagi mereka sebab Lamiah selalu memperharikan karyawannya. Tapi dapat makan di rumahnya tersebut adalah momen yang sangat jarang terjadi, sebab biasanya mereka hanya makan di salon di sela waktu kosong saat tidak ada pelanggan.


Makan siang telah selesai, semua karyawan Lamiah pamit untuk pulang. Mereka pulang untuk mempersiapkan diri, membawa beberapa perlengkapan sebab akan menginap dua malam. Tujuan mereka adalah Pantai Pulau Bidadari, merupakan salah satu pulau terdekat dengan Kota Jakarta, dan hanya membutuhkan waktu kurang lebuh 2 jam dari Bogor. Selain view yang indah di sana juga terdapat resort yang dapat di sewa untuk menginap dengan beberapa orang.


Mobil rentalan yang mereka sewa sudah terparkir di depan ruko, tampak wajah berseri Wati, Vinsa, Meka dan juga Dana tak dapat menyembunyikan rasa senang dalam hati mereka yang mendadak pikini tersebut. Lamiah teak terkecuali, bahkan wajahnya dua kali lebih bahagia sebab mampu membuat orang lain bahagia. Sampai-sampai saat mereka semua sudah masuk dalam mobil itu, mereka semua tak sadar ada sebuah mobil yang mengikuti mobil yang mereka tumpangi menuju Pantai Pulai Bidadari.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2