LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 17 : APA KAU BAHAGIA


__ADS_3

Sementara pasangan pengantin baru, pergi berbulan madu. Yang sudah tentu lupa akan daratan, menuai rasa yang terpendam, atas permainan sandiwara karangan bebas, pedas dan hampir lupa, mengapa sang istri kedua bisa hadir dengan mulus bahkan di sambut dengan manis.


Tak ada seorang pun paham dengan jalan pikiram Lilis, juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan Lamiah yang berulang kali menolak bahkan memperingatkan untuk tidak melanjutkan perjodohan konyol itu.


Bahkan Irsam telah lebih dahuku mengajukan syarat, apapun yang terjadi di depan, jangan ada kata menyesal terlontar.


Lilis justru merasa bersalah, melihat Lamiah seolah tak bergairah menjalankan rumah tangganya dengan normal, di mata Lilis. Maka baginya memberi kesempatan mereka pergi berdua adalah hal terbaik yang dapat ia persembahkan untuk sahabat juga suaminya. Agar cinta mereka tumbuh sempurna.


Brengsek.


Namun apa yang terjadi? Hati istri mana yang tulus ikhlas menyadari suaminya pergi bersama madunya. Tentu saja Lilis gamang, mendadak galau saat sepi melanda. Serta bayangan gaya bercinta mereka bergentayangan bagai hantu.


Tiba-tiba Lilis memilih pulang ke rumah orang tuanya di Banten. Sekedar mengalihkan keresahan yang kadang datang menghantui, menakuti hatinya yang tiba-tiba menguat menyalahkan diri sendiri atas keputusannya.


"Mana Irsam? Mengapa kamu pulang sendiri Lis?" tanya bundanya saat melihat anak tunggal perempuannya tiba di rumah mereka.


"Mas Irsam sedang keluar kota bun."


"Sejak kapan kalian tak saling pergi bersama, bahkan saat Irsam berdinas sekalipun." Cecar bunda Lilis seolah mendapatkan sesuatu yang ganjil.


Lilis tak menjawab, belum terkumpul keberaniannya untuk mengatakan bahwa kini rumah tangganya tak lagi utuh.


"Hallo... nak Irsam. Lagi di mana?" bunda Lilis segera menghubungi menantunya tersebut untuk memastikan, bahwa Irsam memang tidak di Bogor.


"Iya bunda, apa kabar? Saya sedang di Labuan Bajo bunda. Lilis pulang ke Banten bun?" tanya Irsam yang berbicara sambil meletakkan telunjuknya ke bibir, agar Lamiah tidak mengeluarkan suara berisik.


"Iya... bunda kaget dia datang sendiri tanpa kamu. Apakah kalian sedang dalam masalah rumah tangga?"


"Saya secara pribadi merasa rumah tangga kami baik-baik saja bun. Tapi, sebaiknya bunda tanyakan Lilis saja, dan tolong bunda sampaikan pada saya, jika saya telah mengecewakannya. Agar saya segera memperbaiki diri bunda." Jawab Irsam yang langsung di cubit oleh Lamiah yang geli mendengarnya.


"Tidak perlu. Bunda percaya padamu Sam. Kamu begitu tulus mencintai Lilis, maka bunda tak pernah ragu akan rumah tangga kalian. Faisal sudah berusia 5 tahun. Sebaiknya kau bujuk Lilis agar mau melepas KBnya, saran bunda sudah saatnya kalian menambah momongan lagi Sam."


"Ya bunda. Bunda bantu Irsam juga ya. Agar Lilis mau menambah anak kami, sudah sejak 2 tahun lalu saya ingin kami menambah anak. Tapi bunda tau sendiri, anak bunda bagaimana orangnya." Manisnya Irsam bercakap-cakap dengan ibu mertuanya.


"Baiklah nanti bunda yang mengantarnya langsung ke klinik untuk melepas IUDnya. Tidak baik rumah tangga terlalu adem tanpa tangis bayi. Bisa lekas bosan Sam."


"Iya... terima kasih dukungannya ya bunda. Titip istriku sementara saya tidak dekat dengannya ya bun." ucapnya hormat dengan mata melotot ke arah Lamiah yang justri sudah melorotkan colornya, dan bermain dengan tangannya pada naga yang awalnya terlihat tidur saja.


'Iya... pasti Sam." Jawab bunda Lilis tanpa menaruh curiga sedikitpun. Sebab ia masih sangat jelas mendengar betapa suami anaknya masih sangat sopan dan santun meladeni obrolannya.

__ADS_1


"Lilis... mengapa kamu menolak permintaan suamimu untuk menambah anak kalian?"


"Bunda sudah berbicara apa saja dengan mas Irsam?"


"Bunda hanya memastikan bahwa di luar kota. Dan ternyata benar, katanya dia sedang di Labuan Bajo. Hmm... jauh juga perjalanan bisnisnya."


"Mas Irsam tidak sedang melakukan perjalanan bisnis bunda."


"Lalu?"


"Mas Irsam... tengah berbulan madu dengan istri keduanya." Jawab Lilis tenang.


"APAAA???"


"Suamimu menikah lagi, kamu bilang rumah tanggamu baik-baik saja? Jelaskan pada bunda yang sebenarnya." Pinta bunda dengan nada tegas.


Lilis memilih menyeruput tehnya yang mulai mendingin tak lagi hangat. Hampir sama dengan nasib cintanya besok.


"Mas Irsam sudah menikah lagi bunda."


"Kamu tau?"


"Lalu ... apa usahamu untuk mempertahankan rumah tanggamu?"


"Rumah tangga kami baik-baik saja bunda."


"Oh Tuhan... ada apa dengan otakmu Lilis. Dimana-mana suami menikah lagi itu adalah ancaman paling menakutkan bagi setiap rumah tangga Lis."


"Tapi tidak dengan rumah tanggaku Bunda. Tenang saja."


"Astafirullahalazim... astafirullahalaziim. Istigfar nak. Istigfar. Ada apa dengan mu? sepatah hati itukah kamu sehingga suamimu menikah lagi, kamu masih bisa katakan baik-baik saja. Apa kurangnya dirimu nak, sehingga dia tega mengkhianatimu." Tangis bundanya Lilis pecah, tumpah ruah air dari bola matamya.


"Mas Irsam tidak berkhianat bu. Tak pernah sekalipun."


"Menikah lagi, apa namanya jika bukan khianat Lis...?"


"Mas Irsam terpaksa melakukannya."


"Terpaksa kenapa? Apa wanita itu hamil olehnya secara tak sadar? Hah?"

__ADS_1


"Lis sendiri yang memaksanya untuk menikahi sahabat Lis sendiri." Akhirnya pengakuan itu terlontar dari mulutnya sendiri.


PLAKH..


Melayanglah telapak tangan wanita yang sudah melahirkannya itu ke pipi mulus Lilis. Ya... wanita itu memiliki hak penuh untuk melakukan itu terhadap anaknya sendiri.


"Apa alasanmu memaksa suamimu menikahi sahabatmu, siapa sahabatmu itu, hah? Wanita yang sama bo dohnya denganmu."


"Lamiah bunda."


"Astafirullahalaziiiim. Lamiah yang sudah bunda anggap seperti anak bunda sendiri. Lamiah yang juga bekerja sebagai TKW bukan?"


"Iya bun... dia."


Bundanya Lilis bersandar di kepala kursi. Lelah mulutnya berbicara, mendidih otaknya sebab jalan pikirannya tak sama dengan jalan pikiran anak tunggal perempuannya.


"Apa alasanmu meminta mereka menikah?" lanjutnya pelan.


"Tidak bermaksud apa-apa bun. Hanya kasihan, Lamiah telah berumur tapi belum menemukan jodohnya. Sehingga aku minta mas Irsam mendekatinya. Dan ternyata mereka saling setuju untuk menikah."


"Ya tidak harus suamimu juga. Yang jadi suaminya. Tuh... adik mu, Rizky juga belum menikah, mengapa tak kamu minta menikahi sahabatmu itu."


"Rizky belum mapan bunda. Lamiah sudah cukup keras bekerja selama ini, sudah waktunya ia berbahagia, menikmati surga yang seharusnya boleh untuk ia cicipi."


"Sudah berapa lama mereka menikah?"


"Baru satu bulan."


"Di mana ia tinggal? apa Irsam juga sudah menyiapkan rumah untuk madumu itu?" dongkol bundanya Lilis agak geram.


"Tidak bunda. Kami tinggal di rumah yang sama. Masih dalam satu atap."


"Bagaimana mereka di depanmu?


Oh... bagaimana mereka bertingkah di depanmu?"


"Tidak pernah. Aku tak pernah sekalipun melihat mereka bermesraan di depanku. Bahkan di malam pertama pernikahan mereka, mas Irsam tetap kembali ke kamarku, memeluku, berbagi bantal sampai pagi denganku. Mas Irsam masih mencintaiku, tidak ada yang berubah sedikitpun bunda." Semangat Lilis berkisah pada sang bunda.


"Apa kau bahagia Lis?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2