
Usia Kehamilan Lamiah kini sudah memasuki 38 minggu. Sehingga usia kandungan tersebut sudah pada masa persalinan. Lamiah sudah menyiapkan semuanya, mulai dari tas pakaiannya juga perlengkapan babynya. Jenis kelamin calon buah hati mereka dan Irsam adalah laki-laki jika di lihat dari hasil USG selama ia masih di dalam kandungan kemarin.
Mattew memang secara kasat mata terlihat seolah sebagai ayah dari bayi itu. Sebab dia lah yang selalu mendampingi Lamiah saat melakukan chek up rutin akan keadaan bayinya tersebut. Bukan main senangnya wajah Mattew saat tau jenis kelamin calon buah hati Lamiah tersebut.
“Mia… apa aku boleh memilih satu potong kata untuk ku berikan pada calon anak kalian ini?” tanya Mattew suatu hari tepas saat usia kandungan itu masih 8 bulan, atau pada bulan lalu.
“Sebenarnya tidak boleh, karena kamu bukanlah ayahnya. Tapi karena kamu adalah teman yang baik selama ini, mungkin aku akan menimbangnya, untuk masuk rekomendasi.” Jawab Lamiah yang juga tak kalah senang saat tau jenis kelamin itu adalah laki laki, banyak harapan dan cita-cita Lamiah kelak hidup berdua dengan anak laki-lakinya tersebut.
“Gary, aku berikan nama Gary untuknya.”
“Apa artrinya…?”
“Gary artinya ujung tombak yang kuat. Bagaimanapun keadaan kalian nanti, harapanku ia harus tumbuh menjadi anak lelaki yang kuat. Kuat menjaga dan melindungi mamamya dari segala musim untuk teap bertahan hidup, walau mungkin hanya kalian berdua sekalipun.”
“Mengapa kami harus hidup hanya berdua saja, apakah kamu tidak berminat akan terus menemani kami?” pancing Lamiah berharap Mattew akan jujur tentang penyakitnya.
“Hah… Kamu adalah wanita paling keras kepala yang pernah aku temui. Bukan kah sejak awal kenal pun kamu tak pernah punya keinginan untuk menambah level rasamu padaku?”
“Bukan begitu. Aku adalah wanita bersuami. Tak elok aku bicara cinta pada pria lain, sedangkan aku masih terikat dalam janji suci pernikahan.”
“Hah… janji suci… prett. Janji gila mu itu. Kamu terlalu egois bertahan dengan rasa cinta konyolmu itu Mia.” Komentar pedas Mattew yang selalu bosan mendengar curhatan Lamiah yang sejujurnya masih sangat mencintai Irsam dengan seluruh jiwa dan raganya.
“Apa kamu juga ingin bilang kalau kamu juga telah cinta padaku Mattew?” tanya Lamiah agak konyol.
“Kamu itu cantik dan baik hati. Bohong saja aku tidak jatuh hati. Tapi percuma mengejar cintamu, sebab semua sudah terkunci untuk ayah Gary ini.” Jawabnya.
__ADS_1
“Sudahlah… aku sedang tidak mengijinkan hatiku untuk sakit berkali kali. Aku juga tidak suka meminta orang harus berkorban apa apa untukku. Dari awal kita tau iman dan keyakinan kita berbeda. Misal kita sepakat untuk saling menerima untuk melanjutkan hubungan ini dalam ikatan pernikahan, lagi lagi akau akan meminta salah satu dari kita berkorban. Aku cinta Tuhanku dan semua ajaran agamaku. Sedangkan kamu, tentu memiliki kecintaan yang sama dengan agama mu. Terlalu klasik bagi kita berpindah agama hanya karena cinta yang bisa datang dan pergi sendiri. Maka, percuma juga kan.”
“Ya… aku pun memikirkan hal itu. Maka aku bersyukur hatiku yang pernah jatuh padamu, namun tak pernah kamu pungut dan tanggapi. Sehingga kini aku sungguh hanya menyayangimu sebagai teman. Setidaknya dalam kisah hidupku aku pernah melewati beberapa momen seru bersama wanita hamil, bahkan kini tak terasa sebulan lagi akan melahirkan. Aku juga sudah menyiapkan hadiah untuk baby Gary.”
“Waw… apa itu?”
“Heem… lahir saja dulu. Sehat dulu ibu dan bayi. Selesaikan dulu urusanmu dengan suamimu, baru ku berikan hadiahnya untuk Gary. Tapi hanya untuk Gary lho. Bukan untukmu.” Kekehnya.
Itu adalah obrolan terpanjang Lamiah dengan Mattew, setelah itu ia tak pernah muncul lagi ke ruko Lamiah.
Sepekan, dua pekan, hingga kini sudah masuk ke empat pekan dan itu merupakan jadweal chek untuk terakhir kali sebelum masa persalinan tiba.
Awalnya Lamiah sangat percaya diri jika Mattew aka nada menemaninya mengurus proses persalinannya, tapi mengapa dia merasa sepi dan di landa cemas. Lamiah jelas menolak tawaran Irsam untuk menjaganya di masa akhir kehamilan ini. Namun matanya tak pernah lepas, tiap senja menjelang selalu ada mobil Irsam trparkir di depan rukonya.
Irsam memang tidak di ijinkan Lamiah untuk menjaganya. Walau dengan meminta hanya tidur di sofa saja. Namun ternyata suaminya itu memilih tidur di mobil sepanjang malam untuk jaga-jaga kalau saja Lamiah tiba-tiba kontraksi.
“Itu tas yang nanti akan di bawa saat aku sudah mulai kesakitan ya. Semua sudah ku siapkan. Oh iya, nama anakku adalah Gary. Menurut USG dia adalah laki-laki.” Jelas Lamiah pada Irsam dengan kaku.
“Iya baiklah. Apakah hanya itu namanya? Apa boleh ku berikan nama keluargaku di belakangnya?”
“Apa itu harus?”
“Mestinya harus, apa lagi dia adalah anak laki-laki. Semarah apapun umminya pada abinya. Tetap tak bisa menghapus darah Haedar yang mengalir di tubuhnya.
“Gary Haedar? Baiklah tidak buruk juga. Toh, tidak ada Irsamnya.” Jawab Lamiah cuek.
__ADS_1
“Terima kasih de Miah.” Hatur Irsam sedikit atas ijin yang Lamiah berikan untuk nanti menyemat nama keluarga besarnya tersebut.
“Sudah malam tidurlah, abang akan jaga kalian.” Ujar Irsam masih dengan jarak yang tidak bisa di katakana dekat dengan tubuh istrinya tersebut.
“Iya terima kasih.” Jawab Lamiah dingin.
“Maaf de… apa abang kurang memantau atau memang terlewatkan. Abang rasa Mattew sudah lama tidak menemui kalian. Apa kalian bertengkar?” Tanya Irsam yang baru teringat sudah sebulan tak melihat mobil Mattew menyambangi ruko istrinya.
“Hum… iya. Dia sedang dinas keluar kota, mungkin besok atau lusa juga akan datang ke sini kembali.” Jawab Lamiah bohong tentunya.
Sesungguhnya dia juga penasaran mengapa pria baik itu tidak lagi mendatanginya, atau sekedar berkirim pesan singkat, sapaan selamat pagi pun tidak seperti biasanya.
Maka malam itu iapun iseng mengirimkan pesan singkat ke nomor ponsel yang tak pernah ia hubungi terlebih dahulu.
“Mattew… apa kabar? Baby Gary sudah makin dekat waktu lahirannya. Apa kamu tidak ingin menemaniku berjuang untuk melahirkan dia?” Tiba tiba Lamiah seberani itu mengirim pesan pada ponsel Mattew.
Tidak ada balasan.
“Maaf au hanya bercanda, di sini. Di kamarku sudah ada bang Irsam yang tidur di sofa untuk menjaga kami. Kalau saja utun akan segera lahir.”
Terkirim namun belum terbaca.
“Maaf selalu mengganggumu. Aku hanya sedang gelisah memikirkanmu yang sudah sebulan tanpa kabar.” Belum sempat terkirim pesan itu.
Triiiiing. Ponsel Lamiah bordering. Dan tampak nama Mattew meronta ronta, minta segera di jawab.
__ADS_1
Bersambung…