
Bunda Lilis tentu kecolongan, saat ia tinggal membersihkan diri di dalam toilet. Ia sudah tidak mendapati Lamiah di kamar itu.
Bunda mengetuk ruang kerja Irsam lalu menerobos ke dalam. Beruntung, Irsam baru saja mendarat di sana, memegang ponsel di tangannya.
"Ada apa bunda?" tanya Irsam sopan.
"Bunda masih belum habis pikir dengan rumah tangga kalian Sam."
"Duduk bun, saya sesungguhnya berada dalam dilema selama ini. Bunda tidak tau, bahkan Lilis merajuk selama 1 bulan, agar saya menyetujui permintaan konyolnya. Katakan pada saya bu, apakah saya salah berpoligami?" cuhat Irsam mengambil hati mertuanya.
"Masa Lilis begitu."
"Sumpah bu, di awal saya sama sekali tidak menyetujui ini semua."
"Sekarang?"
"Katakan pada saya, bagaimana cara laki-laki menjaga diri saat tidur bersama pasangan halalnya? Apakah mungkin Lamiah aku beri punggung? Lalu saat ia memberikan miliknya yang paling berharga untuk suaminya, apakah aku boleh menyia-nyiakannya? Toh, kami telah menikah."
Bunda Lilis megangguk pelan, membenarkan yang menantunya sampaikan.
"Tidak adakah niatmu untuk menceraikannya?"
"Apa alasaku menceraikannya? Tidak ada alasan kuat untukku membuat gugatan di pengadilan. Apakah pasangan berselingkuh? Tidak. Apakah pasangan melakukan KDRT? Tidak. Apakah pasangan tidak memberi nafkah? Juga tidak. Apakah pernikahan ini tidak sah atau tidak di setujui oleh istri sebelumnya? lagi-lagi jawabannya tidak, bunda." Urai Irsam panjang lebar.
"Bahkan jika di sesuaikan dengan keadaan yang sesungguhnya. Justru pernikahanku dengan Lilis yang bisa di gugat, terutama soal ketidak adilanku, yang lebih berat pada Lilis dan jarang bersama istri keduaku. Tapi Irsam sangat mencintai anak bunda. Bahkan menikah lagi pun, demi cintaku padanya. Saya akui, saya terlalu lemah. Yang tidak berani melawan istri sendiri, untuk menolak permintaan konyolnya."
Bunda menarik nafasnya dalam dan membuangnya kasar.
"Bagaimana jika Lamiah meminta cerai?"
"Tidak masalah. Asalkan itu benar atas keinginannya dan keluar dari mulutnya. Bukan dari dorongan atau paksaan orang lain."
"Baiklah... dari pembicaraan ini dapat bunda simpulkan. Jika kamu siap menikah juga siap berpisah dengannya kapan saja. Artinya Lilis masih ada dalam hatimu Sam."
"Dia istri yang sangat aku cintai sejak dulu sampai selamanya bunda."
"Terima kasih." ucap bunda seraya berlalu meninggalkan Irsam di ruang kerjanya itu.
Irsam terkekeh meraih ponsel yang ternyata sejak tadi masih tersambung dengan Lamiah, tentu saja semua obrolan itu dapat di dengar Lamiah dengan cermat.
__ADS_1
"Oh... suamiku. Aku merasa tidak aman memiliki suami sepertimu."
"Kenapa sayang?"
"Mertua abang saja, di buat percaya begitu saja olehmu. Bagaimana dengan wanita lain di luar nanti, jika abang bosan pada kami?"
"Bicara apa siih. Jangan ngaco." Tut... tut...tut. Belum sempat Irsam melanjutkan obrolannya. Sambungan telepon itu sudah di putuskan secara sepihak oleh Lamiah. Sebab bunda tiba di kamarnya.
"Dari mana kamu tadi?"
"Sekedar jalan-jalan ke halaman belakang, mencari udara segar." Jawab lamiah sopan.
Mereka saling diam, jelas sekali kilatan mata bunda masih terkesan jengkel pada Lamiah.
"Bunda... apakah Miah masih boleh memanggil seperti itu?" tidakbada jawaban dari bundanya Lilis.
"Maafkan Miah... sungguh ini di luar kehendak Miah."
'Kamu bisa menolak Miah, bisa melawan."
"Sungguh seujung kuku pun tak ada wanita yang ingin menjadi madu. Tunjukan padaku, hati wanita mana yang tak sakit menjadi wanita kedua, merusak rumah tangga sahabatnya sendiri." Tangis Lamiah pecah, tumpah ruah membasahi permukaan wajahnya.
"Aku tak punya pilihan, aku salah. Bahkan hal ini sudah berulang kali ku sampaikan pada mba Lilis. Namun aku di hardik, bahkan ia tidak ingin membahas ini lagi, ini lagi."
"Bagaimana jika ia ingin menceraikanmu?"
"Asalkan itu benar permintaannya, aku siap menjadi janda. Walaupun usia pernikahanku baru sebulan, setidaknya aku harus bersyukur di usiaku ke 32 tahun, aku pernah laku. Aku memiliki status pernah menikah, walau tak seumur jagung sekalipun."
"Apa tujuanmu menikah?"
"Ibadah sekaligus amanah."
"Apa kamu bahagia?"
"Bahagiaku adalah melihat senyum di wajah mbak Lilis. Aku sedih jika tak dapat membuat hatinya senang."
"Bahkan saat melihatmu bersama suaminya, kamu kira dia bahagia?"
"Itu isi hatinya. Aku tidak tau secara persis, aku hanya menjalani sesuai pengaturannya. Hanya... memang belum sepenuhnya ku penuhi. Terutama soal pembagian malam kebersamaan kami dan mas Irsam."
__ADS_1
"Kenapa Irsam tak pernah tidur di sini?"
"Karena hatiku sakit, membayangkan hati mbak Lis tentu belum ikhlas berbagi denganku."
"Apa kamu ingin bilang, kamu lah yang ikhlas di sini?"
"Bukan ikhlas ... tapi lebih sadar diri saja. Bagaimanapun aku hanya wanita kedua, pasti selalu di nomor duakan."
"Apakah kamu telah mencintai suami sahabatmu?"
"Aku belum dapat memastikan hatiku. Dan tidak berani meletakan rasa itu dengan dalam pada hatiku. Sebab ia tercipta bukan hanya untukku. Ia telah lebih dahulu menjadi tulang rusuk sahabatku. Aku hanya tulang palsu, bagai implan yang di pasang untuk menyempurkan tulang yang retak. Apa aku berani bermain cinta, bahkan dengan hal yang bukan sepenuhnya milikku?"
"Jika kau menjadi janda, apa kau ikhlas?"
"Hah... tidak ada yang aku takutkan lagi di dunia ini. Menjadi wanita kedua, di cap pelakor, dan di tuduh juga di curigai akan merusak rumah tangga orang lain bahkan sahabat sendiri pun, sudah terjadi dalam hidupku."
"Aku bukan manusia, aku hanya boneka, aku hanya mainan sahabatku sendiri. Dia bilang sangat menyayangiku, dia katakan aku belajan jiwanya, dia katakan ia lebih sedih jika aku bersedih. Hatinya mulia, aku tak berhak menyakitinya, maka apa alasanku mengecewakannya?"
"Walau sesungguhnya kamu sakit menjalani ini?"
"Sepahit apapun, akan aku jalani dengan tabah. Bukankan sejak lahir akupun sudah terbiasa hidup dalam penderitaan. Kejamnya dunia, kesendirian, dan segala kesusahan sudah berteman akrab denganku. Sehingga aku sudah terbiasa dalam keadaan tidak menyenangkan."
"Minta cerailah. Di luar sana bunda percaya akan ada kebahagiaan menantimu."
"Bunda..."
"Bercerailah, sebelum hatimu terlanjur mencinta dan menjalar terlampau menginginkan suami sahabatmu lebih dalam lagi."
"Jika bunda dalam posisi Miah. Apa bunda akan nyelonong pergi? Bahkan saat tuan rumah sangat memginginkan kehadiranmu?"
"Jangan kau pikirkan dia. Saat memintamu menjadi madunya, mungkin ia sedang tidak sadar saja Miah."
"Bunda... boleh aku memelukmu. Aku sungguh sangat rindu ibuku."
Bunda mengulurkan kedua tangannya ke arah Miah.
"Maaf... maafkan Miah bunda. Bersabarlah, pelan-pelan aku akan meninggalkan rumah tangga ini. Tanpa menyakiti mbak Lis dan atas persetujuan mas Irsam. Bukankah kini ia adalah suami yang juga harus aku patuhi?"
Bunda tak dapat berkutik. Seluruh nalar dan logikanya menyimpulkan bahwa menantu dan sahabat anaknya adalah korban dari kegilaan anaknya sendiri.
__ADS_1
Bunda hanya dapat menepuk pundak Miah. Memberikan tepukan sayang, memberi dukungan. Bahwa ia pun rapuh berjalan sebagai wanita kedua.
Bersambung...