LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 61 : KELAINAN JIWA


__ADS_3

Mattew bergegas menuju ruang tempat Lamiah di periksa, dan benar saja ia sudah siuman, masih ada dokter di sana berdiri di sisi Lamiah.


“Selamat sore pa. Keadaan istri anda baik-baiksaja. Hanya memang perlu istirahat cukup dulu ya. Kepalanya pasti masih sangat peninh. Tapi, bapak tenang saja. Janinnya kuat dan baik-baik saja.”


“Syukurlah…” jawab Mattew lega.


“Ibu tidak perlu rawat inap. Tapi ketika di rumah nanti usahakan ibu tidak boleh beraktifitas berat dulu ya pak. Sekali-kali, manjakan istri. Jangan biarkan dia ke dapur sekalipun. Selain masih shock, ibu hamil tentu sangat ingin di manja, kalau perlu makan juga di suapin.” Kekeh dokter yang mengira Mattew adalah suami Lamiah.


“Oh… i.. iya terima kasih dokter.”


“Ini kami berikan obat anti nyeri saja yang aman di konsumsi oleh ibu hamil. Tapi di konsumsi hanya saat pusingnya datangnya saja. Kalau yang ini vitamin untuk tetap menjaga stamina ibu.” Ramah dokter wanita itu panjang lebar.


“Baik… baik. Terima kasih dokter.” Jawab Mattew sambil memapah Lamiah turun ranjang.


“Maaf merepotkanmu.” Ujar Lamiah saat mereka sudah berada di dalam mobil Mattew.


“Sudah seharusnya begitu, kita kemana nih?”


“Turunkan di sini saja. Nanti saya naik taksi online saja.” Pinta Lamiah melepas sabuk pengaman yang melingkar di pinggang dan melintang di dadanya.


Mattew mencondongkan tubuhnya untuk memasang kembali sabuk itu.


“Jangan bandel, kamu sendiri mendengar apa yang dokter tadi ucapkan. Bahkan makan pun sebaiknya kamu harus di suap lho. Kita makan di luar sebentar ya.” Tanpa persetujuan Lamiah, Mattew sudah melajukan mobilnya menuju tempat makan yang menghidangkan menu makanan berkuah, yang ia yakini akan cocok dengan keadaan Lamiah yang baru saja mengalami insiden.


“Kita makan dulu.” Ajak Mattew


“Aku tidak lapar.” Jawab Lamiah datar.


“Biarlah kamu tidak lapar, tapi setidaknya sebagai calon ibu. Kamu memiliki tanggung jawab besar untuk memberi hak anak yang kamu kandung itu tetap hidup.” Mattew turun dari sisi kanan mobil. Lalu membuka pintu kiri, lalu menarik tangan Lamiah untuk turun, mengikuti perintahnya.


Lamiah sesungguhnya tidak tau harus bersikap bagaimana dengan pria yang baru d kenalnya ini, tapi cukup perhatian dengannya. Apa Lamiah baru sadar bahwa di dunia ini tidak hnya ada Irsam yang menurutnya lelaki baik. Mengapa saat dekat dengan pria ini, ia merasa nyaman dan senang dengan perhatian pria yang bahkan belum 24 jam ia kenal.

__ADS_1


Mattew tidak perlu bertanya Lamiah mau makan apa, ia sudah dengan egoisnya memesan sup iga sapi untuk Lamiah. Dan beberapa potong ayam goreng untuk pilihan lain, jika Lamiah tidak menyukai sop yang ia pesan tadi.


“Makanlah selagi hangat, rasanya akan lebih nikmat.” Perintah Mattew.


Lamiah masih tenggelam dalam diam dan lamunannya. Entah kemana saja pikirannya melang-lang buana.


“A… buka mulutmu.” Perintah itu samar Lamiah dengan mengusik lamunannya.


“Ah… terima kasih. Saya bisa makan sendiri.” Lamiah merebut sendok dari tangan Mattew lalu mencoba memasukan makan tersebut kdalam mulutnya.


Mattew tersenyum manis ke arahnya, kemudian menikmati makan lain yang juga mengunggah seleranya.


“Habiskan.” Perintahnya saat melihat Lamiah sudah menyilangkan sendok dan garpu di atas piring yang belum bersih itu.


“Kenyang.”


“Heeii… kamu sekaya apa sih? Nasi dan lauk ini tidak akan bisa kembali menjadi beras jika kau menyisakan makan seperti ini. Kamu tau, bahkan di luar sana banyak orang-oramg yang ingin dapat menikmati makan seperti yang kita makan sekarang.” Paparnya kemudian mengambil sendok tadi lalu meraih nasi dan lauk, kemudian menyodorkannya pada Lamiah kembli.


Lamiah tersentuh dengan kata-kata yang Mattew sampaikan, hatinya membenarkan perkataan tersebut. Dan mersa bersalah atas perlakuannya tadi. Lalu terpaksa menerima suapan demi suapan dari Mattew dan akhirnya berhasil menghabiskan nasi yang tersisa tadi.


Lamiah hanya tertegun dengan kata-kata itu, hingga hatinya menyeruak tiba-tiba rindu pada suaminya. Lalu merogoh tasnya untuk menghubungi Irsam suaminya. Ia hanya menarik nafas dalam, menyadari panggilannya tidak di tanggapi oleh Irsam. Memastikan jika kini sudah pukul 8 malam di Indonesia. MUngkin sekarang Irsam sudah terlelap dalam dekapan istri pertamanya, sebab mini sudah tengah malam di Turkie.


“Katakan padaku kemana aku harus mengantarmu…?” Tanya Mattew menyadari Lamiah sudah mengakhiri panggilan gagalnya tersebut.


“Saya bisa pulang sendiri.” Jawab Lamiah.


“Jangan keras kepala. Terima saja kebaikkanku, tatau aku sejak tadi terlihat sangat jahat padamu?” Tanya Mattew meminta dengan sungguh.


Lamiah pun tak punya alasan lain untuk menolak tawaran kebaikkan Mattew tersebut. Dan memutuskan untuk Mattew mengantarkannya ke ruko.


Mattew tidak berminat untuk langsung pulang, ia dengan tanpa permisi masuk mengikuti Lamiah dan mendudukan bo kongnya di sofa tengah ruangan Lamiah.

__ADS_1


“Maaf sebaiknya kamu pulang. Ini sudah malam, tidak baik pria asing berlama-lama di rumah wanita yang sudah bersuami, terlebih-lebih saat suaminya tidak berada di rumah.” Ujar Lamiah mengusir dengan halus.


“Oh.. suamimu tidak ada di rumah? Kemana?”


“Kamu siapa…? Mengapa aku harsu bercerita padamu?”


“Apakah kita harus tiga kali berkenalan agar kamu kenal aku? Mattew namaku Mattew.”


“Bukan namamu. Tapi kamu siapaku? Sehingga aku harus bercerita padamu.”


“Anggap saja aku temanmu. Kemana suamimu? Apakah ke tempat istrinya yang lain?” Tanya Mattew menohok hati Lamiah.


“Apa maksud pertanyaanmu? Mengapa kamu mencurigai suamiku memiliki istri lain?”


“Bukankah kamu sendiri tadi sore yang bergumam, apakah kamu harus bertahan pada cinta yang terbagi?” tembak Mattew membuat Lamiah terdiam sendiri.


“Aku Mattew, bekerja di salah satu perusahaan swata di kota ini. Statusku adalah duda. Istriku meninggal saat hamil anak pertama kami. Aku sangat menyesal tak pernah memberi perhatian banyak padanya saat ia mengandung. Aku adalah seorang pembunuh.” Lirihnya sedih.


Lamiah terenyuh mendengarkan hal tersebut.


“Kamu bukan pembunuh, kematian adalah takdir, maka berhentilah menganggap jika kamu adalah seorang pembunuh.”


“Sejak kematian istri dan anakku tersebut, aku paling tidak bisa melihat wanita hamil. Sebab selalu membuatku teringat pada almarmumah istriku tersebut. Aku pernah hampir di penjara karena di tuduh hampir merebut istri orang yang sedang hamil.”


“Apa suaminya yang akan memenjarakanmu?” Tanya Lamiah sedikit tertarik dengan kisah Mattew.


“Ya tentu saja. Ibu hamil tentu ada suaminya, aku malah begitu cari-cari alasan untuk selalu melindungi dan memperhatikannya.”


“Lalu mengapa kamu lolos dari jeruji besi itu?” Tanya Lamiah lagi.


“Menurut pemeriksaan aku masuk kategori kelainan jiwa, akibat trauma setelah di tinggal mati istriku. Maka aku terbebas, dan gugatan di cabut. Kini mereka ku anggap seperti keluarga sendiri saja.” Cerita Mattew.

__ADS_1


“Apa yang harus kulakukan, apa sedari tadi aku tengah berinteraksi dengan pria gila?” batin Lamiah.


Bersambung…


__ADS_2