
Suasana kamar pengantin masih berkobar, bergelora bagai lautan yang mengamuk di hantam ombak.
Lamiah tidak sadar akan gerakan tubuhnya yang menggelepar, saat jemari itu terasa liar menyelinap, masuk keluar dengan ritme yang lumayan cepat.
Lamiah menghentikan aksinya mengecup dada bidang suaminya. Kini tubuhnya tidak lagi miring. Namun terlentang dengan kondisi paha yang tidak dapat ia rapatkan.
"Abaaaang... aaacchh." Rintih Lamiah tak tertahankan saat sensasi permainan lidah itu terasa terbelit bagai tersesat dan lengket di sana.
Irsam tidak peduli.
"Baaaang... dede mau pipis." Kalimat itu mampu menghentikan aksi brutal di bawah sana. Irsam kembali mensejajarkan kepalanya yang selanjutnya sudah tidak peduli dengan kalimat apapun yang di ucapkan istri keduanya.
Akibat ulahnya sendiri, kini hasratnya justru semakin menggebu. Jika tadi Irsam dapat seenaknya memanjakan bibir goa di bawah sana. Kini giliran naga yang minta sesajen. Kepala tak berotak itu tidak peduli lagi siapapun pawang yang akan mengendalikannya. Yang ia minta adalah perlakuan sama, seperti yang sudah sudah ia sering rasakan.
Dengan wajah sedikit memelas pada posisi telentang. Kini tangan Irsan manangkup kepala Lamiah dan mengantar dengan paksa, agar Lamiah menjinakkan naga yang hampir mengamuk di bawah sana.
Lamiah memang tidak berpengalaman, namun bukan berarti tidak berusaha belajar. Ia pernah tau, ia pernah melihat. Maka iapun memposisikan tubuhya senyaman mungkin untuk melakukan dengan seluruh daya ingatnya, ia mulai mengulum, memutar pelan tepian bak kepala jamur itu, mengisap bahkan mengigit kecil naga yang baru saja ia kenal itu.
"Dede udah jago mainnya." Ucap Irsam sambil terus meremas apa saja yang masih sampai untuk ia remas di permukaan tubuh hampir telah selesai ia jelajahi.
Irsam merasa naga sudah meronta meminta hal yang lebih, bahkan perasaan ingin muntah dia rasakan telah semakin dekat.
Maka perlahan Irsam sudah mengembalikan Lamiah pada posisi semula, yaitu di bawah tubuhnya.
"Dede... kita lanjut pada gerakan inti ya. Dede harus kuat, abang usahakan pelan." Janji Irsam yang tidak di jawab oleh Lamiah.
Sebab, yang telah mereka lakukan sedari tadi pun sudah membuatnya basah oleh keringat, juga rasa ingin kencing yang tiba-tiba datang namun juga tiba-tiba hilang.
Irsam mulai mengarungi lautan di bawah sana, ia menyerudukkan kepala naga yang sedari tadi meronta ingin segera menyelam kedasar laut yang paling dalam.
Tetapi keadaaan belum berpihak pada kepala naga, tidak semudah itu naga menyelam sedangkan lautan itu masih terhalang portal.
Bahkan jalan belum semuanya di rintis. Apalah arti gerakan telunjuk jari Irsam tadi, di bandingkan kepala naga yang ukurannya 7 kali lebih besar dari telunjuk jari.
__ADS_1
Irsam berkali-kali memacu pinggangnya, bergerak sesuai ritme yang masih dapat ia kuasai. Tetapi rintihan erotis yang keluar dari mulut Lamiah membuatnya celaka.
"Arrgghhh... Abaang..." Desahnya manja.
"Kenapa ...?"
"Eeecchhmmm... sakiit." Kalimat itu lebih terdengar gemas menggoda, meminta untuk di siksa.
"Tahan sayang... abang hampir selesai."
"Arrhgghh abaaaang..." Lamiah bergelinjang, antara kesakitan dan kegelian. Menimbulkan racauan yang membuat Irsam lepas kendali.
"Sayang... abang sudah tidak bisa pelan. Bertahanlah ini akan sakit." Ujar Irsam menekan, menghentak, menerobos paksa portal di dalam sana.
"Aaauuuchh... sakit baaang." Peluh dan airmata Lamiah bercampur menjadi satu tak dapat di bedakan.
Mungkin benar yang orang katakan bahwa perasaan sakit dan bahagia yang dirasakan secara bersama itulah cinta.
"Inikah yang dikatakan surga?" pertanyaan polos itu lolos begitu saja dari mulut Lamiah.
Irsam tersenyum geli menghadapi kepolosan istri keduanya.
"Sakit sayang...?" tanya Irsam merenggang namun tetap diatas tubuhnya.
Lamiah mengangguk dengan senyum terkembang.
"Lagi ya... tadi baru tabrak portal. Ke nirwananya belum sampai dede sayang." Rayu Irsam yang memang tidak pernah cukup jika hanya sekali pelepasan.
"Break sebentar boleh bang. Dede takut sakit lagi." Pintanya pada Irsam yang tampak sabar mencabut kepala naga dari sarangnya.
"Tuh lihat... itu sakit karena menabrak portal. Setelah ini tidak akan sesakit tadi dede sayang." Ucap Irsam menunjuk kepala naga yang di penuhi darah perawan dari goa milik Lamiah.
Lamiah belum sepenuhnya siap, tetapi egois Irsam muncul. Maka pada menit kemudian ia tampak kembali berpacu dalam melodi yang lebih pelan mengalun. Seolah mencari ilham, sembari sibuk melu mat gundukan yang tidak bosan untuk ia sesap.
__ADS_1
Dan ternyata benar saja, pergolakan yang berikutnya sungguh diluar dugaan Lamiah. Lebih bisa dinikmati, dapat ia resapi dan hayati. Kedutan di bawah sana bersahutan dengan tumbukan kepala naga yang tidak lagi ganas namun tetap terasa keras menjurus, menghujam bahkan lebih dalam membuatnya kini benar merasakan bahwa surga itu nyata.
Pada penyatuan kesekian kalinya akhirnya Irsam tumbang, sedangkan Lamiah sudah sedari tadi tegolek hampir tak berdaya.
Irsam masih sadar, di tembok dinding sebelah ada istri pertamanya. Maka mereka harus bisa bermain peran, jika permaian mereka malam ini tidak sampai membuatnya kalap.
Maka dengan sisa kekuatan yang ada, Irsam menggendong Lamiah menuju kamar mandi.
Mereka berendam dalam air hangat sembari mengumpulkan sisa tenaga yang seolah tidak begitu terkuras.
"De Miah... kamu nikmat banget. Sangat nikmat. Maaf, abang tadi tidak bisa pelan. Sampai-sampai dede kesakitan. Besok semoga jalan dede ga berubah ya. Sebab, bagaimana pun. Untuk sementara kita jangan terang-terangan dulu menampakan kemesraan kita." Ucap Irsam sambil memijat pelan kepala Lamiah dengan shampo.
"Dede tau bang. Dede hanya wanita kedua. Jadi wajar saja dede selalu di nomor duakan." Jawab Lamiah terdengar pasrah.
"Bukan sayang, abang tidak bermaksud menomorduakan dede. Tapi, karena ini masih baru. Mungkin saja dia belum sadar sepenuhnya jika cinta kita telah menjadi segitiga. Abang minta dede mengerti dan mengalah saja dulu dengan semua pengaturan yang dia buat. Bagaimanapun, jika bukan dia, dede tidak akan pernah tau rasanya surga dunia." Rayu Irsam dengan sangat apik.
"Dede paham abangku sayang, pahlawan ku. Tenang saja, sedapat mungkin dede akan tabah saat di mata dede, abang bermesraan dengannya. Tapi, jangan salahkan dede jika itu terjadi, dede akan membalas semuanya di kamar kita ini." Urai Lamiah tak mau kalah
"Wauw... itu terdengar bagai sebuah ancaman dan sebuah hukuman bagi abang. Terserah dede mau bagaimana. Abang siap menerima hukuman dalam bentuk apapun. Asal jangan minta abang berhenti mencintai dede." Irsam terdengar telah candu bercumbu dengan istri barunya itu.
Keduanya mengakhiri kegiatan berendam itu. Irsam tampak penuh kehangatan melayani istrinya, mengeringkan tubuh istrinya dengan lembut. Kemudian memperhatikan cara berjalan Lamiah yang tampak pelan.
"Masih sakit de...? tanyanya sambil menggendong mesra istrinya lalu mendudukan di depan meja rias.
Sementara tubuhnya hanya ia belitkan handuk pada pinggangnya.
"Iya sakit sedikit." Jawab Lamiah yang sekarang mulai sibuk memasang pakaianya. Dan Irsam juga tak kalah sibuk mengeringkan rambut istrinya. Agar saat bangun besok, kepala keduanya tidak tambak basah.
Besambung...
Hufth.... haredang yah
autor OTW mandi juga kalo giniš¤
__ADS_1