
Irsam dan Lilis sudah kembali ke kediaman mereka dengan suasana hati yang beraneka rasa.
Lilis seharusnya senang sebab lambat laun, ia akan kembali menjadi satu satunya istri Irsam. Ia akan berusaha semampunya untuk mengembalikan cinta suaminya seperti dulu lagi.
Sedangkan dalam pikiran Irsam berbeda. Ada yang perih tapi tidak luka dalam hatinya. Selama ia memutuskan untuk melepas Lamiah tadi, ia tak berani memandang mata wanita keduanya. Rasa cintanya masih kental untuk Lamiah.
Bulan telah bertengger menguasai langit malam, Irsam kembali menikmati lintingan tembakau yang tersulut api, di taman belakang. Pikirannya keruh sama seperti udara yang ia cemari dengan asap rokok.
"Mas... boleh aku temani?" tanya Lilis menghampirinya dengan membawa secangkir kopi.
"Silahkan..." jawab Irsam datar.
"Terima kasih mas." Lilis memilih duduk di sampingnya, namun masih dengan mulut yang tertutup rapat, tak ingin memperkeruh suasana hati dan pikiran suaminya. Keadaan mereka berdua persis anak SMA yang baru kenal dan akan hendak PDKT. Kaku dan terkesan senyap saja.
Hanya saling duduk berduaan, tanpa ada sepatah katapun keluar dari mereka. Hingga Irsam menghabiskan kopinya, lalu mengajak istrinya untuk masuk ke dalam rumah dan akan melepas lelah di peraduan mereka.
Lilis tak langsung ikut masuk kamar mereka, melainkan memilih masuk kamar Adilla terlebih dahulu, ingin memberi perhatian pada anak perempuannya tersebut, memastikan asupan ASI terpindah dari sumbernya hingga penuh untuk putri kecilnya itu.
Lilis sesekali membelai rambut Adilla, bayi yang sempat ia tinggalkan demi egonya, bersaing dengan madunya dalam hal berbisnis, dan keinginannya untuk merebut kembali hati suaminya. Menatap mata yang sedari tadi pun tak henti memandangnya, tangan kecilnya pun sejak tadi mencengkram telunjuk tangan sang mama.
Hingga Irsam pun tiba-tiba menyusul Lilis mengendap diam-diam lalu mengintip Lilis yang terlihat penuh cinta menyusui anak mereka.
__ADS_1
Irsan bersandar di luar dinding kamar Adilla, terduduk mengeluarkan airmatanya sendiri.
"Ya Allah... Engkau satu satunya tempat meminta, dan memohon. Adilla putriku yang kau hadirkan agar aku selalu ingat bahwa ia ada di saat hatiku mendua. Bahkan ku berikan namanya Adilla, agar aku bisa berlaku adil pada dua istriku. Tapi apa yang kini akan ku lakukan ya Allah. Akankah ku tarik inginku untuk berlaku adil? sedangkan perceraian telah ku tentukan waktunya, bahkan kini Miah sedang mengandung anakku, buah hatiku. Darah daging yang akhirnya kau percayakan ada dalam rahimnya. Manusia macam apa aku ya Tuhan."
Irsam mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Adilla. Memilih merendam tubuhnya dalan bath up. Mengunci diri dalan kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya.
Mungkin awalnya Lamiah adalah budak naf sunya, tapi ke sininya mengapa ia merasa Lamiah seperti seorang sahabat yang bisa mengerti dan selalu mengalah dengannya. Bahkan kini ada calon anak yang ada di rahimnya, tegakah dia melepas sang wanita kedua yang juga berhak mendapat tanggung jawab dan kasih sayangnya.
"Mas... mas di dalam?" panggil Lilis pada suaminya itu.
Membuyarkan lamunan Irsam yang hampir lupa sudah lebih setengah jam berada di dalam rendaman air aroma terapi itu.
Dengan hanya berbalut handuk putih tercantel di pinggangnya, Irsam keluar dengan rambut basah nan se ksi. Memamerkan dada bidang, perut sixpacknya. Membuat Lilis bergetar akan pandangan yang selalu mampu membakar gelora ber cintanya.
Sontak gairah yang sempat terpercik dalam hati Lilis tadi padam dengan sendirinya. Menelan salivanya dengan kasar, ingin marah. Tapi ia ingat pesan mertuanya. Semakin ia lembut, maka suaminya makin tak berdaya.
"Mas sudah banyak mencintainya. Dan jabang bayi yang di rahim Miah, tentu membuat naluri mas sebagai ayah bangkit. Jangan lanjutkan keinginan untuk berpisah, jika nyata hal itu menyakiti hatimu mas." tegar Lilis membuat bingung Irsam.
Mengapa Lilis seolah mendukung untuk terus melanjutkan rumah tangga gila ini?
"Sayang... bukankah kita sudah sepakat akan mengakhiri rumah tangga segi tiga ini. Bantu mas lepas dari cintanya, sayang." pinta Irsam yang masih ingin menjadikan Lilis satu satunya istri dalam rumah tangganya.
__ADS_1
"Mas... aku sadar semua salahku. Aku juga merasa sesungguhnya mas sudah sangat mencintainya, posisiku sudah tergeser. Mas hampa tanpanya, maka urungkan niatmu melepasnya. Aku akan kembali pada konsep awal, akan tetap jalan dalam poligami ini semampu kita menjalaninya. Hingga sesuatu yang fatal terjadi."
"Maksudmu?"
"Tetaplah bertahan memiliki dua istri, kecuali dia yang lebih dahulu menggugatmu. Sebab sampai kapanpun aku tidak akan menarik kata-kataku. Sejak awal sungguh aku yang menginginkan dia ada dalam rumah tangga kita. Satu hal yang ingin ku minta darimu. Aku tak mau anak-anakku tak punya papa. Karena aku jadi jandamu." Sungut Lilis yang sudah berhasil mendudukan Irsam di tepian ranjang mereka, dan melepas handuk yang melilit pinggang suaminya, ah segar.
"Selama aku masih sadar, biarkan maut yang memisahkan aku denganmu. Tolong, tetaplah di sisiku hingga badai biduk rumah tangga kita menjadi tenang. Ini hanya ujian rumah tangga. Dan mari kita sepakati, bahwa poligami ini bisa kita jalani seiring berjalannya waktu." ucap Irsam. Yang sudah terbuai dengan kecupan-keculan yang bergerilya di atas dada bidangnya. Lilis tak pernah gagal untuk membangkitkan jiwa kelelakiannya.
Irsam hampir gila, hatinya sudah kebas tak dapat merasa mana cinta mana naf su. Kedua wanitanya semua memiliki keunggulan dalam hal merebut hatinya. Maka, kini kembali berpikir untuk menikmati saja indahnya beristri dua, walau tentu ada hati yang terluka dan kecewa. Sama seperti hatinya, yang sesungguhnya pun tak berniat menoreh luka di hati Lilis juga Lamiah.
Matahari sudah tersungging terang, pertanda pagi telah menjelang. Adilla, Lilis biarkan merangkak di atas tubuh sang ayah, walau masih bergelung dengan selimut tanpa busana di dalamnya.
Bercak merah bertaburan memenuhi ruang dada Irsam, pertanda betapa sengit pertarungan semalam.
"Sayang... ambilkan co lorku. Bagaimana kalau tiba-tiba Adilla merayap masuk dalam selimut ini." Pintanya dengan senyuman manis untuk Lilis.
Dengan cueknya Lilis, membuka selimut penutup itu, lalu memasangkan celana pada suaminya, dengan sekali mengecup perut bawah suaminya.
"Jangan menantang, Adilla bisa saja menjadi wasit atas pertarungan kita lagi pagi ini sayangku." Ucap Irsam yang kemudian mengecup bibir Lilis sebentar lalu mengangkat tubuh Adilla ke atas perutnya.
"Haii Adilla... kamu tau nak. 5 bulan lagi kamu akan menjadi kakak. Tentu kamu lebih dahulu tau, jika ummi mu sedang hamil kemarin. Nanti sayang adek ya nak. Jangan berebut papa. Kayak mama dan ummi. Papa sayang kalian semua." Ucap Irsam absurd pada Adilla yang nyata tidak tau apa-apa.
__ADS_1
Bersambung...