LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 66 : PERMINTAAN IRSAM


__ADS_3

Sementara Irsam dan Lilis akhirnya menyudahi liburan yanh tiba-tiba di buat mereka tanpa rencana itu. Jangan tanya betapa membuncahnya perasaan rindu di hati Irsam pada Lamiah si wanita kedua itu.


Irsam hanya sempat mencium Adilla sebentar, mandi kemudian sudah pergi melajukan mobilnya sendiri menuju ruko. Dan tentu saja ia tidak mendapatkan istri ya di sana.


Irsam baru sadar, panggilan terakhirnya adalah saat mereka bervideo call sebelum mereka kembali dari Turkie. Dan Irsam tidak heran mengapa Lamiah tak selalu menghubunginya. Sebab, memang Lamiah tidak akan pernah lebih dahulu menghubunginya jika ia sedang bersama Lilis.


Irsam menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menyadari betapa bodohnya ia. Yang tidak memiliki kunci untuk masuk ke rumah Lamiahm Menghubungi istri keduanya pun sudah sejak kemarin tidak berhasil dapat ia hubungi. Menghubungi Wati pun sudah seperti tidak ada signal.


Akhirnya memutuskan untuk kembali kerumah saja, pun raganya masih terlampau lelah butuh istirahat.


Setiba di rumah, Lilis nampak dengan manis menyambutnya bersama Adilla.


"Papa... kok cepat pulangnya. Kenapa ga bawa ummi ke sini papa." Suara Lilis di buat-buat seperti anak kecil seolah Adilla yang berbicara.


"Ummi masih liburan sepertinya." Jawab Irsam dengan wajah sedikit kesal. Lalu masuk ke kamar mereka. Tanpa memandang wajah Lilis juga Adilla.


Irsam memang tidak mendapatkan respon balik dari Lamiah. Juga panggilannya dalam bentuk apapun melewati ponsel Vinsa. Apalagi chat. Namun, Irsam dapat melihat ada senyum wanita keduanya terpampang di story whatsapp yang lalu lalang di ponsel Irsam.


Ada rasa bersalah dalam diri Irsam saat senyum Lamiah justru bukan karena olehnya. Ia tidak pernah melihat wajah bahagia itu tersampir di wajah istri keduanya. Hal itu membuatnya merasa tertampar dan kembali berpikir sungguh ia sungguh telah berlipat-lipat menyakiti hati Lamiah.


Lilis menyambangi suaminya ke dalam kamar. Sebab sejak pulang dari ruko tadi Irsam sungguh hanya memilih berada di dalam kamar saja.


"Mas... mau makan di kamar? atau di mana?" tanya Lilis pelan.


"Oh... nanti di bawah saja sayang." jawab Irsam.


"Baiklah. Mas, mau mandi? Lis siapkan air hangat ya. Mas, capek?" Lilis meraba kening Irsam, sebab melihat wajah Irsam yang mendadak kusut tak bersemangat.

__ADS_1


"Iya sedikit. Sayang... kita sholat duku ya."


"Iya... Lis siap-siap dulu." Jawab Lilis.


Keduanya telah melaksanakan sholat, bahkan baru saja menyelsaikan makan malam mereka.


Bukan tak ingin lama menani Irsam. Tapi, Lilis juga perlu membagi waktunya untuk Adilla yang tak baik terlalu lama dengan pengasuhnya.


Dan setelah Adilla benar sudah tidur, Lilis mennemui Irsam yang tampak duduk sendiri di balkon kamar mereka, mengapit batang tembakau berlinting, yang ujungnya sudah tersulut api tersebut.


Lilis paham, Irsam sedang dalam pikiran berat dan tidak baik-baik saja. Maka ia pelan-pelan mendekati suaminya, memeluk kepala Irsam dari belakang dengan kecupan kecil di leher Irsam.


"Mas lagi mikirin apa?" tanya Lilis mesra dan lembut.


"Hmmm.... sepertinya waktu kebersamaan kita kemarin sudah membuat hati dan pikiran kita fressh dan dingin kembali ya, sayangku." Irsam menarik tubuh Lilis agar duduk di atas pahanya.


"Lalu...?"


"Lalu...?"


"Tapi... sebenarnya. Cinta yang bagaimana sih yang nas berikan padanya? bukan saja mas. Tapi kita...!"


"Maksud mas?"


"Jangan emosi terlebih dahulu sayang. Kita coba bicara dengan kepala dingin. Bagaimanapun, kamu adalah wanita yang pernah dengan begitu gilanya aku mencintaimu. Aku bahkan pernah bilang, tak bisa hidup tanpamu. Dan justru karena cintaku padamu, sampai rumah tangga kita begini. Maka sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu. Sudah banyak waktu dan segala musim yang terjadi di dalam hubungan kita. Maka mas ingin bilang bahwa kehadiran Miah hanyalah bagian dari ujian rumah tangga kita saja." Kali ini Irsam terdengar sangat serius, dengan tatapan mata yang tak pernah lepas dari Lilis.


*Jika Miah hanya ujian rumah tangga kita. Apakah artinya akan ada masa ujian itu selesai dan kita naik tingkat?"

__ADS_1


"Benar. Setelah kebersamaan kita kurang lebih 3 minggu ini. Mas lebih fokus denganmu, mas sadar. Ternyata tetap kamu yang mendominasi di hatiku. Sayang... mas merasa cukup memiliki kamu saja."


"Miah?"


"Boleh mas akhiri saja hubungan dengannya? Mas merasa tidak mampu menjalani semuanya secara bersamaan. Bisa di katakan Miah hanya cinta sesaat mas, bukan cinta sejati." Lilis menarik nafas panjang mendengarnya.


"Dengan terus-terusan dia menjadi madumu. Hanya memperpanjang durasi kita berbuat dosa padanya. Kita mengikatnya dalam ikatan pernikahan tapi tak sungguh memberinya cinta dan keadilan. Kira hanya menumpuk derita untuknya. Padahal ia pun layak bahagia." Entaj apa yang merasuki Irsam hingga dapat pemikiran sedemikian. Dan Lilis masih menyimak arah pembicaraan itu kemana.


"Beberapa hari ini, mas dan dia tidak lagi saling kontak. Entah dia segaja menghindar atau kondisinya yang tirak mendukung. Sehingga kami tak lagi intens walau hanya melalui udara. Ternyata, mas baik-baik saja. Tidak tersiksa rindu yang berlebihan padanya. Juga.... dia justru bisa tersenyum bahagia dan tertawa lepas tanpa mas."


"Tolong katakan dengan jelas saja mas maunya apa?"


"Mas talak dia saja bagaimana? Mungkin dia akan lebih bahagia tanpa mas, tanpa kita."


"Jika hal itu mas ingin lakukan silahkan saja. Tapi tolong bukan karena paksaan. Bagaimanapun, ia pernah membuat cinta mas goyah. Mas bohong jika bilang rak cinta dia."


"Mas akui ... mas cinta dia."


"Kalau cinta kenapa pisah?"


"Karena dia mungkin akan lebih bahagia tanpa mas. Buktinya... dia tak rindu selama ini. Dia tidak keberatan akan lamanya kebersamaan kita. Lalu untuk apa mengikatnya lama dalam rumah tangga kita, sedangkan ia mungkin saja akan lebih bisa bahagia tanpa kita."


"Maaf mas... ini salahku. Aku yang membuat hubungan kita serumit ini. Namun, kita tak perlu mengulang-ulang dan memgungkit hal itu. Nasi sudah menjadi bubur, pilihannya kita mau tambah ayam dan senagainya supaya enak dan dapat di nikmati? Atau kita buang saja karena tidak suka? Kali ini, Lilis patuh saja pada mas. Lilis sudah pernah salah dalam hal memutuskan sesuatu. Sehingga kini, silahkan mas lakukan yang mas anggap benar dan nyaman bagi kita bertiga." Irsam mengecuo kening Lilis penuh sayang.


"Berjanjilah untuk sabar menghadapi mas di kemudian hari, jika dalam masa baru berpisah nanti mas terlihat masih memikirkannya. Bagaimanapun mas pernah mencintainya, maka mungkin tak semudah itu mas melupakannya. Hadapi mas dengan lapang dada, sementara hati mas sembuh, untuk kembali utuh. Untuk hanya akan mencintaimu dan anak-anak kita." Pinta Irsam lirih.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2