LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 60 : INSIDEN


__ADS_3

Waktu demi waktu terus berlalu, nampaknya pekerjaan Irsam tak selalu membuatnya bisa berada di Bogor. Itulah yang memang sering terjadi dalam skala tertentu. Hal itulah ternyata yang membuat Faizal di titipkan pada kedua orang tuanya. Sebab, kedua orang tua Irsam tidak mengijinkan anak mereka bekerja tanpa hadirnya istri untuk merawatnya. Sehingga di mana Irsam, di situlah pula istrinya mendampingi.


Dan kali ini, Irsam tak dapat mensetting posisi istrinya. Bahkan para dewan direksi dan kolega bisnis lainnya hanya tau Lilis lah istrinya. Terlalu repot bagi mereka untuk menjelaskan kehadiran Lamiah sang istri kedua.


Setelah kunjungan kerja di Australia. Irsam dan Lilis memilih ke Turkie sebab ada kerabat mereka yang akan menikah di sana. Lagi Irsam tidak dapat mengatur bahwan memaksa Lamiah untuk menyusul mereka.


"De Miah... pliiis. Berangkatlah dengan Adilla. Abang tunggu di Turkie. Jangan bilang kamu tidak tau cara terbang sendiri ke sini. Ajak pengasuh Adilla juga." Pinta Irsam melalui panggilan Video call.


"Bukan tidak bisa abang, tapi Miah tidak mau." tolak Lamiah.


"Kenapa?"


"Miah masih betah saja di sini. Beraktivitas di salon dengan leluasa tanpa pengganggu."


"Jadi kamu menganggap abang hanya pengganggu bagimu, hah?" Hardik Irsam setengah bercanda.


"Tentu saja tidak. Hanya lebih senang di sini saja. Daripada harus ke sana. Miah tunggu abang pulang saja." Jawabnya.


"Ada apa? Miah marah karena abang lebih banyak waktu bersama Lis?"


"Tidak... itu hak kalian. Toh, Miah hanya yang kedua."


"Jangan bilang kamu menyimpan kemarahan di dalam hatimu?"


"Tidak perlu di bahas. Aku mencintai abang." Lirihnya.


"Kamu tidak sedang sakit kan?"


"Tidak, kami sehat."


"Kami?"

__ADS_1


"Ya... ada anakmu bersamaku." jawab Lamiah yang Irsam artikan itu adalah Adila.


"Ya... syukurlah. Maaf dan terima kasih ya istriku sayang."


"Jangan lupa sholat ya bang. I love you." Lamiah ingin mengakhiri obrolan itu. Dan di setujui oleh Irsam.


Setelah seminggu Irsam menyusul Lilis, sebenarnya pengasuh Adila sudah kembali. Sehingga Lamiah benar hanya sedang menikmati kehamilannya sendiri saja.


Di suatu sore Lamiah duduk di sebuah taman kota. Sekedar mencari suasana berbeda, mungkin hormon kehamilannya menuntut sesuatu yang menyenangkan dan tidak membosankan jika hanya di lalui sendiri di rukonya.


Mata Lamiah tertuju pada sebuah pemandangan keluarga lengkap, terdiri dari ayah, ibu dan dua anaknya. Tampak bahagia keluarga yang baru saja turun dari kendaraan roda dua itu. Satu kata untuk kekuarga itu, sederhana.


Tapi senyum dari ke empat insan manusia itu sangat terpancar kebahagiaan, perhatian suami yang hangat untuk istri dan kedua anaknya begitu terlihat dari caranya memandang mereka.


"Ya Allah, sebenarnya aku ingin memiliki keluarga seperti itu. Aku tak ingin harta berlebih, aku tak perlu turun naik mobil. Hanya... sepertinya lebih bahagia hidup sederhana namun penuh cinta, dari pada bertahan dalam berbagi cinta ini." Desisnya lirih sendiri.


"Apa maksudnya dengan kata bertahan dalam berbagi cinta?" terdengat suara bariton yang tiba-tiba tertangkap oleh rungu Lamiah. Membuatnya berpaling mencari asal suara yang tanpa permisi menanggapi desissannya tadi.


"Kamu siapa?" tanya Lamiah mengeryitkan kedua alisnya. Sedikit takjun dengan paras pria bermata coklat, tampan.


"Saya Mia." sahut Lamiah menyambut uluran tangan itu dengan tatapan dingin tak bersahabat.


"Mia Mattew. Hm.. kenapa itu terdengar seperti sebuah pasangan yang sangat cocok?" agak genit suara itu keluar dari mulut pria asing yang baru Lamiah temui.


"Haaah. Sepertinya anda adalah seorang pria perayu tuan." Jawab Lamiah yang kemudian berdiri hendak meninggalkan tempat duduk yang ia rasakan nyaman tadi.


"Astagaa... maaf. Ternyata aku sedang berkenalan dengan seorang wanita hamil. Kamu sangat cantik walaupun tengah mengandung." Mattew berdiri bahkan menarik tangan Lamiah umtuk memastikan jika wanita yang ia ajak bicara tadi memiliki ukuran perut yang tidak kecil.


"Maaf ..." ujar Lamiah memberikan kode pada tangan Mattew yang sejak tadi menggenggamnya. Walaupun sesungguhnya ia sangatbterkesima dengam rupa pria ini. Apalagi mendengar pujian bahwa walau ia hamil, namun tetap memancarkan kecantikannya. Oh... Tuhan, Lamiah selama ini hanya wanita kedua yang kurang kasih sayang, haus pujian dari suami, dan jarang bertemu suaminya. Bahkan tak diperlakikan dengan adil. Bahkan suaminya tak tau dan tak sadar jika istrinya sedang mengandung anaknya.


"Oh maaf, saya lancang. Tapi anda benar-benar cantik walau dengan perut yang tidak rata. Bolehkah saya tau, mengapa kamu hanya sendirian duduk di tempat seperti ini?" ramah Mattew padanya.

__ADS_1


"Siapakah anda yang begitu ingin tau urusan orang lain?" agak ketus Lamiah menanggapi pertanyaan pria yang sesungguhnya mampu menggetarkan hatinya karena ketampanannya.


"Sudah ku katakan namaku Mattew." Jawab pria itu kembali.


"Aaaacccchhh... Aaaaw." Pekik Lamiah saat sebuah bola kaki yang di tendang agak keras mengenai kepalanya. Membuat tubuhnya limbung, ambruk. Hanya karena ada Mattew di sana yang membuatnya tidam jatuh sempurna.


Dengan cekatan Mattew menopang tubuh Lamiah, yang pingsan seketika itu juga. Jangan tanya betapa riuh keadaan taman menyadari ada insiden tersebut.


Mattew melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, menuju Rumah Sakit terdekat.


"Tolong... tolong... Segera... cepat... cepat selamatkan istri saya." Kalimat itu begitu faseh keluar dari mulut lelakinya g bahkan belum 30 menit ia kenal.


Beberapa perawat baik laki-laki maupun perempuan sudah mendorong blankar menuju mobil Mattew. Untuk mengevakuasi Lamiah. Dan Mattew hanya dapat bagian membawa tas kecil milik Lamiah.


Tanpa pikir panjang, Mattew merogoh tas kecil itu untuk mengambil kartu tanda pengenal yang ada di dalam tas tersebut, lalu menyerahkan pada petugas yang sedang bekerja di sana.


"Keluarga pasien atas nama Lamiah Pradipta...?" panggil perawat ke arah luar ruang observasi.


Mattew tetap duduk manis pada kursi tunggu tanpa memperhatikan panggilan tersebut.


"Keluarga pasien Lamiah Pradipta..." panggil perawat kembali lalu melangkah mendekati meja petugas pencatat identitas tadi.


Lalu membawa KTP Lamiah menggengamnya lalu mendekati Mattew. Menunjukkan ke dapan mata Mattew.


"Apakah pasien yang memiliki kartu pengenal ini adalah kerabat bapak?" tanya perawat agak kesal sebab Mattew mengindahkan panggil mereka.


"Oh... i .. iya. Maaf saya sedang melamun tadi. Ada apa sus?" tanya Mattew agak malu dan mengusap tengkuknya, kikuk.


"Pasien sudah sadarkan diri, silahkan menemuinya. Ada dokter juga menunggu anda di sana." Info perawat itu memberi informasi.


"Oh ... iya. Baik, terima kasih. Saya ke sana." ujar Mattew bergegas ke ruangan tempat Lamiah di perikasa.

__ADS_1


"Mana ku tau Lamiah Pradipta itu namanya. Bukankah tadi saat berkenalan namanya Mia." Batin Mattew membela dirinya yang tak pandai mengaitkan nama seseorang yang baru ia tolong.


Bersambung....


__ADS_2