LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 74 : PENDIRIAN LAMIAH


__ADS_3

Irsam kini telah berada di ruko Lamiah. Namun, dari Vinsa ia tau jika Lamiah sedang pergi untuk membeli bahan keperluan salon bersama Wati.


"Apa mereka di antar oleh Mattew, Vin?" tanya Irsam yang di ijinkan menunggu di rumah sebelah.


"Oh... tidak pak. Mattew mana pernah di ijinkan ibu mengantar dia ke mana-mana. Mattew hanya kadang datang membawakan makanan sebentar, lalu pulang." Jelas Vinsa polos tanpa tau maksud pertanyaan Irsam.


Namun, Irsam memilih diam saja tak ingin bertanya lebih jauh akan hubungan Mattew dan Lamiah. Ia


tak ingin sakit hati dengan sebuah kenyataan. Tujuannya adalah ingin memperhatikan calon buah hatinya. Jika sampai tiba masa lahir nanti. Irsam akan menceraikan Lamiah, dengan tuduhan Lamiah telah menikah siri dengam lelaki lain, maka ia yakin. Hak asuh bayi itu akan jatuh ke tangannya. Maka saat itulah ia benar membebaskan Lamiah untuk berbahagia. Hidup bersama pria pilihannya, tanpa beban dan bayangan dirinya yang akan menjadi kenangan masa lalu yang pahit, teramat pahit bagi Lamiah.


"Pak... boleh kah kami kenal lebih jauh dengan teman bapak, si Mattew itu?" Vinsa cengengesan, memberanikan diri lancang bertanya pada Irsam. Yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Gimana?" Irsam tak mengerti.


"Sejak pertama kenal Mattew, kami terpesona berjamaah padanya pak. Apalagi dengan keterangan bahwa Mattew adalah teman yang bapak utus untuk memperhatikan ibu, selama bapak tidak bisa dekat ibu. Kami semakin meleleh akan sikap dan perhatiannya pada bu Lamiah. Ibu sangat beruntung memiliki suami seperhatian bapak, bahkan mengirimkan seorang teman untuk menjaga dan peduli pada ibu yang sedang hamil." Vinsa terus saja berbicara tanpa tau, justru Irsam yang tidak mengerti apa maksud pembicaraan Vinsa.


"Kenapa tidak berkenalan lewat ibu saja?" Irsam mencoba mengikutinarah pembicaraan Vinsa.


"Ha...ha...ha. Ibu mana pernah kasih ijin kami ngobrol dengan Mattew pak. Lagi pula, Mattew tak pernah lama jika ke sini. Hanya mampir, melihat keadaan ibu sebentar. Bukan kah begitu yang bapak perintahkan untuknya?" Vinsa terus saja memberondong Irsam dengan pertanyaan.


"Hm... iya." Jawab Irsam singkat. Kemudian pamit pada Vinsa untuk masuk ke kamar mereka di lantai atas. Dan Vinsa pun kembali ke salon.


Irsam masuk ke kamar yang tata letak dan posisi foto yang tak pernah berubah itu. Bahkan lebih rapi, dan ada sebingkai foto mereka berdua saat berbulan madu di mana mereka sedang di landa rasa jatuh cinta yang mendalam satu sama lain. Dan foto itu berada di atas kasur mareka.

__ADS_1


Singkat pikiran Irsam, yakin bahwa foto itu yang kerap menemani Lamiah pada tiap-tiap malamnya. Lalu Mattew? Apa ini semua hanya sandiwara? Pikiran Irsam tak mampu memindai, bersama itu kantuknya pun tiba, sehingga memilih merebahkan tububnya pada kasur empuk tempat mereka sering bercengkrama, bercinta juga melepas benih-benih cinta yang sengaja ia lepas pada rahim istri keduanya tersebut.


Lamiah dan Wati sudah tiba di salon. Namun tak langsung menyusun barang belanjaan yang baru mereka beli. Melainkan lebih memilih makan siang bersama, sebab mereka sudaj membeli makanan sesuai selera dan pesanan para pegawai tadi.


Vinsa juga sudah memberi kode di depan salon, bertulis 'Istirahat' agar acara makan siang mereka tidak terganggu oleh pelanggan yang mungkin datang tanpa janjian terlebih dahulu.


"Bu... di rumah sebelah ada bapak." Info Vinsa pada Lamiah, yang dari posisi mobil yang terparkir di depan pun ia tau kalau di dalam ada Irsam.


"Iya... bapak sudah bilang kok mau datang." Bohong Lamiah yang tidak pernah menampakkan, apalagi curhat tentang kisruhnya rumah tangga mereka. Kecuali Mattew yang gigih mendapat info itu dengan sendirinya.


"Oh... tadi lumayan lama menunggu ibu, kemudian bapak naik ke lantai atas." Terang Vinsa tanpa di minta.


"Iya... ngabisin makanan ini dululah. Baru ke sebelah." Simpul Lamiah juga tanpa di tanya oleh tatapan mata para pekerja salonnya. Sedikit bingung sebab owner mereka memikih makan bersama mereka, ketimbang menemui suami yang rasanya lumayan lama tak saling jumpa.


Dan benar saja, pemilik wajah tampan itu tampak masih tidur dengan teduhnya sambil memeluk foto mereka, yang juga sering ia peluk jika sedang rindu dengan suaminya tersebut.


Lamiah hanya berani memandang dari kursi meja riasnya. Ingin sekali menyentuh wajah atau tubuh pria yang tentu sangat ia rindukan itu. Namun, sedapat mungkin ia tahan.


Lamiah memilih mengelus perut buncitnya saja.


"Nak... lihat dan pandangi wajah abimu sekarang. Sebab, mungkin setelah kamu lahir. Kamu tidak bisa lagi melihatnya. Mungkin kamu nanti juga tak akan mendapat kasih sayang yang utuh darinya. Maafkan keputusan ummi yang egois ini. Sebab, ummi pastikan akan merawat, mendidik, dan melindungimu tanpa abi. Kita pasti bisa ya nak." Batin Lamiah panjang berbicara dengan janin yang ada dalam rahimnya sekarang.


Hingga tak terasa, butiran kristal jatuh membasahi pipi Lamiah. Mengasihani dirinya, mencoba kuat dengan pendiriannya untuk tetap akan menjadi janda setelah melahirkan.

__ADS_1


"De Miah..." suara khas bariton menyentak lamunan Lamiah, untung buliran air dari sudut matanya tadi sudah ia hapus hingga tak berbekas.


"Assalamulaikum abang." Sapa Lamiah datar. Tanpa berpindah dari posisi duduknya sedari tadi.


"Walaikumsalam de Miah." Jawab Irsam yang kemudian duduk membuat posisi mereka saling berhadapan.


"Kenapa abang ke sini?" tanya Lamiah tanpa melihat tatapan mata pria itu.


"Apa sudah ada peraturan, abang tidak boleh kerumah istri abang sendiri?" tanya Irsam, namun di balas dengan tolehan kepala Lamiah, buang muka, menghindar tatapan dan adu pandang.


"Apa karena di kamar ini sudah kamu gunakan bercinta dengan suami sirimu itu?" telisik Irsam memancing emosu Lamiah. Namun, istri keduanya itu masih tak bergeming.


"Katakan saja dengan jujur, tentang hubungan palsumu dengan pria bernama Mattew itu." Lamiah masih bertahan dalam diamnya.


"Apa sesungguhnya motif mu,. sehingga mengakui jika pria asing itu adalah suami sirimu?" Irsam terus saja menelisik Lamiah.


"Abang... apapun judul hubunganku dengan Mattew, Miah harap abang ikhlaskan saja apapun yang pernah terjadi di antara kita. Hubungan kita adalah kesalahan, sampai kapanpun Yang hitam, akan selalu menjadi hitam. Tak akan pernah bisa berubah jadi putih. Jika di paksakan pun. Akan hanya menjadi abu-abu." Akhirnya Lamiah angkat bicara.


"Bagaimana tentang rasa cinta yang pernah tumbuh dan bersemi di antara kita? Apa kamu kira mudah untuk mendapatkannya lagi?"


"Menurut abang..., apakah Miah masih berharap memiliki dan merasakan rasa cinta itu? Hatiku sudah tandus retak, tak ada media di sana untuk sekedar menyemai bibit cinta itu kembali." Lantang Lamiah yang teguh dengan pendiriannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2