
Irama klasik permersatu bangsa menyeruak, menggelikan. Leng uhan dan rin tihan erotis menguar dari dalam ruang permandian tepatnya di sebuah bath up yang berisi dua insan di mabuk kepayang.
Pernikahan suaminya telah di depan mata, namun keyakinan Lilis akan kesetiaan cinta serta keadilan dalam membagi kasih dari suaminya sangat ia yakini itu akan berjalan sesuai yang ia ingini.
Sentuhan, perlakuan dan kata-kata mesra juga lembut masih teruntuk Lilis yang sebentar lagi menyandang gelar sang istri tua.
Kegiatan mandi berujung pergolakan syahdu membuat candu itu kini telah berakhir.
Irsam dan Lilis kini telah tampak rapi dan duduk dengan tertib menunggu kedatangan sang calon madu untuk ikut bergabung bersama untuk makan malam.
Irsam tampak duduk di bagian tengah kepala meja makan persegi panjang di depan mereka. Sementara Lilis dan Lamiah tanpa di perintah telah mengambil posisi duduk di tepi bagian kiri dan kanan bagian meja itu.
Ada kilatan sinis mendelik seolah tak suka dari seorang ART saat melihat pemandangan di depannya saat ia bertugas untuk melayani malam malam majikannya tersebut. Onah. Markonah nama panjangnya. Yang diam-diam telah sering memperhatikan gerak gerik majikannya yang di rasanya sangat janggal.
Dan kecurigaannya selama ini terjawab saat ada wanita cantik yang datang ke rumah ini, bahkan majikan perempuannya tampak sangat sibuk dan antusias menyiapkan sebuah pesta pernikahan suaminya sendiri.
"Terbuat dari apa sebenarnya hati nyonya Lilis ini. Rumah tangga yang telah nyaman, adem ayem sentosa malah dia tantang untuk di porak porandakan dengan kedatangan wanita kedua dalam pernikahannya. Aku ingin melihat sampai akhir, apa yang terjadi selanjutnya setelah pernikahan itu terjadi. Apakah tetap bahagia atau berakhir tragis. Ku menangis membayangkan." Batin Onah bermonolog dan terus saja bersenandung geli untuk kisah rumah tangga yang terkesan menggali nerakanya sendiri.
"Mas... Besok ratu mu ini ijin ya. Mengajak Miah shopping. Miah harus memukau di malam pertama pernikahan kalian nantinya mas." Lilis membuka percakapan di sela makan malam mereka yang masih terkesan tegang.
Irsam mengerlingkan matanya ke arah Lilis. Sementara kakinya di bawah meja makan itu, sengaja ia tautkan dan ia elus manja pada kaki Lamiah sang calon istri kedua.
Lamiah hanya tertunduk fokus pada makanan di hadapannya sembari menikmati perlakuan halus dari balik meja, dan memberanikan diri melakukan hal yang sama dengan lembut dan lebih pelan tanda ia sangat menikmati sentuhan genit itu.
"Itu urusan kalian kaum wanita sayang. Lakukanlah bagaimana baik dan menyenangkan bagi kalian." Ucap Irsam yang kini telah memilih menyelesaikan makannya dan berdiri meninggalkan dua wanita yang nanti akan ia miliki itu.
Lilis tersenyum ke arah Miah.
__ADS_1
"Miah..., Jangan tegang santai saja. Ingatlah aku yang menginginkanmu ada di rumah ini." Ucap Lilis dengan begitu yakin penuh percaya diri.
"Maaf mbak aku belum terbiasa." Jawab Lamiah lemah.
"Mari kita bicara di ruang keluarga saja, sembari membicarakan pembagian pembagian yang mungkin perlu kita bertiga sepakati." Ajak Lilis dengan tulus pada calon madunya.
Irsam sudah tampak duduk termangu di atas sofa ungu berbahan beledru.
Sorot mata elangnya menatap tajam pada dua wanita manis dan cantik melangkah pelan mendekatinya.
Lilis yang berstatus istri sah saat itu, tentu lebih berani menempel bahkan berpangku pada kedua paha suaminya. Sembari mengalungkan kedua lengannya pada leher kokoh Irsam.
Lamiah tampak tegar memilih duduk sejajar dengan meja di depan pasangan suami istri yang memang masih terlihat saling mencinta.
"Mas... ratu mu merasa perlu untuk menentukan malam mana saja yang menjadi milikku dan miliknya." Lilis lagi, memulai obrolan yang mulai mengarah pada teknis pernikahan segitiga mereka.
"Sayang saja yang menentukannya." Jawab Irsam seolah tidak bersemangat.
"Sebaiknya bagaimana, mas mengikuti pengaturanmu saja sayang." Ujar Irsam sambil mencubit manja dagu belah Lilis, sambil mencuri lirik pada Lamiah yang Irsam tau. Kini dalam suasana cemburu mode on.
Namun Irsam sadar, Lamiah belum sah menjadi miliknya. Maka wajar saja Lilis masih mendominasi rumah tangga yang kini berada di ambang kehancuran. Pasti.
"Senin, Selasa dan Rabu pada minggu pertama dan kedua adalah waktu mas bersamaku. Dan Kamis, Jumat dan Sabtu nya milik Lamiah. Lalu pada minggu ke tiga dan keempat, Senin, Selasa, dan Rabunya adalah milik Lamiah, sisanya kembali milikku. Pada hari Minggu mas bebas. Mungkin mas juga perlu waktu untuk sendiri atau juga memilih antara aku dan Miah atau juga keduanya." Lilis masih tampak bersemangat.
Lamiah dan Irsam tidak bergeming mendengar pembagian yang Lilis uraikan cukup terperinci.
"Sudah lah sayang... mas mendadak pening mendengar jadwal yang kamu buat itu. Sayang buat lah secara tertulisnya dan tempelkan di tempat mana, yang mudah mas lihat dan mas ingat." Jawab Irsam tampak gusar. Kemudian dengan pelan berdiri. Dan melangkah, meninggalkan kedua wanita di ruang tengah itu.
__ADS_1
Malam itu Irsam memilih untuk mendekam dirinya di ruang kerjanya saja. Belum terjadi pernikahan saja pikiranya sudah mulai terusik dengan pengaturan-pengaturan yang Lilis uraikan.
Tapi yang Lilis buat itu memang ada benarnya. Bagaimanapun juga keadilan memang tidak boleh berpihak pada salah satu istriya kelak.
"Dede sudah di kamar?" chat Irsam pada Lamiah yang masih terlihat duduk mematung di depan Lilis.
Ada gurat kegelisahan saat Lamiah melihat ponselnya bersinar tanda ada pesan masuk. Diliriknya dari siapa pengirim pesan itu dari 'My Hero'. Dan ia merasa tidak nyaman untuk membalas pesan tersebut di depan Lilis.
"Mbak... boleh aku beristrirahat?" tanya Lamiah sopan. Sejak ia di rumah itu, seketika rasa kental sebagai sahabat dirasakan Lamiah kian pudar.
Ia sangat merasa bahwa kini ia tak ubahnya benalu yang hanya akan menempel merugikan pohon yang akan ia jadikan tempat untuk bermukim.
"Sebentar Miah... mbak masih ada sedikit pertanyaan. Maaf jika pertanyaan mbak agak pribadi. Hanya tadi mbak penasaran saja, mengapa Miah tampak sedih sepulang nyekar, apakah mas Irsam menyakitimu selama di perjalanan?" Lilis benar-benar penasaran akan mata sembab Lamiah.
"Tidak mbak, mas Irsam tidak melakukan apa-apa. Ia hanya meminjamkan bahunya untuk Miah bersandar, saat Miah tak sanggup membayangkan wajah kedua orang tua Miah, yang mungkin saja kecewa dengan keputusan yang Miah ambil ini." Lamiah lagi berurai air mata.
Lilis berjalan mendekat, mendekap sayang Lamiah. Ia ingin mejadi tempat ternyaman untuk Lamiah bersandar dan melepas segala bebannya.
"Mbak... wanita mana yang rela di madu? Wanita mana yang ikhlas menjadi yang kedua. Mengapa harus aku yang jadi benalu dalam rumah tangga bahagia ini mbak...?" tangis Lamiah pecah lagi.
Dan kali ini, mata air itu tidak hanya berasal dari kedua bola mata Lamiah. Tetapi juga bermuara dari kedua pasang mata seorang Lilis.
Yang tiba-tiba merasa bersalah atas permintaannya yang ternyata menyakiti hati sahabatnya.
Bersambung...
Mulai haredang yaah??
__ADS_1
Siapa dukung Lilis?
Siapa dukung Lamiah ?