
Lamiah masih dalam posisi ketidak berdayaannya akibat merasa sedikit kelelahan. Jika tadi ia ijinkan Irsam menolongnya untuk mengganti pakaian.Namun tidak berarti Irsam boleh melakukan hal lebih dari itu.
“Terima kasih sudah membantu. Dan sekarang Miah butuh istrirahat. Abang silahkan pulang.” Usirnya tegas, tanpa peduli dengan sorot mata yang sesungguhnya mengiba untuk di ijinkan tetap berada di kamar yang pernah jadi saksi kekuatan cinta antara keduanya.
Irsam belum menjawab. Matanya masih bergantian menatap perut dan wajah istri keduanya, istri yang masih sah secara hukum dan agama baginya.
“Kamu yakin bisa sendiri Miah?” tanya mama Irsam yang seolah ingin meninggalkan Irsam un tuk menemani Lamiah di kamarnya.
”Miah hanya ingin tidur untuk mengembalikan stamina yang terkuras. Soal sendiri, bukankah hampir seusia kandungan ini pun Miah selalu sendiri? Jadi sebaiknya jangan tanyakan Miah soal itu. Hanya membuat pertanyaan yang jawabannya sudah jelas tertera.” Entah dapat keberanian dari mana, Miah sangat tegas untuk menolak kedekatannya lagi pada suaminya itu.
“Boleh abang usap anak kita sebelum pulang Miah?” Irsam meminta ijin.
“Tidak perlu. Utun lebih baik tak pernah kenal dan merasa apapun yang berhubungan dengan abang. Sebab walau bagaimanapun kita akan tetap akan bercerai. Aku sudah punya beberapa foto bersama Mattew, nanti Miah berikan pada abang. Mungkin saja di perlukan untuk memperlancar gugatan cerai kita nanti. Buat saja alasannya bahwa aku adalah istri yang tidak mau berbakti pada suami. Istri yang lari dari rumah, yang tidak mau tinggal dan melayani suami lagi. Juga melakukan perselingkuhan bahkan sampai hamil dengan pria lain. Miah yakin proses perceraian kita akan segera di kabulkan.” Papar Miah lantang.
Irsam tercenung dengan ungkapan wanita kedua yang menurutnya sarat akan kebencian Padanya itu. Dan Irsam memilih patuh saja, setelah mengucap salam ia pun menarik tangan mamanya untuk mengajaknya pulang bersamanya ke rumah mereka.
“Sebenarnya mama menyayangkan jika rumah tanggmu dan Miah itu harus berakhir. Tapi, mama juga tidak suka kamu mempermainkan hati wanita. Hati Miah itu tulus mencintaimu, dan sesungguhnya ia hanya ingin sedikit bagian dalam hatimu. Tapi memang kamunya yang bod oh, tidak bisa membagi. Kamu kadang terlalu condong ke Miah lalu lupa pada Lilis. Demikian juga ebaliknya, saat kamu fokus dengan Lilis kamu tega mencampakkan Miah. Karena sesungguhnya kamulah akar permasalahannya, tidak bisa adil bagi keduanya, kamu tidak bisa tegas. Terlalu patuh pada Lilis dan tak bisa tegas pada Miah. Mama sendiri kecewa dengan sikapmu ini.”
“Sesungguhnya mama mau aku bagaimana?”
__ADS_1
“Heem… berat memang. Sebenarnya jangan ada yang kamu lepas dari keduanya.”
“Mama juga lihat, betapa ia sangat ingin bercerai.”
“Wanita selalu terbawa perasaannya saat hatinya tidak baik baik saja. Mama yakin ia hanya masih emosi, ia terlalu lelah untuk mengalah untuk kalian bertiga. Sehingga mama menyimpulkan justru dialah yang sangat mencintai mu lebih dari yang kamu rasakan.”
“Hah… konyol. Jika dia cinta Irsam kenapa dia memilih pisah?”
“Itulah uniknya cinta yang penuh pengorbanan. Saat dia mencintai dengan sepenuh hatinya, maka melepas kekasihnya untuk berbahagia dengan orang lain adalah tindakan kli mask dari rasa cinta yang ia miliki tersebut.”
“Mama… jadi aku harus bagaimana?”
“Jadi mama berharap, kami tetap menjalani rumah tangga ini?”
“Tak ada satu wanitapun menginginkan poligami. Juga sebagai wanita mama tak pernah mengijinkan itu terjadi, papamu bahkan satu satunya orang yang tidak berpoligami diantara mereka bersaudara. Intinya mami benci poligami, tapi mama lebih benci dengan lelaki yang hanya bisa mengecewakan hati wanita. Seperti kamu ini. Tapi entahlah, jika memang bercerai membuat Miah bahagia. Mungkin tindakanmu benar untuk menceraikannya nanti. Namun, jika sebaliknya maka sia sialah perbuatan itu di lakukan, kamu di benci Allah juga menambah musuh dalam hidupmu.” Paparan tak jelas itu berakhir, tepat saat mobil Irsam berhenti di garasi rumahnya.
Lalu ia dan mamanya pun masuk ke rumah dan berbaur bersama keluarga yang sesungguhnya.
“Mas… gimana Miah. Ga papa di tinggal?” Sapa Lilis ramah menyambut kedatangan suami dan mama mertuanya.
__ADS_1
“Sudah makan dia, hanya perlu istrirahat saja.”
“Mestinya mas temani dia hingga benar merasa nyaman.”
“Justru ada mas di sana yang membuatnya tidak nyaman.” Jawab Irsam apa adanya.
“Mas capek. Lilis siapkan air mandi dulu ya, berendam deh mas. Biar rilex jiwa dan raga suamiku tercinta ini.” Manis perlakuan Lilis pada Irsam.
Irsam hanya memilih patuh pada perlakuan manis istri pertamanya tersebut.
Hah… cinta yang kemaruk. Mungkin itulah yang Irsam alami sekarang. Sesungguhnya ia sendiri hingga kini tidak bisa jujur mengakui, masih ada nama Lamiah terukir di relung hatinya. Tapi Lilis juga. Masa ia salah mencintai dua wanita secara sekaligus, toh dua wanita itu pun juga mencintainya dan rela berbagi dalam hal mendapatkan cintanya.
Irsam tau itu salah, perhatian Lilis sekarang pun sudah sangat membuatnya nyaman dan kembali tulus tanpa bayang bayang cintanya pada Lamiah lagi. Atas permintaan Lamiah, iapun tidak lagi mendekati Lamiah, jangankan untuk menyentuh, memandang pun kini hanya Irsam lakukan dari jarak jauh.
Irsam bukan suami breng syek. Ia tetap mengirimkan nafkah lahir pada Lamiah, dan selalu menyempatkan untuk mampir ke ruko Lamiah. Untuk melihat keadaan Lamiah yang memang lebih sering tersenyum bersama para pegawainya juga pada Mattew yang kadang datang. Kadang tidak.
Dua purnama terlewat sudah. Tentu tibalah waktunya bagi Lamiah akan menghadapi masa persalinan. Irsam merasa masih berstatus suami dari Lamiah. Bagaimanapun ia masih memiliki naluri sebagai seorang ayah, ia juga punya trauma buruk saat kelahiran Adilla, maka ia berkeras memohon pada Lamiah agar di ijinkan tidur di sofa saja setiap malam, demi untuk menemani Lamiah jika ia sewaktu waktu akan mengalami kontraksi dan akan melahirkan.
“Tolong Miah. Sebenci apapun kamu pada bang, tapi pliis. Jangan buat abang menjadi suami dan ayah paling breng syek di dunia ini. Ijinkan abang tidur di sini. Hanya sampai utun lahir saja. Abang janji tidak akan menyentuhmu selama di sini. Abang hanya ingin menjaga di detik detik persaliananmu nanti.” Pinta Irsam.
__ADS_1
Bersambung…