LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 25 : AKU BAIK-BAIK SAJA


__ADS_3

Mungkin di awal menikah Lamiah seolah kaget, baru tau rasanya menikah, memiliki suami sedahsyat Irsam. Sehingga sulit ia bedakan antara benar cinta atau hanya ingin memuaskan naf su semata. Sehingga sempat membuatnya seperti orang gelap mata dan mau-mau saja di ajak mesum di mana saja. Sebab telah memiliki sertifikat halal alias buku nikah.


Namun, pertikaian lalu membuatnya kembali ke titik nol. Betapapun benar caranya dan halalnya menjadi istri kedua. Ia tetap saja orang baru yang bagaimanapun versinya, ia adalah perusak rumah tangga orang lain.


Sehingga saat Lilis menukarkan kartunya pun, Lamiah memilih diam dan menerima saja. Sebab benar yang Lilis sampaikan bahwa ia istri tua dan yang berhak mengatur segala anggaran rumah tangga.


Hari-hari berlalu, rumah tangga itu berangsur semakin damai dan tentram. Mereka menjalani hari sesuai pembagian yang mereka sepakati bersama. Ada tawa dan obrolan ringan di antara ketiganya saat terkadang berkumpul di ruang santai atau di meja makan.


"Mas... apa mas melarang Miah untuk ikut kegiatan bakti sosial juga arisan seperti yang aku ikuti?" tanya Lilis saat mereka iseng memancing di kolam belakang rumah.


"Tidak... de Miah tidak pernah meminta ijin padaku. Bagaimana aku melarangnya?"


"Tuh... Miah. Mas Irsam pasti mendukung kalo kamu ingin ikut kegiatan sepertiku." ujar Lilis pada Lamiah.


"De Miah... mau ikut? Silahkan, supaya tidak sumpek di rumah saja."


"Oh...tidak. Aku tak berminat." Jawab Miah seadanya.


"Ya itu terserah kamu. Abang tidak pernah melarang. Lakukan saja hal yang membuat kalian senang." Lanjut Irsam kembali.


Ternyata rumah tangga itu benar telah dapat menciptakan komunikasi yang lebih baik dari sebelumnya.


Jika saja Irsam memerankan tugasnya sebagai suami setegas itu, tentu tidak seburuk waktu lalu.


Irsam memang tipe suami penyayang dan selalu memberi kebebasan pada kedua istrinya melakukan apa saja yang mereka inginkan. Namun, tetap dalam pantauannya. Pun semua jenis pengeluaran mereka.


Irsam sedikit menyunggingkan senyumnya, tatkala menyadari bahwa diam-diam istri keduanya pun memiliki selera belanja yang buas. "Hah... pengeluarannya bahkan lebih besar dan cukup singkat dalam urusan menggunakan uangku." Batin Irsam saat menyadari lajunya nominal itu keluar. Irsam memilih diam saja. Toh, Lamiah juga istrinya. Mungkin nanti pelan-pelan ia akan menegurnya jika angka belanjaannya semakin fantastik.


Satu purnama mereka lalui sungguh dalam damai sesuai pembagian. Minggu ini adalah waktu untuk Lamiah. Tetapi, ia meminta agar suaminya lebih memperhatikan Lilis saja. Sebab sudah tiga hari Lamiah perhatikan, Lilis tampak pucat dan tidak berselera makan.

__ADS_1


"Bang... minggu ini abang ke mbak Lilis ya. De Miah perhatikan mbak Lis sedang tak sehat." ujar Lamiah saat pagi itu, Irsam mulai memainkan perannya sebagai suami yang sejak pagi senin tentu akan memulai ritual berangkat bekerjanya pamit pada istri kedua.


"Oh... iya. Lilis hamil de. Kemarin pagi ia sudah memeriksanya dengan tespack. Dan... abang mau ijin sama de Miah, ingin membawanya ke dokter kandungan sore nanti. Boleh?"


"Tidak perlu ijin bang. Mbak Lis sedang butuh abang sekarang. Abang dengan dia saja, sampai ia benar-benar kuat."


"Kamu?"


"Aku baik-baik saja."


"Tapi... abang tidak enak denganmu. Jatuhnya abang tidak adil de." Ujar Irsam sambil menikmati layanan istrinya merapikan tampilannya sebelum ke kantor.


"Abang... adil itu tidak selalu sesuai pembagian. Tapi fleksible saja, siapa yang lebih membutuhkan. Maka dialah yang layak mendapat perhatianmu."


"Benar de Miah baik-baik saja?"


"Terima kasih pengertianmu sayang." Perlu Irsam kemudian mencium kening istri keduanya penuh sayang. Tak lupa tangannya merayap ke dada lalu turun ke bagian bawah, favoritnya itu.


"Kok tebal?"


"Halangan bang."


"Huumm... pantesan minta abang kebsebelah. Di sini sedang palang merah." Kekeh Irsam mengecup bibir Lamiah.


Jadilah Lilis kembali mendapat jatah double untuk memiliki waktu yang lama bersama suaminya.


Dapat di bayangkan, betapa pasangan suami istri itu merasa bahagia. Saat mereka dapat mendengar kembali bunyi detak jantung janin yang telah tumbuh kembali di rahim Lilis.


Usia kehamilan itu memasuki 7 minggu. Hal tersebut tidak hanya membahagiakan Lilis, sebab sesunggunya Irsam telah lama menginginkan kehadiran buah hati kembali. Setelah Faizal di minta paksa oleh orang tuanya untuk tinggal dan menetap di Turkie.

__ADS_1


Entah... apakah ini menjadi suatu ajang Lilis bermanja atau memang memerlukan Irsam. Sehingga dengan alasan kehamilan ini, ia berulah semakin manja. Ia bahkan seolah sulit untuk berjalan, dengan alasan lemah dan mabuk berat.


Kadang Irsam, kadang juga Lamiah yang terlihat sibuk berganti-ganti melayaninya ke kamar bak ratu. Benar-benar seperi ratu yang harus di layani 24 jam.


Lamiah tak punya pengalaman dalam urusan kehamilan. Maka apapun yang menjadi permintaan Lilis sedapat mungkin ia bantu penuhi. Terutama jika Lilis menginginkan makan apa saja, sebab ia telah masuk dalam fase ngidam. Dimana semua keinginan dan selera makannya, sedapat mungkin harus di penuhi.


Lilis mendapat pelayanan prima dari dua orang sekaligus suami juga madunya. Dan ke egoisannya muncul, sehingga lagi-lagi dia lah yang mendominasi Irsam secara halus dan tak di sadari Irsam dan Lamiah.


Dua pekan berlalu, Irsam adalah lelaki normal. Yang ia hadapi adalah istri pertama yang sedang hamil muda, super manja. Pagi hari mengalami morningsicknes hebat, dan di malam hari wajib tidur memeluk suaminya. Terabaikanlah jadwal kunjung Irsam pada istri mudanya. Sedangkan, kebutuhan biologisnya pun harus tersalurkan.


Maka hari itu, saat Lilis terlihat sedang tidur siang dengan nyenyak. Irsam mencuri waktu. Bagaimana pun tubuh Lamiah membuatnya candu. Melihat wanita itu berjalan dengan membawa nampan untuk melayani istri tuanya saja. Kadang membuat Irsam menelan salivanya sendiri, ingin segera memeluk dan mencium sang wanita kedua tersebut.


Lamiah sedang termenung saja di dalam kamarnya, sesekali membuka refrensi beberapa tempat kemungkinan ia bisa melamar pekerjaan. Hampir tiga bulan ia menjadi istri muda. Yang hanya berkutat di rumah, sesekali keluar pun hanya dengan Lilis atau suaminya. Anakpun tampak belum kunjung hadir. Lamiah merasa jenuh.


Irsam masuk ke kamar dan langsung menguncinya. Tanpa sapaan, Irsam meraup tubuh yang duduk di depan lemari hiasnya itu, menggendongnya ke atas peraduan mereka.. Kemudian tanpa ampun menerkam bibir manis, merah delima itu, di mana sang pemilik sudah terpasrah di bawah tubuhnya.


Desa han kecil tertangkap indra dengar Irsam, membuatnya semakin geregetan. Sahutan decakan ciuman itu, bagai terpimpin beraturan. Hening tercipta, saat Irsam sudah sibuk membuat stempel di antara belahan gundukan kembar di dada Lamiah.


Tubuh itu bergelinjang tanpa di perintah, bagaimana tidak? saat telunjuk jari itu sudah mengamuk di bagian inti tubuhnya.


"Huuum... dede basah, udah mau ya. Kenapa di tahan. Mestinya dede jujyr kalo kangen abang." Ujar Irsam duduk dan menarik, melepas celana Lamiah.


Tetapi alangkah terkejutnya Irsam, saat melihat telujuk yang ia gunakan untuk merajia area basah tadi, ternyata berwarna kemerahan.


"Dede masih haid?" tanya Irsam meminta penjelasan.


Lamiah bingung... ingin mengangguk. Ingin menggeleng, namun manik matanya pun sempat melihat telunjuk itu bernoda darah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2